Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Alam bawah laut ( foto by : Jitho) Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan bagian...

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang
Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Press and Marine Excursion Minggu ini saya akan keluar dari aturan yang saya buat. Kalau biasanya...

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde
Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Posts Tagged With 'Kenangan'

Terperangkap Dalam Sebuah Lagu 2

Terperangkap Dalam Sebuah Lagu

Foto by : Google

Ketika waktu berputar dan kenangan datang silih berganti, lagu akan tetap menjadi sebuah media yang menghantar kenangan itu untuk kembali terputar

Setiap orang punya banyak kenangan dalam hidupnya. Ada jejak-jejak kenangan yang tertinggal dalam bentang masa kehidupan. Beberapa kenangan itu kadang kala muncul ke permukaan lewat beragam hal yang jadi stimulan. Kenangan akan sebuah kejadian, sebuah perasaan kadang tumbuh lewat beragam medium. Ketika kenangan itu memudar, medium itu tetap ada dan bisa menghantar kembali kenangan itu ke permukaan.

Medium itu bisa berupa apa saja. Benda misalnya. Banyak benda yang ketika dilihat dan disentuh dengan cepat memanggil kembali rentetan kenangan akan sesuatu kejadian atau perasaan. Foto atau lukisan tentu jadi medium yang paling gampang memanggil kembali rekaman kejadian yang menyimpan kenangan itu.

Tapi medium juga tidak selamanya berupa benda atau sesuatu yang bisa dilihat. Kadang medium penghantar kenangan itu berupa sesuatu yang hanya bisa didengar. Apalagi kalau bukan lagu. Lagu jadi medium penghantar kenangan yang mungkin sudah berumur ratusan tahun. Entah berapa miliar kenangan yang tertinggal dalam lantunan lagu, entah berapa miliar lagu yang secara sadar atau tidak sadar sudah menjadi sebuah media yang paling efektif untuk menghantarkan kembali sesuatu bernama kenangan.

Banyak orang yang menggunakan lagu sebagai sebuah penanda akan sebuah kenangan, utamanya kenangan yang melibatkan perasaan. Mereka yang sedang jatuh cinta, mereguk manis madu asmara, atau bahkan mereka yang sedang? terpaksa menelan pahitnya cinta biasanya punya lagu yang dengan segera akan menemani mereka menikmati masa-masa itu.

Ketika waktu berputar dan kenangan datang silih berganti, lagu akan tetap menjadi sebuah media yang menghantar kenangan itu untuk kembali terputar. Ketika lagu terputar, baik secara sengaja atau tidak, diminta atau tidak, kenangan itu juga akan menyelinap ke dalam pikiran. Terputar kembali, meninggalkan rasa yang entah manis entah pahit.

Saya punya banyak lagu yang kadang tanpa saya sengaja sudah menjadi sebuah penghantar kenangan. Dalam sebuah kejadian, entah yang berhubungan dengan perasaan atau tidak kadang ada lagu yang kemudian terputar dan menjadi musik latar. Kejadian itu seperti potongan film dengan sebuah musik latar yang mengiringinya. Kemudian ketika musik latar itu terputar, maka adegan filmnya ikut terputar dalam kepala dan menghadirkan kembali ragam kejadian dan perasaan yang hadir saat itu.

Lagu memang sukses menjadi medium penghantar kenangan, baik disengaja ataupun tidak. Banyak kenangan yang terperangkap dan tertinggal di dalam lagu dan kemudian kembali di saat yang tidak terduga. Alunan musik dan rangkaian liriknya secara sadar atau tidak sudah jadi tempat yang nyaman untuk sebuah kenangan.

Saat ini saya sedang mendengarkan “Hingga Ujung Waktu”-nya Sheila On 7. Ada ragam kenangan yang tertinggal di sana.

Bagaimana dengan anda ? Ada musik atau lagu yang memerangkap sebuah kenangan dalam hidup anda ?

[dG]

**postingan ini saya dedikasikan untuk seseorang

 

 

April 02, 2012 in Kenangan, Senin
Komputer, dari Pac Man ke Twitter 7

Komputer, dari Pac Man ke Twitter

Komputer Tua ( images by Google)

Sebuah diskusi di Kampung Buku mengangkat sebuah proyek penelitian sederhana berbasis warga. Temanya adalah tentang komputer. Pikiran saya mengaduk-aduk kembali kenangan tentang kapan pertama kenal komputer dan perjalanannya hingga kini.

Saya masih SMP kala itu, sekitar tahun 1991. Seorang kawan sekelas, anak dari seorang pejabat di PLN mengajak kami ke rumahnya selepas jam sekolah. Ada komputer katanya, kami tentu saja girang. Sekumpulan anak kampung yang tidak tahu apa itu komputer meski pernah mendengarnya dari banyak sumber.

Selepas jam pelajaran sekolah, beranjaklah kami ke rumah teman yang berada dalam kompleks PLN. Sebuah benda kotak berwarna krem terletak di atas meja. Di atas benda itu ada sebuah benda lain yang mirip dengan televisi 14 inch. Di depannya sebuah benda persegipanjang dengan banyak tombol-tombol kecil penuh huruf dan angka. Inilah yang namanya komputer, kata teman saya.

Dia memencet sebuah tombol di kotak krem yang pertama, memasukkan sebuah benda tipis ke dalamnya dan tak lama kemudian layar serupa televisi itu menyala dan menampilkan gambar hitam. Saya dan teman-teman lainnya hanya menatap, mungkin dengan tatapan kagum atau tatapan penuh tanya. Saya sudah lupa. ?Yang saya ingat, hari itu kami diberi kesempatan menyentuh benda bernama komputer itu, memainkan sebuah permainan. Namanya Pac Man. Permainan sederhana di mana kita harus mengontrol sebuah karakter berbentuk bola yang memakan banyak benda dalam sebuah labirin.

Itulah persentuhan pertama saya dengan komputer. Sebuah benda yang kala itu masih sangat jarang ada di kota Makassar, bahkan mungkin di Indonesia. Setelah persentuhan pertama itu, saya butuh waktu sekitar 4 tahun sebelum kembali menyentuh benda bernama komputer itu dengan intens. Dalam rentang waktu 4 tahun itu beberapa kali saya sempat menyentuhnya, seorang kerabat dekat yang hobi mengutak-atik barang elektronik rupanya sering mendapat orderan memperbaiki komputer. Beberapa kali ketika saya berkunjung ke rumahnya saya dapat kesempatan menyentuh komputer, dan Pac Man selalu jadi pilihan.

Belajar Ws7 dan Lotus123

Empat tahun kemudian, almarhum bapak membawa pulang seperangkat komputer. Komputer itu punya sekolah tempat bapak bekerja, dibawa pulang selepas diperbaiki dan kebetulan sekolah sedang masa libur. Saya sungguh senang kala itu, pun dengan adik-adik saya. Kami bisa memuaskan diri bermain Pac Man dan kemudian beberapa game lainnya. Sayang saya tidak tahu apa spesifikasinya, yang saya tahu hanyalah kita harus punya sebuah disket besar sebagai medium agar komputernya bisa dipakai.

Urutannya, memasukkan disket besar sebelum menyalakan komputer. Komputer akan menyala dan sistem operasinya akan mulai membaca data yang tersimpan di dalam disket besar. Setelah itu untuk mengoperasikan perangkat lunak yang kita inginkan kita harus memasukkan lagi disket yang lain sesuai perangkat lunak yang kita inginkan. Memang agak repot karena kita harus punya banyak disket yang waktu itu masih besar untuk bisa menikmati perangkat lunaknya.

Semua operasi dilakukan dengan mengetikkan beberapa perintah di papan kunci. Tetikus (mouse) belum ada kala itu. Tidak heran perintah seperti : CLS, CD\, CD\\, DIR dan lain-lain adalah perintah yang harus dihapal di operating sistem berbasis DOS.

Waktu itu almarhum bapak tidak hanya memberi kesempatan kepada kami untuk bermain game di komputer. Beliau juga mengajarkan saya mengenal WS7, sejenis perangkat lunak pendahulu Microsoft Word dan juga belajar Lotus 123, perangkat lunak pendahulu Microsoft Excel. Kata alm.Bapak, saya bisa menangkap dengan cepat semua ajarannya dan saya lumayan bisa membuat satu halaman ketikan yang rapih serta beberapa perhitungan sederhana dengan menggunakan Lotus 123.

Persentuhan saya dengan komputer makin intens selepas itu. Di ujung masa sekolah di sebuah STM di Makassar, saya sempat lama bersentuhan dengan komputer. Kala itu saya dan teman-teman satu kelompok harus membuat laporan tentang kegiatan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) dan alm.Bapak membawa kami ke laboratorium komputer di sekolah tempatnya bekerja. Di sanalah saya dan teman-teman sekelompok intens mengetik laporan dan belajar cara mencetaknya menggunakan printer Epson yang entah seri berapa. Saya hanya ingat suaranya yang berisik karena masih menggunakan pita atau dikenal dengan printer dot matriks.

Kala itu proses mencetak hasil kerja belum semudah sekarang. Ada beberapa perintah dan langkah yang harus dilakukan. Beda dengan proses cetak sekarang yang begitu mudah dengan banyak bantuan. Komputer waktu itu juga belum menggunakan hard disk untuk menyimpan data. Kita harus punya floppy disk yang lebih kecil untuk menyimpan data yang sudah kita buat.

Mulai mengenal WIndows

Selepas sekolah di STM saya tidak langsung mendaftar kuliah. Ada masa senggang ketika saya menjadi pengangguran, prioritas saya waktu itu memang ingin bekerja dulu dan nantinya membiayai sendiri kuliah saya. Selama masa senggang itu alm. Bapak memasukkan saya di sebuah kursus komputer di sekolah tempatnya bekerja. Jadilah saya tiga kali seminggu menyambangi sekolah elite di Makassar itu untuk belajar komputer. Dari mulai DOS, WS7 hingga Lotus 123.

Saya belum sempat menyelesaikan pelatihan ketika sebuah kabar menyebutkan kalau saya diterima bekerja di sebuah perusahaan properti, Oktober 1996. Saya sungguh senang luar biasa, dan ternyata di kantor inilah persentuhan saya dengan komputer makin intens, hampir setiap hari.

Hari pertama bekerja saya diminta menyalakan komputer.Saya diterima sebagai staff administrasi proyek dan tugas saya banyak berhubungan dengan komputer. Saya berdiri di depan sebuah komputer yang katanya komputer paling canggih di kantor itu. Saya kebingungan mencari disket besar yang biasanya saya pakai untuk menyalakan komputer. Ketika sedang kebingungan, seorang staff mendatangi saya.

” Kenapa ? “, Tanyanya

” Disket besarnya mana pak ? “? Saya balas bertanya.

Dia tertawa dan menekan tombol power. Rupanya komputer yang digunakan di kantor ini sudah tidak perlu disket boot lagi. Operating sistemnya sudah menggunakan windows 3.1.1 dan dilengkapi dengan hard disk untuk menyimpan data. Duh, saya sungguh malu, ilmu komputer saya ternyata sudah ketinggalan jaman.

Di divisi tempat saya bekerja ada dua buah komputer dengan spesifikasi berbeda. Komputer yang paling canggih menggunakan processor Pentium 486 dengan RAM (memory) 16MB, kalau tidak salah hard disknya berkapasitas 64MB. Dilengkapi dengan CDROM 2x, sungguh sebuah kemewahan kala itu. Komputer yang satu spesifikasinya lebih rendah. Pentium 386, dengan memory 8MB dan hard disk 32MB.

Di kantor itu juga kecintaan saya pada komputer mulai tumbuh. Setiap hari saya belajar tentang operating system yang baru saya temukan, windows 3.1.1. Pun saya belajar mengoperasikan Microsoft Office seperti Word dan Excel yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Semua terasa jauh lebih mudah, apalagi waktu itu sudah ada tetikus yang mempermudah proses.

Saya makin intens belajar komputer. Belajar menginstall windows dan belakangan belajar merakit perangkat keras serta belajar memberikan pertolongan pertama pada komputer yang bermasalah. Bahkan saya kemudian memilih untuk kuliah pada jurusan komputer, meski bertahun-tahun kemudian ilmu yang saya dapatkan perlahan hilang karena tidak pernah diamalkan.

Dalam rentang waktu hampir 21 tahun ternyata perubahan komputer sangat pesat. Dari sebuah komputer yang bergantung pada cakram lunak agar bisa dioperasikan hingga komputer jinjing yang begitu tipis dengan spesifikasi yang dulu mungkin tidak pernah terbayangkan. Dulu komputer membuat saya begitu antusias karena ada Pac Man-nya, sekarang komputer membuat saya antusias karena bisa bebas berkicau di Twitter.

January 23, 2012 in Kenangan, Senin
Kenangan di 2011 19

Kenangan di 2011

2011-2012

Ini hari pertama di tahun 2012, kalender 2011 harus diganti . Selama tahun 2011, banyak kejadian yang bergulir. Sebagiannya adalah kenangan yang patut untuk dicatat.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun 2011 ini juga menyimpan banyak cerita dengan pusat edarnya adalah saya. Tahun ini luar biasa, ada beberapa kejadian yang mungkin akan mengubah jalan cerita hidup saya di 2012, meski tidak semua bisa saya tuliskan dan bagi. Ada tiga highlight dalam perjalanan 2011 saya, di dunia blog, kesan jalan-jalan dan pekerjaan.

Dunia Blogging

Tahun 2011 saya makin serius ngeblog. Total ada 184 jumlah postingan dengan bulan Februari sebagai rajanya. Di bulan kedua itu saya memang bertekad posting setiap hari dan berhasil !! Selanjutnya memang tidak seganas bulan Februari. Postingan saya mulai bolong-bolong, utamanya di akhir pekan. Tapi, bagaimanapun saya tetap serius membuat postingan. Rasanya tidak nyaman bila sudah 2-3 hari terlewati tanpa postingan. Kecuali bila memang waktu tidak memungkinkan.

Daenggassing.com di Google

Saya juga terus berusaha menjaga kualitas sambil belajar memperbaikinya. Saya tidak mau hanya karena mengejar kuantitas sampai saya harus mengorbankan kualitas. Sedapat mungkin saya berusaha menyeimbangkan kualitas dan kuantitas, meski memang berat.

Mungkin karena konsistensi itu juga maka perlahan tapi pasti blog ini mendapat tempat di mata mesin pencari terbesar Google. Indexnya makin bertambah dan skor Alexa makin rendah. Jumlah pengunjung juga signifikan mesti memang pasti masih ditertawakan oleh mereka para pakar dan pekerja SEO. Saya juga tidak melakukan langkah khusus seperti para pekerja SEO pada umumnya, paling-paling hanya langkah sederhana untuk membuat inbound link. Selebihnya tidak ada. Saya hanya fokus pada konten dan kadang-kadang blogwalking.

Bersama Anging Mammiri di 2011

Konsistensi ngeblog juga saya imbangi dengan makin intensnya berkenalan dan berinteraksi dengan sahabat blogger dari luar daerah Makassar. Setelah bergabung dengan Loenpia di awal tahun, saya kembali dapat kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman blogger lainnya pada acara FGD Internet Sehat bulan September 2011 dan kemudian puncaknya adalah pada perhelatan Blogger Nusantara di Sidoarjo sebulan kemudian.

Komunitas blogger tempat saya bernaung juga mencatat banyak hal penting di 2011. Anging Mammiri akhirnya bisa kembali eksis setelah sempat melewati fase rehat.? Kami bisa membuat acara rutin setiap bulan dan mulai makin sering menjalin kerjasama dengan komunitas lain di kota Makassar. Memang masih banyak hal yang harusnya bisa kami lakukan untuk kota Makassar dan mudah-mudahan di tahun 2012 ini kami bisa mencicilnya sedikit demi sedikit.

Jalan-jalan bersama mereka

2011 juga mencatat banyak momen mengasyikkan bila berbicara tentang jalan-jalan. Tahun 2011 saya dan teman-teman Anging Mammiri makin sering mengikatkan diri dalam berbagai perjalanan. Tujuan kami beragam, dari pulau Barrang Lompo, pulau Kodingareng Keke, pegunungan di Bantaeng sampai terakhir mengunjungi Taka Bonerate. Semua terasa menyenangkan bersama mereka yang luar biasa itu.

Liburan bersama anak-anak Anging Mammiri

Kopdar juga semakin menggila di tahun 2011. Pernah kami bahkan kopdar setiap hari selama dua minggu penuh. Perlahan-lahan kopdar memang menjadi sebuah candu yang membuat kami tidak bisa melepaskan diri satu sama lain. Dan itulah bahan bakar paling utama untuk komunitas kami. Kebersamaan yang lahir dari interaksi offline.

Tahun 2012, kopdar dan jalan-jalan tentu masih masuk dalam agenda kami. Setidaknya masih banyak pulau-pulau di sekitar kota Makassar yang belum kami kunjungi dan bila tak ada halangan kami juga akan kembali ke Taka Bonerate atau bahkan ke Wakatobi.

Tentang Pekerjaan

Sebuah kejadian mengubah segalanya. Tiba-tiba saya dipinggirkan dan dianggap tidak dibutuhkan lagi. Setelah masa pengabdian panjang rupanya balasan ini yang saya terima. Suasana kemudian menjadi tidak nyaman lagi. Saya kehilangan kesempatan untuk mengabdi dan memberikan sesuatu untuk tempat saya bekerja.

Tak mengapalah, saya harus tahu diri. Saya hanya orang yang bekerja bila mereka memang masih membutuhkan saya. Belakangan saya memang diminta untuk kembali pada posisi yang berbeda. Tapi suasana sudah terlanjur tak nyaman dan saya memutuskan untuk tidak menerima tawaran itu.

Dan inilah saya, memulai 2012 dengan status yang berbeda. Berani keluar dari zona nyaman dengan segala konsekuensinya yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Sebuah langkah sudah saya ambil dan bagaimanapun saya harus siap menanggung semuanya meski kekecewaan tetap ada.

2011 sudah terlewatkan, entah berapa lagi bilangan waktu yang masih bisa saya jalani. Tidak pernah ada yang tahu bukan ? Saya hanya tahu kalau 2012 ini sepertinya bakal jadi tahun yang berat. Banyak tantangan yang menunggu dan banyak kejadian penting yang akan terjadi. Semoga.

Selamat tahun baru semuanya.

January 01, 2012 in Kenangan
Dipermalukan Oleh Kamera 11

Dipermalukan Oleh Kamera

Kamera SLR Analog

Kamera SLR Analog

Sebelum menjadi mahir, biasanya orang akan melalui masa kegagalan. Beberapa di antaranya bahkan sangat memalukan.

Cerita ini terjadi sekitar 12 tahun lalu ketika masih bersama teman-teman kuliah. Waktu itu saya baru saja belajar memegang kamera SLR, tepatnya kamera analog keluaran tahun 70an. Sebuah RICOH yang saya lupa tipenya. Kamera ini sebenarnya punya teman tapi dipinjamkan ke saya. Dengan kamera itu pula saya mulai belajar memasang roll film, mengatur bukaan dan kecepatan rana serta mengatur komposisi dan menggulung kembali roll film untuk dicetak.

Suatu hari teman-teman ?sekelas membuat rencana liburan bersama ke pulau Barrang Lompo. Saat itu Barrang Lompo masih punya satu cottage yang menjorok ke lautan dan benar-benar nyaman untuk dipakai menginap dan menikmati lautan.

Maka berangkatlah kami ke sana. Total rombongan sekitar 10 orang, dan sebagai salah seorang yang mengaku bisa motret saya kebagian tugas membawa kamera. Tahun 1999 kamera belum seperti sekarang. Jangankan kamera SLR, kamera poket saja masih jarang beredar. Jadi tidak heran jika teman-teman begitu bersemangat ketika tahu saya membawa kamera SLR meski masih analog.

Malam sebelum keberangkatan, dengan kamera di tangan saya menggelar sedikit ceramah singkat tentang cara menggunakan kamera SLR. Maklumlah, di antara teman-teman seangkatan rasanya belum ada yang punya kamera sejenis atau minimal tahu cara menggunakannya. Dengan berapi-api saya menjelaskan bagaimana menyelaraskan antara bukaan diafragma dan kecepatan rana kepada beberapa teman yang melongo entah karena kagum atau justruk karena bosan.

Singkat cerita berangkatlah kami ke pulau Barrang Lompo. Sebelum berangkat saya membeli satu roll film dan ketika sang penjaga toko menawarkan diri untuk memasang roll film dengan percaya dirinya saya menolak. Toh sebelum ini saya sudah beberapa kali memasang sendiri roll film di kamera. Hari itu saya juga melakukannya sendiri tentu saja dengan penuh percaya diri.

Dua malam di pulau kami lewati dengan penuh riang canda. Berkumpul dengan teman-teman sealiran tentu saja merupakan hal yang paling menyenangkan. Sepanjang acara saya dengan kamera SLR pinjaman itu juga beraksi merekam keceriaan kami semua. Semua ceria dan semua yakin kalau hasil fotonya akan sangat bagus.

Liburan kemudian harus berakhir, di perjalanan pulang saya melirik ke kamera. Jumlah 36 sudah terlampaui tapi shutter masih bisa tertekan, mungkin bonus kutipan pikir saya. Biasanya bila memasang roll 36 dan cara pasangnya bagus maka ada bonus sekitar 4 kutipan. Saya kembali memotret. Herannya meski perasaan sudah lebih dari 4 kali menekan shutter tapi roll-nya masih bisa diputar. Saya mulai merasa ada yang aneh, hingga akhirnya memutuskan untuk memutar kembali roll film seperti prosedur semestinya setiap habis memotret.

Keesokan harinya saya dengan penuh rasa penasaran saya membawa roll film itu tukang cuci cetak. Rasanya tidak sabar ingin melihat sendiri hasil kutipan saya yang merekam keceriaan selama dua hari di pulau itu. Roll film saya tinggal dan saya janji untuk kembali beberapa jam kemudian.

Ketika saya kembali untuk menjemput hasil cetak foto, kenyataan pahit terpampang di depan mata. Sial !! Rupanya saya salah memasang roll film. Roll film yang seharusnya tertarik rupanya meleset dan sama sekali tidak tertarik ke dalam ruang rekam. Jadi, selama dua hari di pulau sama sekali tidak ada foto yang terekam. Itu jawaban kenapa saya masih tetap bisa mengokang kamera meski penunjuk angkanya sudah lebih dari 36 bahkan 40 kutipan. Roll film yang saya bawa ke tukang cuci masih bersih seperti roll film yang baru karena memang sama sekali tidak terpakai. Lembaran-lembaran negatif film yang dicetak benar-benar kosong, sama sekali tidak bergambar.

Saya langsung lemas ketika itu juga. Terbayang wajah teman-teman yang begitu mengharapkan hadirnya foto-foto indah hasil liburan kami. Terbayang rasa malu yang harus saya tanggung, apalagi karena malam sebelum keberangkatan saya dengan semangatnya memberikan ceramah singkat tentang fotografi. Doh !!

Saya butuh waktu beberapa hari sebelum benar-benar berani ke kampus dan menemui teman-teman yang sudah tidak sabar menunggu hasil jepretan saya. Benar saja, ketika tahu kejadian sebenarnya spontan saya jadi bahan ledekan teman-teman semua, termasuk gaya saya ketika memberikan ceramah soal bukaan diafragma dan kecepatan rana. Benar-benar momen yang memalukan. Saya butuh waktu lama sebelum bisa kembali percaya diri di depan mereka.

Hari ini saya bisa mengenang kejadian itu sebagai kejadian yang lucu dan memalukan. Sekaligus sebagai sebuah pelajaran bahwa sebuah keberhasilan biasanya memang dimulai dengan kegagalan. Semua butuh proses belajar. Ah, saya merindukan teman-teman saya itu. Jika bisa berkumpul lagi dengan mereka saya akan memotret mereka sepuas-puasnya, sebagai ganti momen yang hilang dulu.

December 19, 2011 in Fotografi, Kenangan

In Memoriam : Luthfi Al Hakim

Jarum jam bergeser sekitar 15 menit dari jam 7 malam. Saya bersama supervisi freelance dan manager pemasaran sedang berada di ruang meeting. Pertemuan dengan freelance baru saja selesai beberapa menit yang lalu, di atas meja meeting masih ada beberapa biji kroket dan jalangkote sisa konsumsi meeting. Seorang lelaki muda bertubuh ceking berbungkus sweater marna oranye muda masuk.

” Masih ada yang bisa dimakan ? ” Dia bertanya ke saya.

” Oh, itu..ambil semuami “, Jawab saya sambil mempersilakannya mengambil sebiji kroket yang tersisa.

Dia bergeming, saya dan dua orang lainnya juga tidak terlalu memperhatikannya. Kami masih sibuk membahas persiapan pameran yang sebentar lagi akan digelar. Karena lelaki itu masih bergeming, iseng saya kumat. Kroket yang tinggal satu itu saya caplok sambil senyum-senyum. Saya lupa reaksinya seperti apa, yang saya ingat dia bergerak kea rah ibu Yeyen, manager pemasaran sambil minta ijin menghabiskan jalangkote dan kroket yang ada di depan ibu manager. Dengan sopan dia meminta ijin, dan ibu manager mengijinkan. Kami masih asyik berdiskusi ketika lelaki muda itu meninggalkan ruang meeting.

” Eh, itu di mejaku masih ada dua biji. Ambil semuami..” kata saya ketika dia sudah berada di pintu. Saya kembali sibuk dengan diskusi malam itu. Selanjutnya malam berjalan seperti yang kami rencanakan.

Lelaki ceking itu bernama Luthfi Al Hakim. Kami memanggilnya dengan nama Upiq seperti yang selalu dia ucapkan kala berkenalan. Umurnya belum genap 21 tahun, di kantor kami dia bertugas sebagai seorang tenaga surveyor. Saya mengenalnya sebagai anak muda yang cerdas, kreatif dan mudah bergaul. Tak heran bila di kantor kami dia dikenal akrab di segala divisi dan segala lapisan mulai dari para OB hingga para manager. Para ibu dan bapak di kantor kami juga mengenalnya sebagai anak yang periang dan hormat meski juga kadang kritis. Singkat kata, tak pernah ada cerita buruk yang diarahkan kepadanya.

July 08, 2010 in Kenangan

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site