Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Alam bawah laut ( foto by : Jitho) Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan bagian...

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang
Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Press and Marine Excursion Minggu ini saya akan keluar dari aturan yang saya buat. Kalau biasanya...

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde
Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Posts Tagged With 'makassar'

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang 8

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Alam bawah laut ( foto by : Jitho)

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan bagian pertama.

Malam baru saja turun ketika kami merapat di dermaga Barrang Lompo. Rombongan berpencar, sebagian besar menyisir pulau Barrang Lompo, melihat langsung kehidupan warga di malam hari. Selepas sholat maghrib, saya dan Mamie menyusul teman-teman yang ternyata sedang nongkrong di sebuah cafe sederhana. Mungkin satu-satunya cafe di pulau itu. Namanya cafe Eda.

Jangan membayangkan cafe serupa cafe di kota-kota besar. Lebih tepat bila disebut warung kopi meski di gerbang yang terbuat dari bambu dan dihiasi lampu kerlap-kerlip jelas terlihat tulisan Cafe Eda. Cafe yang ini berisi beberapa bangunan dari bambu beratap rumbia, isinya meja kayu dan beberapa kursi plastik. Lantainya? Pasir putih! Cafe ini menghadap ke laut lepas dengan view sunset. Sayang kami tiba di malam hari, ketika sunset sudah lewat beberapa jam.

Di cafe itu kami bercanda ria, menghabiskan beberapa gelas minuman hangat dan beberapa porsi mie instant. Sederhana tapi sangat menyenangkan.
Selepas dari Cafe Eda kami kembali berpencar, berkeliling pulau yang tak seberapa besar itu, pungkas dikelilingi dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit. Jejak modernisasi memang makin terlihat di Barrang Lompo. Selain cafe, ternyata setidaknya ada 4 pusat permainan bilyard di seputar pulau yang jadi semacam jalan poros.

Setiba di dermaga, angin terasa makin kencang. Ombakpun tidak tenang, kapal-kapal kecil yang terparkir di dermaga bergoyang keras diterpa angin dan dibuai ombak. Kapal Novita Saripun serupa. Ketika naik sebentar ke atas kapal saya langsung disergap rasa pusing karena goyangan kapal yang tak biasa.

” Ombak setinggi rumah di Takabakang” Kata seorang nelayan penduduk asli. Takabakang, itu nama daerah yang akan kami tuju malam itu. Kalau ombaknya setinggi rumah, tentu bukan keputusan tepat untuk menuju ke sana sesuai rencana. Mungkin si bapak berlebihan, tapi bisa juga benar. Apalagi dia nelayan yang tentu paham gejala alam.

” Ini biasa, dan makin malam cuaca biasanya akan makin bersahabat”, Begitu kata Om Bakri salah seorang panitia yang juga sudah belasan tahun jadi diver.

Malam itu kami habiskan dengan makan malam dan duduk bercengkerama di dermaga. Di antara rombongan juga ada bapak Andi Januar Jaury, seorang anggota legislatif yang sudah lama akrab dengan laut dan industri pariwisata. Karena akrab, kami menyapanya dengan sapaan Om JJ.

Semakin malam angin semakin bersahabat, pun dengan ombak. Menjelang pukul 11 malam kami bubar, satu persatu peserta naik ke Novita Sari dan mengambil tempat untuk beristirahat. Saya belum terlelap betul ketika merasakan kapal Novita Sari mulai meninggalkan dermaga Barrang Lompo. Saya melirik jam tangan, jam 23:35. Selama 6 jam ke depan kami akan ada di atas kapal menuju daerah Takabakang.

Jackpot!

Sepanjang perjalanan, tidur saya tidak nyenyak. Ombak yang rupanya tidak tenang membuat kapal bergoyang dengan hebohnya. Ketika melirik jam tangan, saya sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 5:18 pagi. Ketika bergerak ke WC saya juga sadar kalau kapal memang bergoyang dengan heboh. Beberapa peralatan memasak berhamburan karena ombak, termasuk galon air mineral. Selesai menuntaskan hajat, saya melihat matahari mulai timbul di belakang sana. Semburat merahnya mulai terlihat. Ah, waktu yang tepat untuk berburu sunrise, pikir saya.

Dengan sempoyongan saya berjalan ke arah depan, tepatnya ke arah pintu samping mencari posisi yang kira-kira tepat untuk berburu sunrise. Kamera masih di tas, saya belum terpikir untuk membawanya. Tiba di pintu samping kapal, saya tidak tahan lagi. Rasa mual dan pusing karena goyangan kapal tiba-tiba membuat saya terpaksa mengeluarkan isi perut. Yah..jackpot! saya muntah beberapa kali.

Selepas muntah saya tidak terpikir lagi untuk berburu sunset. Lebih baik kembali ke tempat tidur sambil berharap badan ini jadi lebih nyaman.

Saya mencoba terlelap meski tidak mudah karena ternyata kapal tetap bergoyang dengan hebohnya. Sekitar sejam kemudian saya merasa kapal berhenti. Rupanya kami sudah sampai di Takabakang, sebuah gugusan karang yang biasanya jadi dive spot. Anak-anak memutuskan untuk turun snorkling untuk menghilangkan rasa mual dan mabuk laut. Ternyata bukan cuma saya yang jackpot, hampir semua peserta kecuali dive instruktur dan ABK merasakan mual dan bahkan sampai ikut muntah.

Baiklah! Mari kita snorkling, begitu pikir saya. Tapi sebelum terjun ke laut saya masih sempat menumpahkan isi perut, muntah beberapa kali sampai rasa pahit yang tersisa karena memang sudah tidak ada isi perut lagi yang bisa dikeluarkan kecuali asam lambung. But show must go on, mari kita terjun.

Dengan snorkle dan mask serta life vest saya terjun ke laut lepas yang kedalamannya sampai 4 meter. Ketika pertama melihat ke bawah saya kaget, ternyata pemandangan di bawah laut sangat menyeramkan. Karang-karangnya banyak yang hancur dan berwarna putih, tandanya sudah rusak. Lelaki Bugis yang juga ikut bersama kami ke trip Taka Bonerate juga langsung merasa kecewa. Wajar karena dia sudah melihat pemandangan luar biasa indah di Taka Bonerate dan kemudian mendapati keadaan yang sebaliknya di Takabakang.

Karang di Takabakang yang hancur ( foto by: Jitho)

Ah, Takabakang yang Malang

Kami tidak lama menghabiskan waktu di laut Takabakang. Ombak dan arus semakin deras, kami bahkan harus berpegangan pada tali agar tidak terbawa arus menjauh dari kapal. Selesai snorkling, saya, Mamie dan Lelaki Bugis duduk di buritan kapal. Rasa mual masih ada karena ombak yang memang masih rajin membuai Novita Sari.

Tak lama, Om JJ dan rombongan diver datang. Mereka baru saja menghabiskan waktu dengan menyelam di beberapa titik. Dengan kesal, Om JJ memberikan kesannya tentang karang di sekitar Takabakang yang memang sudah rusak parah.

” Tahun 2004 saya terakhir ke sini, kondisinya masih bagus. Tapi sekarang, semua sudah hancur”, Katanya dengan mimik muka kesal dan prihatin. ” Pemerintah gagal menjaga asetnya”, tambahnya lagi.

Kerusakan karang ditengarai karena aksi illegal fishing seperti pengeboman dan pembiusan yang memang sangat merugikan karang-karang yang seharusnya menjadi biota yang dilindungi karena berperan penting menjaga kelangsungan hidup ikan-ikan.

Karang lain yang hancur (foto by: Jitho)

Kami baru melihat sepintas dari aktifitas snorkling kami, tapi komentar dari Om JJ dan diver lainnya adalah testimoni jujur tentang laut yang semakin hari memang semakin rusak. Susah mencari benang simpulnya. Sebagian besar kerusakan memang melibatkan faktor ekonomi, tentang bagaimana nelayan harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan mereka meski dengan cara yang terlalu rakus.

Solusinya tidak sederhana memang, butuh komitmen dan konsistensi dari semua pihak dengan pemerintah sebagai pemegang tanggung jawab terbesar. Sulawesi Selatan butuh pemerintah yang mau belajar pada propinsi lain yang sudah lebih sadar untuk menjaga kekayaan lautnya.

Ah, Takabakang yang malang. Tanpa kerja keras dan kesadaran semua pihak, daerah itu akan tinggal sejarah sebagai daerah yang pernah punya biota laut yang beragam dan menawan.

Jam 9:45 Novita Sari bergerak meninggalkan Takabakang. Tujuan berikutnya adalah pulau Kapoposang, sekitar 4 jam perjalanan lagi. Sebelum meninggalkan buritan kapal, Lelaki Bugis juga sempat jackpot. Saya menertawainya, tapi selang beberapa lama kemudian saya juga ikut muntah untuk ketigakalinya.

Ah, ombak ini memang sungguh membuat saya menderita. Akhirnya saya memilih memejamkan mata, tidur di lantai yang basah hingga tiba di Kapoposang. Lupakan soal sarapan, sama sekali tidak ada nafsu untuk menyentuh makanan yang sebenarnya begitu banyak tersedia.

Kapoposang, kami datang. Dan ah Takabakang, semoga nasibmu bisa membaik.

[Bersambung ke bagian ketiga]

[dG]

May 22, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde 5

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Press and Marine Excursion

Minggu ini saya akan keluar dari aturan yang saya buat. Kalau biasanya saya menulis dengan tema berbeda setiap hari, maka minggu ini saya isi penuh dengan catatan perjalanan ke Spermonde dalam kurun waktu tanggal 17-20 Mei kemarin.

Sore menjelang jam 16:00, saya dan 4 orang blogger lainnya berkumpul di dermaga penyeberangan pulau khayangan. Selain kami sudah ada puluhan orang lainnya. Mereka adalah kru dan reporter dari beberapa stasiun televisi swasta lokal, dari ANTV dan sisanya adalah wartawan dari harian lokal.

Blogger Makassar mendapat undangan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang menggelar acara “PRESS AND MARINE EXCURSION” di Kepulauan Spermonde. Dinas Budpar SulSel bekerjasama dengan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) wilayah SulSel berinisiatif untuk mengajak rekan-rekan media dan blogger untuk melihat langsung keadaan di kepulauan Spermonde. Selain sebagai corong wisata juga sekaligus untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya dari gugusan kepulauan di selat Makassar itu.

Anging Mammiri dapat dua jatah dan melalui mekanisme penilaian siapa yang paling konsisten ngeblog dalam 2 bulan terakhir, akhirnya terpilih Iqko dan Mamie untuk mewakili AM. Saya meminta satu jatah tambahan untuk saya, jadi genaplah kami bertiga mewakili Anging Mammiri. Sementara itu ada Mustamar dan Lelaki Bugis yang mewakili Koshmediatama, sebuah perusahaan yang jadi rekanan Dinas Budpar dan diisi teman-teman blogger. Lelaki Bugis sebenarnya hanya menggantikan Daeng Mappe yang tidak bisa ikut karena kesibukan. Jadi total ada 5 orang blogger AM yang ikut dalam ekspedisi ini.

Para Blogger di atas kapal Novita Sari

Pukul 16:18 kapal Novita Sari meninggalkan dermaga penyeberangan pulau Khayangan. Kapal ini adalah kapal kayu lumayan besar milik H. Dahrin yang sehari-harinya beroperasi antara Makassar dan pulau Barrang Lompo (sekitar 1 jam perjalanan di luar Makassar). Deretan bangku kayu mengisi bagian dalam kapal dan bisa memuat 100 orang. Hari itu total peserta ada 31 orang di luar ABK, dive instruktur dan beberapa orang tenaga kesehatan dan tim SAR.

Perlahan kami mulai meninggalkan dermaga. Cuaca Makassar terang dan ombak tenang, membuat kami yakin perjalanan akan menyenangkan. Rencananya selama dua malam kami akan bermalam di atas kapal dan menyisir kepulauan Spermonde sambil berhenti di beberapa pulau utama untuk snorkling dan menikmati keindahan pulau.

Spermonde sendiri adalah istilah dari bahasa Belanda yang diberikan kepada gugusan pulau-pulau yang membentang di Barat daya pulau Sulawesi mulai dari Takalar di bagian selatan hingga ke Pare-Pare di bagian utara. Dinamakan spermonde karena jika dilihat dari atas, gugusan kepulauan ini memang menyerupai bentuk sperma. Spermonde terdiri dari kurang lebih 130 pulau berpenghuni dan tidak berpenghuni.

Pulau pertama yang kami lewati hari itu adalah pulau Lae-Lae, sebuah pulau padat yang paling dekat dengan Makassar. Dari pantai Losari, pulau Lae-Lae sudah bisa terlihat jelas. Kami hanya berhenti sejenak di bagian luar pulau, perjalanan kemudian dilanjutkan kembali.

Setelah Lae-Lae kami berhenti sejenak di luar pulau Samalona. Salah satu pulau yang sudah terkenal sebagai tempat wisata di sekitar Makassar. Pulau berpasir putih dan berair jernih ini memang sangat menyenangkan untuk dijadikan tempat beristirahat dan bersantai di hari libur. Kami sudah sering berkunjung ke sana.

Sepanjang perjalanan, saya dan teman-teman blogger lainnya duduk di buritan bersama teman-teman kru televisi lokal. Kami dipandu pak Muchsin dan pak Bakri dari POSSI yang terus menjelaskan tentang pulau-pulau yang kami lewati.

Setelah Samalona, kami menghampiri Kodingareng Keke. Pulau tak berpenghuni yang juga menawarkan tempat indah untuk bersantai menikmati laut. Mentari mulai pulang, malam menjelang. Kami beranjak dari sisi Kodingareng Keke menuju ke pulau Barrang Lompo.

Pulau Barrang Lompo ini adalah pulau terpadat di kawasan Spermonde. Pulau seluas 49 Ha ini terkenal sibuk. Banyak aktifitas warga di sana, sebagian besar adalah para nelayan dan sisanya adalah pedagang. Pulau ini terkenal dengan sebuah lorong yang disebut ?lorong janda? merujuk kepada banyaknya istri yang menjadi janda karena suaminya meninggal di laut. Sebagian besar karena aktifitas menyelam yang tidak aman. Mereka para pencari teripang itu biasanya hanya menyelam dengan bantuan udara dari kompressor ban seperti yang dipergunakan tukang tambal ban. Unsur safety tidak mereka perhatikan, dengan udara yang sebagian besar adalah nitrogen itu mereka menyelam hingga kedalaman puluhan meter. Karena kecerobohan sendiri, banyak di antara mereka yang kemudian lumpuh bahkan meninggal dunia.

Di sekitar Barrang Lompo juga banyak pulau lainnya yang berserakan seperti pulau Barrang Caddi dan pulau Kodingareng Lompo. Makassar masih terlihat dari sana, kami belum berasa jauh.

Spermonde

Senja Yang Indah Di Spermonde

Dalam perjalanan ke Barrang Lompo kami bertemu sunset yang indah. Guratan awan menyembunyikan matahari, tapi justru kemudian menimbulkan kesan dramatis karena cahayanya masih tembus hingga membentuk semburat warna oranye. Pemandangan ini tentu tidak saya sia-siakan. Hasilnya beberapa frame dengan latar yang luar biasa itu bisa saya rekam.

Malam makin merangkak turun. Lewat jam 7 malam kami merapat di dermaga Barrang Lompo. Kami akan berisitrahat di pulau itu sambil makan malam. Rencananya jam 12 malam nanti perjalanan akan dilanjutkan ke Takabakang, sebuah gugusan karang berjarak sekitar 5 jam perjalanan dari Barrang Lompo.

[lanjut ke bagian kedua]

[dG]

May 21, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Merajut Kebersamaan Dari Sebatang Jarum 1

Merajut Kebersamaan Dari Sebatang Jarum

qui qui Makassar, asyik tenggelam dalam rajutan

Sore itu di Fort Rotterdam saya melihat sendiri bagaimana mereka para perajut itu merajut keceriaan dari benang dan jarum rajut mereka.

Sore di Fort Rotterdam. Matahari bersinar garang, benteng peninggalan jaman Gowa Tallo itu tersiram cahaya matahari. Di salah satu sudut benteng itu sekumpulan wanita muda duduk berkeliling di atas hamparan terpal plastik dan spanduk bekas. Di tengah lingkaran ada beberapa kantongan plastik berisi makanan kecil, kue tradisional dan benang rajut.

Di luar lingkaran beberapa lelaki muda duduk bergerombol. Mereka hanya mengamati wanita-wanita itu yang dengan hebohnya terus saja bertukar cerita. Seorang dari lelaki di luar lingkaran sesekali ikut dalam percakapan para wanita itu.

Tak berapa lama seorang wanita muda lainnya datang. Dia adalah ibu dari seorang anak, ibu muda tepatnya. Dengan penuh semangat dia memamerkan dua jarum rajut yang baru didapatnya dari Belanda. Teman-teman yang lain menimpali, berebutan melihat salah satu jarum yang sekilas bentuknya seperti sikat gigi. Anna nama si wanita yang baru datang, dia juga lebih akrab disapa NyomNyom.

Selanjutnya obrolan wanita-wanita itu berada di seputar jarum, benang rajutan dan teknik rajutan. Mereka bertukar cerita tentang beragam benda rajutan yang sedang mereka kerjakan. Tak berapa lama wanita lain ikut bergabung dan pembicaraan tentang rajut merajut semakin ramai.

Asyik merajut

Asyik merajut

Itu sepintas cerita tentang piknik komunitas merajut di Makassar. Mereka adalah komunitas yang terbentuk dari pertemuan intens beberapa ibu-ibu muda yang senang merajut. Awalnya berpindah-pindah tempat sebelum akhirnya mereka sepakat untuk berkumpul di Kampung Buku, sebuah rumah yang pintunya selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung.

Setiap hari Minggu sore mereka berkumpul di sana, tepatnya di Perumahan CV Dewi Jalan Abdullah Daeng Sirua. Tepat di samping kantor lurah. Pertemuan itu bersifat cair, mereka berbagi ilmu merajut dan sama-sama belajar teknik baru. Sekali sebulan, tepatnya di minggu kedua mereka akan berkumpul di Fort Rotterdam. Mereka menyebutnya piknik merajut. Piknik sambil tentu saja tetap mengobrol seputar dunia merajut.

Tidak semuanya wanita. Salah satu yang aktif dalam komunitas itu adalah seorang pria muda bernama Barack. Pria muda berambut gondrong itu sering saya dapati asyik dengan benang dan jarumnya. Dia sering nampak serius menyelesaikan rajutannya dengan sebuah kertas kecil bertuliskan kombinasi rajutan. Sepintas itu seperti kode yang hanya dipahami mereka yang senang merajut.

Awalnya agak aneh bagi saya mengingat tampang Barack yang macho. Mendengar kata merajut saya langsung terbayang wanita tua berkonde yang duduk di kursi goyang dan menghabiskan waktu pensiun dengan membuat sweater atau syal. Barack membuyarkan pikiran saya, dia adalah anomali dalam istilah merajut.

Tapi kenapa dia sampai tertarik untuk merajut? Lelaki itu tersenyum dan dengan jujur dia mengakui kalau awalnya itu hanya modus. Di awal terbentuknya, komunitas merajut Makassar memang diisi wanita-wanita muda dan ibu-ibu muda. Jelas ini adalah daya tarik bagi lelaki muda. Lelaki mana yang tidak senang berada dalam kerumunan wanita? Itu motivasi awal dari Barack rupanya.

Barack (paling depan kedua dari kanan) di antara para perajut

Tapi seiring berjalannya waktu, Barack menemukan kenyamanan dari aktifitas merajut. Makin lama dia makin jatuh cinta sambil tentu saja makin mahir menciptakan beragam benda dari benang rajutan. Barack juga menemukan keuntungan lain dari merajut.

” Saya bisa mengurangi rokokku. Kalau sedang fokus merajut, saya bisa tidak merokok berjam-jam” Begitu katanya. Ternyata secara tidak langsung merajut juga membuatnya melupakan rokok.

Seperti halnya komunitas lainnya, komunitas perajut Makassar yang menyebut diri mereka Qui-Qui ( merajut dalam bahasa Makassar) berjalan dengan niat dasar untuk berbagi. Mereka tidak terlalu berpikir tentang materi atau keuntungan dari hasil rajutan mereka. Meski begitu mereka juga mengaku mendapatkan kepuasan batin ketika berhasil membuat sebuah rajutan yang bisa dihadiahkan ke orang lain. Sebuah benda yang dibuat dengan tangan sendiri memang selalu memberi kepuasan lebih karena usaha dan cerita di baliknya.

Sore itu di Fort Rotterdam saya melihat sendiri bagaimana mereka para perajut itu merajut keceriaan dari benang dan jarum rajut mereka. Beberapa obrolan mereka sulit saya cerna, utamanya ketika mereka menyebut beberapa istilah teknik merajut, tentang benang yang unik dan susah didapatkan atau tentang jarum rajut yang harganya bisa sampai ratusan US dollar di internet. Terlihat sekali semangat yang mengalir dari benang dan jarum yang menyatukan mereka.

Bila punya waktu, sesekali datanglah ke piknik mereka dan anda akan merasakan semangat yang membara. Semangat berbagi lewat jarum dan benang. Mereka merajut keceriaan dari sebatang jarum. Ah, indahnya.

[dG]

Menikmati Senja di Rotterdam 6

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam

Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu tujuan wisata untuk melewati senja

Minggu sore yang cerah, matahari bersinar garang di atas kota Makassar. Saya bersama beberapa orang wanita dan beberapa pria duduk santai di atas hamparan karpet plastik dan spanduk bekas. Mereka asyik mengobrol tentang jarum, benang dan teknik merajut sementara saya cuma mendengarkan dengan takjub.

Sore itu saya berada di antara komunitas perajut Makassar. Mereka adalah ibu-ibu muda, remaja putri dan seorang lelaki muda yang memang punya hobi menjalin benang dengan teknik merajut. Saya akan bercerita tentang mereka di tulisan yang lain. Sore itu ada hal lain yang membuat saya merasa begitu nyaman, lokasi yang mereka pilih sebagai tempat untuk piknik.

Mereka memilih Fort Rotterdam sebagai tempat untuk berkumpul di Minggu sore itu. Sebuah benteng peninggalan jaman Belanda yang terletak dekat dengan pantai Losari. Sudah lama saya tidak menginjakkan kaki di benteng itu, terakhir ke sana Fort Rotterdam sedang dalam masa renovasi. Sore itu, Fort Rotterdam terlihat indah dan bersih meski memang sangat disayangkan karena ada banyak peninggalan asli berupa genteng dan ubin yang harus diganti.

Suatu Sore di Fort Rotterdam

Benteng Fort Rotterdam ini adalah salah satu benteng sisa kerajaan Gowa-Tallo yang masih tersisa. Aslinya bernama benteng Ujung Pandang. Penjelasan lengkap dari Wikipedia adalah sebagai berikut :

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Komunitas Perajut di Fort Rotterdam

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.

Anak kecil yang manis di Fort Rotterdam

Sore itu Fort Rotterdam terlihat ramai. Di beberapa titik ada sekumpulan anak-anak muda yang melingkar atau bergerombol. Mereka mungkin satu komunitas. Banyak juga yang datang untuk sekadar bersantai bersama teman, pacar atau keluarga. Sesi berfoto bersama tentu tak terlewatkan.

Untuk masuk ke Fort Rotterdam tidak perlu mengeluarkan biaya, cukup mengisi buku tamu di bagian depan. Biaya baru akan dibutuhkan jika ingin masuk ke dalam museum. Itupun besarnya tidak seberapa, hanya Rp. 5.000,- saja.

Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu tujuan wisata untuk melewati senja. Duduk di dinding benteng sambil mellihat matahari yang beranjak pulang bisa jadi sangat menakjubkan. Datang dan nikmatilah sendiri.

[dG]

May 15, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Polusi Visual Di Kota Kami 3

Polusi Visual Di Kota Kami

Salah Satu Sudut Kota Yang Penuh Dengan Polusi Visual

Suatu hari saya membayangkan seandainya pemerintah kota ini mau sedikit waras dengan menyediakan tempat khusus untuk baliho dan semacamnya

Sekitar seminggu menjelang hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April kemarin, teman-teman dari komunitas Makassar Berkebun melakukan aksi pekan hijau. Salah satu gerakan mereka selain membagi-bagikan bibit pohon adalah dengan mencabuti paku dari pohon di sekitaran jalan Andi Pangerang Pettarani dan jalan Hertasning. Paku-paku itu adalah hasil kejahatan para penyebar polusi visual di kota Makassar. Mereka seenaknya memasang baliho, spanduk atau material promosi lainnya di pohon-pohon hijau kota kami.

Seperti yang pernah saya bilang, Makassar memang sial. Kota pelabuhan di ujung bawah pulau Sulawesi ini penuh dengan para politisi yang narsis. Penuh dengan orang-orang yang senang sekali memamerkan senyum manis mereka di semua ruang kosong yang ada di kota ini.

Mereka menjejalkan senyum manisnya yang dilengkapi dengan jargon yang tak kalah manisnya ke mata kami warga kota yang setiap hari berlalu-lalang di berbagai jalan di kota ini. Gula, bagaimanapun manisnya jika dijejalkan ke dalam mulut kita setiap saat maka rasa eneg pasti akan muncul jua. Dan saya yakin, wajah para politisi narsis itu tidak semanis gula.

Entah sejak kapan kesialan ini menimpa kota yang saya cintai ini. Mungkin sejak pemerintah resmi menyerahkan urusan pemilihan kepala daerah ke penduduk daerah setempat tanpa harus melalui voting di gedung DPR. Sejak itulah, siapa saja kemudian merasa punya hak untuk mengotori kota ini dengan baliho segede godzilla dan material lain yang tak kalah ramainya.

PAKUI!!

Sialnya lagi karena nilai keindahan dan estetika kadang kala ditempatkan agak di belakang. Sesuatu yang mereka sebut karya itu sebagian besar lahir dari kepala yang mungkin lupa belum berkenalan dengan sesuatu bernama cita rasa seni. Banyak yang hadir serampangan, hanya berisi tumpukan gambar dan tulisan dengan font besar dan mencolok. Sekali lagi estetika tidak penting.
Itulah yang kemudian menghadirkan ragam baliho semacam PAKUI, AYO MI, JEKA JIE, WE CAN atau apalah namanya. Dari tulisan itu saja orang sudah mulai mengernyitkan dahi. Mungkin maksudnya ingin menimbulkan kesan misterius dan memancing rasa ingin tahu sebangsa iklan yang dikerjakan biro iklan dari luar sana.

Memang benar, rasa ingin tahu kadang muncul melihat deretan baliho itu. Tapi bukan rasa ingin tahu tentang programnya atau kapabilitas sang pemilik baliho. Rasa ingin tahu yang muncul adalah : benarkan mereka punya otak? Benarkah mereka punya cita rasa sampai memutuskan membuat baliho dengan jargon seperti itu? Benarkah mata mereka tidak terasa tertusuk oleh tumpukan gambar yang sama sekali tidak beraturan itu?

Saya pernah bertanya-tanya, benarkah segala baliho penyebab polusi visual itu melalui proses persetujuan dari mereka yang gambarnya dipajang di sana? Ataukah hanya perbuatan tim sukses mereka saja yang kemudian tanpa perlu persetujuan langsung memasang baliho itu tanpa peduli kalau itu malah membuat tuan mereka jadi bahan tertawaan. Kalau memang begitu, maka betapa malangnya para politisi itu. Tapi kalau semua itu sudah melalui persetujuan, maka betapa malangnya dia yang merasa sudah berhasil menghibur warga kota ini.

Bagaimana dengan pemerintah kami? Ah, pemerintah kota kami juga pelaku. Alih-alih menyejukkan mata warga kota Makassar dengan menertibkan polusi visual itu, mereka juga ikut jadi penyebab polusi.

Suatu hari saya membayangkan seandainya pemerintah kota ini mau sedikit waras dengan menyediakan tempat khusus untuk baliho dan semacamnya serta menegakkan aturan dengan menyikat habis baliho, spanduk dan semacamnya yang terpasang di luar tempat yang seharusnya. Mereka harusnya bisa memberi ruang untuk para politis narsis itu. Tentukan ukuran yang boleh dipasang, tarik bayaran yang legal dan berantas semua yang tidak sesuai aturan. Sederhana bukan?

Makassar memang sial, dihuni para politisi yang rajin menebar senyum dan kata-kata manis dan diperintah oleh pemimpin yang membiarkan saja polusi itu mengotori kota. Kota ini jadi korban kenarsisan mereka, kota ini jadi kotor oleh senyum mereka. Kami, kami yang tiap hari harus melihatnya lama-lama kehilangan rasa alih-alih jatuh simpati.

Membela Merah Putih Dengan Memaku Pohon? Meh!

Pagi tadi saya melewati jalan Hertasning. Ada spanduk besar di salah satu titiknya, Komando Pejuang Merah Putih nama organisasinya. Ada gambar beberapa orang lelaki berseragam serupa militer di sana. Ah, gagah sekali mereka. Sayang, niat mereka memperjuangkan merah putih tercinta ini ternoda sedikit oleh kerakusan mereka menggunakan ruang publik. Makin parah karena mereka dengan tega memaku pohon yang tak berdosa, pohon yang selama ini sudah menjadi peneduh di jalan itu.

Ironis. Belum genap dua minggu sejak teman-teman Makassar Berkebun mencabuti ratusan paku di sepanjang jalan Andi Pangerang Pettarani dan Jalan Hertasning sudah ada mereka yang tega menancapkannya kembali. Mereka adalah Pejuang Merah Putih. Gagah sekali.

Sampai kapan kota ini akan terus dipenuhi polusi visual yang menusuk mata itu? Mungkin sampai ada pemimpin yang berani main kayu untuk menertibkannya. Entah kapan.

[dG]

April 26, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar, Sekitarku
Mart Menyerbu Kota Kami 6

Mart Menyerbu Kota Kami

Perang Indomaret dan Alfamart

Di jalan Rappocini Raya yang panjangnya sekitar 2Km sekarang ini ada 6 mini market, dua Indomaret, dua Alfamart dan dua Alfa Midi.

” Di Makassar ada Indomaret juga gak?”, Itu pertanyaan seorang teman ketika saya berkunjung ke rumahnya di Surabaya sekitar April 2009. Saya menggeleng, waktu itu Makassar memang belum mengenal Indomaret atau Alfamart. Semua kebutuhan sehari-hari masih disupply oleh warung-warung kecil punya penduduk setempat.

Siapa yang sangka, sekitar dua tahun kemudian keadaan itu berubah. Diawali dengan kedatangan Alfa Mart, gerai-gerai serupa mulai muncul. Alfa Mart dan Indomaret seperti jerawat yang tumbuh di wajah anak remaja yang malas membersihkan muka.

Alfa Mart merajai. Gerai milik Djoko Susanto ini hadir dengan beragam variant. Alfa Mart, Alfa Midi dan Alfa Express. Djoko memang pintar, merasa susah bersaing dengan gerai besar macam Carrefour, dia menjual jaringan Alfa supermarket dan kemudian fokus ke retail kecil. Ini tentu lebih potensial mendulang keuntungan karena gerai kecil bisa hadir di mana saja, meski lahannya sempit. Tidak seperti supermarket yang butuh lahan besar.

Demam tumbuhnya Alfamart dan saudara-saudaranya ini sudah lama ada di Jawa. Sejak sebelum tahun 2009 saya sudah menemukan Alfamart dan saudara-saudaranya bersaing dengan retail yang lain seperti Indomaret, Circle K dan lain-lain. Makassar memang baru kebagian sekitar tahun 2010.

Dari informasi seorang teman, sebenarnya pihak Alfamart sudah lama mengajukan ijin untuk masuk ke kota Makassar dan kota-kota lain di Sulawesi Selatan, tapi ijin mereka masih menuggu persetujuan. Mengendap lama di meja petinggi kota ini. Ijin ini ternyata hanya menunggu waktu saja, ketika kemudian ada banyak hal yang harus dibiayai menjelang pilkada SulSel, maka ijin ini akhirnya turun juga. Wallahu alam, benar atau tidaknya memang masih bisa diperdebatkan, yang jelas sejak hampir 2 tahun lalu jaringan Alfamart dan Indomaret mulai menyerbu kota ini.

Persaingan paling kental adalah antar Alfamart dan Indomaret. Ketika di satu ruas jalan Alfamart membuka gerai, maka dalam radius beberapa puluh atau ratus meter Indomaret akan buka gerai juga. Jadilah persaingan mereka betul-betul head to head atau saling berhadapan.

Persaingan ini memberi dua macam efek pada pemilik properti. Di satu sisi, pemilik properti mendapat keuntungan tinggi karena Alfamart atau Indomaret berani membeli mahal properti mereka entah yang berupa ruko atau tanah kosong. Apalagi kalau salah satu dari dua retail yang bersaingan itu sudah duluan mengambil lahan di salah satu daerah, saingannya akan berani membeli harga tinggi demi karena tidak mau kalah langkah.

Itu efek positif bagi yang punya properti, bagi mereka yang butuh properti di daerah yang kebetulan ada Alfamart atau Indomaret efeknya bisa negatif. Harga properti jadi melonjak tinggi, mereka yang ingin menyewa atau membeli ruko jadi kesulitan karena pemilik ruko serta merta menaikkan harga sesuai dengan harga yang berani dibayarkan oleh Alfamart dan Indomaret.

Itu efek bagi para pemilik dan pencari properti. Efek untuk pengusaha kecil atau pemilik warung di sekitar Alfamart dan Indomaret juga sangat terasa. Kehadiran Alfamart dan Indomaret yang berani menyodorkan harga yang lebih murah dengan tempat yang lebih nyaman dan pilihan yang lebih beragam tentu lebih menggiurkan bagi para pembeli.

Bayangkan bila sebotol Pulpy dijual dengan harga Rp. 8.000 di warung tapi dijual dengan paling mahal Rp. 6.000,- di Alfamart. Tentu beda harga Rp. 2.000,- itu sangat berpengaruh, apalagi buat ibu-ibu yang memang punya daya hitung lebih tinggi. Itu baru satu item barang, belum termasuk item barang-barang yang lain.

Ibu Ninik, salah seorang pemilik warung di sebuah kompleks perumahan mengakui kalau omzetnya memang menurun semenjak sebuah Alfa Midi buka beberapa puluh meter dari warungnya. Pelanggannya sekarang banyak yang lebih nyaman berbelanja di mini market berpendingin ruangan daripada di warungnya, walaupun warungnya tidak bisa dibilang sederhana. Saya membayangkan nasib warung-warung lain yang lebih sederhana yang kebetulan berada di dekat Alfamart atau Indomaret.

Di jalan Rappocini Raya yang panjangnya sekitar 2Km sekarang ini ada 6 mini market, dua Indomaret, dua Alfamart dan dua Alfa Midi. Bisa dibayangkan bagaimana nasib warung kecil yang berada dalam kepungan mini market itu. Pertarungan dua retail itu makin sengit, kalau dulu mereka bersaing dalam radius tertentu sekarang sudah benar-benar bersaing head to head. Di beberapa tempat ada Alfa Mart yang berdampingan langsung dengan Indomaret, bukan lagi terpisah jarak beberapa meter.

Kondisi ini memang dilema. Di satu sisi kehadiran mini market itu membuat konsumen jadi lebih dimanjakan, punya banyak pilihan tempat berbelanja yang lebih nyaman dengan harga yang lebih murah, tapi di sisi lain warung sederhana milik rakyat jadi tergencet dan siap-siap kehilangan pendapatan.
Pemerintah kota harusnya sudah siap dengan kondisi seperti ini.

Bagaimanapun ada nasib rakyat kecil yang dipertaruhkan di sini, bukan hanya kenikmatan untuk para pemain besar. Bagaimanapun kota ini sekarang sudah diserang oleh mini market, entah efek seperti apa yang akan ditinggalkannya bertahun-tahun ke depan.

Semoga bukan rakyat kecil yang jadi korbannya.

[dG]

April 19, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar
Samalona, Surga Kecil di Spermonde 11

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona

Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga kecil di Spermonde ini hilang ditelan alam.

Matahari bersinar terang pagi itu, Sabtu 7 April 2012. Saya dan beberapa teman sudah berkumpul di dermaga Kayu Bangkoa yang berada tepat di bibir Selat Makassar, tidak jauh dari pantai Losari. Dermaga tua itu adalah gerbang menuju beberapa pulau di luar kota Makassar. Tepatnya di gugusan Spermonde.

Beberapa perahu kayu bermesin tempel menanti penumpang. Terombang-ambing oleh riak gelombang kecil. Sebuah perahu kayu besar merapat, menumpahkan ratusan penumpang dari dalam tubuhnya. Mereka adalah orang-orang yang baru datang dari pulau Barrang Lompoa, pulau terbesar berpenghuni di gugusan Spermonde.

Hari itu saya dan teman-teman dari Anging Mammiri meluangkan waktu untuk mengunjungi pulau Samalona. Berawal dari kicauan seorang teman di Facebook tentang kerinduannya akan lautan, teman-teman yang lain segera merespon dengan sebuah rencana untuk mencicipi lautan di akhir pekan yang panjang. Gayung bersambut, dan banyak yang semangat untuk ikutan.

Samalona adalah pulau kecil berjarak sekitar 7 KM dari kota Makassar, ditempuh dengan kapal kayu bermesin tempel selama kurang lebih 30 menit. Pulau ini sudah lama terkenal. Tahun 1990an, musisi reggea Indonesia, Alm. Imanez pernah membuat lagu dengan judul Samalona.

Bermain di pasir putih

Samalona memang cantik. Pasir putih menghampar di sekujur tubuh pulau ini, bersanding dengan air laut yang bening dengan warna mulai dari biru muda di bagian yang dangkal, hijau tosca di bagian yang lebih dalam dan warna biru tua di bagian yang sangat dalam. Banyak orang yang memanfaatkan waktu untuk bersantai di sana.

Mereka datang entah hanya sekadar berenang dan bermain pasir, snorkling, main jet ski atau bahkan diving. Di sekitar Samalona memang banyak spot diving yang katanya cukup menawan untuk dipandang.

Ada satu pemandangan yang mengiris ketika kemarin saya kembali menginjakkan kaki di Samalona. Ada bagian yang tergerus gelombang dan hilang. Di sebelah utara pulau dulu ada sebuah rumah panggung dan hamparan pasir putih, tapi kemarin rumah panggung itu sudah hilang. Hamparan pasir putihnyapun sudah berubah jadi lautan lantai.

Yang hilang ditelan pasang

Abrasi air laut memang jadi masalah utama di pulau-pulau kecil di perairan Spermonde. Karena posisinya yang landai, mereka jadi rentan untuk disapu gelombang. Menurut seorang pengamat kelautan, tahun 2030 nanti Indonesia akan kehilangan ribuan pulau-pulau kecil, dan Samalona adalah salah satunya.

Kondisi ini sangat memprihatinkan tentu saja. Membayangkan pulau kecil ini hilang ditelan gelombang rasanya sungguh disayangkan. Samalona begitu indah, pasir putih dan pantai dengan air lautnya yang jernih begitu memikat, cocok untuk melepas lelah bersama sahabat, keluarga dan orang-orang yang disayang. Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga kecil di Spermonde ini hilang ditelan alam.

Oh ya, pada gelaran Kopdar Blogger Nusantara 2012 nanti Samalona jadi tujuan wisata untuk teman-teman yang datang dari luar kota Makassar. Kami akan mengajak teman-teman untuk menikmati surga kecil di Spermonde ini.

Semoga kita bisa menikmatinya, selagi sempat.

[dG]

April 10, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Makassar Tak Seperti Di Kotak TV 10

Makassar Tak Seperti Di Kotak TV

Shutdown Your TV and Start Writing

Padahal intinya saya cuma mau bilang kalau Makassar tidak persis seperti yang diberitakan di kotak TV itu. Makassar tak serusuh itu, kami di sini baik-baik saja.

Saya jarang nonton TV, apalagi berita nasional. Minggu pagi secara kebetulan saya duduk depan TV selepas pertandingan La Liga. Secara kebetulan juga TV One menyiarkan sebuah berita tentang unjuk rasa beberapa mahasiswa di Makassar malam sebelumnya. Beritanya biasa, apalagi belakangan ini memang aksi unjuk rasa terkait rencana kenaikan harga BBM sedang marak.

Tapi ada yang tidak biasa dari berita TV One itu. Semalam kebetulan saya ada di lokasi tempat kejadian yang diberitakanTV One itu. Lokasinya di jalan Andi Pangerang Pettarani, tepatnya di pertigaan Jl. Rappocini Raya. Waktu itu memang ada sekitar 30 anak muda yang menutup jalan. Tidak jelas mereka asalnya dari mana karena memang tidak ada atribut seperti jaket almamater misalnya yang mereka kenakan.

Anak-anak muda itu menutup jalan, sebagian dari mereka melempari billboard besar berisi iklan sebuah produk, sebagian lainnya menyobek baliho kampanye? milik Syahrul Yasin Limpo, gubernur incumbent. Sementara itu di depan pom bensin yang memang tepat berada di pertigaan ada beberapa orang tentara yang berjaga-jaga. Saya tidak tahu berapa lama kejadian itu berlangsung karena saya segera berlalu.

Potongan kejadian itulah yang kemudian ditayangkan oleh TV One tadi pagi (1/4) dalam program berita mereka. Hanya saja ada satu informasi yang betul-betul tidak tepat. Dari narasi beritanya disebut kalau kekacauan itu terjadi di depan pintu bandara Sultan Hasanuddin, dan ada aparat yang berjaga-jaga tepat di depan pintu bandara.

Saya kaget. Jl. AP Pettarani dan bandara Sultan Hasanuddin terpisah jarak sekitar 14 KM, sangat jauh. Tapi kenapa beritanya bisa mengatakan kalau unjuk rasa itu terjadi di depan pintu masuk bandara ? Bukankah berita itu bisa menyesatkan ? Sebuah gerbang masuk bandara yang dijaga petugas bersenjata tentu mengisyaratkan sebuah kondisi kota yang tidak aman karena bandara adalah pintu gerbang. Padahal kejadian sebenarnya tidak seperti itu.

Kejadian yang hampir sama terjadi malam sebelumnya. Kala itu tayangan live di Metro TV menyiarkan adegan bentrok antara polisi dengan warga ( bukan mahasiswa ) yang berlokasi di fly over. Dari kejadian di televisi terlihat betapa rusuhnya suasana, ada adegan lempar-lempar batu dan tembakan gas air mata.
Mereka yang menonton televisi pasti akan langsung membangun image betapa rusuhnya Makassar, betapa mencekamnya suasana di kota ini.

Beberapa menit setelah tayangan itu saya penasaran dan mencoba untuk mendekat ke fly over. Awalnya ragu, tapi begitu melihat banyak kendaraan yang mengarah ke sana saya juga jadi ikut mencoba. Daerah sekitar fly over memang ramai, banyak warga yang berkumpul di sepanjang jalan, tapi mereka ternyata sama seperti saya. Mereka juga orang yang penasaran dengan berita yang ada di Metro TV dan mencoba melihat dari dekat kejadian sebenarnya.

Saya coba dengan mendekat ke fly over. Sama sekali tidak ada kerusuhan seperti yang diberitakan di televisi. Memang ada beberapa polisi dan sisa gas air mata yang membuat mata perih, tapi adegan lempar batu antara warga dan polisi sama sekali tidak terlihat.

Beberapa menit kemudian, seorang kawan dengan akun @SupirPete2 ngetwit. Dia baru saja masuk ke jalan tol lewat fly over dan mempertanyakan lokasi kerusuhan adanya di sebelah mana ? Kalau membangun asumsi berdasarkan tayangan televisi maka orang pasti akan takut melintas di daerah fly over. Seolah-olah daerah tersebut sudah menjadi arena peperangan yang sangat riskan untuk didekati kecuali anda juga berniat menjadi korban.

Persepsi yang terbangun dari kotak kaca

Dua kejadian di atas adalah bukti nyata betapa televisi (khususnya televisi nasional) kadang tidak bisa dipercaya sama sekali. Entah apa maksudnya sehingga kadang stasiun televisi malah bertindak sebagai provokator atau setidaknya sebagai media yang merusak citra sebuah kota atau seseorang.

Makassar adalah salah satu sasaran empuk. Mungkin karena karakter warganya yang sudah terlanjur terkenal keras di luar sana sehingga menggoda para pekerja media nasional untuk selalu memberitakan hal-hal keras dari kota ini. Satu keributan kecil kadang diberitakan seolah-olah keributan itu sangat besar dan mencekam sehingga satu kota terkesan berada dalam situasi genting.

Ramainya demonstrasi warga dan mahasiswa menolak kenaikan BBM beberapa hari ini menjadi bukti bagaimana televisi nasional memperlakukan kota Makassar. Saya tidak menonton berita tentang kehebohan unjuk rasa itu, tapi dari beberapa komentar di lini masa terlihat jelas kekhawatiran dan persepsi buruk orang-orang tentang Makassar yang mereka dapat dan bangun dari tayangan berita di televisi.

Saya dapat BBM dari mbak Mubarika. Dia mengaku kuatir dan prihatin dengan kondisi Makassar yang dilihatnya di televisi. Saya menanggapinya dengan tersenyum. Dia ternyata jadi korban juga. Korban dari tayangan berita yang terlalu melebih-lebihkan tentang kota Makassar. Pada saat berita itu tayang di televisi saya sedang berada di titik lain di kota ini, suasana aman tenteram. Jalanan lancar, tak ada aparat, tak ada konsentrasi massa dan tak ada keributan sama sekali.

Saya bisa bilang kalau keributan yang ditayangkan di televisi itu hanya terjadi di satu titik yang bagaikan noktah kecil di atas peta kota Makassar. Tak cukup satu persen dari total luas kota ini, sisanya tetap aman tenteram. Potongan-potongan gambar yang kemudian dibumbui dengan narasi berlebihanlah yang membuat bayangan tentang kerusuhan yang besar jadi terbentuk. Membuat orang menilai Makassar adalah kota yang mencekam dengan kerusuhan yang melebar.

Televisi nasional dengan beragam alasannya memang sepertinya lebih senang dengan tayangan penuh kerusuhan dan kekerasan. Makassar kemudian jadi salah satu korbannya. Makassar jadi sasaran empuk untuk tayangan seperti itu. Kota lain seperti Ambon juga pernah menjadi korban. Keributan kecil diberitakan sebagai keributan besar yang mencekam.

Sebenarnya hari ini saya tidak berniat membuat tulisan. Tapi berita ngaco dari TV One tadi pagi seketika membuat saya terpancing untuk menulis panjang lebar. Padahal intinya saya cuma mau bilang kalau Makassar tidak persis seperti yang diberitakan di kotak TV itu. Makassar tak serusuh itu, kami di sini baik-baik saja.

Mungkin memang sudah waktunya kita mematikan TV dan mulai menulis. Menulis di blog tentang keadaan sebenarnya dari kota tempat kita berdiam.

[dG]

April 01, 2012 in Random Post
Geliat Cakar di Sudut Kota Makassar 5

Geliat Cakar di Sudut Kota Makassar

cakar

Saslah satu pedagang cakar di Aroepala

Pemandangan di Aroepala dalam beberapa bulan ini seperti sebuah pertanda akan datangnya masa keemasan baru dari barang import bekas ini.

Ada pemandangan baru di jalan Aroepala dalam beberapa bulan belakangan ini. Beberapa pedagang pakaian bekas import atau yang lazim disebut cakar ( singkatan dari cap karung ) menghiasi sudut-sudut jalan besar yang belum lama terbentuk itu.

Para pedagang itu menggelar dagangan mereka di bahu jalan. Sebuah terpal plastik besar dibentangkan di tanah, di atasnya tumpukan pakaian bekas itu dibiarkan begitu saja. Di bagian samping dan depan masih ada puluhan lembar pakaian lainnya yang digantung dengan hanger. Ragamnya ada banyak, dari kaos, kemeja, jaket, celana pendek hingga jeans dan jaket kulit.

Awalnya hanya satu, bertempat dekat jalan masuk sebuah kompleks perumahan. Belakangan, beberapa ratus meter dari situ pedagang lainnya juga mencari rejeki dengan peluang yang sama. Sekarang pesaing dari celah yang sama makin bertambah. Bukan hanya pakaian tapi juga berlembar-lembar selimut dan bed cover bekas import mereka jajakan. Makin hari Aroeppala makin ramai oleh geliat para pedagang cakar itu.

Ini entah kebangkitan yang keberapa untuk barang-barang bekas import itu. Sekitar belasan tahun sebelumnya, cakar pernah jadi primadona di kota Makassar. Ketika itu Indonesia belum sepenuhnya sembuh dari krisis moneter yang menghantam di akhir tahun 90an. Harga-harga melambung tinggi sementara pendapatan hampir tak bergerak. Sandang sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia jadi susah untuk diraup, dan dari celah itulah cakar datang dan perlahan menjadi primadona.

Sebelum krisis moneter menghantam, cakar sudah ada. Dia datang melalui jalur ilegal, biasanya masuk lewat pulau Kalimantan yang kemudian dibawa menyeberang melalui kota Pare-Pare (sebelah utara kota Makassar ) Dari sana cakar kemudian masuk ke Makassar. Sebelum krisis moneter menghantam, cakar dipandang sebelah mata. Pelanggannya hanya orang-orang yang memang tidak mampu masuk ke toko yang layak untuk membeli pakaian baru.

Krisis moneter mengantar cakar naik ke level yang lebih tinggi. Pelanggannya makin beragam, bukan cuma mereka yang tidak mampu, tapi juga mereka yang mengejar merk. Satu-dua merk ternama memang kadang terselip di antara tumpukan barang-barang bekas itu. Kondisinyapun masih lumayan, hanya perlu laundry sebelum barang-barang itu nampak seperti baru kembali. Dari sisi harga tentu berbanding jauh, dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah di toko berbanding dengan harga belasan ribu dan puluhan ribu di kios cakar.

Di masa jayanya kios cakar tumbuh subur di pelbagai sudut kota Makassar. Di hari-hari libur berderet mobil-mobil mengkilap dan baru di depan pusat penjualan cakar. Tanda kalau level cakar memang naik beberapa tingkat. Usaha cakar menggeliat, dan orang-orang mereguk nikmatnya keuntungan dari sana.

Tapi hidup memang seperti roda yang berputar. Ekonomi Indonesia makin membaik, harga-harga makin terjangkau dan persaingan makin sehat. Mereka yang biasanya hanya mampu mampir di cakar kemudian kembali menjejakkan kaki ke toko yang lebih nyaman. Distro menyerbu Makassar, memberi pilihan yang lebih banyak kepada anak muda yang ingin tampil trendy. Mall makin subur, pun dengan usaha fashion yang lain.

Cakar mulai tersisihkan. Satu per satu pusat penjualan cakar tutup. Sementara yang masih bertahan mulai sepi dikunjungi pembeli. Beberapa pedagangnya memilih banting setir berjualan barang-barang yang katanya dari kapal, barang selundupan tentu saja. Barang-barang itu berupa jam tangan, kaca mata, tas branded dan banyak macam parfum.

Isu flu burung dan kemudian flu babi yang menular melalui cakar serta regulasi yang ketat dari pemerintah terhadap barang selundupan makin membuat sinar cakar meredup. Era keemasannya berlalu secara perlahan. Mereka yang bertahan tak bisa lagi dengan santainya mereguk nikmat madu keuntungan. Barang mereka terkulai lusuh, ragamnyapun tak semeriah dulu ketika masa keemasan itu masih ada.

Pemandangan di Aroepala dalam beberapa bulan ini seperti sebuah pertanda akan datangnya masa keemasan baru dari barang import bekas ini. Mungkin mereka tak akan kembali persis seperti masa jaya dulu, tapi setidaknya ada geliat yang terlihat di sana.

Hidup itu memang persis seperti sebuah roda, kadang ada di atas dan kadang ada di bawah. Pameo itu juga berlaku untuk bisnis cakar di Makassar. Mungkin tidak di semua tempat, tapi setidaknya di beberapa sudut kota saya melihat kalau cakar mulai merangkak ke atas setelah sempat lama ada di bawah.

Gelinding roda ini entah akan mencapai puncak tertingginya seperti dulu atau tidak, saya tidak tahu. Saya hanya melihat bukti bahwa setiap sore ruas jalan Aroepala akan padat oleh mereka yang mampir ke pedagang cakar di sisi jalan.

Setiap sore saya jadi saksi bahwa bisnis cakar sedang menggeliat kembali di kota Makassar, setidaknya di beberapa titik. Entah sampai mana dan sampai kapan.

[dG]

March 29, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar, Sekitarku
Di Bandara Kami Ada Yang Narsis 16

Di Bandara Kami Ada Yang Narsis

Bandara Sultan Hasanuddin

Ada yang narsis di bandara kami

Bandara adalah gerbang sebuah kota. Selayaknya bila kota itu menjual pesonanya di bandara, karena di sanalah kesan pertama untuk para pendatang tertanam. Tapi, bandara Hasanuddin berbeda. Kesan pertama yang ditanamkan bukan pesona SulSel, tapi narsisnya seseorang.

Almas, seorang kawan blogger dari Ambon pernah bertanya kepada saya, ” Kenapa di bandara Hasanuddin yang terpasang di layar besarnya itu gambaran bapak gubernur ? Kita kan maunya lihat keindahan alamnya Sulawesi Selatan, bukan mukanya beliau ” Saya hanya tertawa.

Di bandara Sultan Hasanuddin Makassar memang ada sebuah layar besar yang berada tepat di atas konter transit. Sejak beberapa bulan belakangan ini, layar tersebut diisi slide dengan beberapa foto aktifitas sang gubernur. Ada foto beliau sedang menanam pohon, beliau sedang berpidato, beliau sedang menggunting pita dan banyak lagi. Ada juga puja-puji tentang keberhasilan beliau sebagai salah satu gubernur terbaik di Indonesia.

Semua pasti sepakat kalau bandara adalah gerbang sebuah kota, propinsi? atau bahkan sebuah negara. Orang yang baru datang ke sebuah kota tentu ingin mendapatkan kesan pertama yang tertanam indah, salah satunya lewat bandara tempatnya masuk.

Bandara Sultan Hasanuddin adalah salah satu bandara terbaik di Indonesia dari segi tampilan. Beberapa orang bilang kalau bandara yang terletak sekitar 15KM sebelah utara pusat kota Makassar ini adalah bandara yang modern, hampir serupa bandara lainnya di kota-kota di luar negeri.

Kalau kesan pertama itu hadir lewat tampilan, maka bandara Sultan Hasanuddin bisa dibilang berhasil memberi kesan pertama yang menyenangkan. Mungkin memang sejalan dengan tujuan kota ini untuk menjadi kota yang lebih modern walaupun pada kenyataannya masih banyak kekurangan di sana-sini yang justru membuat kota ini jadi terasa kehilangan rasa manusiawinya.

Sayangnya, seperti Almas bilang bandara Sultan Hasanuddin memberi sebuah kesan pertama yang agak mengganggu. Foto sang bapak gubernur terpasang besar di layar dekat tempat transit, begitu pula di beberapa tempat lainnya, bersanding dengan tulisan ; Visit Sulawesi Selatan 2012.

Agak aneh memang. Propinsi Sulawesi Selatan sedang gencar mempromosikan agenda wisata Visit Sulawesi Selatan 2012, tapi apa yang mereka tunjukkan melalui baliho dan tayangan visual lainnya tidak menggambarkan semangat promosi itu. Seharusnya yang banyak digambarkan adalah potensi wisata Sulawesi Selatan. Pantai yang indah, pulau yang menawan, Tana Toraja yang eksotis dan ragam potensi budaya dan sejarah lainnya.

Tapi itu adalah teori, karena toh yang terpampang di bandara adalah foto besar sang bapak gubernur. Baliho visit Sulawesi Selatan 2012 juga memuat foto beliau yang hampir memenuhi sepertiga baliho dengan baju adat warna putih dan senyum sumringah.

Salahkah ? tidak juga karena toh kita memang harus menyambut tamu dengan senyum sumringah nan ramah. Tapi ibaratnya makanan enak yang terus menerus dihidangkan berkali-kali setiap hari maka tentu rasa eneg akan muncul juga. Beda kalau misalnya foto yang dipasang besar-besar adalah ragam potensi daerah SulSel. Rasa penasaran tentu akan terbit dan lambat laun mereka yang tadinya hanya sekadar mampir dan transit jadi berpikir untuk tinggal lama dan mencoba mencicipi semua keindahan alam itu.

Begitulah, bandara kami memang indah dari segi tampilan. Sayangnya ada sesuatu yang membuat kesan pertama jadi kurang berkesan. Ada yang narsis di bandara kami.

[dG]

 

March 15, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar
Balla ; Rumah Adat Khas Makassar 2

Balla ; Rumah Adat Khas Makassar

Balla Lompoa

Balla Lompoa, rumah adat Makassar ( sumber : wisatamelayu.com )

Tiap daerah punya rumah adat khas, begitu pula dengan suku Makassar. Rumah dalam bahasa Makassar disebut Balla, berbentuk rumah panggung dengan kayu sebagai penyangganya.

Kenangan saya terbang ke masa puluhan tahun yang lalu ketika masih kecil. Sebelum masuk SD saya masih tinggal di kampung, sekitar 10 KM dari kota Makassar. Waktu itu, meski rumah orang tua sudah berbentuk rumah batu yang semi modern tapi di sekitar saya masih banyak rumah panggung khas suku Makassar.

Saat ini sudah susah menemukan rumah panggung khas suku Makassar itu di daerah yang mulai berubah menjadi kota. Kalaupun ada, itu adalah rumah yang sengaja dibangun untuk keperluan tertentu seperti wisata misalnya. Rumah panggung hanya bisa ditemukan di daerah yang agak jauh dari keramaian kota.
Dalam bahasa Makassar, rumah disebut Balla atau Bola dalam bahasa Bugis. Rumah khas Makassar ( dan juga Bugis ) berbentuk rumah panggung yang tingginya sekitar 3 meter dari tanah. Disanggah oleh tiang-tiang dari kayu yang berjejer rapih.

Rumah atau balla berbentuk segi empat dengan lima tiang penyangga ke arah belakang dan 5 tiang penyangga ke arah samping. Untuk rumah milik bangsawan yang biasanya lebih besar, jumlah tiang penyangganya berjumlah lima ke samping dan enam atau lebih ke arah belakang.

Atap rumah adat Makassar berbentuk pelana, bersudut lancip dan menghadap ke bawah. Biasanya bahannya terdiri dari nipah, rumbia, bambu, alang-alang. ijuk atau sirap. Jaman sekarang bahan penutup atapnya sudah lebih modern tentu saja.

Bagian depan dan belakang puncak atap rumah yang berbatasan dengan dinding dan berbentuk segitiga disebut timbaksela. Dari timbaksela ini bisa dikenali derajat kebangsawanan pemiliknya.

Timbaksela yang tidak bersusun menandakan pemiliknya adalah orang biasa, bila bersusun tiga ke atas menunjukkan pemiliknya adalah bangsawan. Bilsa susunan timbaksela-nya lebih dari lima atau bahkan sampai tujuh maka menunjukkan sang pemilik adalah bangsawan yang menduduki jabatan di pemerintahan.

Untuk bisa naik ke atas rumah tentu saja ada tangga atau yang dalam bahasa Makassar disebut tukak. Tangga juga ada dua macam, yaitu :

Sapana, dibuat dari bambu. Induk tangganya tiga atau empat dan anak tangganya dianyam. Sapana ini memiliki coccorang ( pegangan ). Tangga jenis ini hanya digunakan oleh para bangsawan.

Tukak, dibuat dari kayu atau bambu. Induk tangganya ada dua dan ada juga yang tiga untuk bangsawan. Untuk warga biasa tangga jenis ini tidak memiliki coccorang atau pegangan. Anak tangganya selalu ganjil.

Tapi jaman sekarang semua aturan tentang tangga itu tampaknya mulai kabur, seiring dengan modifikasi tangga yang menggunakan bahan-bahan yang lebih modern seperti batu dan semen.

Sedangkan pembagian ruang untuk rumah khas Makassar adalah sebagai berikut :

Dego-dego : ruangan kecil dekat tangga sebelum masuk ke dalam rumah atau pada rumah modern disebut sebagai teras. Biasanya digunakan untuk bersantai atau menunggu pemilik rumah keluar.

Tambing : ruangan yang berbentuk lorong yang letaknya di samping kale balla ( rumah induk ) yang letaknya lebih rendah.

Kale Balla ; rumah induk atau badan rumah. Terdiri dari paddaserang atau ruangan. Ruangan paling depan yang digunakan untuk menerima tamu disebut paddaserang dallekang ( ruangan depan ), sedangkan bagian tengah disebut paddaserang tangnga ( ruangan tengah ) yang digunakan untuk kegiatan yang lebih privat. Bagian belakang disebut paddaserang riboko ( ruangan belakang ) yang fungsinya untuk kamar, utamanya kamar anak gadis.

Balla pallu ; dapur, digunakan untuk kegiatan masak memasak dan menyimpan alat masak. Biasanya ketinggiannya lebih rendah dari paddaserang.

Sedangkan untuk kegiatan mandi, cuci dan kakus biasanya terpisah dari bangunan rumah dan terletak agak di belakang. Tiap rumah biasanya punya sumur sendiri-sendiri atau biasanya sebuah sumur digunakan oleh beberapa rumah.

Rumah khas Makassar biasanya tidak menggunakan plafond dan di bagian atas antara dinding dan atap biasanya dibuat sebuah ruang yang disebut pammakkang. Fungsinya adalah menempatkan benda-benda khusus atau biasanya padi yang sudah siap dijadikan beras.

Bagian bawah rumah disebut siring dan biasanya digunakan untuk bersantai dengan menempatkan balai-balai. Beberapa rumah juga menggunakannya sebagai gudang.

Balla Lompoa

Blogger Makassar berfoto di Balla Lompoa

Salah satu rumah adat yang masih tersisa dan masih bisa dilihat serta dikunjungi adalah Balla Lompoa ( rumah besar ) yang merupakan rumah peninggalan kerajaan Gowa. Rumah ini terletak di kawasan istana kerajaan Gowa. Pemerintah kabupaten Gowa membuat sebuah rumah besar yang digunakan sebagai museum dan tempat pusat penyelenggaraan acara-acara khusus.

Bila berkunjung ke Makassar, teman-teman boleh mengunjungi rumah tersebut sebagai satu dari sedikit rumah adat yang masih bisa dilihat dan dikunjungi. Makin hari keberadaan rumah adat memang makin terkikis, tergantikan oleh rumah-rumah modern.

Semoga saja masih akan terus ada orang-orang yang bersedia memelihara peninggalan nenek moyang ini sehingga anak cucu kita tak perlu mengenang rumah adatnya hanya dari buku bacaan atau cerita orangtuanya saja.

 

[dG]

March 08, 2012 in Kamis, Makassar
Makassar ; Surga Sea Food 10

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food

Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya akan sia-sia. Kota ini lekat dengan beragam olahan hasil laut, mulai dari ikan, cumi, udang hingga kerang.

Sebagai kota di tepi pantai, Makassar memang lekat dengan laut dan tentu saja beragam makanan yang diambil dari laut. Bagi orang Bugis Makassar, ikan adalah sebuah keharusan. Tak lengkap rasanya melewati waktu makan tanpa menyantap beberapa potong ikan. Cara pengolahannyapun beragam, dari yang hanya digoreng biasa, digoreng pakai tepung hingga dimasak dengan beragam bumbu. Pokoknya ikan.

Di sekitar kota Makassar, ragam warung makan dengan menu utama hasil laut juga banyak bertebaran. Dari warung pinggir jalan hingga warung ber-AC. Kisaran harganya juga bermacam-macam, dari yang belasan ribu hingga yang puluhan ribu per-porsi.

Seorang teman dari Jawa pernah bilang kalau perbedaan paling mendasar antara sea food di Makassar dengan sea food di Jawa ( khususnya di Jakarta ) adalah soal rasa. Hasil laut di Makassar masih terasa segar dan gurih meski tidak menggunakan banyak macam bumbu.

Analisa sederhana saya adalah mungkin karena laut di sekitar Makassar memang relatif masih jernih dan bersih dari limbah industri sehingga membuat hasil lautnya juga terasa lebih segar dan gurih. Agak berbeda dengan beberapa kota besar di Jawa yang lautnya mulai tercemar oleh limbah industri dan semacamnya.

Beberapa warung sea food yang terkenal di Makassar semisal : warung makan Lae-Lae, warung makan Paotere, warung makan Bahari, warung makan Apong atau yang agak baru seperti warung makan HaDe. Semua warung makan itu menyediakan ragam hasil laut, mulai dari ikan, kepiting, cumi, udang hingga kerang.

Sebagian besar sea food tersebut diolah dengan cara dibakar dan sebagian dengan cara digoreng. Khusus untuk yang dibakar, bumbunya lebih minimalis. Berbeda dengan olahan ikan di Jawa yang biasanya menggunakan banyak bumbu. Begitupula untuk ikan yang digoreng, sebagian besar hanya digoreng polos, atau kalaupun ada tambahan biasanya ditambah dengan tepung dan sedikit bumbu.

Sop Kepala Ikan

Bentuk olahan lain adalah dengan dimasak. Salah satu variannya adalah yang bernama Ulu Juku ( kepala ikan ) yang bahannya terdiri dari kepala ikan, biasanya kepala ikan kakap atau ikan sunu. Kepala ikan tersebut dimasak dengan beberapa bumbu plus kunyit sehingga kuahnya berwarna agak kekuningan. Di Makassar ada beberapa warung yang terkenal dengan sajian Ulu Juku atau sop kepala ikan ini.

Buat anda yang senang menikmati sensasi rasa olahan hasil laut, silakan berkunjung ke Makassar. Ada banyak pilihan tempat menikmati hasil olahan laut yang nikmat, segar dan gurih. Sambil tentu saja tidak boleh lupa untuk terus peduli? pada laut kita yang sudah berbaik hati menyediakan begitu banyak hasil yang bisa kita nikmati.

[dG]

February 14, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Di Makassar, Pohon-Pohon Jadi Rebutan 0

Di Makassar, Pohon-Pohon Jadi Rebutan

Pohon yang jadi korban

Menjelang Pilkada yang meski masih setahun lagi, Makassar sudah sesak oleh spanduk, baliho besar maupun kecil yang berisi wajah-wajah sok akrab yang ingin mencalonkan diri jadi pemimpin. Beberapa di antaranya dengan sangat tega menempel wajah atau jargon mereka di pohon. Dengan paku tentu saja.

Di bilangan jalan utama yang bernama Jl. Andi Pangerang Petta Rani berdesakan banyak sekali baliho, poster dan spanduk yang memajang wajah-wajah penuh senyuman. Di antara wajah-wajah itu ada tulisan, kebanyakan adalah janji manis, selebihnya adalah motivasi kalau mereka bisa memberikan yang terbaik untuk kota ini.

Setiap perempatan atau pertigaan pasti penuh dengan baliho super besar yang sangat menusuk mata. Karena semua ruang untuk pamer diri sudah penuh, maka beberapa orang kemudian memilih ruang lain yang masih tersisa. Adalah pohon yang kemudian jadi korban.

Pohon lain yang jadi korban

Bukan hanya di seputaran jalan AP. Pettarani pohon-pohon terpilih jadi etalase untuk memasang wajah dan jargon itu, tapi di bilangan jalan lainnyapun banyak. Biasanya poster kecil seukuran 50x100cm itu dipasang di pohon-pohon dengan menggunakan paku. Jadilah pohon-pohon yang seharusnya jadi penyejuk kota dan mata itu berubah menjadi etalase wajah yang kadang malah bikin eneg.

Perlahan-lahan, wajah kota Makassar makin suram. Perempatan dan pertigaan jalan penuh dengan baliho besar, sementara pohon-pohonnya penuh dengan poster yang dipaku. Sungguh pemandangan yang sangat tidak nyaman. Orang menyebutnya sebagai polusi visual.

Beberapa waktu yang lalu kota Makassar dihebohkan dengan beberapa baliho besar yang mengusung jargon PAKUI. Sebuah jargon yang aneh dan sama sekali tidak menarik simpati. Belakangan ini di beberapa titik di kota Makassar ada baliho baru yang bisa dibilang sebagai lawan dari baliho PAKUI itu. Penyebarannya memang belum banyak dan besarannyapun tidak sebesar baliho PAKUI itu, tapi sudah cukup lumayan menarik perhatian.

Baliho Ambo Tang

Baliho itu bergambar seorang lelaki tua berpakaian adat warna putih lengkap dengan sarung dan kopiah khas Bugis. Di bagian atasnya bertuliskan : Ranjau Paku Di Mana-Mana !! dan bagian bawahnya ada tulisan ; Relawan Pencabut Paku. Ada juga tulisan nama H. Ambo Tang? yang merupakan nama khas Bugis meski Tang juga bisa diasosiasikan sebagai tang yang kita gunakan untuk mencabut paku.

Saya kurang tahu apakah si bapak H. Ambo Tang itu juga berniat mencalonkan diri untuk jadi walikota atau gubernur, atau hanya sebagai sindiran untuk baliho PAKUI saja ?

Stop Pakui Pohon

Sementara itu di bagian lain di Jl. AP Pettarani ada satu baliho kecil yang menarik perhatian saya. Sebuah baliho kecil yang mengusung jargon : STOP PAKUI POHON BOS, di bagian kanan atas ada tulisan : GERAKAN CABUT PAKU sementara di bagian bawah ada tulisan : BPP KPA SUL-SEL dan KOMITE PEMUDA PEMERHATI LINGKUNGAN.

Dari data yang saya peroleh di Internet, BPP KPA Sul-Sel ini adalah sebuah perkumpulan remaja pecinta alam. Makanya terasa wajar bila mereka kemudian merasa geram dengan makin maraknya para politikus yang memanfaatkan pohon sebagai media etalase wajah mereka.

Begitulah, pohon-pohon di Makassar rupanya menjadi rebutan banyak pihak. Ada yang berebut memakunya dan memasang wajahnya ada juga yang berebut mencabut pakunya. Entah sampai kapan pohon-pohon di Makassar bisa bebas dari kepentingan politik. Tidak bisakah mereka membiarkan pohon-pohon itu tetap di sana menjalankan tugasnya sebagai penyejuk kota ?

Kami mau pohon kami kembali bersih, tanpa wajah mereka yang entah kenapa kadang bikin eneg.

 

[dG]

February 09, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar, Sekitarku
Bentor ; Kendaraan Penguji Nyali 20

Bentor ; Kendaraan Penguji Nyali

Bentor sedang menunggu penumpang

Sekitar dua tahun belakangan ini sebuah moda transportasi baru masuk ke kota Makassar. Bukan transportasi massal memang karena maksimal hanya bisa memuat dua orang dewasa. Namanya Bentor, atau kadang disebut juga sebagai Bemor, gabungan antara becak dan motor.

Saya mengenal moda transportasi ini untuk pertama kalinya sekitar tahun 2002, itupun dari cerita beberapa kawan yang sedang bertugas di Gorontalo. Katanya di sana ada kendaraan umum yang merupakan perkawinan becak dan motor. Bagian depannya berbentuk becak sementara bagian belakangnya berbentuk motor. Namanya bentor.

Bertahun-tahun kemudian bentor kemudian masuk ke Makassar. Saya pertama melihatnya di daerah Antang. Waktu itu jumlahnya memang cuma beberapa buah, tapi lama-kelamaan kemudian bertambah banyak. Rupanya bentor masuk lebih dulu melalui kota-kota kabupaten di utara Makassar seperti Sidrap, Barru dan Pangkep.

Sekarang bentor sudah makin banyak. Di seputaran Makassar, khususnya di daerah pinggiran kota bagian utara dan timur, pangkalan bentor makin gampang ditemui. Perlahan-lahan bentor menyisihkan keberadaan ojek yang lebih dulu ada. Banyak tukang ojek yang terpaksa memodifikasi motor mereka dan mengawinkannya dengan becak agar menjadi bentor. Tentu saja ini jadi semacam tuntutan.

Makin banyak orang yang memilih bentor sebagai moda transportasi, khususnya untuk jalur yang tidak dilayani oleh transportasi umum seperti pete-pete. Keunggulan bentor adalah pada daya muatnya, karena ruang depannya berbentuk becak maka jelas bisa muat maksimal dua orang dewasa, atau satu orang dewasa plus beberapa barang yang biasanya adalah barang belanjaan. Ini jadi kelebihan bentor bila dibanding ojek.

Soal ongkos, bentor juga sedikit lebih mahal dari ojek. Sebagai perbandingan, dari daerah Antang ke Mall Panakkukang dengan jarak sekitar 4 KM, ongkos naik ojek paling mahal sekitar Rp. 10.000,- sedangkan dengan bentor sekitar Rp. 15.000,- . Bila bentor memuat dua orang, jelas harga ini jadi terasa murah. Orang juga banyak memilh menggunakan bentor yang ongkosnya lebih mahal dari pete-pete karena pertimbangan waktu tempuh. Bentor tidak perlu mengikuti rute khusus, persis seperti ojek.

Saya pernah bertanya kepada seorang supir bentor yang pernah saya tumpangi. Seorang lelaki muda dengan gaya masa kini. Rambut a la penyanyi K-Pop , kaos oblong dan celana skinny. Sayang saya lupa namanya. Dia masih baru jadi supir bentor, itupun katanya bentor yang dia bawa punya kakaknya yang kebetulan pulang ke Pangkep, sekitar 50KM sebelah utara kota Makassar.

Dalam sehari penghasilannya tidak menentu. Dia biasanya mangkal di jalan Boulevard, tidak jauh dari Mall Panakkukang yang jadi mall paling besar di timur kota Makassar. Bersama beberapa teman-temanya dia mangkal di sudut jalan, menunggu penumpang mulai dari pagi hingga larut malam.

Bentor, masih tanpa ijin dan uji kelayakan

Sayangnya sampai sekarang bentor belum dapat ijin trayek resmi dari pemerintah. Begitupula dengan uji kelayakan untuk keselamatannya. Beberapa waktu yang lalu dinas perhubungan kota Makassar pernah berniat menghapuskan bentor untuk sementara sampai uji kelayakan keluar. Rencana ini mendapat tentangan dari ratusan supir bentor yang berdemo di depan DPRD kota Makassar dan sampai sekarang rencana itu kembali mentah. Bentor masih berkeliaran dengan bebas, bahkan jumlahnya makin bertambah.

Belum adanya ijin dan uji kelayakan ini membuat bentor memang belum bisa dianggap sebagai sebuah kendaraan yang aman. Ini juga yang membuat bentor belum bisa masuk ke jalan-jalan protokol di kota Makassar.

Tidak semua orang suka naik bentor rupanya. Bentuknya yang menyerupai becak dengan kecepatan sebuah motor kadang membuat penumpang jadi tidak nyaman, seakan-akan duduk di kap sebuah mobil dan harus siap menjadi bemper kalau terjadi tabrakan. Itu belum ditambah dengan gaya menyupir yang ugal-uagalan, utamanya ketika macet. Para supir bentor kadang memaksakan bentornya untuk menerobos macet, lengkap dengan zig-zag-nya yang membuat penumpang ketar-ketir.

Musik dan Alat Kampanye

Suka atau tidak suka, bisnis bentor makin marak saat ini. Variasi bentorpun makin beragam. Beberapa bentor kemudian melengkapi diri dengan audio, meski kualitas suaranya memang lebih tepat disebut memekakkan telinga daripada membuat nyaman karena tentu saja tidak ada ruang yang cukup untuk memantulkan suara. Beda dengan audio yang terpasang pada mobil. Untuk pilihan lagu, biasanya berkutat antara lagu dangdut atau lagu house music, pokoknya yang terdengar meriah meski saya pernah juga mendapati sebuah bentor yang memutar Soldier Of Fortune-nya Deep Purple.

Bentor juga ternyata bisa jadi alat kampanye. Di kawasan Borong Raya dan Antang banyak bentor yang berseliweran dengan stiker besar bertuliskan RUDAL COMMUNITY. Awalnya saya sempat bingung mencari arti dari tulisan itu. Ternyata RUDAL adalah akronim dari Rusdin Abdullah, seorang pengusaha lokal yang sedang meretas jalan menuju kursi walikota Makassar.

Jika anda berkunjung ke Makassar, khususnya di daerah pinggiran kota maka saya yakin anda akan menemukan banyak kendaraan yang mungkin terlihat aneh karena merupakan hasil perkawinan silang antara motor dan becak. Silakan kalau anda mau mencoba. Hanya saja memang perlu kekuatan dan keberanian lebih.

Karena bentor menurut saya memang kendaraan yang menguji nyali kita.

February 02, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar, Sekitarku
Cara Mudah dan Murah ke Makassar 14

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi

Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar sangat mahal dan kemudian merasa berat untuk datang ke ibukota Sulawesi Selatan ini. Mahal atau tidak mungkin relatif, tapi kalau mau membandingkan sesungguhnya biaya ke Makassar dari beberapa kota besar di Jawa tidak terlalu mahal.

Ketika pengumuman bahwa Makassar akan jadi tuan rumah pagelaran Kopdar Blogger Nusantara 2012, hal pertama yang saya tekankan kepada teman-teman yang hadir di kantor IBN waktu itu adalah : mari mulai menabung. Yah, kali ini jalan menuju Kopdar Blogger Nusantara memang lebih panjang apalagi mengingat kalau sebagian besar konsentrasi peserta memang berasal dari pulau Jawa. Pertanyaan yang paling banyak saya terima dari teman-teman di Jawa adalah : mahalkah ongkos ke Makassar ?

Seperti yang saya bilang di atas, soal mahal atau tidak itu relatif. Tapi anggaplah angka di bawah Rp. 1 juta rupiah itu tidak mahal, maka bisa dibilang ongkos ke Makassar termasuk murah untuk pergi dan pulangnya.

Ada dua kota besar di Jawa yang bisa jadi pilihan pintu gerbang untuk ke Makassar. Pertama tentu saja Jakarta dan yang kedua adalah Surabaya. Sebenarnya ada satu kota lagi yang menyediakan penerbangan langsung dari dan ke Makassar yaitu kota Jogjakarta, tapi karena pilihan penerbangannya tidak banyak maka otomatis harganya jadi lebih mahal.

Kita mulai dari Jakarta dulu. Untuk teman-teman yang berada di Jabodetabek atau bahkan Jawa Barat dan Banten, ke Makassar melalui Jakarta tentu jadi pilihan utama. ?Harga tiket pesawat untuk masa-masa tertentu sangat terjangkau. Barusan saya mengecek ke website Lion Air, dan mereka masih menyediakan tiket seharga Rp. 424.100,- untuk penerbangan tanggal 9 Nopember 2012.

Daftar Harga Lion Air

Harga itu adalah harga promo, biasanya Lion Air melepas tiket pesawat CGK-UPG dengan kisaran harga antara Rp. 600 ribu hingga Rp. 700 ribu atau pada peak season mencapai harga Rp. 900 ribu. Bayangkan kalau bisa dapat tiket seharga 400an ribu itu, lumayan bolak balik hanya habis Rp. 900an ribu. Tidak terlalu mahal bukan ? Kalau teman-teman mulai menabung dari sekarang, Rp. 100rb per bulan maka pas bulan Nopember nanti uangnya sudah lebih. Tapi dengan catatan, harga promosinya masih ada.

Sebenarnya di saat-saat tertentu maskapai lain semisal Merpati kadang memberi promosi yang cukup gila. Tahun lalu saat berulang tahun, mereka melepas tiket ke semua jurusan dengan harga yang sama. Berkisar di harga Rp. 126.000,- bersih. Tapi untuk itu kita memang harus bergantung pada keberuntungan.

Nah, sekarang kita ke Surabaya. Dari dan ke ibukota Jawa Timur ini saya selalu mengandalkan Citilink. Alasannya karena harganya yang kadang sangat murah, tapi sering juga harga normal ketika musim promosi berlalu. Percaya tidak percaya, saya pernah dapat tiket UPG-SUB seharga Rp. 99.000,- plus pajak dan sebagainya total hanya Rp. 180.000,-

Kalau cek di website mereka, maka harga yang terpasang untuk tanggal 9 Nopember 2012 masih harga normal. Berkisar antara Rp. 200an ribu hingga Rp. 300an ribu. Masa promosi Citilink tidak bisa ditebak, kadang datang tanpa diduga. Untuk maskapai lainnya, kisaran harganya sama.

Teman-teman yang berada di sektiar Jawa Timur, Jogja dan Jawa Tengah bisa menuju Makassar melalui Surabaya. Tinggal mencocokkan jadwal keberangkatan dengan jadwal kereta atau bis. Ini yang biasa saya lakukan ketika mudik ke Semarang atau menuju Jogja. Relatif lebih murah tapi boros di waktu daripada langsung naik pesawat dari Semarang atau Jogja misalnya.

Daftar Harga Citilink

Dari Jogja ke Makassar hanya dilayani dua maskapai, Merpati dan Express Air. Kisaran harganya antara Rp. 700an ribu hingga Rp. 900an ribu. Tapi pada saat tertentu juga memang ada promo. Saya pernah ke Jogja langsung dari Makassar dengan tiket seharga Rp. 400an ribu dan sekali waktu naik Express Air dengan harga Rp. 500an ribu.

Intinya memang harus rajin mengecek ke website maskapai bersangkutan, atau cara lain menjalin relasi dengan travel agent. Travel agent biasanya dapat diskon khusus atau promo khusus. Beberapa kali saya juga berhasil mendapatkan tiket murah karena bantuan teman-teman yang bekerja di travel agent.

Sebenarnya ada alternatif lain untuk ke Makassar melalui Jakarta atau Surabaya yaitu dengan menggunakan kapal laut. Tapi sepertinya cara ini tidak terlalu efektif karena boros di waktu. Jakarta-Makassar ditempuh dalam 48 jam atau dua hari sementara Surabaya-Makassar ditempuh dalam waktu 24 jam. Selain itu harganya juga tidak terlalu jauh berbeda. Terakhir saya mengecek harga tiket ekonomi dari Surabaya ke Makassar, harganya sekitar Rp. 200an ribu. Dengan selisih harga tipis dan selisih waktu yang panjang sepertinya pilihan naik pesawat jadi lebih logis.

Jadi, begitulah teman-teman. Mari persiapkan dana anda untuk datang ke gelaran acara Kopdar Blogger Nusantara 2012. Kalau melihat tulisan di atas teman-teman pasti setuju kalau ongkos ke Makassar tidak terlalu mahal bukan ? Lagipula sebagai tuan rumah kami pasti akan menyediakan akomodasi dan konsumsi selama rangkaian acara. Lumayan menghemat bukan ? Lagipula kami sedang menyiapkan sebuah acara yang berbeda untuk menyambut teman-teman semua di gelaran Kopdar Blogger Nusantara 2012.

Kami menantikan teman-teman semua.

 

[dG]

January 31, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa
Makassar Nol Kilometer ; Dari Supporter PSM Hingga Cafe di Losari 10

Makassar Nol Kilometer ; Dari Supporter PSM Hingga Cafe di Losari

Makassar Nol Kilometer

Mengenal Makassar tidak hanya lewat brosur wisata atau catatan manis di situs-situs travel atau milik pemerintah saja. Makassar punya banyak cerita, dari pinggiran kota hingga ke pusat kota. Sebagian cerita itu dirangkum 14 orang warga dalam buku Makassar Nol Kilometer.

Cerita ini dibuka dengan kisah para supporter setia klub sepakbola PSM. Cerita tentang bagaimana mereka bersedia menyabung nyawa mengawal klub kesayangan mereka yang tandang ke kota-kota lain di luar Sulawesi, tentang bagaimana mereka harus berhadapan dengan amarah supporter tuan rumah yang jumlahnya berlipat ganda. Juga cerita tentang semangat mereka memerahkan stadion Mattoangin setiap kali PSM menjadi tuan rumah untuk klub tamu.

Cerita seperti ini mungkin sudah sering terbaca di berbagai media, utamanya media lokal. Tapi kedalaman cerita yang dipaparkan di bab : Pengawal Pasukan Ramang karya Muh. Nur Abdurrahman ini melebihi kedalaman cerita wartawan biasa.

Buku ini memang dibuat dengan dasar menggali kepedulian warga biasa tentang kotanya. Ragam cerita yang terangkum adalah ragam cerita tentang keseharian, tentang kehidupan warga biasa yang mungkin tidak akan bisa ditemukan di media mainstream, apalagi media mainstream lokal yang lebih banyak diisi acara seremonial pejabat dan gosip artis.

Simak cerita tentang penjual jajanan buroncong ( kue pancong khas Makassar ) di seputaran Tamalanrea atau tentang para payabo ( sebutan untuk para pengumpul barang bekas atau pemulung ) Kisah remeh temeh itu biasanya tidak mendapat tempat di koran lokal, atau kalaupun mendapat tempat, porsinya kecil dan nyaris tidak terlihat.

Buku ini dibagi dalam 4 bagian, Komunitas, Kuliner, Fenomena dan Ruang. Masing-masing memotret lebih dalam tentang kehidupan warga biasa di kota Makassar. Cara penulisannya beragam, sesuai dengan gaya dari keempatbelas penulis meski tetap punya benang merah yang sama yaitu feature yang dalam dan memikat.

Makassar Nol Kilometer terbitan penerbit Ininnawa ini sudah masuk cetakan kedua. Tiga orang editornya dikenal baik sebagai orang-orang yang aktif di dunia literasi kota Makassar. Mereka adalah Anwar J. Rahman, Nurhady Sirimorok dan M. Aan Mansyur.

Kedalaman cerita, sudut pandang yang berbeda dan cara mengemas yang apik menjadikan Makassar Nol Kilometer sebagai sebuah buku yang harus dibaca oleh mereka yang ingin tahu lebih dalam tentang Makassar, atau mereka yang ingin mendengar kisah nyata perjuangan masyarakat pinggiran sebuah kota yang terus berkembang dan memoles wajahnya hingga kelihatan menor.

Makassar Nol Kilometer dibuka oleh tulisan tentang supporter setia pasukan Ramang ( julukan PSM ) dan ditutup dengan cerita tentang cafe di sekitar pantai Losari yang makin hari makin terjepit hingga sekarang nyaris menghilang. Mari melihat sisi terdalam kota Makassar lewat buku Makassar Nol Kilometer.

 

[dG]

January 20, 2012 in Buku-ku, Jumat, Review

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site