Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Alam bawah laut ( foto by : Jitho) Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan bagian...

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang
Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Press and Marine Excursion Minggu ini saya akan keluar dari aturan yang saya buat. Kalau biasanya...

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde
Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Posts Tagged With 'Wisata'

Packing, Packing! 9

Packing, Packing!

Perjalanan

Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang tidak terpakai dan pulang dalam keadaan utuh

Sepanjang tahun 2012 ini saya berubah jadi bang Toyib yang sering pergi. Sebenarnya ingin menyebut diri sebagai traveler, tapi kayaknya kegiatan saya bukan traveling walau sering mengunjungi tempat lain. Kebanyakan perjalanan itu karena urusan pekerjaan, jadi nyaris tidak sempat untuk berjalan-jalan atau menikmati keindahan kota yang saya datangi.

Salah satu ritual yang akhirnya jadi lekat adalah soal mengepak, atau istilah kerennya packing. Saya cukup beruntung bahwa acara-acara yang saya ikuti semuanya bersifat non formil sehingga saya tidak perlu repot untuk mengepak dengan baik dan benar, atau memikirkan bagaimana pakaian yang saya bawa tidak sampai kusut. Toh acaranya santai.

Biasanya semua barang utama saya masukkan ke dalam tas ransel, ukurannya tergantung dari berapa lama saya akan pergi. Satu ransel ukuran sedang biasanya sudah cukup. Saya akan memperhitungkan dulu berapa banyak kira-kira kaos yang akan saya bawa, biasanya saya memang hanya akan membawa kaos dan jarang sekali membawa kemeja.

Perhitungan saya, satu kaos untuk satu hari. Kalau untuk urusan celana, cukup membawa maksimal dua potong. Itupun biasanya satu celana pendek dan satu celana jeans. Ada tambahan lagi, saya pasti membawa kaos singlet dan celana pendek santai, ini untuk dipakai tidur. Rasanya tidak nyaman kalau kaos yang sudah dipakai jalan seharian masih juga dibawa ke tempat tidur. Begitupun dengan celananya.

Untuk pakaian dalam, saya siapkan satu tas kain khusus. Cowok jelas lebih santai dibanding cewek, pakaian dalamnya lebih sedikit jadi untuk urusan ini memang tidak terlalu banyak masalah. Saya juga punya satu tempat khusus untuk menampung alat mandi. Isinya mulai dari sabun cair, odol dan sikat gigi, shampoo dan tentu saja cologne. Tambahan lagi saya selalu membawa beberapa kresek kecil yang nantinya akan diisi pakaian kotor, utamanya pakaian dalam. Satu lagi tambahan, sebuah tas sangat kecil yang isinya adalah charger blackberry, charger tab dan kabel-kabel lainnya. Semua disatukan agar tidak tercecer.

Ransel

Semua pakaian yang saya bawa biasanya saya packing dengan cara digulung. Cara ini lebih efektif untuk menghemat ruang sekaligus? menjaga agar pakaian lebih rapih tanpa kusut. Caranya mungkin akan beda kalau seandainya saya bepergian dengan koper. Tapi sampai sekarang saya belum pernah tuh bepergian dengan koper, belum pantas rasanya. Hihihi.

Saya biasanya mengurutkan packing dengan rencana pemakaian. Jadi kaos yang kira-kira akan dipakai belakangan masuk duluan ke dalam ransel, kaos yang akan segera dipakai masuknya paling terakhir. Ini tentu saja untuk memudahkan, supaya pakaian yang saya bawa tidak sampai berantakan.

Saya juga punya satu tas kecil yang diselempangkan di bahu.? Isinya adalah tab yang selalu setia menemani ke mana saya pergi. Selain itu pasti terselip sebuah buku sebagai teman perjalanan, walaupun pada kenyataannya jarang dibaca gara-gara lebih sibuk dengan tab atau BB. Buku biasanya baru disentuh ketika pesawat tinggal landas, itupun hanya sebagai sebagai pemancing sebelum mata terpejam. Huh?sungguh tidak beradab.

Isi lain dari tas kecil itu biasanya adalah segala macam tiket dan boarding pass. Saya tempatkan di sana supaya tidak tercecer tapi tetap gampang dijangkau. Sebotol kecil air minum dan permen karet juga biasanya ada di tas kecil itu, juga dengan iPod yang siap disambungkan ke kuping ketika pesawat mulai tinggal landas.

Kadang-kadang saya merasa perlu membawa kamera. Ini kemudian jadi masalah baru karena artinya saya harus membawa tas tambahan. Satu tas kamera berisi body dan dua lensa. Beratnya cukup lumayan, apalagi karena kamera saya sudah terpasang battery grip yang menambah bobotnya. Makanya kadang untuk perjalanan ke tempat yang sudah biasa saya datangi, kamera DSLR saya tinggalkan dan saya cukup bergantung pada kamera HP. Kadang-kadang saya juga mencopot battery grip kamera saya dan cukup membawa lensa fix yang lebih ringan untuk dibawa.

Benda lain yang juga selalu ikut adalah jaket dan kacamata. Jaket sebenarnya hanya untuk kegiatan outdoor, tapi kadang terasa sangat penting jika bepergian jauh. Sementara kaca mata hitam meski selalu dibawa tapi sebenarnya agak jarang dipakai.

Nah, kira-kira itulah persiapan saya setiap kali ada panggilan untuk menyeberang lautan atau meninggalkan Makassar. Untuk packing sampai lengkap, biasanya saya hanya butuh waktu tidak sampai 30 menit. Kadang saya juga agak rewel, kaos yang sudah dipilih saya masukkan kembali ke lemari dan ganti dengan kaos yang lain. Satu lagi, kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang tidak terpakai dan pulang dalam keadaan utuh. Ini biasanya karena ada kaos yang saya anggap masih layak untuk dipakai keesokan harinya karena belum terlalu bau keringat atau belum kotor.

Bagaimana dengan teman-teman sekalian?

[dG]

April 24, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Corong Promosi Wisata 8

Corong Promosi Wisata

Blogger Makassar di Taka Bonerate

Dua minggu yang lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepala saya. Pertanyaan tentang kenapa pemerintah daerah masih kurang yang berpikir untuk menggaet blogger sebagai salah satu corong promosi wisata daerah ?

Pertanyaan itu melintas begitu saja sebagai buah pemikiran dari diskusi kelautan yang digelar ISLA Unhas dua minggu yang lalu. Di sesi terakhir banyak mengangkat kegalauan peserta dan pembicara soal potensi wisata SulSel yang bukan saja belum digarap serius tapi juga belum dipromosikan dengan baik.

Dalam kalender wisata SulSel ada dua kegiatan besar yang selama tiga tahun belakangan ini berlangsung secara beruntun. Ada Taka Bonerate Island Expedition yang mengangkat potensi wisata laut Kabupaten Selayar dan ada Lovely December yang mengangkat potensi wisata eksotis Tana Toraja. Dua kegiatan ini sudah rutin digelar dalam 3 tahun terakhir.

Sayangnya, meski sudah masuk tahun ketiga tapi tetap saja kedua acara tersebut belum terdengar menggaung jauh ke tingkat nasional dan bisa dipastikan efeknya pada pariwisata SulSel masih belum terasa. Saat berkunjung ke Taka Bonerate November silam, jelas sekali terasa kalau acara ini sama sekali tidak menggaung. Tidak ada informasi akurat tentang acara ini, tidak ada promosi yang menggebu yang kira-kira bisa memancing rasa ingin tahu orang untuk datang. Mencari informasi di internetpun rasanya sia-sia. Benar-benar tidak mencerminkan sebuah promosi wisata yang digarap serius.

Lovely December setali tiga uang. Sepi dari promosi dan terkesan dibiarkan begitu saja. Padahal kedua agenda promosi wisata itu juga menyediakan dana miliaran rupiah sebagai bahan bakarnya. Jumlah yang rasanya tidak sebanding dengan penyelenggaraan acara.

Ketika berada di Taka Bonerate, terlihat jelas kalau acara TIE lebih kepada acara seremonial tanpa visi promosi wisata yang jelas. Undangan yang datang kebanyakan adalah para pejabat beserta jajarannya, mereka yang mungkin memang datang sekadar sebagai tamu, bukan sebagai corong untuk mempromosikan wisata daerah tersebut dengan lebih luas.

Dari situ saya kemudian berpikir, kenapa mereka tidak mengajak para blogger atau penggiat social media untuk menjadi bagian dari promosi wisata ya ?

Blogger dan penggiat social media adalah pilihan paling tepat untuk diminta ikut membantu promosi wisata daerah asalnya. Mereka pasti sudah punya jaringan sendiri dan sudah eksis di dunia maya. Melibatkan mereka adalah sebuah keniscayaan di jaman di mana internet dan segala tetek-bengeknya sudah begitu jauh mempengaruhi kehidupan masyarakat. Para blogger dan penggiat social media itu bisa jadi alat bantu promosi yang tepat, cepat dan tentu saja murah.

Kenapa murah ? Bayangkan saja berapa banyak biaya yang ditekan bila blogger dan penggiat social media dilibatkan dalam sebuah agenda promosi wisata. Biayanya tentu tidak sebesar bila mengundang pejabat dan jajarannya yang tentunya membutuhkan pelayanan kelas satu. Blogger dan penggiat social media pada umumnya adalah orang-orang yang santai dan tidak manja. Mereka pasti akan menerima layanan apa saja yang diberikan, yang penting bisa diajak liburan gratis meski memang ada beberapa yang sudah berlabel seleb yang mungkin menuntut pelayanan lebih.

Undanglah mereka, libatkan mereka dan mintalah mereka mengabarkan kepada dunia tentang potensi wisata di daerah asal mereka. Meski tidak bisa memetik hasilnya secara instant tapi saya yakin impact-nya akan terasa. Minimal potensi wisata daerah akan lebih terekspos di dunia maya dan sisi baik lainnya adalah berita di dunia maya lebih gampang diakses dan terarsip dalam waktu lama.

Masalah mungkin akan timbul bila pihak pengundang menaruh ekspektasi terlewat besar yang hanya berorientasi pada promosi dan menutup diri pada kritikan. Blogger dan penggiat social media yang diundangnya diberi batasan dalam menuliskan catatan perjalanannya. Tidak boleh menuliskan hal-hal yang kurang apalagi yang buruk dari acara tersebut.

Ini tentu bertentangan dengan spirit kebebasan berekspresi yang dianut para blogger dan penggiat social media.

Jadi intinya memang ada pada niat pemerintah daerah. Bila memang mereka mau dan punya niat tulus untuk mempromosikan wisata daerah mereka maka tidak ada alasan untuk tidak melibatkan blogger atau penggiat social media dalam rangkaian acara promosi wisata. Tapi, karena niatnya untuk promosi wisata, mereka juga tidak boleh menutup mata atas kekurangan dan kritikan yang masuk. Toh, kalau semua disikapi dengan wajar maka daerah juga yang akan kena imbas positifnya.

Mudah-mudahan di 2012 ini pemerintah daerah Sulawesi Selatan makin terbuka matanya untuk memanfaatkan kemajuan teknologi serta mereka yang terlibat di dalamnya. Kami siap untuk liburan gratis lagi.

January 04, 2012 in Blogging
Takabonerate Bag.1 ; Jalan Panjang Menuju Surga 21

Takabonerate Bag.1 ; Jalan Panjang Menuju Surga

Pemandangan dari dermaga penyeberangan Tanah Beru, Bulukumba

Kata orang, jalan ke surga itu panjang dan berliku.

Sebuah berita menyenangkan menghampiri kami. Komunitas blogger Makassar mendapat undangan untuk mengunjungi Taman Nasional Takabonerate yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar bertepatan dengan penyelenggaraan acara Takabonerate Island Expedition (TIE) yang ketiga. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya dan 8 orang rekan lainnya langsung mempersiapkan diri menuju sebuah kawasan wisata laut yang sebenarnya memang sudah lama membuat saya penasaran.

Perjalanan dimulai dari terminal bis Mallengkeri, Makassar sekitar jam 9 pagi. Terminal bis yang berada di selatan kota Makassar ini memang menghubungkan Makassar dengan kabupaten lainnya yang berada di sebelah selatan kota, termasuk Selayar tentu saja. Sebuah bis besar mengantar kami di cuaca pagi yang sedikit berawan itu.

Meski termasuk besar dan sekelas dengan bis patas AC di pulau Jawa, tapi bis Aneka yang kami tumpangi ternyata tidak cepat dan tidak terbatas. Laju bis ?tidak terlalu cepat, bahkan beberapa kali mampir untuk mengambil penumpang meski kursi reguler sudah terisi penuh. Akhirnya ?penumpangpun sesak dan bahkan ada yang duduk di lorong antara deretan kursi.

Sekitar pukul 4 sore atau 7 jam kemudian kami tiba di terminal penyeberangan Tanah Beru, Bulukumba. Selayar adalah sebuah pulau besar di Selatan pulau Sulawesi, dan untuk menyeberang ke sana kami harus menggunakan jasa kapal feri yang berlayar dua kali sehari menghubungkan pulau Selayar dengan pulau Sulawesi.

Kapal feri agak terlambat dari jadwal, kami baru berangkat sekitar satu jam kemudian dan selama kurang lebih 2,5 jam kemudian kami habiskan di atas kapal feri. Ini pengalaman pertama saya menumpang kapal feri, dan hampir tidak ada bedanya dengan kapal penyeberangan lainnya selain karena kapal feri memang lebih banyak memberi ruang untuk kendaraan bermotor.

Sunset dari atas Feri

Setelah perjalanan sekitar 2,5 jam melintasi lautan dan sempat menikmati sunset dari atas feri, kami akhirnya menginjakkan kaki di tanah Selayar. Tapi perjalanan belum selesai karena kami masih harus menuju kota Benteng, ibukota kabupaten kepulauan Selayar. Jarak dari dermaga penyeberangan ke kota Benteng ternyata lumayan jauh, total sekitar 1,5 jam kami habiskan sebelum sampai di terminal kota Benteng.

Tinabo Dive Center

Perjalanan jauh dengan waktu tempuh sampai 12 jam lebih itu akhirnya pungkas juga ketika kami tiba di pusat kota Benteng. Setelah mengisi perut dan mengunjungi Tinabo Dive Center, kami beranjak menuju rumah Kadis Pariwisata kabupaten kepulauan Selayar. Di sana kami berbincang sejenak sekaligus berdiskusi soal kondisi taman nasional Takabonerate, tentang sebuah kawasan dengan atol terbesar ketiga di dunia tapi sampai saat ini masih belum dikelola dan dipromosikan secara optimal.

Malam sudah cukup larut ketika kami pamit dari rumah bapak kepala dinas dan menuju penginapan yang sudah disiapkan beliau. Hanya sejenak menaruh barang bawaan dan membasuh muka, kami sudah langsung menuju caf? Tempat Biasa (TB). Sebuah kafe yang berdiri atas inisiatif beberapa pecinta laut, sekaligus jadi tempat berkumpulnya para diver dalam naungan Sileya Dive Center. Di sana kami banyak berbincang tentang Takabonerate, sekaligus menggali banyak informasi tentang sebuah kawasan yang begitu indah namun seperti terlupakan itu.

Gusung dan Perjalanan Panjang Ke Jinato

Seperti umumnya orang liburan, tidur selalu jadi pilihan akhir. Saya yang sekamar dengan Lelakibugis dan Cikal masih sempat ngobrol sampai menjelang subuh sebelum akhirnya memejamkan mata. Pagi itu kami menjadwalkan akan mengunjungi sebuah pulau di seberang Selayar bernama Gusung. Menurut informasi, di sana ada spot keren untuk snorkling.

Perahu cadik yang mengantar kami ke Gusung

Dengan perahu cadik yang memuat sampai 11 orang, kami akhirnya menyeberang. Cuaca sangat mendukung, awan menggantung di atas dan menutupi matahari sehingga kami bisa menikmati perjalanan menyeberang yang memakan waktu hampir 30 menit itu.

Sayang sekali karena pagi itu air laut rupanya surut sangat jauh, sehingga spot yang dimaksud jadi tidak terlihat. Akhirnya kami cuma jalan-jalan mengitari pulau yang meski sangat luas namun hanya dihuni sekitar 200an KK itu. Hal yang cukup menghibur adalah banyaknya lukisan alam yang bisa saya abadikan dengan kamera.

Menjelang jumatan, kami akhirnya kembali ke Selayar. Bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya yang merupakan inti dari perjalanan panjang ini.

Pemandangan indah di pulau Gusung

Selepas jumatan dan mengisi perut, kami bergegas ke dermaga Rauf Rahman yang berada dalam kota Benteng. Di sana sudah ada sebuah kapal kayu besar yang bisa memuat 200an penumpang. Kapal inilah yang akan kami gunakan untuk menyeberang ke pulau Jinato, salah satu dari 21 pulau yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate. Kapal sudah sesak dipenuhi oleh para undangan dari berbagai instansi yang memang diundang untuk menikmati TIE. Di atas kapal juga ikut rombongan ibu-ibu PKK termasuk ibu bupati.

Menjelang pukul 3 sore kapal akhirnya meninggalkan kota Benteng. Dari informasi yang kami dapat, perjalanan akan ditempuh dalam waktu 7 sampai 8 jam. Perjalanan yang panjang dan melelahkan pastinya. Kami duduk di haluan kapal, beratapkan langit biru karena bagian khusus untuk penumpang tentu saja diutamakan untuk rombongan pejabat dan ibu bupati. ?Lagipula, duduk di haluan rasanya lebih menyenangkan daripada di dalam ruangan yang sumpek.

Suasana di atas kapal motor ke Jinato

Suasanya sungguh berkesan, berbaur dengan puluhan penumpang lainnya kami bisa menikmati hamparan lautan luas dan tentu saja matahari terbenam yang tak terlindungi hutan beton. Ketika malam merambat datang, bintang-bintang terlihat begitu indah. Kerlap-kerlip bintang dan hembusan ringan angin laut sungguh membuaikan. Sebuah pengalaman yang sungguh berkesan.

Selama 8 jam kami melintasi selat Flores menuju pulau Jinato. Beruntung karena cuaca sangat mendukung, pun laut sangat tenang sehingga kekuatiran kami akan mabuk laut tidak menjadi kenyataan. Meski begitu, tak urung saya sempat terserang sakit kepala. Mungkin karena keletihan. Berkali-kali saya mencoba berbaring di atas lantai kayu kapal, sempat tertidur meski tidak terlalu nyenyak.

Betul-betul sebuah perjalanan panjang menuju surga.

( bersambung ke bagian kedua )

November 21, 2011 in Jalan-Jalan, Wisata

Orang Indonesia Hobby Belanja ?

Mall, salah satu tujuan utama belanja

Ada pameo yang mengatakan kalau orang Indonesia itu jagoan belanja. Ketika mengunjungi tempat wisata, hal pertama yang dicari adalah tempat belanja, pun ketika akan kembali ke tempat asal. Belanja pasti jadi agenda utama. Beberapa kali saya ikut rombongan wisata kantor yang isinya kebanyakan wanita dan pria yang memang lebih histeris ketika masuk ke tempat belanja daripada tempat wisata, apalagi wisata budaya. Berikut adalah tulisan saya.

Wanita itu mulai bosan. Jelas sekali raut kebosanan terlihat pada wajahnya, juga pada bibirnya yang sedikit cemberut. Alunan gamelan Bali dan pertunjukan barong beberapa meter di depannya sama sekali tidak mampu membuatnya sedikit ceria. Ketika penonton lain terpaku, dia malah terkantuk.

Puluhan menit kemudian, acara selesai. Semua hadirin bertepuk-tangan, pun dengan wanita itu. Api semangat membara di kedua matanya. Semangat itu juga yang kemudian membawanya menelusuri toko pakaian di kawasan Galuh, Bali. Seperti kesetanan dia menelusuri setiap sudut toko pakaian itu, tas plastik di tangannya menggembung, tanda kalau belasan potong pakaian dijejalkan ke dalamnya, mungkin malah puluhan potong.

Si ibu itu adalah salah seorang rekan kantor saya. Usianya sekitar pertengahan 30an. Kejadian di atas adalah kejadian ketika kami dan rombongan berwisata ke Bali atas biaya kantor. Selama acara si Ibu jauh lebih menikmati sebuah momen belanja daripada momen berwisata, apalagi menikmati atraksi budaya. Ketika mengunjungi Garuda Wishnu Kencana (GWK) si ibu lebih memilih duduk di pojokan daripada menikmati penjelasan tentang rencana besar membangun sebuah ikon di tanah Bali tersebut.

Matanya langsung berbinar cerah, ketika bus rombongan berhenti di sebuah gerai pakaian yang isinya adalah barang-barang kena diskon. Keluhannya tentang tubuh yang capek setelah perjalanan jauh mendadak hilang seketika, berganti dengan semangat layaknya pejuang kemerdekaan, dia menelusuri hampir seluruh sudut toko. Hasilnya, hampir sejam kemudian dia naik ke bus dengan beberapa tentengan tas belanjaan dan wajah sumringah. Luar biasa.

Apakah pelaku utama doyan belanja itu cuma ibu-ibu ? Sepertinya tidak juga.

Suatu waktu saya juga pernah memimpin rombongan bapak-bapak ke Bali. Kejadian yang sama juga saya alami. Ketika menyusun jadwal dan tujuan kunjungan, mayoritas peserta menolak ketika saya mencoba memasukkan opsi menonton pertunjukan budaya, mereka lebih memilih tempat belanja. Dan, hampir tak ada bedanya dengan para ibu-ibu, para bapak-bapak itu mengamuk sebisanya di tempat belanja. Apalagi ketika masuk ke pasar Sukawati.

Sebelum turun dari bis, saya saya sudah memberikan penegasan. Semua anggota rombongan berkumpul kembali sekitar 2,5 jam kemudian. Tapi apa yang terjadi ? ketika waktu sudah lewat beberapa belas menit, bis masih kosong. Saya terpaksa masuk ke dalam pasar dan menelusuri lorong-lorong untuk mengumpulkan anggota rombongan yang tercecer.

Susahnya, karena tidak bisa terkumpul dalam waktu bersamaan maka anggota yang sudah terlanjur tiba di meeting point dan mulai diterpa kebosanan menunggu akhirnya malah turun dan kembali ke dalam pasar. Waaahh..repotnya setengah mati. Bapak-bapak ini ternyata sama gilanya dengan para ibu-ibu kalau soal belanja.

Trinity dalam sebuah bukunya juga pernah cerita bagaimana di luar negeri orang Indonesia itu terkenal sebagai salah satu ras wisatawan yang paling doyan belanja. Bukannya jalan-jalan ke tujuan wisata khas ( apalagi museum ) malah rajin menyambangi tempat belanja. ?Andrea Hirata dalam buku Edensor juga punya cerita yang sama.

Anda semua mungkin sudah tahu kalau di Saudi Arabia sebagian besar pedagang di sana sampai belajar sedikit bahasa Indonesia, utamanya bahasa yang dipakai dalam proses tawar menawar. Ini tentu saja karena jemaah haji asal Indonesia di samping merupakan jemaah haji terbanyak di dunia juga adalah jemaah haji yang paling rajin belanja. Dulu sebelum kuota barang ditetapkan, seorang jemaah haji yang baru saja menunaikan ibadah ke tanah suci bisa pulang sambil membawa ole-ole yang cukup buat orang sekelurahan. ?Itu belum termasuk buat dirinya dan keluarganya sendiri.

Beberapa contoh di atas sepertinya sahih untuk menegaskan kalau sebagian besar orang Indonesia memang rajin belanja, utamanya ketika berwisata dan jauh dari tempat asal. Apa penyebabnya ? benarkah ini budaya ? Entahlah, tapi sejauh yang saya tahu sebagian besar dari orang Indonesia memang lebih menikmati tujuan wisata belanja daripada tujuan wisata budaya ketika berada di tempat berbeda. Tak elok rasanya berwisata jika pulang tanpa ole-ole. Semakin banyak semakin hebat.

Bagaimana dengan anda ? Lebih suka wisata belanja atau wisata budaya ?

March 01, 2011 in Opini, Wisata

TIPS WISATA MURAH KE DJOGDJA BAGI ANAK MAKASSAR

Djogdja..!!, uhmm, kota kedua yang sangat saya cintai selain Makassar tentu saja. Banyak hal yang selalu membuat saya jatuh cinta pada kota ini bahkan membuat saya berpikir untuk menghabiskan hari tua di sana. Dalam setahun belakangan ini rasa cinta saya akan Djogdja makin kental apalagi karena sekarang Ofie dan Hilmy lagi ada di sana dan saya jadi punya banyak alasan kuat untuk selalu kembali ke Djogjdja.

Nah, karena sering ke sana dengan modal yang tak seberapa besar saya akhirnya jadi banyak tahu tentang pilihan bagi para pelancong sederhana atau backpacker dari Makassar yang pengen ke djogjdja dengan dana yang tak seberapa besar. Di tulisan ini? saya ingin berbagi kepada anda, mudah-mudahan ada manfaatnya.

KENAPA KE DJOGDJA ?
Kenapa ke djogja..?, mungkin bagi yang belum pernah ke sana akan bertanya seperti itu. Tapi yang sudah pernah ke sana, rata-rata pasti jadi kepengen ke sana lagi. Secara umum Djogdja adalah kota yang nyaman untuk berwisata dan menetap. Biaya hidup di sana relatif lebih murah bila dibandingkan dengan biaya hidup di kota-kota besar lainnya di Indonesia, termasuk Makassar. Aroma kesederhanaan dan budaya lokal masih kental meski menurut teman saya Djogdja sudah mulai berubah karena kuatnya pengaruh dari para pendatang, meski begitu di Djogdja kita masih bisa merasakan kultur Jawa asli.

Tujuan wisatanya juga beragam, dari wisata alam di pinggiran atau luar kota Djogdja sampai wisata budaya yang berada di dalam kota. Satu lagi, Djogja adalah surga bagi pecinta buku karena di sana banyak toko buku, dari buku asli, buku bajakan hingga buku bekas. Dan eitss, wisata kulinernya juga mampu bikin lidah bergoyang tanpa harus menguras kantong. Jadi, ada banyak alasan untuk ke Djogja.

January 25, 2010 in Jalan-Jalan, Random Post, Tips

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site