Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Alam bawah laut ( foto by : Jitho) Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan bagian...

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang
Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Press and Marine Excursion Minggu ini saya akan keluar dari aturan yang saya buat. Kalau biasanya...

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde
Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Posts Tagged With 'Sepakbola'

Derby Penguras Emosi 4

Derby Penguras Emosi

Derby Manchester Yang Panas

Kalah dari klub lain adalah hal yang wajar, tapi kalah dari tetangga adalah sebuah aib. Pameo inilah yang dibawa banyak kesebelasan ke atas lapangan hijau, membuat mereka siap mati demi membela kehormatan dari cercaan tetangga mereka.

23 Oktober 2011 adalah hari yang tidak akan dilupakan oleh para fans Manchester United. Hari itu memang kelam, hari di mana mereka harus mengakui kehebatan tetangga mereka Manchester City. Di Old Trafford, pasukan Sir Alex Ferguson harus menyerah 1-6. Di Old Trafford, di Theatre of Dreams, di depan hidung mereka sendiri!

Partai itu akan dikenang sebagai salah satu partai paling kelam dalam sejarah perjalanan Manchester United, bukan hanya karena skornya saja atau karena kejadiannya di kandang sendiri tapi yang lebih penting adalah karena mereka kalah dari tetangga sendiri. Kalah dari sebuah partai derby.

Sejak sepakbola mulai menjadi sebuah tontonan paling dinantikan di muka bumi ini, derby selalu menjadi sebuah pertandingan yang akan menyedot perhatian lebih. Pertemuan antar dua saudara sekota selalu muncul sebagai sebuah perang yang sesaat seakan membelah kota menjadi dua bagian. Sisi magis sebuah derby hanya kalah oleh beberapa pertandingan yang sarat muatan politis atau sejarah.

Di Italia, derby terpanas ada dua. Derby della madonina yang mempertemukan dua kubu dari kota mode Milan antara Inter Milan dan AC Milan. Derby lainnya adalah derby della capitale antara dua penghuni ibukota Italia, AS Roma dan Lazio. Keempat tim punya rataan kemampuan yanghampir sama, meski AC Milan bisa dianggap lebih baik dari keempatnya. Ketika dua derby itu digelar, Milan dan Roma seakan terbelah dua. Perang urat saraf di dalam dan luar lapangan akan berlangsung seru.

Satu lagi derby yang sebenarnya cukup panas, yaitu derby di kota Turin antara Torino dan Juventus. Sayangnya karena dalam hampir dua dekade belakangan ini Torino selalu berada di lapisan bawah Serie A dan bahkan turun ke Serie B sehingga derby ini mulai kehilangan kesakralannya. Penyebabnya tentu saja karena faktor kekuatan yang berbeda jauh, meski dalam setiap derby Torino selalu tampil menggila menghadapi tetangganya yang lebih mentereng, Juventus.

Di tanah Spanyol, derby tidak selalu panas. Pertemuan antara Real Madrid dan Atletico Madrid dari ibukota dan pertemuan Barcelona dengan Espanyol dari tanah Catalan selalu kalah mentereng dari El Classico yang mempertemukan Real Madrid dengan Barcelona.

Atletico dan Espanyol hanya pengganggu dominasi duo klub raksasa itu. Madrid dan Barca adalah penguasa La Liga, setiap tahun perebutan tahta juara nyaris hanya sebagai sebuah perlombaan antara dua klub itu. Klub lain hanya berburu posisi di zona champion Eropa.

Pertarungan antara Madrid dan Barcelona juga sudah terlanjur penuh dengan muatan politis antara Spanyol dan Catalan yang selalu menuntut pembebasan. Benih kebencian ini sudah dipupuk sejak jaman Jenderal Franco dan terus dibiarkan berkembang hingga kini. Tak heran kalau pertemuan keduanya selalu berlangsung panas dan sarat emosi. Kartu kuning dan bahkan kartu merah seakan jadi sebuah keharusan dalam pertemuan keduanya, secara perlahan itu kemudian menutupi sakralnya sebuah derby.

Di tanah Inggris, derby masih selalu panas. Derby ibukota di Premiere League mempertemukan beberapa klub. Ada Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur dan Fulham yang sama-sama bermarkas di kota London. Pertemuan terpanas tentu saja antara Chelsea, Arsenal dan Tottenham yang sama-sama punya kekuatan seimbang.

Di kota pelabuhan Liverpool ada derby antara Liverpool dan Everton. Meski prestasi Everton kalah mentereng dari Liverpool, tapi klub berseragam biru itu tidak pernah mau menyerah begitu saja dari tetangganya yang berseragam merah. Derby selalu berlangsung panas, penuh benturan fisik dan kadang berakhir dengan kartu merah.

Tevez dan Rafael

Di utara Inggris, Manchester United selama bertahun-tahun menjadi sangat dominan. Jauh mengungguli tetangga mereka si biru Manchester City. Belakangan, dengan dana tak terbatas City kemudian melejit ke papan atas dan kembali menghangatkan persaingan dengan tetangganya itu. Si biru kembali menjadikan derby Manchester jadi lebih panas, tidak seperti beberapa tahun sebelumnya saat City lebih banyak berkutat di papan bawah atau paling tinggi papan tengah.

Oktober 2011, Manchester City mempermalukan si setan merah. Waktu kemudian membuktikan kalau si Setan Merah bukan klub medioker. Mereka bisa bangkit dari kekalahan memalukan itu dan perlahan menduduki puncak klasemen, menggeser sang tetangga yang mereka sebut sebagai “noisy neighbor”

Tapi waktu juga yang membuktikan kalau Manchester United bisa terpeleset. Rentang jarak 8 poin terpangkas menjadi sisa 3 poin. Sebagian karena kesalahan mereka sendiri, utamanya di pertandingan terakhir melawan Everton. Persaingan menjadi hangat kembali. United harus memenangi laga derby Senin 30 April ini jika mau mimpinya merebut gelar ke 20 menjadi kenyataan. Bila kalah, City dengan poin yang sama akan menggeser mereka, sekaligus mempersulit jalan menuju rekor baru itu .

Derby selalu menarik untuk disimak. Tidak ada klub yang mau menyerah begitu saja dari klub tetangganya. Kalah dari klub lain adalah hal yang wajar, tapi kalah dari tetangga adalah sebuah aib. Pameo inilah yang dibawa banyak kesebelasan ke atas lapangan hijau, membuat mereka siap mati demi membela kehormatan dari cercaan tetangga mereka.

Senin malam atau Selasa dinihari nanti, derby Manchester akan menentukan arah ke mana kisah akhir Premiere League musim ini akan berlabuh. Siapapun yang memenangi derby malam ini jelas punya peluang besar untuk mengangkat trophy. Manchester biru atau Manchester merah? Semua tergantung kesiapan para pemain dan tentu saja kecerdasan pelatih.

Mari menunggu pertandingan sarat emosi ini, tentu dengan harapan dan prediksi kita masing-masing. Malam nanti, saya tentu saja berada di barisan penggemar Manchester United, berharap bisa meredam sang tentangga yang ribut itu.

[dG]

April 30, 2012 in Opini, Senin, Sepakbola
Negeri Para Penari Samba 3

Negeri Para Penari Samba

Fans Brazil yang selalu tampil mencolok

Menyebut Brasil, yang terbayang adalah sebuah negara yang jadi pabrik pesepakbola terbaik di muka bumi. Brasil dan sepakbola seperti kulit dan daging, bagian yang tak terpisahkan dalam roda sejarah sepakbola dunia.

Ada beberapa negara yang begitu lekat dalam sejarah sepakbola. Salah satunya adalah Brazil, bagaimana negara di Selatan benua Amerika ini begitu mencintai sepakbola. Dan betapa sepakbola juga begitu mencintai Brasil. Brasil adalah satu-satunya negara yang belum pernah absen dalam setiap gelaran piala dunia sejak 1930, Brasil juga yang paling sering menjadi juara dengan 5 gelar. Brasil dan sepakbola, dua nama yang selalu bisa dihubungkan dari sisi manapun.

Stadion Maracana, 16 July 1950. Saat itu Brazil sang tuan rumah menjamu Uruguay di partai puncak piala dunia. Seluruh Brazil yakin kalau mereka akan jadi juara, pesta sudah dipersiapkan di Rio De Jenairo. Hampir dua ratus ribu orang memadati stadion Maracana yang kala itu memang menjadi stadion terbesar di dunia. Rekor yang sampai sekarang belum terpecahkan.

Menit ke 47, Friaca mencetak gol untuk Brazil. Pesta mulai digelar, kembang api dinyalakan, lagu dan tarian samba berdengung di beberapa sudut kota. Mereka siap menggelar carnaval sepanjang malam. Suasana berubah suram ketika menit ke 66, Schiaffino dari Uruguay menyamakan kedudukan. Seisi kota mulai dicekam kekuatiran. Bagaimana kalau mereka gagal ? Bagaimana kalau bukan Brazil yang jadi juara ?

11 menit menjelang akhir pertandingan Ghiggia membuat gol penentu kemenangan. Buyar sudah impian rakyat Brazil. Pesta gagal digelar, kembang api gagal dinyalakan, tifa gagal ditabuh dan para penari kehilangan semangat bahkan untuk sekadar menggerakkan kaki mereka. Puluhan orang bunuh diri karena dicekam rasa putus asa yang luar biasa. Hari itu akan dikenang sepanjang masa sebagai hari berkabung nasional.

Begitu besarnya kecintaan orang Brazil terhada sepakbola. Para orang tua sedari kecil sudah menanamkan dalam diri anak-anaknya, tak usah rajin belajar. Cukuplah dengan menguasai sepakbola. Sepakbola adalah jalan lapang menuju kesejahteraan. Para orang tua akan bermuram durja bila tak ada satupun anak mereka yang bisa menendang si kulit bundar.

Brazil adalah pabriknya pemain berbakat. Nama Nedson Arantes di Nascimento mungkin asing di telinga orang awam, tapi begitu menyebut Pele orang akan menganggukkan kepala. Lelaki keling ini adalah legenda. Dia merebut 3 gelar juara dunia bersama Brazil, memukau dunia dengan gocekannya dan menerbitkan decak kagum dengan tendangannya.

Pele hanya satu dari begitu banyak hasil pabrik bernama Brazil itu. Garrincha, Vava, Zagalo, Zico, Socrates, Bebeto, Dunga, Romario, Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho sampai Kaka dan Pato. Sebutlah dan tak akan ada ruang kosong untuk menyebut para seniman sepakbola dari tanah Brazil. Tuhan memang sepertinya menunjuk tanah Brazil menjadi tanah yang subur untuk lahirnya para pesepakbola itu.

Brazil terkenal dengan goyangan sambanya, dan di lapangan hijau para pemain Brazil terkenal dengan gocekannya yang oleh orang kemudian disamakan dengan tarian samba. Meliuk, menggeliat dan bergerak lincah dengan kaki yang tak bisa diam. Mereka lebih suka bermain dengan umpan pendek mendatar yang dibarengi dengan aksi individu yang kadang memang mengundang decak kagum.

Sebelum Pele menendang bola, Brazil sudah akrab dengan gaya samba dan permainan yang indah. Itu sudah mengalir dalam darah mereka, sehingga ketika Lazaroni pelatih mereka di Piala Dunia 1990 mengubah pola permaian menjadi “asal menang” maka Brazil seketika kebingungan. Lazaroni membuat porak-poranda sebuah sistem yang selama ini mereka pegang, sistem permainan sepakbola yang indah.

Cafu dan gelar kelima Brazil

Lazaroni keras kepala. Baginya tak perlu main indah kalau toh hasilnya tak maksimal, lebih baik main biasa tapi menang. Lupakan permainan indah, lupakan samba, yang penting bisa menang dan juara. Sayang, Lazaroni tak sepenuhnya benar karena di Italia 1990 Brazil malah hancur lebur dan kandas di babak perdelapan final. Empat tahun kemudian Carlos Alberto Perreira mengembalikan Brazil ke khittah-nya, main cantik a la penari samba. Perreira berhasil, Brazil akhirnya juara dunia untuk keempat kalinya.

Tapi main indah juga tak berarti selalu menang. Brazil juga sering terjebak dalam pesta samba yang mereka mainkan. Main indah, menari dengan semangat, mempertontonkan keindahan mengolah si kulit bundar, tapi kemenangan malah menjauh. Dua gelaran piala dunia terakhir menjadi buktinya.

Brazil memang sedang tidak berhasil menorehkan gelar terbaik di dua edisi terakhir piala dunia setelah tahun 2002 menuntaskan gelar kelima mereka. Tapi Brazil tetaplah Brazil. Tak lengkap rasanya membincangkan piala dunia tanpa menyebut negara ini, tak elok rasanya meminggirkan mereka sebagai unggulan setiap pesta piala dunia digelar.

Mereka boleh gagal, mereka boleh jatuh tapi mereka tak pernah capek untuk kembali bangkit dan bahkan mungkin mengejar kesempatan merebut semua tahta tertinggi sepakbola dunia. Brazil tetaplah Brazil, negeri yang orang-orangnya bahkan merasa sepakbola adalah agama mereka? bukan sekadar hobi.

Brazil adalah negeri para penari samba yang selalu berhasil membuat dunia sepakbola cerah oleh warna kuning dan hijaunya.

[dG]

March 12, 2012 in Opini, Senin, Sepakbola
Bukan Sekadar Permainan 2

Bukan Sekadar Permainan

Duka Portugal di WC2010

Ada olahraga yang lebih populer daripada sepakbola ? Sebutlah basket, olahraga mementalkan bola ke lantai yang begitu superior di Amerika Serikat. Tapi di negara lain ? Basket hanya sekadar pelengkap. Olahraga utama adalah sepakbola.

Orang Inggris menyebut dirinya sebagai penemu sepakbola dan negaranya sebagai home of football, faktanya memang pelaut Inggrislah yang menyebarkan sepakbola ke banyak negara di dunia seperti Italia, Argentina dan bahkan Brazil meski catatan sejarah menyebutkan kalau orang China sudah memainkan olahraga serupa sepakbola berabad-abad sebelum orang kulit putih memainkannya.

Olahraga yang dimainkan 22 lelaki ini ? belakangan juga dimainkan para wanita ? berkembang pesat menjadi sebuah olahraga yang tidak hanya melulu berurusan dengan lapangan hijau, tapi merambat jauh ke urusan lainnya. Politik, sosial, budaya dan ekonomi adalah ruang yang dijamah oleh sepakbola, di beberapa negara bahkan menyangkut soal agama.

Di Italia, sepakbola adalah budaya. Mereka bisa duduk dalam satu gereja di minggu pagi dan bunuh-bunuhan di malam harinya di stadion tempat tim andalan mereka bertanding. Di Brazil, sebuah keluarga akan meratapi nasib buruknya ketika mereka tidak dianugerahi anak lelaki yang cakap menendang bola.

Di Irlandia, dua klub sepakbola selama puluhan tahun selalu terlibat dalam pertarungan sengit yang kadang melibatkan nyawa dan darah hanya karena perbedaan Katolik dan Protestan. Di Argentina, sepakbola menjadi alat bagi kaum proletar untuk balik mencaci kaum borjuis yang menghina mereka.

Di Afrika, benua keling yang selalu jadi objek eksploitasi orang-orang dari benua biru sepakbola menjadi sebuah cara? untuk keluar dari kemiskinan. Anak-anak kecil belajar menendang bola di tanah yang tandus sambil berharap pencari bakat dari benua seberang melirik mereka.

Sungguh sepakbola sudah merasuk jauh ke dalam kehidupan manusia modern saat ini.

Tak usah heran ketika sebuah pertarungan yang berlangsung jauh di benua seberang bisa menyebabkan sebuah pertikaian di benua yang lain. Tak usah heran ketika yang bertikai itu sama sekali tidak punya hubungan darah dengan para lelaki di benua seberang yang sedang bertanding di lapangan hijau itu. Alasan pertikaian mereka hanya satu, sepakbola.

Sepakbola sudah menjadi sebuah bahasa global dalam pergaulan lintas negara saat ini. Sepakbola dipakai sebagai alat diplomasi, dipakai sebagai sebuah kekuatan ekonomi dan bahkan digunakan sebagai alat dominasi sebuah negara terhadap negara lainnya.

Lalu, kenapa sepakbola bisa begitu populer ? Centre National De La Rechecche Scientifique di Perancis mengatakan bahwa salah satu alasannya adalah karena sepakbola menggambarkan apa yang seharusnya dilakukan sebuah tim, organisasi bahkan negara jika ingin sukses di jaman sekarang. Sebuah kombinasi dari kerja individu dan tim, kebreuntungan, sedikit cara-cara licik dan keberpihakan wasit yang biasanya berhubungan dengan hukum dan penguasa.

Sepakbola memang tidak sesedarhana sebuah permainan di lapangan hijau yang melibatkan 22 orang berseragam. Sepakbola jauh lebih dalam dari itu. 2 kali 45 menit di lapangan hijau bisa berefek jauh lebih panjang. Kekalahan Jerman di piala dunia 1966 dari Inggris lewat satu gol kontroversial masih terus dibicarakan hingga saat ini dan tentu saja masih terus meninggalkan amarah dan duka di hati orang Jerman.

Sepakbola sampai kapanpun itu akan menjadi sebuah olahraga yang paling mampu menyedot perhatian warga bumi. Di dalamnya bukan hanya unsur sportifitas, tapi ada drama, ada kelicikan dan ada banyak hal lain yang kadang tidak bisa dinilai dengan rasio.

Itulah sepakbola, olahraga yang telah menembus banyak batas di dunia ini. Nikmatilah, karena sepakbola memang hadir untuk dinikmati.

[dG]

February 27, 2012 in Opini, Senin
Sepakbola Kita, Mundur Menuju Jurang 4

Sepakbola Kita, Mundur Menuju Jurang

Rahmad Darmawan

Rahmad Darmawan ( sumber : Persibholic.com )

Entah mau dibawa ke mana sepakbola Indonesia. Pengurus sudah berganti, tapi masalah tetap sama bahkan makin kusut

Lelaki itu terlihat tegap di usianya yang ke 45. Lelaki kelahiran Metro, Lampung tahun 1966 itu memang seorang perwira menengah, seorang marinir yang kemudian lebih terkenal sebagai pelatih sepakbola di Indonesia. Lelaki yang senang menutupi kepalanya dengan topi adalah salah satu pelatih terbaik negeri ini. Persipura, Sriwijaya FC sudah pernah dibawanya ke level paling atas sepakbola kita. Terakhir timna U23 dibawanya membawa medali perak lewat serangkaian perjalanan yang menyita perhatian penggemar sepakbola Indonesia.

Tegas tapi mengayomi dan dekat dengan anak asuhnya. Itu komentar banyak orang yang sudah pernah merasakan sentuhan lelaki itu. Saat sedang bertanding memang terlihat jelas raut ketegasan dari wajahnya, bersanding dengan ketenangan kala memberikan instruksi. Di luar lapangan dia terlihat sebagai pria santai namun disegani.

Lelaki itu bernama Rahmad Darmawan. Tiga bulan terakhir namanya menjadi pujaan banyak orang di Indonesia. Dia berhasil menyuburkan rasa bangga dan kebersamaan dengan caranya sendiri. Mendorong 23 anak muda Indonesia untuk maju, bahkan hingga satu langkah dari puncak juara. Kekalahan menyesakkan diterima di ujung perjalanan perebutan emas sepakbola SEA Games. Tapi bagi banyak orang itu adalah harapan, harapan untuk melihat negeri ini kembali disegani di ASEAN, bahkan mungkin di Asia.

Beberapa hari yang lalu Rahmad Darmawan yang akrab disapa RD kembali menjadi pusat perhatian. Sebuah surat pengunduran diri dialamatkan ke PSSI. Secara resmi RD mengundurkan diri sebagai pelatih timnas U23. Alasannya karena dia merasa gagal membawa Indonesia meraih medali emas di SEA Games kemarin. Alasan yang masuk akal, tapi tetap membuat banyak orang ragu.

RD tidak gagal seratus persen. Merski gagal meraih medali emas SEA Games, RD telah berhasil meletakkan pondasi kokoh di timnas U23. Belasan anak-anak muda disatukannya menjadi tim yang menjanjikan. Beberapa bakat-bakat luar biasa dimunculkannya ke permukaan. Tak bisa dibilang gagal 100% meski tetap saja kita harus takluk pada negeri seberang di partai puncak.

Tapi RD tetap memilih mundur. Banyak yang berspekulasi kalau lelaki berkulit gelap itu terlalu frustasi untuk mengurai benang kusut sepakbola negeri kita. Era NH sudah lewat, NH yang jadi public enemy sepakbola Indonesia sudah lengser, berganti Djohar Arifin Husain. Semua publik menaruh harapan besar pada lelaki? yang dulu juga pernah menjadi pemain sepakbola itu.

Bulan berganti bulan, tapi tanda-tanda perbaikan belum ada. Timnas senior gagal di penyisihan grup Pra Piala Dunia sekaligus kembali memupus harapan berlaga di kasta tertinggi sepakbola bumi ini. Timnas muda kita lumayan, di tangan RD harapan itu masih ada. Medali perak di tangan, rasa bangga membuncah.

Tapi, rasa bangga itu hanya sesaat. Kusut masai sepakbola kita terus berlanjut. Liga yang jadi pondasi dasar sebuah pembinaan sepakbola suatu negeri justru jadi cermin betapa kacaunya sepakbola kita. Dua liga sama-sama mengaku sebagai liga yang syah, LPI dan LSI.

LPI mengaku sebagai satu-satunya liga yang disetujui PSSI, sementara LSI mengaku masih berpegang pada kontrak dengan PSSI. Semua sama-sama menegangkan urat leher, sama-sama mengencangkan promosi dan sama-sama tak mau kalah dianggap mentereng.

Hebatnya lagi karena kedua liga yang berseberangan itu didukung oleh raksasa media tanah air. Raksasa media yang kalau dirunut ke belakang sama-sama ditunggangi partai politik. Ujung-ujungnya kita tahu arahnya ke mana, bukan ? Dari dulu sepakbola kita memang tidak pernah bisa bersih dari politik, tidak pernah bisa bersih dari kepentingan politikus.

Ketika RD mengundurkan diri, mungkin dia sedang berpikir jernih. Mungkin juga dia sedang frustasi. Keputusan PSSI untuk tidak memanggil pemain-pemain yang bermain di liga saingan LPI tentu memusingkan RD. Sebuah tim yang sudah dibangunnya sedemikian rupa akan kehilangan para pemain terbaiknya hanya karena perselisihan politis tingkat atas. RD sudah lama meminta agar para pemain jangan sampai diseret-seret dalam perseteruan politik para petinggi. Biarkan mereka bermain, biarkan mereka menjadi pemain seperti bagaimana seharusnya, tak usah dilibatkan dalam urusan politik.

RD mungkin frustasi dan kecewa, seperti juga kita para pecinta sepakbola Indonesia. Terlalu lama kita menunggu prestasi sepakbola kita membaik, tapi yang muncul selau berita tentang kisruh sepakbola kita. Liga yang kacau, pengurus yang kebingungan. Masalah klasik yang terus berulang. Sementara di luar sana berbagai negara tetangga sudah siap dengan programnya masing-masing. Siap menuai prestasi lebih tinggi. Sedangkan kita ?

Ketika laga el clasico Real Madrid vs Barcelona berlangsung, saya melempar sebuah kicauan : Kalau di Spanyol ada El Clasico, di Indonesia ada masalah klasik.

Mudah-mudahan kita tidak sedang melihat sepakbola negeri ini yang berjalan mundur menuju jurang.

December 15, 2011 in Opini, Sepakbola
[Foto] Perjuangan Di Lapangan Hijau 4

[Foto] Perjuangan Di Lapangan Hijau

Tarian di Lapangan

Sepakbola bukan sekadar permainan

Sepakbola adalah olahraga dengan jumlah penggemar terbanyak di muka bumi. Setiap ajang berskala internasional pasti mampu menyedot perhatian besar penduduk Bumi. Puncaknya adalah pada ajang Piala Dunia. Seluruh dunia tiba-tiba seperti terkena demam sepakbola, bahkan mereka yang tak suka sepakbolapun seperti terpaksa tersedot dalam pusaran demam sepakbola.

Selasa kemarin saya diminta teman-teman mendokumentasikan pertandingan final sepakbola dalam grup kantor kami. Ini bukan pertamakalinya saya duduk di pinggir lapangan dan memotret pertandingan, tapi tetap saja saya belum bisa memotret dengan baik.

Bukan pekerjaan gampang untuk mengabadikan pertandingan. Banyak faktor yang harus dipikirkan, di antaranya adalah faktor gear atau senjata. Lensa panjang tentu jadi pilihan utama mengingat jarak antar fotografer dan pemain bola yang kadang memang jauh.

Faktor lainnya adalah ?insting. Saya pernah membaca bahwa dalam memotret sebuah pertandingan di lapangan hijau, insting berperan sangat dominan. Bagaimana kita memilih lokasi yang tepat dan menangkap momen yang tepat, semua tergantung pada insting kita.

Tentu masih banyak faktor lain yang jadi perhatian dalam memotret perjuangan di lapangan hijau, dan sampai sekarang saya masih terus belajar untuk bisa memotret pertandingan sepakbola lebih baik lagi. Saya ingat dulu pernah bercita-cita menjadi fotografer olahraga, khususnya sepakbola. Kelihatannya sangat mengasyikkan karena bisa berada di pinggir lapangan hijau dan hanya berjarak beberapa meter dari superstar lapangan hijau. Plus, tak perlu membeli tiket.

Tapi, ternyata tidak segampang itu. Berada di pinggir lapangan sebagai fotografer membuat kita harus terus membuka mata dan menganalisa pertandingan untuk mendapatkan momen terbaik. Belum lagi keharusan memicingkan mata di lubang intip kamera hampir sepanjang pertandingan. Jadinya malah tidak bisa menikmati pertandingan 100%.

Okeh, berikut saya mau coba pamerkan beberapa foto yang berhasil saya tangkap di pertandingan kemarin. Dari ratusan foto yang saya tangkap, setidaknya hanya 7 ini yang saya anggap bagus. Selebihnya biasa saja kalau tidak mau dibilang jelek.

Teman-teman, saya tunggu tanggapannya.

Sang hakim garis

 

Tekel keras

 

Mengejar Bola

 

Berjibaku

 

Menunggu serangan tiba

 

Fair Play

 

 

October 07, 2011 in Fotografi
Sihir Dari Catalunya 16

Sihir Dari Catalunya

Kegembiraan Barcelona ( sumber : UEFA.com )

Saya tidak pernah terlalu suka pada Barcelona, tapi pencapaian pada beberapa tahun terakhir ini memaksa saya untuk mengangkat topi pada klub asal Catalunya ini.

Gol dari David Villa di Wembley hari Sabtu 28 Mei 2011 menjadi pamungkas malam itu, sekaligus menandai kali kedua Barcelona memukul Manchester United untuk meraih gelar Liga Champion mereka yang keempat. Pertemuan kedua mereka di partai puncak final liga champion Eropa tahun ini seperti mengulang kisah 2 tahun lalu ketika Barca menekuk MU dengan 2 gol tanpa balas. Tahun ini margin golnya tetap dua meski MU sempat membalas satu lewat Wayne Rooney.

Barca memang luar biasa. Semua orang yang mengerti sepakbola pasti akan setuju kalau Barca adalah klub dengan permainan yang indah. Mereka memainkan sepakbola dari kaki ke kaki atau yang lazim disebut tiki-taka. Sepanjang permainan, pemain mereka selalu bergerak dengan penempatan bola yang akurat.

Barcelona yang menghibur

Saya kenal Barcelona sejak jamannya Ronald Koeman, Hristho Stoijkov dan Romaria Faria dengan Johann Cruijff sebagai pelatih. Tapi waktu itu saya sama sekali belum tertarik pada klub dari propinsi Catalunya itu. Belakangan saya malah lebih tertarik pada Real Madrid.

Ketika Frank Rijkaard menukangi Barca, atensi saya tersedot. Faktor utamanya adalah karena Rijkaard. Sebagai salah satu pilar kesuksesan AC Milan di tahun 90-an, Rijkaard selalu menjadi salah satu idola saya. Jadi ketika dia berada di belakang Barca, mau tak mau pandangan saya ikut menatap ke sana.

Rijkaard menetapkan pondasi awal untuk kesuksesan Barca. Rijkaard yang mulai membawa pakem 4-2-3-1 dengan mengandalkan Ronaldinho dan Deco sebagai kreator lapangan tengah. Barca perlahan melambung ke puncak, pelan tapi pasti. Hingga akhirnya gelar Champion Eropa pun mereka rebut.

May 30, 2011 in Sepakbola

Saat Idola Menjadi Penghianat

Kaka, meski pindah namun tetap dihargai Milanisti

Stamford Bridge, 6 Februari 2011. Menit ke 61, Fernando Torres ditarik keluar lapangan dan digantikan oleh Salomon Kalou. Sambil berlari ke luar lapangan, Torres memberikan applaus. Entah maksudnya berterima kasih kepada fans Chelsea atau sekedar salam kepada para fans Liverpool yang datang ke Stamford Bridge malam itu. Beberapa fans Liverpool membalasnya dengan acungan jari tengah. Jelas sekali terlihat kemarahan dan kebencian pada sebagian fans Liverpool, entah yang hadir di Stamford Bridge maupun yang ada di seluruh dunia.

Torres, si ikon baru Liverpool itu dalam sekejap berubah dari seorang idola menjadi enemy of the state karena keputusannya menyeberang ke Liverpool menjelang ditutupnya bursa transfer musim dingin dengan nilai 50 juta poundsterling, atau termahal di tanah Inggris saat ini.

Di dunia sepakbola, Torres adalah orang kesekian yang mengalaminya. Tahun 2000, Luis Figo menyeberang dari Barcelona ke Real Madrid. Ini adalah transfer paling kontroversial dalam satu dekade terakhir mengingat rivalitas Barcelona dan Real Madrid yang begitu berdarah-darah. Setelah Figo memang masih ada pemain lain yang berganti kostum dari biru merah ke putih, tapi statusnya berbeda.

Ronaldo Luiz Nazario pernah berkostum biru merah dan kemudian berkostum putih tapi sebelumnya sempat mampir ke Italia dulu. Sementara itu Saviola juga berganti kostum dari Barca ke Madrid, bedanya Saviola bukan bintang besar seperti Figo sehingga proses perpindahannya tidak terlalu memantik kontroversi.

Figo sedang berada di puncak penampilannya, menjadi tumpuan Barcelona, dicintai fans dan bahkan menjadi deputi kapten. Tidak heran ketika Figo memutuskan menerima pinangan Real Madrid, lelaki asal Portugal tersebut dengan cepat dicap sebagai penghianat.

Figo tidak sendiri mengalami nasib yang sama. Selepas piala dunia 1990 di Italia, Roberto Baggio melesat sebagai bintang baru Italia. Fiorentina sebagai tim yang membesarkan Baggio kemudian melepas pemain tersebut ke Juventus. Dengan segera timbul gelombang protes dari supporter garis keras Fiorentina menentang kepindahan Baggio. Seragam Baggio dibakar massa, persis seperti yang terjadi pada Torres. Bahkan, ancaman pembunuhan menghampiri Baggio dan keluarga.

Seperti yang selalu saya bilang, sepakbola bukan hanya sebuah permainan. Banyak drama yang terjadi di dalam dan luar lapangan. Ada ikatan emosional yang membuat banyak hal absurd tiba-tiba saja bisa jadi kenyataan. Termasuk kecintaan dan kebencian fans yang sungguh luar biasa, atau bahkan kadang di luar nalar. Seorang bintang adalah milik semua orang yang mencintai klub itu. Ketika dia memutuskan akhir dari sebuah proses transfer, apalagi saat klubnya sedang berada dalam kondisi yang sedang tidak nyaman, maka bersiaplah untuk menanggung beban menjadi musuh para pecinta klub tersebut.

Seorang pesepakbola tentu punya alasan sendiri-sendiri untuk pindah dan berganti seragam, entah karena mengejar ?prestasi, jarang dimainkan, eskalasi kemampuan atau bahkan karena alasan guyuran dollar, pound atau euro. Tapi masalahnya adalah, tidak semua fans bisa berbesar hati menerima kepergian ?seorang bintang, apalagi bintang kesayangan di saat klub begitu membutuhkannya.

Kepergian seorang bintang saat tenaganya sangat dibutuhkan sebuah klub kadang menjadi alasan paling tepat untuk melekatkan label penghianat ke dahi sang bintang. Apapun itu alasannya, bahkan terkadang tindakan sudah di luar nalar seperti yang dialami Roberto Baggio, dengan adanya pembakaran kaos dan kemudian ancaman pembunuhan.

Tapi, tidak semua fans menutup mata seperti itu.

Musim 2009-2010 Kaka pindah dari AC Milan ke Real Madrid. Banyak fans menyayangkannya, banyak yang bersedih tapi tidak terlalu banyak yang membencinya karena keputusannya itu. Padahal waktu itu Kaka adalah idola para Milanisti, tumpuan kejayaan Milan selama beberapa tahun belakangan.

Kenapa mayoritas Milanisti bisa seramah itu pada Kaka ? Mereka sadar, keputusan ini bukan karena kemauan si bintang asal Brasil itu. Kaka terpaksa pindah karena managemen yang butuh duit, managemen yang merasa perlu menggali tambang emasnya untuk menutupi masalah keuangan klub. Milanisti tahu kalau Kaka berat meninggalkan San Siro, tapi tak bisa berbuat banyak pada kemauan pemilik klub.

Ketika Real Madrid bertandang ke San Siro dalam laga penyisihan grup Liga Champion Eropa, Kaka tetap disambut dengan hangat oleh para Milanisti. Seluruh San Siro bergemuruh memberi hormat pada bintang yang telah berjasa banyak dalam mengangkat kejayaan AC Milan 5 tahun belakangan.

Kaka beruntung, meski meninggalkan Milan saat dirinya masih dibutuhkan namun dia tetap diterima dengan tangan terbuka. Tapi, mungkin hanya sedikit pemain seperti dia karena sebagian besar pemain bintang yang meninggalkan klubnya saat sedang dibutuhkan lebih banyak menerima perlakuan sebagai seorang penghianat.

Seperti Torres, misalnya.

February 07, 2011 in Sepakbola

Peran Sang Gelandang

Pagelaran piala AFF telah selesai, hasilnya kita semua sudah tahu tentu saja. AFF meski tidak menghasilkan sebuah piala bagi Indonesia namun teta menjadi sebuah momen yang membanggakan di mana jutaan penduduk Indonesia bersatu padu mendukung tim merah putih dan sama-sama merasa memiliki. Bangsa ini tiba-tiba menjadi satu, disatukan oleh sebuah olahraga yang dimainkan 22 orang lelaki di atas lapangan hijau. Di sisi lain sepakbola naik satu level ke level selebritas.

Minimal ada 2 pemain timnas Indonesia yang namanya tiba-tiba melejit menjadi sorotan media, irfan Bachdim dan Christian Gonzales. Kedua lelaki berbedan usia nyaris 12 tahun ini menuai popularitas karena ajang AFF. Mereka dikejar, dipuja dan dipotret layaknya selebritas.

January 06, 2011 in Sepakbola

Drama Putaran Pertama

Sepakbola adalah drama dan panggung terbesarnya adalah piala dunia. Ketika tulisan ini saya buat, 32 tim yang tergabung dalam 8 grup sudah tuntas menjalani partai perdana mereka. Ada kejutan dalam 16 laga tersebut, selebihnya adalah pertunjukan sepakbola yang menghibur dan sisanya adalah pertandingan membosankan.

Kejutan terakhir dari putaran pertama justru hadir dari tim yang ditasbihkan sebagai unggulan pertama, Spanyol. Dengan predikat sebagai juara Eropa 2008 dan tim dengan penampilan paling menghibur, Spanyol malah takluk dari negeri dingin Swiss. Bermain menekan sepanjang waktu, pemain Spanyol dibuat frustasi oleh disiplinnya pemain belakang Swiss yang malam ini bermain ultra defensif. Strategi mereka memang masuk akal. Sadar kalau kalah dari segi skill, Ottmar Hietzfield lebih memilih untuk memaksa pemainnya diam di garis belakang dan menunggu waktu yang tepat untuk menghujam jantung pertahanan Spanyol. Ottmar mungkin terilhami strategi Jose Mourinho ketika Inter Milan menghentikan langkah Barcelona di Champions Eropa.

June 17, 2010 in Sepakbola, World Cup 2010

Ini Bukan Sekedar Permainan

Piala dunia tinggal menghitung hari. Aroma the greatest show on earthitu sudah bisa tercium di mana-mana. Dari bilik-bilik kantor yang wangi dan dingin ber-AC hingga warung pinggir jalan yang gerah dan berdebu. Lihat sekeliling anda, topik tentang piala dunia pasti muncul setiap kali para lelaki berkerumun. Mereka yang tak fasih menimpali obrolan tentang piala dunia pasti akan dianggap sebagai orang yang tak mengerti bola dan tak mengikuti perkembangan. Sebagian wanitapun terseret dalam arus demam piala dunia, singkatnya pagelaran 4 tahunan ini seperti magnet yang mampu menarik atensi jutaan penduduk di muka bumi, bahkan untuk mereka yang tak mengerti sepakbola sekalipun.

Hari rabu kemarin (9/6) saya sempat terlibat dalam chatting singkat dengan seorang teman. dari pembicaraan awal yang hanya bertukar salam kami kemudian mulai ngobrol tentang piala dunia. Saya coba mengulik rasa penasaran dia tentang piala dunia. Namun agak di luar dugaan saya, si teman ternyata sama sekali tidak tertarik dengan sepakbola, meski dalam situasi dunia yang sedang demam sepakbola seperti sekarang.

June 10, 2010 in Random Post, Sepakbola, World Cup 2010

5 Partai World Cup Paling Berkesan

Tahun ini gelaran sepakbola terbesar di muka bumi ini akan digelar kembali. Tahun ini juga akan genap sudah 20 tahun sejak pertama kalinya saya mengikuti secara serius ajang piala paling prestisius bagi para pesepakbola Bumi ini. Yah, Italy 1990 adalah kenangan pertama saya untuk piala dunia. Sebelumnya, Mexico ’86 belum cukup ampuh untuk menarik atensi saya. Saya masih berusia 9 tahun waktu itu dan arus informasi belum sederas sekarang sehingga wajar bila bagi anak-anak seumuran kami waktu itu, piala dunia belumlah jadi menu favorit. Saya dan teman-teman hanya mengenal nama-nama seperti Maradona, Burruchaga, Rummanigge dan Platini. Hanya sekedar tahu tanpa paham kehebatan mereka.

Italy’90 adalah titik mula kecintaan saya pada ajang World Cup. Pertama kalinya saya serius menahan kantuk menyaksikan tim-tim yang berlaga, meski tidak semua pertandingan berhasil saya tuntaskan. Tahun 1990 juga adalah pertama kalinya saya akrab dengan istilah-istilah sepakbola dan deretan pemain-pemain yang tak lagi sekedar saya kenal namanya tapi juga saya akrabi kemampuannya. Saya mulai tahu bagaimana liarnya Salvatore “Toto” Schillachi, bagaimana lincahnya Roberto Baggio dan Paul Gascoigne, bagaimana hebatnya Caniggia memanfaatkan setiap kesempatan untuk mencetak gol , atau bagaimana si bintang baru berbakat bernama Paolo Maldini baru saja memulai langkahnya di piala dunia pertamanya. Tahun 1990 adalah titik awal, selebihnya adalah sejarah.

Tahun ini akan jadi piala dunia keenam yang-Insya Allah-saya pelototi dan selama jangka waktu itu sudah ada ratusan pertandingan yang sudah saya tonton. Di antara ratusan pertandingan itu setidaknya ada 5 partai yang akan selalu saya kenang, sebenarnya banyak partai yang pantas untuk dikenang namun bila pilihannya dikerucutkan maka setidaknya 5 partai inilah yang akan pertama keluar dari benak saya. Mari kita simak, urutannya bukan berdasarkan kadar kenangan tapi benar-benar acak :

March 30, 2010 in Kenangan, Sepakbola, World Cup 2010

6 yang terkenang di 2009

Tahun 2009 sebentar lagi akan berlalu, tinggal hitungan hari saja. Orang-orang sudah sibuk menyusun rencana untuk malam pergantian tahun, sebagian juga sudah mulai merenung dan mengevaluasi tahun yang akan lewat dan membuat perencanaan menyambut tahun yang akan tiba. Saya pribadi tidak pernah terlalu antusias menyambut pergantian tahun. Seumur hidup saya Cuma pernah dua kali ikut acara pergantian tahun. Sekali waktu masih ABG dan sekali lagi karena terpaksa. Pernah juga saya membuat rencana dan resolusi setiap pergantian tahun tapi akhirnya lebih banyak hanya jadi catatan biasa yang tak banyak ditaati. Akhirnya saya pikir merenung dan membuat resolusi tak mesti menanti pergantian tahun, saya bisa melakukannya setiap hari, dan..pergantian tahun kembali jadi acara biasa yang tak ada bedanya dengan pergantian hari. Hanya berbeda di soal mengganti kalender saja.

Tahun inipun sama. Tak ada acara spesial dan tak ada resolusi spesial. Hanya saja hari ini saya coba membuat sesuatu yang agak berbeda. Saya ingin membagi 6 momen yang terjadi sepanjang tahun 2009 yang menurut saya punya tempat tersendiri di ingatan saya. Ini dia momen yang saya maksud :

BACKSPACER rilis resmi bulan September tahun ini.
Pearl Jam, satu-satunya survivor Seattle Sound kembali menunjukkan eksistensinya. Saat banyak orang awam bertanya apakah mereka masih eksis atau tidak, mereka dengan bangga melempar album studio kesembilan mereka di bulan sembilan tahun dua ribu sembilan ini.

Album ini juga sekaligus pembuktian kalau dari sisi musikalitas mereka semakin matang. Backspacer berisi lagu-lagu yang tak lagi mengandung kemarahan, kegelapan dan kritikan tajam. Situasi politik AS yang cenderung lebih adem pasca turunnya Bush membuat Vedder cs. sedikit melunak. Di album ini mereka menyebarkan aura positif dan optimisme lewat perenungan panjang tentang hidup dan kehidupan. Lirik dan musik yang mereka tawarkan lebih gampang dicerna kuping dibandingkan album terdahulu meski sama sekali tidak murahan. Untuk pertama kalinya juga selepas album ?Yield? mereka berhasil duduk di tangga nomor 1chart Billboard meski itu bukan tujuan mereka.

Pearl Jam tetaplah Pearl Jam. Mereka memainkan musik yang mereka suka, musik yang dipersembahkan untuk orang-orang yang menghargai mereka sebagai musisi dan manusia, bukan objek.

Koin untuk Prita.
Berawal dari sebuah keluhan lewat email dan berakhir di pengadilan negeri Tangerang. Itulah nasib yang dialami ibu Prita, seorang ibu rumah tangga biasa yang kebetulan mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari sebuah rumah sakit besar bertaraf Internasional.

Ibu Prita sempat ditahan di lembaga pemasyarakatan. Dukungan khalayak terutama yang digalang lewat dunia maya memaksa pihak pengadilan melunak dan membebaskan beliau. Tapi kasus ini tetap bergulir, nyaris tanpa menarik perhatian publik.

Perhatian baru tersedot kembali ketika ibu Prita terancam harus membayar denda Rp. 240 juta ke pihak Omni Internasional. Di sinilah para pendukung Prita, orang-orang biasa yang sudah muak dengan segala ketidakadilan di negeri ini kembali bereaksi. Awalnya hanya di dunia maya yang kemudian berlanjut ke dunia nyata. Koin-koin dikumpulkan sebagai simbol perlawanan. Hasilnya sungguh luar biasa, ditaksir nilai koin yang terkumpul mencapai Rp. 600 juta lebih yang datang dari segala penjuru negeri.

Sensasikah yang mereka cari ? Saya kira bukan. Mereka hanya berusaha menggelitik nurani kita yang sudah terlanjur lelah oleh ketidakadilan yang ada di sekitar kita. Dan Ibu Prita bukan orang terakhir yang jadi korban ketidakadilan itu.

December 28, 2009 in Kenangan, Opini, Random Post

Lelucon Terbesar Tahun Ini

beni-budiTahun 2009 sudah makin mendekati akhir, ada banyak kejadian yang terjadi di tahun ini. Banyak suka dan duka yang jadi kenangan. Bagi kita para pecinta sepakbola tanah air, ada satu kenangan yang bisa dibilang kenangan terburuk sekaligus jadi lelucon terbesar di tahun 2009 ini. Tahun ini, timnas kita yang berlaga di SEA GAMES Laos untuk pertama kalinya tidak lolos dari penyisihan grup sejak tahun 1977 dan, ini yang paling menggelikan, untuk pertama kalinya kalah dari Laos dengan skor 0-2.

Mengerikan..negara yang lima tahun lalu masih jadi lumbung gol kita, negara yang masih menata diri saat kita sudah mengirimkan anak-anak muda untuk belajar sepakbola ke Italia, negara yang sepuluh tahun lalu baru belajar menggunakan sepatu bola, sekarang sudah bisa mengalahkan kita..!! dengan 2 gol tanpa balas pula. Ada yang lebih mengerikan dari itu ?

Kekalahan kita 0-2 dari Laos dan 1-3 dari Myanmar jadi terasa makin lucu kalau kita hubungkan dengan ambisi PSSI untuk menjadikan Indonesia tuan rumah piala dunia 2022. Helloo…!! jadi tuan rumah piala dunia..? Come on man..!! wake up..!!

Ada perbedaan besar antara orang optimis dan pemimpi. Orang optimis akan memelihara mimpinya dengan sebuah proses yang jelas tanpa pernah menyerah, sementara para pemimpi hanya terus bermimpi dari atas ranjangnya tanpa pernah mau berusaha mewujudkannya dan tidak peduli mimpinya bisa jadi kenyataan atau tidak. Nah, para petinggi PSSI itu kira-kira orang optimis atau para pemimpi..?

Tahun depan Afrika Selatan akan jadi tuan rumah piala dunia, ini pertama kalinya negara Afrika mendapat kehormatan jadi tuan rumah. Belasan tahun lalu saya hanya tahu kalau Afrika Selatan adalah negara paling selatan di benua hitam Afrika dan negara terbelakang seperti kebanyakan negara Afrika lainnya. Saya sedikit kaget saat tahu kalau FIFA memberi mereka kepercayaan menggelar turnamen terbesar di muka bumi ini meski saya tahu saya tidak kaget sendirian karena banyak juga orang lain, bahkan negara besar yang lain yang kaget dan sedikit tidak percaya. Belakangan saya tahu kalau mereka memang sudah siap dan setidaknya pantas untuk jadi tuan rumah.

Afsel memulai setidaknya 11 tahun lalu. Tim nasional mereka lolos ke putaran piala dunia di Perancis. Pertumbuhan ekonomi mereka juga semakin sehat pasca jatuhnya rejim apartheid. Mereka juga mulai membangun infrastuktur termasuk jalan, transportasi dan akomodasi. Jadi sebelum mereka resmi menjadi tuan rumah 2010, mereka sudah mulai berbenah sejak-setidaknya-1998. Bagaimana dengan kita ?

December 21, 2009 in Random Post, Sepakbola

Bersiaplah untuk World Cup 2010

2010-FIFA-world-CupAda yang bisa menyebutkan sebuah cabang olahraga yang lebih popular daripada sepakbola ? Ada yang bisa menyebutkan sebuah cabang olahraga yang membuat jutaan orang di dunia ini rela memotong waktu tidur mereka ? Ada yang bisa menyebutkan sebuah cabang olahraga yang mampu memutar milyaran dollar atau poundsterling setiap tahunnya melebihi perputaran uang yang dihasilkan oleh sepakbola ?

Anda pasti butuh waktu untuk memikirkan jawabannya, atau bahkan mungkin ada yang langsung bilang : tidak bisa. Its OK, karena memang hampir tidak ada yang bisa mengalahkan sepakbola dalam soal menjaring penonton dan keuntungan. Sepakbola adalah olahraga terpopuler di muka bumi. Setuju ?

Dan, karena sepakbola adalah olahraga terpopuler maka puncak pertemuan tim-tim terbaik dari 5 benua jelas adalah puncak magnet dari olahraga ini. Yup, piala dunia akan hadir sekitar 6 bulan lagi, dan kegilaan empat tahunan akan bergulir lagi..!!

Paris berbaik hati menyediakan tempat untuk pengundian grup sebuah kejuaraan yang berada ribuan mil ke selatan dari jantung negara Perancis itu. Hasilnya, 32 wakil negara yang lolos ke Afrika Selatan itu pulang ke negaranya masing-masing dengan beragam ekspresi.

Marcello Lippi, Fabio Capello dan Vicente Del Bosque bisa pulang dengan senyum, mereka juga bisa tidur nyenyak setidaknya beberapa minggu setelah pengundian. Italia, Inggris dan Spanyol beruntung bisa masuk ke dalam grup yang di atas kertas relatif ringan. Italia berdiam di grup F bersama Paraguay, Selandia Baru dan Slovakia.

Selain Paraguay, Selandia baru dan Slovakia adalah nama yang masih asing dalam orbit kejuaraan terbesar di muka bumi ini. Popularitas dan kemampuan kedua negara itu bisa dibilang masih satu strip di bawah Italia. Paraguay mungkin jadi ancaman berat mengingat mereka adalah wakil Amerika Selatan, benua yang selalu jadi saingan berat orang-orang bule di daratan Eropa dalam hal prestasi sepakbola. Meski kalah pamor dari Brasil, Argentina dan Uruguay tapi Paraguay negara Amerika Latin dan Amerika Latin tetaplah produsen pemain dan tim-tim terbaik. So, Marcello Lippi hanya perlu meningkatkan kewaspaan dua kali lipat saat menghadapin Paraguay.

December 12, 2009 in Sepakbola, World Cup 2010

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site