Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Alam bawah laut ( foto by : Jitho) Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan bagian...

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang
Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Press and Marine Excursion Minggu ini saya akan keluar dari aturan yang saya buat. Kalau biasanya...

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde
Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Posts Tagged With 'Pearl Jam'

The Fans All Alright 5

The Fans All Alright

Pearl Jam and Their Fans

Tidak banyak band besar di dunia yang begitu menghargai fansnya seperti Pearl Jam menghargai fansnya. Sebagian kisah antara mereka dan para fans dikemas dalam sebuah film berdurasi 80 menit yang merupakan bagian dari PJ20 dan diberi judul : The Fans All Alright

Apa arti fans bagi sebuah band ? Hanya sekumpulan orang yang menyenangi hasil karya mereka ? Hanya sekumpulan orang yang membeli hasil karya mereka dan kemudian begitu antusias datang ke pertunjukan mereka ? Atau sekumpulan orang yang memberi mereka energi besar untuk terus berkarya ?

Bagi Pearl Jam, band rock asal Seattle,? fans adalah segalanya. Mereka bukan hanya sekumpulan orang yang berdiri di depan mereka ketika konser, atau sekumpulan orang yang menyisihkan uang mereka untuk membeli semua album yang sudah mereka keluarkan. Fans bagi Pearl Jam adalah sekumpulan saudara yang ikut bersama mereka dalam 20 tahun lebih perjalanan karir mereka.

Mereka memulai karir dari sebuah klab kecil, menggelinding dari klab ke klab hingga ke panggung besar di depan puluhan ribu penonton. Selama 20 tahun lebih Pearl Jam sudah menggelar ratusan konser di ratusan kota di nyaris di berbagai negara di dunia ( sayangnya Jakarta belum termasuk ) dan dalam rangkaian itu ikatan erat antar band dengan para fans semakin erat.

Dalam Fans All Alright terbaca dengan jelas bagaimana Pearl Jam begitu menghargai para fansnya. Selepas tragedi Roskilde tahun 2000, Pearl Jam semakin menghargai ikatan itu. Kematian 9 orang fans di konser tersebut memukul psikologis mereka, menyadarkan kalau mereka harus lebih menghargai para fans yang sudah meluangkan waktunya untuk datang menikmati konser.

Eddie Vedder sang vokalis selalu berusaha untuk menjalin komunikasi dengan para fans. Di negara yang tak berbahasa Inggris, dia selalu berusaha untuk merangkai kalimat dalam bahasa lokal sebagai sebuah jembatan untuk mendekatkan diri dengan para fans. Eddie juga selalu mengingatkan para fans untuk menjaga diri dan menjaga teman-teman mereka yang berada di sekeliling mereka.

” Take care yourself, take care one and another “, Pesan Eddie di setiap penampilannya.

Bagi Pearl Jam, energi yang mereka dapatkan dari setiap teriakan para fans harus dikembalikan lagi, dan mereka mengembalikannya dalam bentuk penampilan yang all out.

Pearl Jam selalu menggelar konser dengan durasi 3 jam per konser. Sebuah durasi yang jelas lebih lama dibanding band-band lain. Hal tak lazim lainnya adalah mereka bisa membuat set list yang berbeda untuk penampilan dua malam berturut-turut. Mereka bukan tipe band yang menganakemaskan satu-dua lagu dan kemudian memainkannya berkali-kali di hadapan penonton.

Pada sebuah konser di Boston tahun 2003, Pearl Jam yang tampil tiga malam berturut-turut membawakan 93 buah lagu dan hanya satu lagu yang diulang dua malam berturut-turut. Para fans tentu tidak akan melewatkan sebuah konser yang penuh dengan kejutan seperti itu.

Pearl Jam pernah “mengorbankan” karirnya untuk memulai perseteruan dengan Ticketmaster yang mereka anggap terlalu banyak mengambil untung dari penjualan tiket dengan mematok harga tiket yang mencekik fans. Keputusan pengadilan yang membuat mereka kalah membuat Pearl Jam selama beberapa tahun tidak bisa tampil di venue besar dan hanya boleh menggelar konser-konser kecil. Tapi mereka tidak peduli, mereka sudah bahagia telah melakukan sesuatu untuk fans mereka.

Sejak tahun 2000 Pearl Jam juga mengeluarkan bootleg khusus untuk fans-fans mereka yang berisi rekaman konser. Dalam lingkup fans Pearl Jam juga ada sesuatu yang bernama DVD Tree di mana Pearl Jam sendiri sebagai band memberikan kelelulasaan kepada para fans untuk melakukan penggandaan material selama itu bukan produksi label.

The Fans All Alright yang merupakan bagian dari film dokumenter Pearl Jam Twenty menggambarkan dengan jelas bagaimana Pearl Jam menghargai fansnya dan tentu saja membuat para fans juga begitu menghargai Pearl Jam.

” They don?t know how much the?ve done for us and how we really appreciate that, ” kata seorang fans.

 

[dg]

January 27, 2012 in Film, Jumat, Review
PJ20 ; Kisah Panjang Sebuah Band 2

PJ20 ; Kisah Panjang Sebuah Band

Pearl Jam

Berapa banyak band besar yang mampu bertahan selama 20 tahun, hanya dengan sedikit pergantian personil dan tetap aktif mengeluarkan album dan menggelar konser ? Pearl Jam adalah salah satunya.

Seattle, akhir dekade 80an. Kota di barat Amerika Serikat yang akrab dengan hujan itu tiba-tiba menjadi pusat perhatian dunia musik. Ketika jaman hair metal, glam rock atau apapun yang dinamakan orang perlahan memudar, era baru muncul dari Seattle. Orang menyebutnya sebagai grunge, sebagian menyebutnya alternatif rock meski mereka yang memainkannya tak pernah peduli apa jenis musik mereka.

Nirvana, Soundgarden, Alice in Chains,Pearl Jam. Itu nama-nama yang kemudian jadi makanan empuk industri musik. Dilempar ke pasaran, dikunyah pasar dan berhasil mendatangkan dollar. Sorotan lampu mengarah ke Seattle, sebagian besarnya mengarah ke sosok seperti Kurt Cobain, Chris Cornell dan Eddie Vedder para frontman dari band-band grunge paling terkenal masa itu.

Kurt tidak tahan sorotan dan menembak kepalanya di suatu hari di bulan April 1994. Chris Cornell dan Soundgarden bubar jalan, Alice in Chains meredup dan 20 tahun kemudian tersisa satu nama yang masih terus bertahan ; Pearl Jam.

Kenapa Pearl Jam bisa bertahan selama itu ?

Kesamaan visi adalah jawabannya. Band yang awalnya dibentuk oleh Stone Gossard dan Jeff Ament sebagai sebuah pilihan selepas bubarnya Mother Love Bone yang ditinggal mati Andy Wood sang vocalis ini berkembang menjadi salah satu band yang paling idealis. Mike McCready yang bergabung kemudian dan dilengkapi oleh sang penyanyi bersuara bariton Eddie Vedder menjadi band yang tidak mabuk oleh popularitas.

Ketika album pertama mereka Ten laku jutaan kopi di seluruh dunia, serta merta mereka menjadi rock star, diincar wartawan, masuk ke halaman depan majalah-majalah musik dunia, muncul di televisi dan seharusnya mencicipi kemewahan a la bintang. Tapi mereka menolak. Mereka sedapat mungkin tetap memijakkan kaki di tanah. Mereka menolak membuat video musik untuk single Black yang populer waktu itu.

Ketika sebuah band menjadi terkenal dan mulai mabuk ketenaran, Pearl Jam tidak. Mereka duduk dan merenungi tujuan mereka yang sebenarnya. Benarkah popularitas itu yang mereka cari ? Benarkah ketenaran itu yang jadi tujuan utama mereka ? Sebuah kebetulan yang sangat manis karena keempat anggota inti Pearl Jam ( di luar drummer yang sering berganti ) adalah orang-orang yang senang merenung, senang mencari jawaban dari semua kejadian. Bukan hanya menikmatinya.

Perjalanan 20 tahun mereka yang terekam dengan apik di PJ20 ibarat sebuah mozaik indah yang dikumpulkan keping demi keping untuk mendapatkan sebuah gambaran besar tentang sebuah band yang tetap memijak bumi meski ketenaran sudah ada di tangan mereka.

Hubungan antar anggota adalah hubungan yang sangat dalam. Ini juga yang menjadi satu kekuatan terbesar dari Pearl Jam. Eddie Vedder yang menjadi frontman dan memikul beban moral paling berat dari ketenaran itu tak lantas menjadikan dirinya tiran. Begitu juga dengan Stone dan Jeff yang sesungguhnya adalah pemilik Pearl Jam. Mereka semua membuat level yang sama, suara yang sama dan kesempatan yang sama.

The Fans

PJ20 juga memuat kisah unik anggota Pearl Jam yang menjalin kekerabatan luar biasa dengan fans mereka. Selama 20 tahun mereka terus berusaha membela kepentingan fans dan memberikan yang terbaik meski itu berarti mereka harus siap dengan hukuman akibat kalah melawan tirani ticketmaster. Fans menghormati mereka sebagai sebuah band yang punya respek sangat besar kepada fansnya.

Cameron Crowe sang sutradara yang berlatar belakang jurnalis itu memang punya sense yang tepat untuk membuat film dokumenter Pearl Jam. Gaya investigasinya sangat dalam dan berhasil mengangkat beberapa fakta yang selama ini mungkin hanya jadi pergunjingan penikmat musik rock. Salah satunya adalah soal pertikaian antara Kurt dan Eddie yang terlalu dibesar-besarkan media. Cameron sudah lama dekat dengan anggota Pearl Jam dan pemusik Seattle lainnya, jadi bukan masalah besar untuk menuliskan dan kemudian mengangkatnya ke layar lebar.

PJ20 adalah sebuah film dokumenter yang wajib disaksikan para penikmat musik, di dalamnya tersurat dengan jelas sebuah kisah sukses dari sebuah band yang melewati masa 20 tahun tidak dengan mudah. Ada banyak hal yang bisa dipetik dari perjalanan mereka. Tentang konsistensi, tanggung jawab, kedekatan, kerendah hatian dan perhatian pada fans.

” They never realize how much they do for us. The fans. And how we really really appreciate that “

Long live Pearl Jam !!

December 30, 2011 in Film, Pearl Jam, Review
Militansi A La Jamily 4

Militansi A La Jamily

Akhirnya nama Indonesia tercantum juga

Apa yang menjadi penggerak dasar sebuah komunitas ? Uang ? Iming-iming jabatan dan kekuasaan ? Sepertinya tidak. Uang, jabatan dan kekuasaan hanya milik partai, tidak dengan komunitas. Komunitas hanya punya kecintaan dan rasa saling memiliki.

Saya tidak pasti siapa yang memulai, berita tentang screening film dokumenter PJ20 menyebar di dunia maya. Berita yang membuat beberapa orang anggota komunitas Pearl Jam Indonesia seperti kebakaran jenggot.

Betapa tidak, film yang sudah dinantikan sejak awal tahun ini akan tayang di beberapa bioskop di berbagai belahan dunia. Tapi tidak di Indonesia !!

Parahnya lagi karena tetangga kita yang hanya berjarak kurang lebih dua jam bernama Singapura ternyata mendapat jatah tayang, bahkan 4 venue sekaligus !! Pun dengan Jepang yang berada di bagian utara Indonesia.

Para penggila band asal Seattle itu tidak tinggal diam. Beberapa dedengkotnya mulai menyusun rencana, melakukan apapun supaya film dokumenter besutan Cameron Crowe itu juga bisa tayang secara resmi di bioskop-bioskop tanah air. Apapun resikonya.

Maka gerilya itupun dimulai. Ada yang secara resmi menulis email kepada distributor film tersebut, mencoba mencari tahu bagaimana caranya agar film tersebut bisa masuk ke Indonesia. Ada yang mencoba mendekati salah satu agency film dalam negeri dan mencari tahu kemungkinan memutar film tersebut jika pihak distributor resmi benar-benar memberi jalan untuk pemutaran resminya di Indonesia.

Semua kemudian berjalan di alur yang tepat. Distributor resmi bersedia mendistribusikan film tersebut asalkan ada pihak yang bersedia menanggung biaya dan perijinan. Dari dalam negeri, pihak yang diharap juga memberi lampu hijau meski berarti untuk memutar film tersebut di sebuah bangunan bernama bioskop konon mereka harus menyediakan dana tidak kurang dari Rp. 60 juta rupiah. Dana yang mungkin hanya seujung kuku dari harta seorang Nazaruddin yang sekarang mendadak jadi orang bego itu.

Pesta harus tetap berjalan. Maka dimulailah penggalangan dana untuk sekadar membantu menutupi kekurangan dana untuk mendatangkan film PJ20 itu. Langkah pertama tentu saja lewat penjualan tiket, bagaimana caranya supaya tiket bisa sold out menjelang hari H. Syukurlah karena kabarnya hanya dalam beberapa hari tiket yang dibanderol seharga Rp. 100 ribu itupun sudah habis 250 lembar dari 500 lembar yang disediakan.? Langkah pertama bisa dibilang mulus.

Langkah yang lain adalah penggalangan dana secara sporadis, yaitu dengan membuat pertunjukan pre-event. Beberapa band secara sukarela menyumbangkan talenta mereka, tampil di panggung-panggung membawakan lagu-lagu Pearl Jam demi usaha untuk meraup tambahan rupiah sekaligus menjaring massa. Tanggal 13 September kemarin pre event pertama sudah digelar, berikutnya adalah tanggal 17 September besok.

Langkah berikutnya adalah, mengumpulkan dana sebanyak mungkin dari penjualan merchandise berupa kaos dan poster yang bertema PJ20. Pelakon utamanya adalah sebuah rumah produksi milik salah seorang Jamily ( sebutan bagi penggemar Pearl Jam ). ?Langkah yang bisa dibilang paling tidak biasa adalah lelang barang-barang PJ related, utamanya yang berkategori rare, jarang dan susah ditemukan. ?Kali ini pelakonnya adalah beberapa orang pentolan Pearl Jam Indonesia yang sudah terlanjur dikenal sebagai maniak Pearl Jam, orang-orang yang sepertinya mendedikasikan separuh hidupnya untuk mengumpulkan banyak material tentang Pearl Jam.

Orang-orang gila itu bekerja tanpa kenal lelah. Tidak ada unsur materi yang terkandung dalam setiap langkah mereka. Tidak ada juga keinginan untuk jadi populer, tenar, berkuasa atau apalah namanya. Orang-orang gila itu berjalan dengan satu semangat, mereka ingin agar nama Indonesia juga dikenal oleh manajemen Pearl Jam, agar nama Indonesia juga termasuk dalam daftar resmi yang mungkin tertulis di atas meja orang-orang di balik Pearl Jam.

Hasilnya terlihat tadi pagi. Di website resmi yang memuat tentang jadwal resmi pemutaran PJ20 nama Indonesia akhirnya masuk, sejajar dengan nama Jepang dan Singapore, dua negara yang pernah disinggahi Pearl Jam untuk menggelar konser.

Satu perjuangan yang membuahkan hasil, dan tidak menutup kemungkinan membuka pintu untuk perjuangan berikutnya, perjuangan yang lebih berat : membuat Pearl Jam manggung di Indonesia. Sebuah gerakan yang sudah digagas bertahun-tahun lamanya, diberi label Bring Pearl Jam To Indonesia.

Bagaimana dengan saya ? Sedihnya karena saya ada di Jakarta 4 hari sebelum pemutaran film PJ20, tapi sayangnya harus kembali ke Makassar sehari kemudian. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan bila ingin memperpanjang masa tinggal di Jakarta untuk ikut dalam euforia PJ20. Huh, sungguh menyedihkan.

Apapun itu, saya turut merasakan atmosfer kegembiraan yang merayap bersama sekumpulan orang-orang gila penggemar Pearl Jam itu. Mungkin memang bukan jodoh saya untuk ikut larut bersama mereka. Mungkin nanti, ketika Pearl Jam benar-benar datang untuk menggelar konser di Indonesia. Amin..

 

Catatan : jadwal dan info lebih lanjut tentang pemutaran PJ20 di Indonesia bisa dibaca di sini.

September 14, 2011 in Pearl Jam
50 Fakta Tentang Pearl Jam 4

50 Fakta Tentang Pearl Jam

Pearl Jam 20

Tidak banyak band yang bisa bertahan selama dua dekade dengan sedikit perubahan personel. Pearl Jam salah satunya. Terasa lebih spesial lagi karena Pearl Jam adalah band yang pada awal kehadirannya diklaim sebagai band beraliran grunge, aliran yang tumbuh di Seattle, Washington.

Grunge pernah sangat populer pada periode tahun 90an dengan beberapa pengusung seperti Pearl Jam, Nirvana, Alice in Chains dan Soundgarden. Selepas kematian Kurt Cobain, genre Grunge perlahan pudar. Para pengusungnyapun perlahan menghilang dari hingar bingar musik rock.

Dua dekade setelah masa jayanya aliran grunge, Pearl Jam ternyata masih ada meski mereka sekarang menyebut diri sebagai rock band. Pearl Jam masih aktif dengan jutaan fans fanatiknya di seluruh dunia.

September 2011, Pearl Jam akan genap berusia 20 tahun. Beragam acara digelar untuk memperingati 20 tahun Pearl Jam, salah satunya adalah peluncuran film dokumenter besutan Cameron Crowe ( sutradara Vanillay Sky, Almost Famous, Jerry McGuire, dll ). Di Indonesia, atas prakarsa ?komunitas Pearl Jam Indonesia film dokumenter ini akan tayang di XXI Epicentrum Walk 20 September nanti.

Sebelum menengok film tersebut, mungkin ada baiknya anda tahu dulu beberapa fakta tentang band asal Seattle ini. berikut ada 50 fakta tentang Pearl Jam :

September 09, 2011 in Pearl Jam

Pearl Jam ; Kuat Karena Lirik

Pearl Jam

Seattle, awal 90an. Sebuah kota kecil yang hampir sepanjang tahun basah oleh hujan tiba-tiba menghangat oleh kehadiran deretan band-band lokal yang menyeruak di antara kepungan band rock dari Los Angeles. Pearl Jam salah satunya. Dengan aroma musik yang oleh media diberi label Grunge, mereka menapaki tangga kesuksesan, beriringan bersama band lain seperti Nirvana, Soundgarden dan Alice in Chains.

Dua puluh tahun setelah masa jaya band-band asal Seattle itu berlalu, praktis hanya Pearl Jam dan Alice In Chains yang masih bertahan, sisanya bubar atau meredup tak bersinar lagi. Seleksi alam menggugurkan mereka yang memang tak bisa bertahan. Di antara para survivor mungkin Pearl Jam yang paling kuat dengan fanbase yang solid di seluruh dunia.

Kenapa Pearl Jam bisa tetap bertahan di usianya yang 20 tahun ? Di masa di mana aliran rock yang dulu dilabeli grunge sudah tidak populer lagi ? Ada banyak teori, ada banyak alasan yang bisa keluar dari mulut para fansnya. Attitude, kerendahan hati, soliditas, dan tentu saja musik dan lirik.

Musik dan lirik, dua komponen dasar kenapa Pearl Jam begitu spesial bagi para fansnya, sisanya adalah pelengkap penyempurna. Pearl Jam selalu serius menggarap musik mereka, deretan personil dengan kemampuan di atas rata-rata adalah senjata pamungkas untuk menciptakan musik dengan kualitas terbaik.

Pearl Jam juga beruntung dikarunia seorang lelaki bernama Eddie Vedder. Pria kelahiran San Diego ini adalah otak di balik sebagian besar lirik dalam rangkaian lagu Pearl Jam. Lelaki dengan masa lalu yang suram ini lihai merangkai kata dan menjadikannya deretan lirik dengan multi interpretasi. Eddie sungguh lihai memilih kata-kata, menggabungkannya dengan kata yang lain hingga tercipta lirik yang begitu kuat, dengan interpretasi yang macam-macam. Eddie, lelaki yang senang merenung itu ibarat seorang pesulap yang dengan tongkat ajaib berbentuk ballpoint atau pensil menyulap rangkaian huruf itu menjadi sebuah lirik. Ketika terbentuk menjadi sebuah lagu, Pearl Jam mengundang para fans, para kritikus, para penikmat atau siapa saja untuk menginterpretasikan lirik-lirik mereka sebebas-bebasnya.

Karena semua lagu adalah spesial, maka Pearl Jam tak pernah memberi label ?anak emas? untuk lagu-lagu mereka. Semua lagu punya muatan yang sama, lahir dari sebuah perenungan, diskusi dan pergulatan yang intens. Pearl Jam bukan band yang membuat satu atau dua hits dengan lagu-lagu lain sebagai pelengkap. Mereka mengistimewakan semua lagu dari 9 album dan puluhan single-single lainnya. Pearl Jam bisa manggung 2 hari berturut-turut dengan 30 lagu yang berbeda. Karena bagi Pearl Jam, semua lagu adalah anak emas, yang lahir dengan kemasan lirik dan musik yang tak sekedarnya.

Artikel ini dimuat pada majalah : Soundup edisi februari 2011

March 11, 2011 in Pearl Jam

Lagumu adalah Moodmu

Listening for the music. foto are taken from flickr by : juliusfrumble

Saya lupa ungkapan di atas saya dengar di mana, yang jelas saya setuju. Buat saya yang sangat suka musik ? meski mengakui kalau selera musik saya berhenti di 90an ? musik adalah elemen terpenting yang menggambarkan mood saya saat itu. Mood yang lagi jelek saya tandai dengan lagu yang keras, cenderung bernuansa kemarahan. Mood yang yang lagi bagus biasanya saya tandai dengan lagu – yang tetap keras, tapi -? bernuansa lebih optimis.

Pilihan lagu di pagi hari biasanya jadi penanda paling penting untuk suasana hati sepanjang hari. Pilihan lagu yang pas sepanjang perjalanan ke kantor biasanya akan sangat mempengaruhi suasana hati hari itu. Kalaupun ada perubahan drastis biasanya karena ada “insiden” yang memaksa saya mengubah playlist mengikuti suasana hati.

Entah kenapa, yang jelas bagi saya musik yang pas sangat membantu. Entah membantu memelihara semangat dan mood yang gak enak, atau membantu memperbaiki mood yang sedang rusak. Rasanya luar biasa ketika berhadapan dengan beban pekerjaan yang berat atau tekanan lain yang tidak mengenakkan tapi ada rentetan lagu yang mampu meringankan itu semua atau setidaknya menjaga mood menjadi lebih asik.

Mau tahu pilihan lagu sesuai mood saya ? berikut kira-kira gambarannya :

Mood cerah, dan sedang semangat.

Kalau pagi hari rasanya bangun dengan mood yang sedang cerah, pilihan saya jatuh pada playlist dari band Linkin Park, utamanya playlist pada album Live in Texas.

Hentakan musik yang keras plus sedikit sentuhan dance via rap dan DJ-nya sangat efektif menjaga mood yang sedang cerah. Sepanjang jalan saya bisa ikutan menyanyi, bahkan kadang sambil berteriak ketika Chester atau Sinoda berteriak. Pokoknya pilihan yang tepat untuk mood pagi yang cerah.

Pilihan lain ketika mood sedang cerah tentu saja adalah Pearl Jam. Tapi, diiringi sedikit pemilihan judul lagu. Saya berusaha menghindari lagu-lagu Pearl Jam dari album No Code ke sini. Takut terjebak pada lagu yang “berat” dengan filosofi yang dalam, takut kalau akhirnya mood untuk gila-gilaan jadi berubah. Khusus untuk Pearl Jam, lagu-lagu pembangkit semangatnya saya ambil dari album sebelum No Code ( dan Vitalogy ) ketika lagu Pearl Jam masih banyak diwarnai nada kemarahan.

Mood sedang, tidak terlalu semangat dan tidak sedang muram

Nah, jika mood sedang berada pada level mid, artinya tidak sedang terlalu semangat dan tidak sedang muram maka Pearl Jam jadi pilihan utama. Deretan lagu Pearl Jam paling pas untuk menemani hari di mood yang sedang dalam level mid.

Deretan lagu dengan musik yang luar biasa dan lirik yang dalam menurut saya sangat pas sebagai teman sehari-hari.

Selain Pearl Jam, masa-masa dengan level mood yang sedang ini biasanya juga saya lengkapi dengan lagu-lagu dari musisi lain. Di saat seperti inilah biasanya akan nyempil lagu dari band-band rock 90-an, band-band beraliran Jazz, sedikit musisi jaman sekarang atau bahkan beberapa lagu dangdut.

Pokoknya pada saat berada dalam mood seperti ini, semua lagu bisa jadi pilihan tentu saja dengan Pearl Jam sebagai pilihan utama.

Mood muram, suasan hati tidak enak.

Saat sedang muram dengan mood yang rada gelap, pilihan lagu biasanya beragam. Saat ingin menikmati kemuraman saya akan memilih lagu yang betul-betul sendu dengan lirik yang gelap. Contohnya Release, Footstep, Longroad, Immortality, All Those Yesterday atau beberapa deret lagu lainnya dari Pearl Jam. Selebihnya adalah lagu sendu dari band lain, semisal Hello dan My Immortal-nya Evanescence.

Kalau misalnya mau keluar dari suasana muram saya memasukkan pilihan lagu yang ekstrim, bisa saja jatuh pada lagu-lagu keras dari Metallica, Sepultura atau Pearl Jam dan Linkin Park sendiri. Kalau bisa malah akan saya ikuti dengan sedikti teriakan, tentu saja teriakan bernada frustasi atau kemarahan.

Okeh, itu sederet keterangan tidak penting tentang kaitan antara mood dan playlist saya. ?Teman-teman pasti punya pilihan lagu sendiri kan ? Dan saya yakin, teman-teman pasti akan membenarkan bahwa lagu dan mood itu punya kaitan.

Betul kan ?

February 18, 2011 in Opini, Random Post

Tragedi Roskilde 2000

Pearl Jam

30 Juni 2000, Festival Roskilde di Denmark akan dikenang sebagai sebuah tragedi paling memilukan dalam kisah perjalanan Pearl Jam. Hari itu, 9 orang fans menghembuskan nafas terakhirnya akibat terinjak-injak dalam sebuah kerusuhan antar penonton.

Roskilde Festival sendiri adalah sebuah festival tahunan yang dianggap terbesar di benua Eropa. Diadakan di sebelah utara kota Roskilde di Denmark dan menghadirkan berbagai band dan pemusik papan atas dunia. Tahun 2000, Pearl Jam mendapat kesempatan untuk hadir bersama musisi besar lainnya seperti Oasis dan Pet Shop Boys.

Sekitar pukul 22.30 waktu setempat, Eddie Vedder mulai menyanyikan bait awal dari lagu Corduroy di depan puluhan ribu penonton yang tidak semuanya merupakan fans Pearl Jam. Karena ini adalah festival, jadi banyak fans band/musisi lain yang juga mengerubuti panggung utama yang disebut Orange Stage.

Pearl Jam baru membawakan beberapa lagu ketika suasana makin tidak terkendali. Penonton berdesakan merapat ke panggung, tanah yang basah dan berlumpur oleh hujan membuat banyak penonton mulai kehilangan keseimbangan. Beberapa orang mencoba untuk melakukan crowd-surfer, naik ke atas para penonton dan berharap tubuhnya dioper ke penonton yang lain melalui kepala untuk keluar dari kerumuman yang semakin tak terkendali itu. Sayangnya, tidak cukup orang yang mau menahan mereka sehingga kemudian mereka malah jatuh ke tanah yang berlumpur dan mulai terinjak-injak.

Ketika situasi makin menggila, Eddie Vedder menghentikan lagu Daughter dan berkata, ” Apa yang terjadi 5 menit kemudian tidak ada hubungannya dengan musik, tapi ini penting. Bayangkan kalau saya adalah temanmu dan kau tidak akan tega untuk menyakitiku. Kalian semua punya teman di sini. Saya akan hitung sampai tiga dan meminta anda semua untuk mundur “. Eddie berusaha menetralkan suasana, meredakan kepanikan yang mulai terasa di antara penonton dan meminta penonton melonggarkan kerumunan.

Sayangnya, beberapa dari penonton menganggap kata-kata Eddie adalah bagian dari show. Bagi para fans rock, saling dorong, melompat dan semacamnya adalah hal lumrah dalam sebuah konser. Banyak yang belum sadar apa yang sebenarnya terjadi. Penonton tetap bersemangat, himbauan Eddie hilang ditelan udara malam yang semakin dingin.

Sebagian besar penonton belum paham drama yang sedang terjadi, mereka menanti dengan tidak sabar penampilan berikutnya dari Pearl Jam tapi sekitar pukul 23.25, tak ada lagi musik. Tak ada kesenangan yang tersisa pada Roskilde Festival 2000. Setelah sekitar 7 menit yang menegangkan, kerumuman itu mulai mereda, para penonton perlahan mundur cukup jauh. Sayangnya, itu terlambat. Sangat terlambat. 23.32, polisi kota Roskilde mendapat laporan 5 orang meninggal akibat terinjak.

Pearl Jam sepakat menghentikan sisa penampilannya malam itu, pun dengan Oasis dan Pet Shop Boyz yang membatalkan penampilannya di sisa dua hari festival. Mereka menganggap tak adil bagi para korban dan keluarganya bila terus memaksakan untuk tampil.

Polisi Denmark menyalahkan Pearl Jam atas tragedi tersebut, namun kemudian mereka meralatnya dan membersihkan nama Pearl Jam sebagai biang keladi kerusuhan.

Kejadian ini membekas dalam benak para personel Pearl Jam. Sebulan setelah kejadian di Roskilde, Pearl Jam tampil pada tour Amerika Utara. Di hadapan penonton, Eddie Vedder berkata, ” Bermusik, menghadapi kerumunan fans dan berdiri bersama-sama membuat kami mampu memulai proses dari awal lagi “. 10 tahun setelah kejadian, dalam rentetan konsernya di Eropa Eddie berkali-kali menunjukkan duka citanya yang mendalam atas tragedi Roskilde. Bagi Eddie dan kawan-kawan, apa yang terjadi di tahun 2010 itu adalah sebuah kenangan mengerikan tentang bagaimana sebuah kesenangan pada awalnya bisa berubah menjadi sebuah tragedi dan tangisan pada akhirnya.

Tahun 2011, Pearl Jam berencana meluncurkan sebuah video dokumenter yang merekam perjalanan karir mereka selama 20 tahun. Bukan hanya kisah tentang kesuksesan, kegembiraan dan kebersamaan tapi juga tentang kesedihan, salah satunya adalah Roskilde Tragedy.

Semoga tragedi itu adalah yang terakhir, bukan cuma buat Pearl Jam tapi buat semua musis dan band di mana saja. Rasanya sungguh tidak adil saat kita harus mengorbankan nyawa untuk sebuah kesenangan bernama musik.

Mari menikmati musik, tanpa harus kehilangan nyawa.

Catatan :

Cerita lain tentang Tragedy Roskilde bisa dibaca di sini : http://loveboat.forumcommunity.net/?t=1608569

Catatan sorang fans tentang mitos dan fakta seputar Roskilde Tragedy bisa dibaca di sini : http://www.fivehorizons.com/feature/roskilde.shtml

Video Eddie Vedder yang menangis mengingat tragedi Roskilde bisa dilihat di sini :

January 25, 2011 in Kenangan, Opini, Pearl Jam

3 Level Fans Pearl Jam

Saya adalah fans Pearl Jam. Mungkin sudah masuk dalam kategori terobsesi karena selama bertahun-tahun saya hampir hanya mendengarkan musik dan lagu dari mereka. Prosentasenya mungkin di atas 80% lagu-lagu Pearl Jam berbanding kurang dari 20% lagu-lagu dari kelompok atau musisi dan penyanyi yang lain. Alasannya tidak usah saya ceritakan lagi, semua ada di blog ini. Meski tergila-gila pada Pearl Jam, saya juga belum berani mengklaim diri sejajar dengan Hilman dan Reza, dua orang kamus berjalan Pearl Jam di Indonesia.

Sebagai fans berat sebuah band yang masa keemasannya sudah lewat namun belum cukup memenuhi kriteria sebagai legenda, adalah sebuah kesulitan sendiri untuk menemukan orang-orang yang senasib dan searah dengan saya, utamanya di dunia nyata. Saya cukup beruntung bisa berkenalan dengan para “Lost Dog” se Indonesia yang membuat saya benar-benar tidak merasa sendirian.

Beberapa waktu yang lalu saat iseng mencari seorang teman di jejaring sosial Facebook saya menemukan sebuah account bernama Pearl Jam. Pemiliknya adalah seorang lelaki muda yang berdomisili di Makassar. Didasari oleh keinginan untuk berkenalan dengan sesama Jamily utamanya yang berdomisili di Makassar, saya menambahkan dia sebagai teman. Tak lama kemudian ajakan saya bersambut. Dengan segera saya menulis di dindingnya, bertanya apakah dia benar-benar seorang fans Pearl Jam sambil tak lupa memperkenalkan diri sebagai seorang penggemar Pearl Jam juga.

Tak berapa lama pertanyaan saya terjawab. Dia mengaku suka pada Pearl Jam. Sampai di sini saya sudah mulai kehilangan semangat dan bisa menebak seperti apa kadar “suka” si cowok ini. seorang fans berat (setahu saya) tidak akan menggunakan kata “suka” apabila dipancing berbicara tentang idolanya. Setidaknya dia akan menggunakan kata “suka banget” atau bahkan “tergila-gila”. Percakapan kami lewat dinding FB berlanjut dan berujung pada kekecewaan di pihak saya.

February 23, 2010 in Opini, Pearl Jam

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site