Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Alam bawah laut ( foto by : Jitho) Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan bagian...

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang
Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Press and Marine Excursion Minggu ini saya akan keluar dari aturan yang saya buat. Kalau biasanya...

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde
Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Posts Tagged With 'Jalan-Jalan'

Packing, Packing! 9

Packing, Packing!

Perjalanan

Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang tidak terpakai dan pulang dalam keadaan utuh

Sepanjang tahun 2012 ini saya berubah jadi bang Toyib yang sering pergi. Sebenarnya ingin menyebut diri sebagai traveler, tapi kayaknya kegiatan saya bukan traveling walau sering mengunjungi tempat lain. Kebanyakan perjalanan itu karena urusan pekerjaan, jadi nyaris tidak sempat untuk berjalan-jalan atau menikmati keindahan kota yang saya datangi.

Salah satu ritual yang akhirnya jadi lekat adalah soal mengepak, atau istilah kerennya packing. Saya cukup beruntung bahwa acara-acara yang saya ikuti semuanya bersifat non formil sehingga saya tidak perlu repot untuk mengepak dengan baik dan benar, atau memikirkan bagaimana pakaian yang saya bawa tidak sampai kusut. Toh acaranya santai.

Biasanya semua barang utama saya masukkan ke dalam tas ransel, ukurannya tergantung dari berapa lama saya akan pergi. Satu ransel ukuran sedang biasanya sudah cukup. Saya akan memperhitungkan dulu berapa banyak kira-kira kaos yang akan saya bawa, biasanya saya memang hanya akan membawa kaos dan jarang sekali membawa kemeja.

Perhitungan saya, satu kaos untuk satu hari. Kalau untuk urusan celana, cukup membawa maksimal dua potong. Itupun biasanya satu celana pendek dan satu celana jeans. Ada tambahan lagi, saya pasti membawa kaos singlet dan celana pendek santai, ini untuk dipakai tidur. Rasanya tidak nyaman kalau kaos yang sudah dipakai jalan seharian masih juga dibawa ke tempat tidur. Begitupun dengan celananya.

Untuk pakaian dalam, saya siapkan satu tas kain khusus. Cowok jelas lebih santai dibanding cewek, pakaian dalamnya lebih sedikit jadi untuk urusan ini memang tidak terlalu banyak masalah. Saya juga punya satu tempat khusus untuk menampung alat mandi. Isinya mulai dari sabun cair, odol dan sikat gigi, shampoo dan tentu saja cologne. Tambahan lagi saya selalu membawa beberapa kresek kecil yang nantinya akan diisi pakaian kotor, utamanya pakaian dalam. Satu lagi tambahan, sebuah tas sangat kecil yang isinya adalah charger blackberry, charger tab dan kabel-kabel lainnya. Semua disatukan agar tidak tercecer.

Ransel

Semua pakaian yang saya bawa biasanya saya packing dengan cara digulung. Cara ini lebih efektif untuk menghemat ruang sekaligus? menjaga agar pakaian lebih rapih tanpa kusut. Caranya mungkin akan beda kalau seandainya saya bepergian dengan koper. Tapi sampai sekarang saya belum pernah tuh bepergian dengan koper, belum pantas rasanya. Hihihi.

Saya biasanya mengurutkan packing dengan rencana pemakaian. Jadi kaos yang kira-kira akan dipakai belakangan masuk duluan ke dalam ransel, kaos yang akan segera dipakai masuknya paling terakhir. Ini tentu saja untuk memudahkan, supaya pakaian yang saya bawa tidak sampai berantakan.

Saya juga punya satu tas kecil yang diselempangkan di bahu.? Isinya adalah tab yang selalu setia menemani ke mana saya pergi. Selain itu pasti terselip sebuah buku sebagai teman perjalanan, walaupun pada kenyataannya jarang dibaca gara-gara lebih sibuk dengan tab atau BB. Buku biasanya baru disentuh ketika pesawat tinggal landas, itupun hanya sebagai sebagai pemancing sebelum mata terpejam. Huh?sungguh tidak beradab.

Isi lain dari tas kecil itu biasanya adalah segala macam tiket dan boarding pass. Saya tempatkan di sana supaya tidak tercecer tapi tetap gampang dijangkau. Sebotol kecil air minum dan permen karet juga biasanya ada di tas kecil itu, juga dengan iPod yang siap disambungkan ke kuping ketika pesawat mulai tinggal landas.

Kadang-kadang saya merasa perlu membawa kamera. Ini kemudian jadi masalah baru karena artinya saya harus membawa tas tambahan. Satu tas kamera berisi body dan dua lensa. Beratnya cukup lumayan, apalagi karena kamera saya sudah terpasang battery grip yang menambah bobotnya. Makanya kadang untuk perjalanan ke tempat yang sudah biasa saya datangi, kamera DSLR saya tinggalkan dan saya cukup bergantung pada kamera HP. Kadang-kadang saya juga mencopot battery grip kamera saya dan cukup membawa lensa fix yang lebih ringan untuk dibawa.

Benda lain yang juga selalu ikut adalah jaket dan kacamata. Jaket sebenarnya hanya untuk kegiatan outdoor, tapi kadang terasa sangat penting jika bepergian jauh. Sementara kaca mata hitam meski selalu dibawa tapi sebenarnya agak jarang dipakai.

Nah, kira-kira itulah persiapan saya setiap kali ada panggilan untuk menyeberang lautan atau meninggalkan Makassar. Untuk packing sampai lengkap, biasanya saya hanya butuh waktu tidak sampai 30 menit. Kadang saya juga agak rewel, kaos yang sudah dipilih saya masukkan kembali ke lemari dan ganti dengan kaos yang lain. Satu lagi, kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang tidak terpakai dan pulang dalam keadaan utuh. Ini biasanya karena ada kaos yang saya anggap masih layak untuk dipakai keesokan harinya karena belum terlalu bau keringat atau belum kotor.

Bagaimana dengan teman-teman sekalian?

[dG]

April 24, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Jogja Memang Istimewa 12

Jogja Memang Istimewa

Malioboro

Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion

Pesawat Sriwijaya Air yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Adi Sutjipto, Jogjakarta. Siang itu Jogja dipayungi awan mendung tipis, udara agak panas pertanda sebentar lagi hujan turun. Dari bandara kami dijemput teman-teman komunitas blogger Jogja dan dibawa ke Jl. Dagen, tepatnya di hotel Whiz tempat saya dan teman-teman akan menginap selama beberapa hari ke depan.

Ini entah untuk yang keberapa kalinya saya menginjakkan kaki di propinsi paling Selatan di pulau Jawa ini. Pertama kali menginjak Jogja sekitar tahun 2000, tapi kunjungan pertama ini tidak berbuah manis. Baru sekitar beberapa bulan kemudian saya kembali ke Jogja dan bisa menjelajah banyak tempat.
Sekitar tahun 2009-2010 berkali-kali saya kembali ke kota ini, dan makin sering mejelajahi banyak sudut kota. Saya yang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, kemudian makin merasa cinta pada kota yang diperintah Sri Sultan Hamengkubuwono X ini.

Jogja selalu punya aura yang menyenangkan walaupun sudah makin ramai dibanding 12 tahun yang lalu. Sudut-sudut kotanya begitu khas, denyut nadi kota ini begitu membekas untuk mereka yang datang berkunjung. Sepulang dari sana, saya selalu merasa ada lambaian dari jauh yang memanggil saya untuk kembali ke Jogja.

Pendopo Dalem

Malam kedua di Jogja kami habiskan dengan makan malam ramai-ramai di Pendopo Dalem, Keraton Jogjakarta. Sebuah pendopo yang masih masuk dalam lingkungan keraton dengan arsitektur khas Jawa yang tetap dipertahankan. Makanan yang disajikan juga makanan khas Jawa, menu angkringan tepatnya. Saya mencoba berbagai menu, dari menu makanan berat sampai jajanan pasar yang sederhana tapi menggoda.

Malam berikutnya saya menghabiskan malam di sebuah angkringan di kota Gede bersama teman-teman Loenpia yang ada di Jogja. Menu yang sama dengan suasana berbeda. Kalau sebelumya menu angkringan berada dalam pendopo yang lebih nyaman, kali ini benar-benar berada di pinggir jalan yang sederhana. Duduk sambil lesehan.

Siluet Stasiun Tugu

Tapi selalu ada yang sama. Kehangatan, suasana akrab dan kesederhanaan. Jogja memang penuh dengan semua itu. Setiap sudutnya seperti gambaran tentang kesederhanaan dan kehangatan warganya.

Jogja adalah kota kedua yang saya cintai setelah Makassar. Jogja seperti juga Makassar selalu membuat saya ingin kembali. Kalau Makassar adalah kota tempat saya pulang, maka Jogja sepertinya jadi kota tempat saya datang.

” Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion ” Kata Ical, teman perjalanan saya kali ini. Ini pertama kalinya dia ke Jogja, dan saya tahu dia juga merasakan kenyamanan yang sama dengan yang saya rasakan 12 tahun yang lalu.

Jogja memang istimewa, dan saya selalu ingin kembali ke sana.

[dG]

April 17, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare 25

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya

Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit tapi menghabiskan satu malam di sana. Serunya lagi karena kali ini perjalanan dilanjutkan ke Kampung Inggris di Pare-Kediri yang terkenal itu

Sekitar pukul 10 WIB, Garuda Citilink yang membawa saya ke Surabaya mendarat dengan sempurna. Sepanjang 1 jam perjalanan di udara saya kebanyakan tidur sambil mendengarkan lagu dari iPod. Surabaya agak mendung hari itu. Di gerbang Juanda saya disambut para supir taksi, mobil rental dan tukang ojek. Satu persatu ajakan mereka saya tolak, saya sudah berniat untuk menggunakan kendaraan umum dimulai dari DAMRI bandara.

Tujuan saya Sparkling Backpacker Hotel di Jalan Kayun. Tempat ini memang sengaja saya pilih karena letaknya yang strategis, dekat dengan tempat acara Pesta Komunitas yang diadakan oleh teman-teman Blogdetik Surabaya. Hanya dengan berjalan kaki dari hotel selama kurang lebih 10 menit, sampailah di Grand City Surabaya tempat acara diadakan.

Dari Juanda ke Bungurasih perjalanan masih lancar. Masalah baru timbul ketika di Bungurasih saya harus menuju ke terminal Wonokromo. Bus 3/4 dari Sidoarjo yang saya tumpangi ternyata sangat menguji kesabaran. Sejam lebih saya berada di atas bus menunggu sang supir mendapat wangsit untuk mulai jalan. Beberapa kali saya hampir menyerah dan memilih taksi untuk mengantar saya ke jalan Kayun. Beruntung kekuatan dompet saya masih belum sekuat niat untuk menumpang taksi.

Rasa lega betul-betul menjalari seluruh relung hati ketika sang supir memutuskan untuk mulai jalan. 30 menit kemudian sampailah saya di Wonokromo. Tadinya saya sudah siap menyerah melihat deretan angkot yang masih santai menunggu penumpang tanpa tahu kapan akan mulai jalan. Saya sudah berniat untuk mencegat taksi dengan perhitungan biayanya tidak akan terlalu mahal. Beruntung ketika sedang menunggu taksi, sebuah angkot warna coklat dengan line M mendarat di depan saya. Tanya sebentar dan kemudian jalan meski kecepatannya ternyata maksimal 20 KM/jam.

Sparkling Backpacker Hotel yang Murah dan Nyaman

Akhirnya perjuangan yang tak seberapa berat itu berakhir di sebuah bangunan berbentuk ruko berlantai 4, jauh dari bayangan saya sebelumnya. Sparkling Backpacker Hotel benar-benar mirip toko bila dilihat sepintas. Setelah check in dan mengambil kunci saya bergegas ke lantai 3 tempat kamar saya berada.

Kesan pertama, kamarnya lumayan. Dengan harga Rp. 105.000 semalam saya dapat kamar yg bersih dengan dua tempat tidur, satu televisi 21 inch yang hanya punya satu channel bersih serta AC yang masih dingin. Kamar mandi tidak termasuk dalam penawaran ini, kamar mandinya ada di sudut belakang dan lumayan bersih. Ada juga beberapa kamar yang sepaket dengan kamar mandi dengan harga Rp. 185.000 hingga Rp. 200an ribu.

Tampak depan Sparkling Hotel Backpacker yang sedang direnovasi

Suasana kamar Sparklling Hotel

Saya hanya sebentar di kamar sebelum beranjak ke Grand City tempat acara Pesta Komunitas berlangsung. Saya di tempat acara hingga malam tiba sekitar pukul 20:00. Dalam perjalanan ke Grand City saya baru sadar kalau Sparkling Backpacker Hotel ternyata hanya berjarak sepelemparan batu dari Monumen Kapal Selam. Di belakang Monumen Kapal Selam yang tepat bersisian dengan sungai besar ada arena bermain untuk skater dan penggemar BMX. Saya suka melihat suasana jalannya yang lapang dan bersih dengan beberapa mural di dinding jalan.

Sparkling Hotel juga dapat dijangkau dari Stasiun Gubeng dengan jalan kaki. Benar-benar lokasi yang strategis.

Malam sepulang dari acara saya coba mampir ke Plaza Surabaya yang juga sepelemparan batu dari Sparkling. Tujuan saya mencari makanan lokal atau makanan apa saja yang kira-kira belum pernah saya cicipi. Pilihan saya akhirnya jatuh pada sop buntut dari sebuah konter makanan. Rasanya enak, segar dan sesuai bayangan saya. Harganya juga tidak terlalu mahal.

Habis makan saya memilih kembali ke hotel untuk istirahat. Kebetulan saya memang tidak berniat untuk jalan-jalan karena masih ada tujuan lain keesokan harinya. Mindset ke Surabaya untuk tugas memang sedikit banyaknya mempengaruhi sehingga hasrat jalan-jalan jadi agak terkekang.

Keesokan harinya saya kembali ke Grand City untuk mengikuti hari kedua Pesta Komunitas. Kebetulan saya dapat kesempatan tampil jam 4 sore untuk sosialisasi kegiatan Blogger Nusantara 2012. Selepas acara rencananya saya dan Mamie akan beranjak ke Pare, Kediri.

Kebetulan sejak sebulan lalu ada teman-teman dari Anging Mammiri yang sedang menimba ilmu di sana, memperlancar bahasa Inggris. Kebetulan juga Mamie ingin melihat langsung keadaan di kampung Inggris yang terkenal itu untuk persiapan Jimbo dan Amdan, dua jagoan ciliknya.

Pare, Kampung Inggris yang Bersahaja

Sekitar pukul 17:30 kami dijemput APV sewaan yang akan membawa kami ke Pare. Perjalanan tidak terlalu mulus karena ternyata ada beberapa halangan plus mobil yang tak begitu mulus entah karena kondisi mobil atau sang supir yang tak ahli. Aslinya perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih 3 jam, tapi kenyataannya kami tiba di kota Pare sekitar pukul 11 malam.

Disambut ketiga anak hilang yang sudah lama terdampar di Pare, kami menginap di hote Surya Kediri. Pare sudah redup malam itu, jalanan lengang dan rumah-rumah seperti berselimut. Malam itu tak banyak cerita yang mengalir, 3 anak hilang itu rupanya sudah terbiasa dengan jadwal biologisnya yang baru, tidur jam 11 malam dan bangun jam 5. Mereka berubah, tak lagi seperti dulu yang bisa tahan tidak tidur hingga pagi.

Pagi datang menjemput. Matahari tidak garang, selimut awan tipis menahan sinarnya. Dengan becak saya dan Mamie mengikuti ketiga anak hilang itu bersepeda masuk ke kampung Inggris mengambil sepeda yang akan mengantar kami jalan-jalan keliling kampung. Suasana kampung Inggris begitu bersahaja, jalanan kecil yang tidak mulus dengan deretan rumah yang rapat dan sederhana.

Bersepeda keliling Pare

Berikutnya kami berlima sudah bersepeda keliling kampung. Melintasi tanah lapang berisi kebun kacang panjang, deretan pohon kersen, lapangan bola tempat anak-anak bermain bola dengan riang, sawah hijau dan sebuah warung sederhana yang menyajikan ketan ditaburi parutan kelapa dan serbuk dari bubuk kacang. Betul-betul pagi yang sederhana dan bersahaja.

Nasi ketan a la Pare

Cukup jauh dan lama juga kami bersepeda. Buat saya ini sebuah pengalaman yang mengesankan. Terakhir kali bersepeda masuk kampung dengan udara bersih seperti itu saya lakukan tahun 2009 di Bali. Perjalanan pagi itu diakhiri di sebuah warung pecel yang dipilih secara acak karena sadar kalau keramaian alun-alun kota sudah berakhir.

Nasi Pecel a la Pare

Akhirnya saya bisa melihat langsung sebuah kampung yang terkenal sebagai penyelenggara kursus bahasa Inggris paling mumpuni. Suasana yang sederhana, nyaman dan bersahaja itu tentu jadi faktor tambahan bagi para pelajar yang datang dari luar kota. Para pelajar tentu bisa fokus tanpa ada banyak gangguan, berbeda bila mereka belajar di lembaga kursus di kota besar.

Siang jam 13:00 saya dan Mamie akhirnya meninggalkan Pare, meninggalkan 3 anak hilang yang lagi menuntut ilmu itu. Kami harus kembali ke kota masing-masing pukul 17:00 via Juanda. Buat saya ini akhir pekan yang menyenangkan, menikmati Surabaya meski singkat dan menikmati Pare yang nyaman dan bersahaja meski juga terasa singkat.

Mungkin suatu saat saya akan kembali ke sana, mungkin saya akan menjadi murid juga di sana. Siapa tahu, kan ?

 

[dG]

March 20, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Cara Mudah dan Murah ke Makassar 14

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi

Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar sangat mahal dan kemudian merasa berat untuk datang ke ibukota Sulawesi Selatan ini. Mahal atau tidak mungkin relatif, tapi kalau mau membandingkan sesungguhnya biaya ke Makassar dari beberapa kota besar di Jawa tidak terlalu mahal.

Ketika pengumuman bahwa Makassar akan jadi tuan rumah pagelaran Kopdar Blogger Nusantara 2012, hal pertama yang saya tekankan kepada teman-teman yang hadir di kantor IBN waktu itu adalah : mari mulai menabung. Yah, kali ini jalan menuju Kopdar Blogger Nusantara memang lebih panjang apalagi mengingat kalau sebagian besar konsentrasi peserta memang berasal dari pulau Jawa. Pertanyaan yang paling banyak saya terima dari teman-teman di Jawa adalah : mahalkah ongkos ke Makassar ?

Seperti yang saya bilang di atas, soal mahal atau tidak itu relatif. Tapi anggaplah angka di bawah Rp. 1 juta rupiah itu tidak mahal, maka bisa dibilang ongkos ke Makassar termasuk murah untuk pergi dan pulangnya.

Ada dua kota besar di Jawa yang bisa jadi pilihan pintu gerbang untuk ke Makassar. Pertama tentu saja Jakarta dan yang kedua adalah Surabaya. Sebenarnya ada satu kota lagi yang menyediakan penerbangan langsung dari dan ke Makassar yaitu kota Jogjakarta, tapi karena pilihan penerbangannya tidak banyak maka otomatis harganya jadi lebih mahal.

Kita mulai dari Jakarta dulu. Untuk teman-teman yang berada di Jabodetabek atau bahkan Jawa Barat dan Banten, ke Makassar melalui Jakarta tentu jadi pilihan utama. ?Harga tiket pesawat untuk masa-masa tertentu sangat terjangkau. Barusan saya mengecek ke website Lion Air, dan mereka masih menyediakan tiket seharga Rp. 424.100,- untuk penerbangan tanggal 9 Nopember 2012.

Daftar Harga Lion Air

Harga itu adalah harga promo, biasanya Lion Air melepas tiket pesawat CGK-UPG dengan kisaran harga antara Rp. 600 ribu hingga Rp. 700 ribu atau pada peak season mencapai harga Rp. 900 ribu. Bayangkan kalau bisa dapat tiket seharga 400an ribu itu, lumayan bolak balik hanya habis Rp. 900an ribu. Tidak terlalu mahal bukan ? Kalau teman-teman mulai menabung dari sekarang, Rp. 100rb per bulan maka pas bulan Nopember nanti uangnya sudah lebih. Tapi dengan catatan, harga promosinya masih ada.

Sebenarnya di saat-saat tertentu maskapai lain semisal Merpati kadang memberi promosi yang cukup gila. Tahun lalu saat berulang tahun, mereka melepas tiket ke semua jurusan dengan harga yang sama. Berkisar di harga Rp. 126.000,- bersih. Tapi untuk itu kita memang harus bergantung pada keberuntungan.

Nah, sekarang kita ke Surabaya. Dari dan ke ibukota Jawa Timur ini saya selalu mengandalkan Citilink. Alasannya karena harganya yang kadang sangat murah, tapi sering juga harga normal ketika musim promosi berlalu. Percaya tidak percaya, saya pernah dapat tiket UPG-SUB seharga Rp. 99.000,- plus pajak dan sebagainya total hanya Rp. 180.000,-

Kalau cek di website mereka, maka harga yang terpasang untuk tanggal 9 Nopember 2012 masih harga normal. Berkisar antara Rp. 200an ribu hingga Rp. 300an ribu. Masa promosi Citilink tidak bisa ditebak, kadang datang tanpa diduga. Untuk maskapai lainnya, kisaran harganya sama.

Teman-teman yang berada di sektiar Jawa Timur, Jogja dan Jawa Tengah bisa menuju Makassar melalui Surabaya. Tinggal mencocokkan jadwal keberangkatan dengan jadwal kereta atau bis. Ini yang biasa saya lakukan ketika mudik ke Semarang atau menuju Jogja. Relatif lebih murah tapi boros di waktu daripada langsung naik pesawat dari Semarang atau Jogja misalnya.

Daftar Harga Citilink

Dari Jogja ke Makassar hanya dilayani dua maskapai, Merpati dan Express Air. Kisaran harganya antara Rp. 700an ribu hingga Rp. 900an ribu. Tapi pada saat tertentu juga memang ada promo. Saya pernah ke Jogja langsung dari Makassar dengan tiket seharga Rp. 400an ribu dan sekali waktu naik Express Air dengan harga Rp. 500an ribu.

Intinya memang harus rajin mengecek ke website maskapai bersangkutan, atau cara lain menjalin relasi dengan travel agent. Travel agent biasanya dapat diskon khusus atau promo khusus. Beberapa kali saya juga berhasil mendapatkan tiket murah karena bantuan teman-teman yang bekerja di travel agent.

Sebenarnya ada alternatif lain untuk ke Makassar melalui Jakarta atau Surabaya yaitu dengan menggunakan kapal laut. Tapi sepertinya cara ini tidak terlalu efektif karena boros di waktu. Jakarta-Makassar ditempuh dalam 48 jam atau dua hari sementara Surabaya-Makassar ditempuh dalam waktu 24 jam. Selain itu harganya juga tidak terlalu jauh berbeda. Terakhir saya mengecek harga tiket ekonomi dari Surabaya ke Makassar, harganya sekitar Rp. 200an ribu. Dengan selisih harga tipis dan selisih waktu yang panjang sepertinya pilihan naik pesawat jadi lebih logis.

Jadi, begitulah teman-teman. Mari persiapkan dana anda untuk datang ke gelaran acara Kopdar Blogger Nusantara 2012. Kalau melihat tulisan di atas teman-teman pasti setuju kalau ongkos ke Makassar tidak terlalu mahal bukan ? Lagipula sebagai tuan rumah kami pasti akan menyediakan akomodasi dan konsumsi selama rangkaian acara. Lumayan menghemat bukan ? Lagipula kami sedang menyiapkan sebuah acara yang berbeda untuk menyambut teman-teman semua di gelaran Kopdar Blogger Nusantara 2012.

Kami menantikan teman-teman semua.

 

[dG]

January 31, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa
Mencicipi Alam di Bantimurung 9

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung

Air terjun Bantimurung

Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan karst atau gunung kapur dengan gua-gua alaminya serta tentu saja air terjun yang terletak di Taman Nasional Bantimurung. Daerah yang dulu juga dikenal sebagai Kingdom Of Butterfly

Minggu sore yang berawan, agak berbeda dengan hari-hari lain di bulan Januari yang biasanya dirundung hujan deras. Saya kembali menjejakkan kaki di Bantimurung, sekitar 50 Km sebelah utara kota Makassar. Sore itu saya berniat bertemu dengan teman-teman Blogger Maros, memenuhi undangan mereka untuk sekadar berkumpul dan berbagi.

Bantimurung tidak terlalu ramai meski hari itu hari minggu. Musim hujan yang sedang lucu-lucunya memang membuat orang agak enggan meluangkan waktunya menikmati liburan di alam bebas. Ketika saya datang, beberapa orang nampak mulai beranjak pulang. Beberapa baruga ( rumah serupa pendopo ) juga nampak kosong melompong, mungkin sudah ditinggal para pengunjung.

Aliran air di sungai

Aliran air di sungai

Air sungai nampak agak deras meski tidak terlalu tinggi. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu pernah datang ke Bantimurung tepat ketika musim hujan mencapai puncaknya, ketika itu air mengalir sangat deras dan sangat tidak mungkin untuk dinikmati. Beberapa orang nampak menikmati aliran air yang tidak terlalu deras itu, pun dengan air terjun yang masih bersahabat. Jumlahnya tak sebanyak biasanya ketika sungai selebar kira-kira 20 meter itu terasa sesak oleh pengunjung.

Bantimurung, setiap mendengar namanya yang terbayang di kepala saya adalah air terjun dan kupu-kupu. Saya lupa kapan tepatnya pertama kali mengunjungi tempat wisata terkenal itu. Mungkin sekitar 19 tahun lalu. Jaman kecil dulu, ketika hiburan masih sangat kurang, Bantimurung adalah tujuan favorit untuk berwisata. Saingannya tak banyak, paling-paling hanya pantai Barombong, Pulau Khayangan dan Pulau Lae-Lae.

Tahun berganti tahun, beragam hiburan pilihan mulai menggantikan kehadiran Bantimurung. Mall dan hiburan modern masuk dan tumbuh di kota Makassar. Perlahan-lahan Bantimurung tidak menjadi favorit lagi. Ada rentang yang lama bagi saya sebelum kembali mengunjunginya.

Meski bukan tujuan utama lagi, Bantimurung ternyata tetap memukau. Deretan pohon tinggi yang rapat dan mungkin berusia ratusan tahun bersanding dengan semilir angin yang sejuk, gemericik air di sungai dan tentu saja air terjunnya yang kadang deras tapi masih bersahabat. Perubahan tetap terasa memang, setidaknya saat ini sudah lebih susah mendapati kupu-kupu liar beterbangan. Lebih gampang menemukan kupu-kupu yang diawetkan dan ditaruh di dalam bingkai kaca di dekat gerbang masuk.

Beberapa sudut Bantimurung

Beberapa sudut Bantimurung

Bantimurung adalah Kingdom Of Butterfly, sebuah kerajaan bagi spesies kupu-kupu. Sebagian di antaranya tidak ditemukan di tempat lain. Perlahan kerajaan itu seperti mulai memudar kejayaannya. Memang ada penangkaran khusus buat mereka yang ingin mengabadikannya dalam bentuk kering dan berbingkai, tapi di alam liar sendiri kupu-kupu itu semakin susah dilihat dengan mata telanjang.

Bantimurung bukan cuma air terjun, sungai dan kupu-kupu. Luangkan waktu anda sejenak untuk sekadar menikmati gua alami yang bertebaran di sekitar taman nasional itu. Masuklah ke dalamnya dan nikmati hasil karya sang pencipta yang tergores pada stalagmit dan stalagtit yang memukau. Setidaknya ada dua gua yang bisa dijadikan tempat rekreasi di sekitar permandian alam Bantimurung.

Akses ke Bantimurung memang agak jauh meski tidak bisa dibilang susah. Berkendaraan pribadi atau sewaan hanya memakan waktu sekitar 45 menit dari pusat kota Makassar. Jalanannya lumayan mulus meski memang tidak terlalu lebar. Dengan berkendaraan umum memang agak lama. Dari kota Makassar bisa mengambil kendaraan umum ke kota Maros, dan dari ibukota kabupaten itu menumpang kendaraan umum lagi yang akan membawa anda ke Bantimurung. Harga karcis masuknyapun tidak mahal, cukup dengan Rp. 10.000,- bagi orang dewasa.

Tahun berganti tahun, Bantimurung masih tetap menarik. Pemda Maros sepertinya berusaha menarik pengunjung dengan berbagai inovasi. Ada tempat untuk outbound, ada permainan bola air dan ada flying fox. Patut diacungin jempol. Bantimurung memang terlalu indah untuk dilewatkan. Merasakan segarnya aliran air sungai selepas jatuh di air terjunnya memang sungguh menggoda. Merasakan sejuknya udara yang bersih terasa seperti memberi ruang baru di paru-paru kita warga kota yang terbiasa dengan udara berpolusi.

Tahun berganti tahun, Bantimurung masih menjadi sebuah tempat untuk mencicipi alam dengan segala kesegarannya. Semoga untuk waktu yang lama, atau bahkan selamanya. Ayo, datang dan nikmati Bantimurung.

January 17, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Kenangan di 2011 19

Kenangan di 2011

2011-2012

Ini hari pertama di tahun 2012, kalender 2011 harus diganti . Selama tahun 2011, banyak kejadian yang bergulir. Sebagiannya adalah kenangan yang patut untuk dicatat.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun 2011 ini juga menyimpan banyak cerita dengan pusat edarnya adalah saya. Tahun ini luar biasa, ada beberapa kejadian yang mungkin akan mengubah jalan cerita hidup saya di 2012, meski tidak semua bisa saya tuliskan dan bagi. Ada tiga highlight dalam perjalanan 2011 saya, di dunia blog, kesan jalan-jalan dan pekerjaan.

Dunia Blogging

Tahun 2011 saya makin serius ngeblog. Total ada 184 jumlah postingan dengan bulan Februari sebagai rajanya. Di bulan kedua itu saya memang bertekad posting setiap hari dan berhasil !! Selanjutnya memang tidak seganas bulan Februari. Postingan saya mulai bolong-bolong, utamanya di akhir pekan. Tapi, bagaimanapun saya tetap serius membuat postingan. Rasanya tidak nyaman bila sudah 2-3 hari terlewati tanpa postingan. Kecuali bila memang waktu tidak memungkinkan.

Daenggassing.com di Google

Saya juga terus berusaha menjaga kualitas sambil belajar memperbaikinya. Saya tidak mau hanya karena mengejar kuantitas sampai saya harus mengorbankan kualitas. Sedapat mungkin saya berusaha menyeimbangkan kualitas dan kuantitas, meski memang berat.

Mungkin karena konsistensi itu juga maka perlahan tapi pasti blog ini mendapat tempat di mata mesin pencari terbesar Google. Indexnya makin bertambah dan skor Alexa makin rendah. Jumlah pengunjung juga signifikan mesti memang pasti masih ditertawakan oleh mereka para pakar dan pekerja SEO. Saya juga tidak melakukan langkah khusus seperti para pekerja SEO pada umumnya, paling-paling hanya langkah sederhana untuk membuat inbound link. Selebihnya tidak ada. Saya hanya fokus pada konten dan kadang-kadang blogwalking.

Bersama Anging Mammiri di 2011

Konsistensi ngeblog juga saya imbangi dengan makin intensnya berkenalan dan berinteraksi dengan sahabat blogger dari luar daerah Makassar. Setelah bergabung dengan Loenpia di awal tahun, saya kembali dapat kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman blogger lainnya pada acara FGD Internet Sehat bulan September 2011 dan kemudian puncaknya adalah pada perhelatan Blogger Nusantara di Sidoarjo sebulan kemudian.

Komunitas blogger tempat saya bernaung juga mencatat banyak hal penting di 2011. Anging Mammiri akhirnya bisa kembali eksis setelah sempat melewati fase rehat.? Kami bisa membuat acara rutin setiap bulan dan mulai makin sering menjalin kerjasama dengan komunitas lain di kota Makassar. Memang masih banyak hal yang harusnya bisa kami lakukan untuk kota Makassar dan mudah-mudahan di tahun 2012 ini kami bisa mencicilnya sedikit demi sedikit.

Jalan-jalan bersama mereka

2011 juga mencatat banyak momen mengasyikkan bila berbicara tentang jalan-jalan. Tahun 2011 saya dan teman-teman Anging Mammiri makin sering mengikatkan diri dalam berbagai perjalanan. Tujuan kami beragam, dari pulau Barrang Lompo, pulau Kodingareng Keke, pegunungan di Bantaeng sampai terakhir mengunjungi Taka Bonerate. Semua terasa menyenangkan bersama mereka yang luar biasa itu.

Liburan bersama anak-anak Anging Mammiri

Kopdar juga semakin menggila di tahun 2011. Pernah kami bahkan kopdar setiap hari selama dua minggu penuh. Perlahan-lahan kopdar memang menjadi sebuah candu yang membuat kami tidak bisa melepaskan diri satu sama lain. Dan itulah bahan bakar paling utama untuk komunitas kami. Kebersamaan yang lahir dari interaksi offline.

Tahun 2012, kopdar dan jalan-jalan tentu masih masuk dalam agenda kami. Setidaknya masih banyak pulau-pulau di sekitar kota Makassar yang belum kami kunjungi dan bila tak ada halangan kami juga akan kembali ke Taka Bonerate atau bahkan ke Wakatobi.

Tentang Pekerjaan

Sebuah kejadian mengubah segalanya. Tiba-tiba saya dipinggirkan dan dianggap tidak dibutuhkan lagi. Setelah masa pengabdian panjang rupanya balasan ini yang saya terima. Suasana kemudian menjadi tidak nyaman lagi. Saya kehilangan kesempatan untuk mengabdi dan memberikan sesuatu untuk tempat saya bekerja.

Tak mengapalah, saya harus tahu diri. Saya hanya orang yang bekerja bila mereka memang masih membutuhkan saya. Belakangan saya memang diminta untuk kembali pada posisi yang berbeda. Tapi suasana sudah terlanjur tak nyaman dan saya memutuskan untuk tidak menerima tawaran itu.

Dan inilah saya, memulai 2012 dengan status yang berbeda. Berani keluar dari zona nyaman dengan segala konsekuensinya yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Sebuah langkah sudah saya ambil dan bagaimanapun saya harus siap menanggung semuanya meski kekecewaan tetap ada.

2011 sudah terlewatkan, entah berapa lagi bilangan waktu yang masih bisa saya jalani. Tidak pernah ada yang tahu bukan ? Saya hanya tahu kalau 2012 ini sepertinya bakal jadi tahun yang berat. Banyak tantangan yang menunggu dan banyak kejadian penting yang akan terjadi. Semoga.

Selamat tahun baru semuanya.

January 01, 2012 in Kenangan

Jalan Lapang Menuju Kantor

Salah satu pemandangan sore hari yang sering saya nikmati

Pukul 07.35 pagi. Semua sudah beres, Nadaa sudah tiba di sekolah sejak sejam yang lalu dan pakaian gantinya sudah mendarat dirumah neneknya. Sekarang saatnya mengukur jalan menuju ke kantor. Supra Fit 2006 sudah menyala, sepasang earphone sudah terpasang di kuping, suara Mike Shinoda dan Chester Bennington silih berganti memenuhi gendang telinga. Perlahan-lahan saya mulai meninggalkan kompleks BTN Pao-Pao yang sebagian tanahnya becek oleh hujan malam tadi.

Keluar dari jalan tanah yang becek saya segera bertemu dengan jalan aspal yang mulus dan lapang. Namanya Jl. Tun Abdul Razak, sambungan dari Jl. Aroeppala dan Jl. Hertasning. Jalan masih lengang di pagi hari yang lumayan hangat itu, saya menuju ke timur menyongsong matahari yang masih malas untuk bersinar. Jalan selebar kurang lebih 60 M itu ?benar-benar menggoda untuk menggeber gas setinggi-tingginya, hanya ada satu dua pengendara lain yang menikmatinya bersama saya. Jalan yang menghubungkan kabupaten Gowa dan kota Makassar ini sebentar lagi pasti ramai, tapi seramai-ramainya jalan ini tetap jauh dari kata macet.

Di kiri-kanan jalan Tun Abdul Razak yang mengarah ke Timur masih terdapat hamparan sawah yang menghijau sementara di kejauhan sana deretan pegunungan yang tertutup kabut terlihat jelas, sungguh sebuah gambaran pagi yang sempurna. Saya tak lama menikmati aspal mulus yang lapang itu karena kemudian saya berbelok sedikit masuk ke jalan kampung yang meski lebarnya lumayan namun aspalnya mulai sedikit bolong. Sengaja saya memotong jalan demi menghemat waktu dan jarak tempuh tentu saja.

My Travel Mate

Ini masih tentang traveling. Kali ini saya mau cerita tentang beberapa karib saya yang dalam kurun waktu setahun ini selalu setia menjadi teman saya setiap kali saya melakukan sebuah perjalanan. Sebagian besar di antaranya memang adalah barang-barang yang kadar kegunaannya sangat besar karena selalu bisa mempermudah perjalanan saya.

Oke, mari kita lihat siapa saja travel mate saya itu.

Tas Ransel
Yup, ransel memang menjadi pilihan utama saya dalam ber-traveling. Alasan pertama adalah karena sifatnya yang praktis dan gampang dibawa ke mana-mana. Tinggal angkat sedikit dan taruh di punggung, selesai dah. Tinggal jalan. Ransel juga gampang dibawa berlari-larian dan pembebanannya relatif lebih rata di antara kedua bahu sehingga tidak gampang capek.

Ini tentu berbeda dengan tas travel yang dijinjing atau diselempangkan di bahu. Pembebanannya hanya jatuh pada salah satu bahu saja sehingga tentu saja lebih gampang bikin capek. Sampai sekarang saya juga belum punya tas koper yang beroda. Meski tas seperti ini relatif lebih gampang dibawa ke mana-mana karena beroda tapi rasanya agak kurang layak dipakai untuk mengejar-ngejar bus atau angkot. Kesannya malah seperti salesman alat-alat rumah tangga. Selain itu, koper beroda rasanya terlalu tua untuk saya, tidak sesuai dengan dandanan traveling yang lebih banyak berkaos oblong, celana pendek dan sandal gunung.

Saya punya 9 buah ransel. Mereka adalah 2 buah carrier, 1 buah ransel sedang dan 6 buah ransel kecil. Biasanya sekali jalan saya membawa 2 ransel. 1 ransel besar berisi pakaian dan pernak-perniknya yang dibuka hanya apabila telah sampai di tujuan, 1 lagi ransel kecil yang isinya pernak-pernik yang terpakai selama perjalanan.

Buku

Ada saat-saat di mana ada banyak waktu yang harus dibunuh. Menunggu waktu boarding di bandara, selama dalam pesawat, menunggu bus di terminal atau selama dalam bus.? Nah, salah satu senjata favorit saya untuk membunuh waktu seperti itu adalah buku. Setidaknya dalam satu perjalanan saya membawa minimal satu buku, atau kadang lebih kalau saya merasa buku yang satu sebentar lagi akan habis. Biasanya jumlah buku akan bertambah dalam perjalanan pulang, apalagi kalau tujuannya ke Djogja.

June 03, 2010 in Jalan-Jalan, Wisata

Pilih Group atau Solo ?

Saya orang yang senang jalan-jalan, meski hobi itu tak selalu terpuaskan karena banyaknya halangan, biasanya sih karena dana. Namun, saya cukup beruntung karena setidaknya 4 tahun belakangan ini saya banyak mendapat kesempatan untuk jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia. Sebagiannya bersama teman-teman kantor, sebagiannya lagi sendirian atau setidaknya bersama istri dan anak.

Jalan-jalan paling terakhir baru saja terjadi minggu lalu. Bersama kurang lebih 43 orang lainnya, saya berkesempatan ke Ciater dan Bandung selama 5 hari. Judulnya sih acara kantor yang isinya kebanyakan hanya berleyeh-leyeh di Ciater, ber-outbound dan ditutup dengan belanja gila-gilaan di Bandung. Jalan-jalan terakhir ini membuat saya menyadari perbedaan besar antara jalan-jalan bersama rombongan dan jalan-jalan sendiri apalagi karena sebulan sebelumnya saya sempat berjalan-jalan solo ke Surabaya.

Hasil perbandingan saya memberikan kesimpulan kalau jalan-jalan berombongan itu kurang asyik, setidaknya buat saya. Banyak sekali hal-hal menarik yang terlewatkan. Kadar keseruannya juga tidak seberapa apabila dibandingkan dengan jalan-jalan sendirian. Penyebab utamanya adalah karena age-gap dan status-gap yang rentangnya jauh banget antar para peserta.

June 02, 2010 in Jalan-Jalan, Opini, Random Post
Hotel Olympic Surabaya 14

Hotel Olympic Surabaya

Sebenarnya postingan ini sangat terlambat karena kejadiannya sudah lewat lebih dari seminggu, maklumlah karena kesibukan (alasan klasik) sehingga postingan ini baru bisa dibuat sekarang.

Tanggal 11-14 April kemarin saya akhirnya dapat kesempatan lagi untuk menginjak kota Surabaya, bahkan kali ini lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya. Sebelum berangkat saya sudah survey berbagai hotel-hotel yang murah dan terjangkau yang ada di kota Surabaya, utamanya yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi pelatihan yang saya ikuti yaitu di Jalan Raya Darmo.

Setelah memanfaatkan jasa Oom Google serta saudaranya Google Earth akhirnya saya memantapkan diri untuk mencoba survey lebih lanjut ke hotel Olympic. Pertimbangan pertama tentu saja adalah lokasinya yang tak seberapa jauh dari tempat pelatihan, dan yang kedua yang tidak kalah penting adalah soal harganya yang terjangkau.

Saya sendiri sudah pernah menginap di hotel ini sekitar tahun 1993, waktu itu bertiga dengan 2 orang kenalan bapak dalam perjalanan ke Jakarta, tapi memori tentang itu sudah samar-samar meski masih ada beberapa hal yang membuat saya yakin untuk menjatuhkan pilihan kepada hotel Olympic.

Sebenarnya budget dari kantor mencukupi untuk memilih hotel yang lebih nyaman, tapi saya masih punya rute lain ke Jogja dan rasanya lebih baik selisihnya saya simpan untuk dipakai bersenang-senang di Jogja. Lagipula rasanya sayang harus bayar mahal untuk sekedar menyimpan tas mengingat waktu yang sebagian besar dihabiskan di lokasi pelatihan.

Dari Jogja saya menelepon ke hotel Olympic, memastikan masih ada kamar yang kosong karena sebelumnya kata mereka semua kamar penuh. Setelah saya telepon ternyata memang masih ada kamar yang kosong meski yang ada hanya kamar berkipas angin dengan tarif Rp. 120.000 per malam. Tak apalah pikir saya, saya sudah pernah menginap di hotel yang jauh lebih sederhana.

Dari Jogja saya berangkat menggunakan kereta api Sancaka,berangkat jam 7 pagi dan tiba di Gubeng sekitar jam 12.an siang. Saya sudah mengecek sebelumnya tentang tarif ojek dan becak dari Gubeng ke Olympic dan pilihan saya jatuh ke ojek meski sempat tawar menawar dulu sebelum deal di harga Rp. 10.000,-

Tiba di Olympic saya langsung check in meski sebelumnya bertanya dulu apa kamar AC-nya yang bertarif Rp. 150.000 masih ada. Kata mbak si resepsionis : masih ada pak, Cuma kayaknya kalau malam keganggu sama suara dari bar. Wah, masak iyya sih ? akhirnya karena pertimbangan ketenangan di malam hari saya kembali memantapkan pilihan ke kamar ber-fan. Benar saja, ketika malam hari tiba saya bisa mendengar suara music yang sangat keras dari lantai 2, untung saja saya tidak memilih kamar AC di lantai 2, kalau tidak tentu butuh usaha keras agar bisa tidur. Oh ya, harga Rp. 120.000 itu sudah termasuk breakfast di coffee shop, yang sayangnya masakannya kurang lezat sehingga saya lebih memilih untuk sarapan di tempat pelatihan.

April 27, 2010 in Jalan-Jalan, Random Post, Wisata

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site