Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Alam wabah laut ( foto by : Jitho) Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan bagian...

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang
Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Press and Marine Excursion Minggu ini saya akan keluar dari aturan yang saya buat. Kalau biasanya...

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde
Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Author Archive

Objektifitas Yang Dipertanyakan 32

Objektifitas Yang Dipertanyakan

South Sulawesi Tourism

Protes untuk sebuah kemenangan memang hal yang jamak, dan pada titik inilah saya mencoba menggunakan hak jawab saya untuk menegaskan kalau proses yang terjadi semua berlangsung dengan jujur dan objektif.

Sebenarnya saya malas menulis tentang ini, tapi ada sesuatu dan seseorang yang rasanya sudah cukup mengusik ketenangan saya sehingga rasanya gatal juga untuk membuat tulisan semacam klarifikasi. Klarifikasi ini saya buat dalam kapasitas sebagai juri lomba dan tentu saja sebagai ketua Komunitas Anging Mammiri, komunitas yang sedang diserang oleh seseorang.

Semua berawal dari sebuah tawaran dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, mereka menggagas sebuah langkah untuk kemajuan pariwisata SulSel dengan menggelar lomba konten blog bertema : Strategi Pengembangan dan Promosi Pariwisata SulSel. Sebagai komunitas blogger terbesar di Sulawesi Selatan, Anging Mammiri tentu digandeng sebagai partner penyelenggara lomba.

Saya sendiri ditunjuk sebagai juri karena latar belakang saya sebagai blogger dan ketua Komunitas Anging Mammiri. Dua juri lainnya adalah Sunarti Sain, wartawan senior koran Fajar dan Andi Amiruddin Pallawarukka, wartawan senior surat kabar Tribun Timur. Dua media itu adalah media terbesar di Sulawesi Selatan, bahkan di Indonesia Timur. Saya tentu tidak ada apa-apanya dibanding kedua orang juri itu.

Proses kemudian berjalan, saya sendiri tidak banyak terlibat di sana karena semua dipegang oleh tim panitia yang saya tahu punya kapabilitas sebagai blogger. Salah satunya adalah daeng Nuntung, seorang blogger dan jurnalis warga sekaligus ketua ISLA (Ikatan Sarjana Kelautan) UNHAS. Beliau penulis yang baik, sudah pernah menerbitkan buku dan sudah sering wara-wiri di harian lokal. Tak perlulah mempertanyakan kapasitas beliau, pun dengan 5 panitia yang lain.

Mekanisme lomba ini adalah sebagai berikut : total tulisan yang masuk disortir oleh panitia. Dasar pemilihan yang digunakan adalah kelengkapan administrasi, termasuk jumlah kata sesuai aturan lomba, banner, atau tampilan blog. Titik fokus utama tentu saja pada isi, yaitu ide tentang pengembangan potensi wisata SulSel. Banyak tulisan yang bagus, tapi sayangnya tidak menyertakan ide tentang pengembangan potensi wisata sesuai dengan tema lomba.

image by: Google

Dari panitia juga saya tahu kalau ada perubahan rencana. Awalnya panitia menetapkan hanya 20 tulisan yang diajukan ke dewan juri, tapi pada kenyataannya ada 31 tulisan yang kemudian diajukan. Ternyata dari total 143 tulisan yang masuk, sayang kalau hanya memilih 20 tulisan yang dimasukkan ke dewan juri karena menurut mereka banyak tulisan yang berkualitas sehingga sayang kalau sampai tidak dinilai oleh dewan juri.

Dari awal saya sudah bertekad untuk tidak menengok tulisan para peserta sebelum panitia menyetornya ke saya. Saya juga minta kepada panitia untuk merangkum tulisan para finalis ke dalam file MS Word, menghilangkan URL postingan dan nama blogger. Saya tidak mau terdistraksi oleh nama-nama blogger yang mungkin saya kenal. Bagaimanapun nama-nama blogger terkenal atau teman-teman dekat pasti bisa sedikit mempengaruhi penilaian, dan itu yang tidak saya inginkan.

Benar saja, panitia kemudian memberikan 31 tulisan untuk dinilai tanpa ada url postingan dan tanpa nama. Dari 31 tulisan itu saya hanya kenal 3 tulisan, dua di antaranya karena saya terlanjur pernah blogwalking ke blog mereka dan 1 karena sang penulis menuliskan akun twitternya dalam postingan. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata dari 31 nama itu ada beberapa teman dekat saya, anak-anak Anging Mammiri.

Aspek penilaian utama dititikberatkan pada ide atau strategi promosi wisata, kemudian kesesuaian tema, skop tulisan dan teknik penyajian atau gaya tulisan. Banyak tulisan yang bagus, mengungkapkan tentang potensi wisata Sulawesi Selatan tapi sayang tidak disertai dengan ide untuk pengembangan potensinya berdasarkan tema lomba. Penilaian tambahan ada pada aspek online, saya memberi point lebih pada tulisan yang memberikan ide pengembangan promosi wisata lewat jalur online.

Penilaian dari 3 juri kemudian dikumpulkan oleh panitia dan akhirnya muncul sebagai hasil final yang diurutkan dari yang paling besar ke yang paling kecil. Ada 3 pemenang utama, pemenang 1, 2 dan 3 serta 5 tulisan yang masuk dalam 8 besar sehingga total pemenang ada 8. Pengumuman kemudian dilansir di website resmi lomba ini : http://southsulawesitourism.com

Seperti biasa, ada reaksi ketidakpuasan dari beberapa orang. Hal yang wajar, lomba dengan hadiah besar biasanya memang akan selalu mengundang rasa tidak puas ketika hasilnya dilepas ke publik.

Pertanyaan pertama adalah tentang kualitas tulisan pemenang pertama, tentang tulisannya yang menyisakan beberapa kalimat yang tidak sesuai dengan EYD, dan tentang penilaian berdasarkan teknik penyajian atau gaya tulisan yang bisa saja sangat subyektif.

Soal EYD, saya hanya berkomentar kalau ini adalah lomba postingan blog, bukan lomba karya tulis ilmiah. Saya sebagai juri tidak terlalu memusingkan soal tulisan yang tidak sesuai EYD selama tulisan itu tidak betul-betul hancur. Kalaupun misalnya peserta menggunakan bahasa gaul atau bahasa percakapan sehari-hari saya tidak akan mempermasalahkan, apalagi kalau isi tulisannya memang sesuai dengan aspek penilaian yang utama.

image by: Google

Soal teknik penyajian atau gaya penulisan. Menilai tulisan tentu tidak sama dengan menilai sebuah hasil perhitungan matematis. Menilai sebuah gaya tulisan sama dengan menilai sebuah lukisan atau karya musik. Apa yang menurut anda bagus, belum tentu menurut saya bagus. Saya bilang Selimut Debu-nya Agustinus Wibowo bagus, tapi ada yang bilang membosankan dan tidak menarik. Ada yang bilang Perahu Kertasnya Dewi Lestari bagus, tapi sampai sekarang saya belum tertarik untuk membacanya. Jadi semua tergantung selera kan? Maka itulah kenapa ada 3 juri dengan latar yang berbeda, supaya skop penilaian di aspek gaya tulisan bisa lebih luas.

Ada juga yang mempertanyakan kenapa dari 8 pemenang kebanyakan di antaranya adalah anak-anak Anging Mammiri?. Saya bisa bilang apa? Seperti yang saya bilang, dari 31 tulisan yang masuk saya hanya mengenali 3 tulisan di antaranya dan saya tidak tahu sama sekali berapa tulisan anak Anging Mammiri yang masuk ke penilaian final. Belakangan saya tahu kalau ternyata ada sekitar 10 tulisan milik anak Anging Mammiri yang masuk penilaian. Anak Anging Mammiri yang saya maksud adalah mereka yang aktif di kopdar maupun milis, bukan mereka yang sekadar pasang banner tanpa pernah berinteraksi.

Dua juri yang lain bukan orang dari Anging Mammiri, mereka juga saya yakin tidak tahu siapa-siapa saja yang aktif dan tidak aktif di komunitas ini. Saya juga sangat yakin mereka tidak mau bercapek-capek mencari tahu siapa saja dari 31 orang itu yang benar-benar aktif di Anging Mammiri. Singkatnya, kami bertiga tidak mau pusing mencari tahu siapa-siapa saja yang anak Anging Mammiri dan kemudian memberi point lebih kepada mereka.

Dari 8 besar yang mendapat juara setidaknya ada 5 orang yang benar-benar anak Anging Mammiri aktif. Rusle, pak Amril, Erwin, Anchu dan Bradley. Mereka memang aktif di milis, dan saya kira kualitas mereka sudah dikenal luas. Rusle sudah beberapa kali menang lomba blog, seorang penulis budaya yang baik, tulisannya bertebaran di berbagai website citizen journalism serta beberapa kali ikut menulis dalam buku keroyokan.

Pak Amril? Ada yang masih mempertanyakan keeksisan beliau? Blogger senior, redaktur majalan online blogfam, kontributor di Yahoo Indonesia, penulis beberapa buku serta sudah kenyang dengan kemenangan di beberapa ajang lomba. Anchu atau yang lebih terkenal dengan nama Lelaki Bugis, seorang mantan jurnalis, aktif di penerbitan Ininnawa, seorang citizen jurnalis dan sudah beberapa kali menang di lomba blog tingkat nasional. Bradley, meski aslinya adalah pentolan blogger Depok tapi sudah terlanjur akrab dengan kami di Anging Mammiri. Dia sudah menang di beberapa lomba blog juga, penulis yang baik dan aktif di komunitas. Dari semuanya mungkin hanya Erwin saja yang masih terhitung baru di dunia blogging, tapi kualitas tulisannya memang menampakkan kualitas yang tidak main-main.

Apakah salah saya kalau tulisan mereka akhirnya masuk 8 besar? Apakah karena mereka anak Anging Mammiri aktif sehingga kemudian saya harus mendiskualifikasi mereka? Apakah salah mereka kalau tulisan mereka yang sudah melalui proses panjang sebagai blogger dan penulis kemudian ternyata bisa masuk 8 besar?

Protes untuk sebuah kemenangan memang hal yang jamak, dan pada titik inilah saya mencoba menggunakan hak jawab saya untuk menegaskan kalau proses yang terjadi semua berlangsung dengan jujur dan objektif. Tidak ada permainan untuk memenangkan beberapa orang atau sebuah komunitas. Semoga apa yang saya tulis ini bisa menjadi renungan bahwa tidak semua niat baik itu diterima dengan baik.

Kalau tidak siap untuk kalah, sebaiknya tidak usah ikut kompetisi. Begitu kata seorang teman, Iwin Day.

[dG]

April 23, 2012 in Opini, Senin
The Witness ; Tentang Cinta Yang Mematikan 1

The Witness ; Tentang Cinta Yang Mematikan

The Witness

The Witness

Pesan penting dari The Witness buat saya adalah bahwa cinta itu tidak selalu datang di waktu dan tempat yang tepat, cinta bisa indah tapi juga bisa mematikan.

Angel sedang menikmati mandi malamnya. Berendam di bathtub dengan headset di kuping, alunan musik mengisolasinya dengan dunia luar, dia asyik dengan dunianya. Tanpa dia sadari, di lantai satu rumahnya sebuah tragedi sedang bergulir.

Seorang lelaki paruh baya berbadan tegap masuk ke dalam rumah besar itu dan menembaki satu per satu penghuni rumah, kecuali Angel yang tidak sadar apa yang sedang terjadi. Angel menjadi satu-satunya yang selamat dari tragedi malam itu, dia saksi mata. Apalagi dia sempat melihat jelas wajah sang pembunuh.

Angel, seorang wanita cantik asal Philipina yang baru saja dipindahkan dari Manila ke Jakarta. Tragedi itu membuatnya kehilangan orang tua dan adik satu-satunya, Safara. Pembunuhan sadis itu juga mengantar Angel pada mimpi-mimpi aneh yang selama ini rajin menyambanginya. Tentang seorang lelaki muda yang frustasi dan menembak kepalanya sendiri.

Mimpi aneh itu bersanding dengan fakta tentang pembunuhan terhadap keluarganya yang berbayang jelas dalam ingatannya. Perlahan-lahan Angel mulai menemukan satu demi satu fakta yang membawanya menemukan si pembunuh keluarganya, sekaligus menemukan sebuah rahasia yang menghubungkan mimpi anehnya dengan kehilangan ayah, ibu dan adik perempuannya.

Mencekam dalam alur yang lambat.

The Witness adalah sebuah film karya sutradara Muhammad Yusuf dan diproduksi oleh Skylar Pictures. Gwen Zamora, artis cantik asal Philipina berperan sebagai Angel yang menjadi tokoh sentral film ini. Latar cerita film ini sebenarnya sederhana, dari awal kita sudah disuguhkan fakta tentang siapa yang melakukan pembunuhan yang menewaskan seisi rumah kecuali Angel itu. Pertanyaan besarnya hanyalah, kenapa si pembunuh melakukannya? Apa latar belakangnya?

Pencarian latar belakang pembunuhan itulah yang kemudian berjalan pelan dengan beberapa adegan mencekam. Angel menemukan banyak fakta yang menuntunnya ke pembunuh yang tak pernah dia temui sebelumnya. Mimpi anehnya juga menjadi satu jawaban atas pertanyaan besar itu.

The Witness berjalan dengan alur yang lambat, beberapa scene kadang malah terasa membosankan. Tapi kebosanan itu kadang tertutupi oleh potongan adegan yang lumayan memacu adrenalin yang dilengkapi dengan music score yang pas. Film ini lebih banyak menampakkan potongan gambar yang gelap dan slow motion yang cukup berhasil membawakan ketegangan ke tengah-tengah pemirsa.

Ada satu scene yang menurut saya tidak perlu karena tidak ada hubungannya dengan keseluruhan cerita yaitu adegan ditemukannya mayat seorang komisaris Honda di dalam salah satu kamar hotel tempat Angel bekerja. Sampai akhir film saya menduga-duga apa hubungan scene itu dengan cerita secara keseluruhan tapi tidak berhasil menemukannya.

Gwen Zamora bermain cukup bagus meski di beberapa adegan dia masih terlihat kaku dan kurang mampu mengantarkan pesan lewat matanya yang indah itu. Pierre Gruno yang berperan sebagai Satria Datta sang pembunuh juga bermain dalam level yang lebih tinggi dari penampilannya di sinetron-sinetron televisi.? Dia mampu memainkan peran seorang pembunuh yang dikuasai amarah, kikuk dan kadang melakukan kesalahan kecil akibat keamatirannya.

The Witness bergenre drama thriller, cocok untuk anda yang suka dengan film yang penuh adegan menegangkan. Produksinya cukup rapih dengan plot hole yang minim. Satu lagi karya memuaskan dari sineas Indonesia yang cukup berhasil dilempar di pasar internasional. The Witness sudah dilempar duluan di Philipina dan baru akan masuk ke bioskop Indonesia tanggal 26 April nanti.

Pesan penting dari The Witness buat saya adalah bahwa cinta itu tidak selalu datang di waktu dan tempat yang tepat, cinta bisa indah tapi juga bisa mematikan.

Untuk anda yang senang film thriller, bolehlah The Witness ini jadi pilihan. Saya memberinya poin 3,5 dari total 5 point.

[dG]

April 20, 2012 in Film, Jumat, Review
Mart Menyerbu Kota Kami 6

Mart Menyerbu Kota Kami

Perang Indomaret dan Alfamart

Di jalan Rappocini Raya yang panjangnya sekitar 2Km sekarang ini ada 6 mini market, dua Indomaret, dua Alfamart dan dua Alfa Midi.

” Di Makassar ada Indomaret juga gak?”, Itu pertanyaan seorang teman ketika saya berkunjung ke rumahnya di Surabaya sekitar April 2009. Saya menggeleng, waktu itu Makassar memang belum mengenal Indomaret atau Alfamart. Semua kebutuhan sehari-hari masih disupply oleh warung-warung kecil punya penduduk setempat.

Siapa yang sangka, sekitar dua tahun kemudian keadaan itu berubah. Diawali dengan kedatangan Alfa Mart, gerai-gerai serupa mulai muncul. Alfa Mart dan Indomaret seperti jerawat yang tumbuh di wajah anak remaja yang malas membersihkan muka.

Alfa Mart merajai. Gerai milik Djoko Susanto ini hadir dengan beragam variant. Alfa Mart, Alfa Midi dan Alfa Express. Djoko memang pintar, merasa susah bersaing dengan gerai besar macam Carrefour, dia menjual jaringan Alfa supermarket dan kemudian fokus ke retail kecil. Ini tentu lebih potensial mendulang keuntungan karena gerai kecil bisa hadir di mana saja, meski lahannya sempit. Tidak seperti supermarket yang butuh lahan besar.

Demam tumbuhnya Alfamart dan saudara-saudaranya ini sudah lama ada di Jawa. Sejak sebelum tahun 2009 saya sudah menemukan Alfamart dan saudara-saudaranya bersaing dengan retail yang lain seperti Indomaret, Circle K dan lain-lain. Makassar memang baru kebagian sekitar tahun 2010.

Dari informasi seorang teman, sebenarnya pihak Alfamart sudah lama mengajukan ijin untuk masuk ke kota Makassar dan kota-kota lain di Sulawesi Selatan, tapi ijin mereka masih menuggu persetujuan. Mengendap lama di meja petinggi kota ini. Ijin ini ternyata hanya menunggu waktu saja, ketika kemudian ada banyak hal yang harus dibiayai menjelang pilkada SulSel, maka ijin ini akhirnya turun juga. Wallahu alam, benar atau tidaknya memang masih bisa diperdebatkan, yang jelas sejak hampir 2 tahun lalu jaringan Alfamart dan Indomaret mulai menyerbu kota ini.

Persaingan paling kental adalah antar Alfamart dan Indomaret. Ketika di satu ruas jalan Alfamart membuka gerai, maka dalam radius beberapa puluh atau ratus meter Indomaret akan buka gerai juga. Jadilah persaingan mereka betul-betul head to head atau saling berhadapan.

Persaingan ini memberi dua macam efek pada pemilik properti. Di satu sisi, pemilik properti mendapat keuntungan tinggi karena Alfamart atau Indomaret berani membeli mahal properti mereka entah yang berupa ruko atau tanah kosong. Apalagi kalau salah satu dari dua retail yang bersaingan itu sudah duluan mengambil lahan di salah satu daerah, saingannya akan berani membeli harga tinggi demi karena tidak mau kalah langkah.

Itu efek positif bagi yang punya properti, bagi mereka yang butuh properti di daerah yang kebetulan ada Alfamart atau Indomaret efeknya bisa negatif. Harga properti jadi melonjak tinggi, mereka yang ingin menyewa atau membeli ruko jadi kesulitan karena pemilik ruko serta merta menaikkan harga sesuai dengan harga yang berani dibayarkan oleh Alfamart dan Indomaret.

Itu efek bagi para pemilik dan pencari properti. Efek untuk pengusaha kecil atau pemilik warung di sekitar Alfamart dan Indomaret juga sangat terasa. Kehadiran Alfamart dan Indomaret yang berani menyodorkan harga yang lebih murah dengan tempat yang lebih nyaman dan pilihan yang lebih beragam tentu lebih menggiurkan bagi para pembeli.

Bayangkan bila sebotol Pulpy dijual dengan harga Rp. 8.000 di warung tapi dijual dengan paling mahal Rp. 6.000,- di Alfamart. Tentu beda harga Rp. 2.000,- itu sangat berpengaruh, apalagi buat ibu-ibu yang memang punya daya hitung lebih tinggi. Itu baru satu item barang, belum termasuk item barang-barang yang lain.

Ibu Ninik, salah seorang pemilik warung di sebuah kompleks perumahan mengakui kalau omzetnya memang menurun semenjak sebuah Alfa Midi buka beberapa puluh meter dari warungnya. Pelanggannya sekarang banyak yang lebih nyaman berbelanja di mini market berpendingin ruangan daripada di warungnya, walaupun warungnya tidak bisa dibilang sederhana. Saya membayangkan nasib warung-warung lain yang lebih sederhana yang kebetulan berada di dekat Alfamart atau Indomaret.

Di jalan Rappocini Raya yang panjangnya sekitar 2Km sekarang ini ada 6 mini market, dua Indomaret, dua Alfamart dan dua Alfa Midi. Bisa dibayangkan bagaimana nasib warung kecil yang berada dalam kepungan mini market itu. Pertarungan dua retail itu makin sengit, kalau dulu mereka bersaing dalam radius tertentu sekarang sudah benar-benar bersaing head to head. Di beberapa tempat ada Alfa Mart yang berdampingan langsung dengan Indomaret, bukan lagi terpisah jarak beberapa meter.

Kondisi ini memang dilema. Di satu sisi kehadiran mini market itu membuat konsumen jadi lebih dimanjakan, punya banyak pilihan tempat berbelanja yang lebih nyaman dengan harga yang lebih murah, tapi di sisi lain warung sederhana milik rakyat jadi tergencet dan siap-siap kehilangan pendapatan.
Pemerintah kota harusnya sudah siap dengan kondisi seperti ini.

Bagaimanapun ada nasib rakyat kecil yang dipertaruhkan di sini, bukan hanya kenikmatan untuk para pemain besar. Bagaimanapun kota ini sekarang sudah diserang oleh mini market, entah efek seperti apa yang akan ditinggalkannya bertahun-tahun ke depan.

Semoga bukan rakyat kecil yang jadi korbannya.

[dG]

April 19, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar
Membawa Sekolah ke Internet 2

Membawa Sekolah ke Internet

image by : Google

Salah satu institusi yang paling aktif menggunakan internet adalah kampus-kampus dan sekolah.

Teknologi makin berkembang, khususnya yang bersangkutan dengan informasi teknologi. Belasan tahun lalu internet hanya dikuasai oleh mereka yang punya modal dan kekuatan. Tidak semua orang bisa mengakses atau menyediakan informasi lewat internet. Untuk melakukannya butuh kekuatan dana dan pengetahuan yang lebih.

Saat ini internet sudah jadi barang jamak, bahkan di Indonesia sekalipun. Siapa saja bisa mengaksesnya, dan siapa saja bisa menyediakan informasi di sana. Perangkat yang bisa menghubungkan kita dengan internet juga makin murah. Dulu hanya PC atau Laptop dengan perangkat tambahan yang bisa melakukannya, sekarang dengan sebuah handphone di genggaman saja kita sudah bisa berinteraksi dengan orang lain melalui internet.

Karena sifatnya yang tidak terbatas, internet kemudian bisa dinikmati siapa saja. Pengusaha, ibu rumah tangga, mahasiswa, anak sekolah dan bahkan petani sekalipun. Banyak orang yang kemudian berlomba-lomba memanfaatkan kemajuan teknologi yang dibawa dalam bentuk internet.

Salah satu institusi yang paling aktif menggunakan internet adalah kampus-kampus dan sekolah. Beberapa dari mereka dengan insitiatif tinggi menggunakan internet untuk memudahkan aktifitas belajar mengajar. Mulai dari informasi tentang bahan pelajaran, informasi pendaftaran, aktifitas sekolah atau perkuliahan hingga informasi tentang nilai.

Perkembangan ini tentu memudahkan bagi para pelajar dan mahasiswa yang memang butuh kecepatan akses informasi dalam segala hal yang berhubungan dengan dunia mereka. Informasi kegiatan sekolah hingga nilai-nilai dapat diakses secara cepat, di mana saja dan kapan saja.

Kebutuhan akan internet juga bukan hanya hadir lewat layanan seperti di atas, tapi tentu saja lewat layanan paling sederhana yaitu ketersediaan hotspot wi-fi dalam lingkungan kampus atau sekolah. Wi-fi tentu akan lebih memudahkan lagi bagi para siswa atau mahasiswa yang ingin mengakses internet. Percuma sebuah sistim diciptakan kalau perangkat pendukungnya tidak diadakan.

Kebutuhan-kebutuhan seperti yang ada di atas membuat beberapa penyedia layanan selular berusaha memberikan yang terbaik, salah satunya adalah XL. Sebagai salah satu penyedia jasa layanan selular terbesar di Indonesia, XL memberikan layanan XL Edusolutions untuk sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia.

Layanan ini adalah perpaduan antara XL Sitosfer ( Sistem Informasi Sekolah Terpadu ) dengan pengadaan wi-fi gratis di sekolah dan kampus. Untuk XL Sitosfer, pihak XL menyajikan layanan terpadu dengan platform internet dan SMS bagi para siswa/mahasiswa dan orang tua untuk dapat mengakses informasi tentang sekolah atau kampus mereka.

Sementara untuk wi-fi gratis dapat dipasang di mana saja dalam lingkungan kampus atau sekolah. Bisa di laboratorium, ruang perkuliahan atau bahkan di ruang terbuka yang ditunjuk oleh pengelola sekolah atau kampus. Ini tentu saja memudahkan para siswa atau mahasiswa untuk mengakses internet melalui laptop atau smartphone.

Untuk layanan Sitosfer, saat ini sudah diaplikasikan pada sekitar 1000 sekolah dan kampus di Indonesia. XL menetapkan target hingga akhir 2012 akan ada sekitar 2000 kampus dan sekolah yang menikmati layanan Sitosfer ini. Sementara untuk free wi-fi, sampai saat ini sudah terpasang di sekitar 185 kampus dan sekolah. Tagetnya pada akhir 2012 nanti akan ada 500 sekolah dan kampus yang telah dipasangkan free wi-fi.

Program XL Edusolutions ini adalah rangkaian program dari XL dalam rangka memajukan negeri. Xl Edosulitons ini sebenarnya adalah kegiatan yang berada dalam rangkaian Program XL Youth & Campus. Program yang sudah diluncurkan sejak 1 Mei 2010 ini terdiri dari 3 program utama yaitu Educations Develoment berisi kegiatan workshop, try out, kuliah umum dll, Creativity Development yang terdiri dari kompetisi mading online, kompetisi olahraga, pensi dan berbagai kompetisi lainnya serta tentu saja Information Technology Development.

Teknologi memang akan terus berkembang, setiap kita punya bagian di dalamnya. Apakah akan sebagai penikmat atau jadi orang yang bisa betul-betul memanfaatkannya. Sekarang memang saatnya membawa sekolah ke internet, supaya manfaatnya bisa makin terasa bagi orang banyak.

 

[dG]

April 18, 2012 in Advertising, Random Post
Saatnya Membuka Warung Di Internet 1

Saatnya Membuka Warung Di Internet

Sumber : Google

Tapi internet dan social media juga bisa sangat kejam. Dengan efektitas dan dinamika yang tinggi mereka juga bisa jadi mesin pembunuh

Banyak orang bercita-cita menjadi pengusaha. Jargon kalau jadi pengusaha lebih baik daripada jadi karyawan sudah tersebar di mana-mana, dan banyak yang mempercayainya. Bahkan menjadikannya pegangan hidup.

Dari tahun ke tahun kesempatan menjadi pengusaha makin besar. Tak perlu muluk-muluk menjadi pengusaha yang beromzet miliaran rupiah, punya kantor bertingkat, karyawan beribu-ribu dan pabrik besar dan luas. Cukuplah punya usaha kecil yang dijalankan di satu sudut rumah dan dikerjakan oleh beberapa orang tenaga karyawan. UKM namanya, Usaha Kecil dan Menengah.

Geliat UKM makin lama makin kencang, pelakunyapun makin beragam. Bukan cuma mereka yang sudah “dewasa” tapi juga anak-anak muda yang lebih memilih peruntungan di dunia bisnis daripada harus menjadi karyawan bagi orang lain. UKM, wirausaha atau apapun namanya perlahan menjadi kembang yang dikerubuti kumbang. Semua berlomba mencecap manisnya, tentu dengan cara dan usaha masing-masing.

Dalam waktu yang berjalan paralel, teknologi juga makin berkembang. Dulu internet hanya digunakan untuk keperluan bisnis besar, pelakunya juga orang-orang besar dengan bekal kemampuan khusus. Teknologi kemudian berkembang sangat pesat. Apa yang 12 tahun lalu dianggap mustahil atau bahkan tak terpikirkan sama sekali, hari ini menjadi hal jamak.

12 tahun lalu, hanya segelintir orang yang berpikiran kalau internet bisa hadir di genggaman, bisa menghubungkan orang kapan saja dan di mana saja. 12 tahun lalu orang tidak pernah berpikir akan ada sesuatu bernama social media, akan ada yang namanya blog, facebook atau twitter. Hari ini? Semua itu adalah hal yang jamak.

Social Media Untuk Usaha

Perkembangan teknologi internet yang menggeliat begitu pesat lalu dimanfaatkan para pelaku wirausaha. Internet dan social media sebagai satu turunannya menjadi sebuah senjata bagi pelaku wirausaha jaman sekarang. Mereka punya produk dan jasa, internet punya kemampuan jadi media penghantar dari mereka ke pengguna.

Pengguna internet di Indonesia saat ini tercatat sekitar 40juta orang atau sekitar 20 persen dari total penduduk Indonesia. Ini bagaikan ikan-ikan besar yang berenang di dalam kolam. Hanya butuh kail dan umpan yang pas untuk menangkapnya.

Di Makassar sendiri, pelaku wirausaha yang memanfaatkan internet? sudah makin marak. Di ranah twitter terus bermunculan akun-akun baru yang mempromosikan usaha mereka, baik usaha barang maupun jasa. Ada yang berjualan cemilan, bolu kukus, kue-kue, sampai mereka yang menjual jasa promosi usaha dan jasa pembuatan online store? atau website.

Mereka adalah para wirausahawan yang tahu betul cara memanfaatkan internet dan social media sebagai alat untuk mempromosikan usaha mereka. Internet dan social media memang relatif lebih murah dengan efek yang besar untuk sebuah usaha kecil menengah. Dengan modal gratis dan kesabaran serta strategi khusus mereka bisa menjual produk barang dan jasanya lewat social media. Dengan modal beberapa ratus ribu mereka bisa membuat blog atau online store. Murah dan efisien, mereka juga terkoneksi dengan para pelanggan atau calon pelanggan kapan saja dan di mana saja. Mereka bisa punya etalase yang bisa diakses kapan saja dan dari mana saja. Tak perlu menunggu seseorang membuka pintu kaca atau rolling door di jam-jam tertentu.

Saya mengistilahkan mereka sebagai orang-orang yang membuka warung di internet. Warung kecil yang dibangun dengan keringat sendiri dan diharapkan bisa tumbuh besar lewat jalan perjuangan yang panjang.

Tapi internet dan social media juga bisa sangat kejam. Dengan efektitas dan dinamika yang tinggi mereka juga bisa jadi mesin pembunuh. Satu kesalahan pada cara anda berwirausaha, maka seluruh reputasi anda akan hancur dalam seketika. Para pengguna twitter atau facebook gampang terhubung satu sama lain, mereka bisa mempromosikan satu usaha dengan sukarela ketika mereka merasa puas. Tapi ketika mereka merasa kecewa, dengan gampang pula mereka menyebarkan kekecewaan itu.

Tantangan menggunakan social media untuk wirausaha memang tidak gampang. Saat kita berlaku jujurpun, publik belum tentu percaya 100%, apalagi ketika niat memang sudah salah dari awal. Hanya karena perlakuan buruk beberapa orang yang menggunakan kedok wirausaha dan social media untuk menipu, yang lain ikut kena imbasnya. Apalagi orang Indonesia memang belum sepenuhnya terbiasa dengan berbelanja online.

Teknologi makin lama makin berkembang. Saat ini internet dan social media memang jadi penghantar paling efektif untuk menyampaikan pesan dari pelaku wirausaha kepada para mereka yang membutuhkannya. Besok entah apalagi yang akan muncul. Sepanjang kita bisa melihat dari sisi positif, tentu semua perkembangan teknologi akan jadi menguntungkan.

Sekarang memang saatnya membawa warung ke dunia maya. Jadi, kapan buka wirausaha sendiri?

[dG]

April 18, 2012 in Internet, Rabu
Jogja Memang Istimewa 12

Jogja Memang Istimewa

Malioboro

Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion

Pesawat Sriwijaya Air yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Adi Sutjipto, Jogjakarta. Siang itu Jogja dipayungi awan mendung tipis, udara agak panas pertanda sebentar lagi hujan turun. Dari bandara kami dijemput teman-teman komunitas blogger Jogja dan dibawa ke Jl. Dagen, tepatnya di hotel Whiz tempat saya dan teman-teman akan menginap selama beberapa hari ke depan.

Ini entah untuk yang keberapa kalinya saya menginjakkan kaki di propinsi paling Selatan di pulau Jawa ini. Pertama kali menginjak Jogja sekitar tahun 2000, tapi kunjungan pertama ini tidak berbuah manis. Baru sekitar beberapa bulan kemudian saya kembali ke Jogja dan bisa menjelajah banyak tempat.
Sekitar tahun 2009-2010 berkali-kali saya kembali ke kota ini, dan makin sering mejelajahi banyak sudut kota. Saya yang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, kemudian makin merasa cinta pada kota yang diperintah Sri Sultan Hamengkubuwono X ini.

Jogja selalu punya aura yang menyenangkan walaupun sudah makin ramai dibanding 12 tahun yang lalu. Sudut-sudut kotanya begitu khas, denyut nadi kota ini begitu membekas untuk mereka yang datang berkunjung. Sepulang dari sana, saya selalu merasa ada lambaian dari jauh yang memanggil saya untuk kembali ke Jogja.

Pendopo Dalem

Malam kedua di Jogja kami habiskan dengan makan malam ramai-ramai di Pendopo Dalem, Keraton Jogjakarta. Sebuah pendopo yang masih masuk dalam lingkungan keraton dengan arsitektur khas Jawa yang tetap dipertahankan. Makanan yang disajikan juga makanan khas Jawa, menu angkringan tepatnya. Saya mencoba berbagai menu, dari menu makanan berat sampai jajanan pasar yang sederhana tapi menggoda.

Malam berikutnya saya menghabiskan malam di sebuah angkringan di kota Gede bersama teman-teman Loenpia yang ada di Jogja. Menu yang sama dengan suasana berbeda. Kalau sebelumya menu angkringan berada dalam pendopo yang lebih nyaman, kali ini benar-benar berada di pinggir jalan yang sederhana. Duduk sambil lesehan.

Siluet Stasiun Tugu

Tapi selalu ada yang sama. Kehangatan, suasana akrab dan kesederhanaan. Jogja memang penuh dengan semua itu. Setiap sudutnya seperti gambaran tentang kesederhanaan dan kehangatan warganya.

Jogja adalah kota kedua yang saya cintai setelah Makassar. Jogja seperti juga Makassar selalu membuat saya ingin kembali. Kalau Makassar adalah kota tempat saya pulang, maka Jogja sepertinya jadi kota tempat saya datang.

” Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion ” Kata Ical, teman perjalanan saya kali ini. Ini pertama kalinya dia ke Jogja, dan saya tahu dia juga merasakan kenyamanan yang sama dengan yang saya rasakan 12 tahun yang lalu.

Jogja memang istimewa, dan saya selalu ingin kembali ke sana.

[dG]

April 17, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde 11

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona

Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga kecil di Spermonde ini hilang ditelan alam.

Matahari bersinar terang pagi itu, Sabtu 7 April 2012. Saya dan beberapa teman sudah berkumpul di dermaga Kayu Bangkoa yang berada tepat di bibir Selat Makassar, tidak jauh dari pantai Losari. Dermaga tua itu adalah gerbang menuju beberapa pulau di luar kota Makassar. Tepatnya di gugusan Spermonde.

Beberapa perahu kayu bermesin tempel menanti penumpang. Terombang-ambing oleh riak gelombang kecil. Sebuah perahu kayu besar merapat, menumpahkan ratusan penumpang dari dalam tubuhnya. Mereka adalah orang-orang yang baru datang dari pulau Barrang Lompoa, pulau terbesar berpenghuni di gugusan Spermonde.

Hari itu saya dan teman-teman dari Anging Mammiri meluangkan waktu untuk mengunjungi pulau Samalona. Berawal dari kicauan seorang teman di Facebook tentang kerinduannya akan lautan, teman-teman yang lain segera merespon dengan sebuah rencana untuk mencicipi lautan di akhir pekan yang panjang. Gayung bersambut, dan banyak yang semangat untuk ikutan.

Samalona adalah pulau kecil berjarak sekitar 7 KM dari kota Makassar, ditempuh dengan kapal kayu bermesin tempel selama kurang lebih 30 menit. Pulau ini sudah lama terkenal. Tahun 1990an, musisi reggea Indonesia, Alm. Imanez pernah membuat lagu dengan judul Samalona.

Bermain di pasir putih

Samalona memang cantik. Pasir putih menghampar di sekujur tubuh pulau ini, bersanding dengan air laut yang bening dengan warna mulai dari biru muda di bagian yang dangkal, hijau tosca di bagian yang lebih dalam dan warna biru tua di bagian yang sangat dalam. Banyak orang yang memanfaatkan waktu untuk bersantai di sana.

Mereka datang entah hanya sekadar berenang dan bermain pasir, snorkling, main jet ski atau bahkan diving. Di sekitar Samalona memang banyak spot diving yang katanya cukup menawan untuk dipandang.

Ada satu pemandangan yang mengiris ketika kemarin saya kembali menginjakkan kaki di Samalona. Ada bagian yang tergerus gelombang dan hilang. Di sebelah utara pulau dulu ada sebuah rumah panggung dan hamparan pasir putih, tapi kemarin rumah panggung itu sudah hilang. Hamparan pasir putihnyapun sudah berubah jadi lautan lantai.

Yang hilang ditelan pasang

Abrasi air laut memang jadi masalah utama di pulau-pulau kecil di perairan Spermonde. Karena posisinya yang landai, mereka jadi rentan untuk disapu gelombang. Menurut seorang pengamat kelautan, tahun 2030 nanti Indonesia akan kehilangan ribuan pulau-pulau kecil, dan Samalona adalah salah satunya.

Kondisi ini sangat memprihatinkan tentu saja. Membayangkan pulau kecil ini hilang ditelan gelombang rasanya sungguh disayangkan. Samalona begitu indah, pasir putih dan pantai dengan air lautnya yang jernih begitu memikat, cocok untuk melepas lelah bersama sahabat, keluarga dan orang-orang yang disayang. Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga kecil di Spermonde ini hilang ditelan alam.

Oh ya, pada gelaran Kopdar Blogger Nusantara 2012 nanti Samalona jadi tujuan wisata untuk teman-teman yang datang dari luar kota Makassar. Kami akan mengajak teman-teman untuk menikmati surga kecil di Spermonde ini.

Semoga kita bisa menikmatinya, selagi sempat.

[dG]

April 10, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Memilih Untuk Tidak Memilih 8

Memilih Untuk Tidak Memilih

Selain golput yang tidak sengaja, ada juga mereka yang memang sengaja menggugurkan haknya untuk memilih. Mereka adalah orang-orang yang sudah apatis dan kehilangan kepercayana pada sistim pemilihan umum di negeri ini.

Momen pilkada gubernur SulSel memang masih jauh, masih setahun lagi. Tapi aromanya sudah menyeruak ke mana-mana, ke segala sudut propinsi di selatan pulau Sulawesi ini. Perbincangan tentang siapa yang akan maju dan siapa yang punya peluang terbesar untuk jadi pemenang sudah beredar di mana-mana. Dari warung kopi pinggir jalan hingga cafe berpendingin udara. Pemilu, entah di level daerah atau level nasional selalu punya daya tarik sendiri untuk bangsa ini.

Momen pilkada ini mengingatkan saya pada sebuah fenomena yang marak dalam beberapa pemilu beberapa tahun belakangan ini. Yang saya maksud adalah fenomena golput atau golongan putih. Jumlah mereka yang tidak menunaikan haknya dalam setiap gelaran pemilu makin lama makin banyak.

Data terakhir yang dilansir selepas pemilu legislatif tahun 2009 kemarin menyebutkan kalau jumlah golput mencapai prosentasi tertinggi, 39.1% dari keseluruhan calon pemilih sebesar 191 juta. Jumlah ini lebih besar dari jumlah persentase yang diraih Partai Demokrat yang menjadi pemenang pemilu. ( sumber : http://nusantaranews.wordpress.com/2009/04/10/hasil-pemilu-2009-partai-golput-menjadi-pemenang/ ) Sebuah hasil yang memprihatinkan.

Golput Sengaja dan Tidak Sengaja

Pemilu 2009 memang dituding sebagai pemilu yang paling berantakan bila dibandingkan dengan beberapa pemilu sebelumnya. Proses administrasi dan pendataan calon pemilih berjalan dengan amburadul, hasilnya banyak warga yang tidak terdaftar sebagai pemilih dan dengan demikian kehilangan haknya untuk memilih.

Mereka inilah yang dikenal disebut sebagai golput tidak sengaja. Mereka punya niat untuk menunaikan haknya, memilih partai dan anggota legislatif yang akan mewakilii mereka di lembaga legislatif. Tapi sistim yang kacau membuat mereka terpinggirkan dan kemudian kehilangan hak.

Pada pemilu 2009, banyak pihak yang menuduh kalau kekacauan ini disengaja untuk mendongkrak perolehan suara salah satu partai. Terlepas benar atau tidaknya, kenyataan itu jadi sejarah kelam dalam pemilihan umum di Indonesia.

Selain golput yang tidak sengaja, ada juga mereka yang memang sengaja menggugurkan haknya untuk memilih. Mereka adalah orang-orang yang sudah apatis dan kehilangan kepercayana pada sistim pemilihan umum di negeri ini.

Mereka tidak pecaya pada siapapun yang mengaku bisa menjadi wakil mereka di legislatif, pada partai yang selalu mengaku bisa menyalurkan aspirasi mereka dan berjuang demi kesejahteraan mereka.

Polah laku para wakil rakyat dan partainya memang sedikit banyaknya memberi stimulasi buruk pada para pemilih. Mereka yang mengaku wakil rakyat dan selalu berkoar-koar akan memperjuangkan nasib rakyat saat kampanye ternyata banyak yang jauh api dari panggang. Tidak semua tingkah mereka berdasarkan keinginan untuk memperjuangkan nasib rakyat, banyak yang malah memalukan dan seakan menindas rakyat yang memilih mereka.

Tak salah bila kemudian muncul sikap anti pemilu dari para calon pemilih. Mereka memilih untuk tetap berdiam di rumah atau di tempat lain daripada melangkahkan kaki ke TPU untuk memilih satu dari beragam pilihan di kertas suara. Merekalah orang-orang yang sengaja membakar hak mereka, memilih untuk tidak mengotori jari mereka dengan tinta yang memang disiapkan untuk para pemilih.

Pro dan Kontra.

Para golput sengaja itu kemudian memunculkan pro dan kontra. Bagi mereka, pilihan untuk tidak memilih adalah sebuah langkah protes keras terhadap sistim pemilihan umum yang sudah menempatkan banyak orang tak layak untuk menjadi wakil mereka. Mereka menolak diwakili oleh mereka-mereka itu, dan sebagai caranya mereka sengaja untuk tidak memilih.

Bagi mereka yang memilih, pilihan para golput yang sengaja menggugurkan haknya itu adalah pilihan para pengecut. Mereka menganggap para golput itu adalah orang-orang yang tidak berani mengambil pilihan dan hanya tahu mengkritik tanpa punya solusi. Mereka juga sadar, pilihan yang ada memang lebih banyak pilihan yang tidak menjanjikan. Tapi lebih baik memilih mereka yang punya potensi daripada sama sekali tidak memilih, begitu kata mereka.

Para golput dituding tidak berani. Mereka tidak mau memilih siapapun, dan ketika mereka-mereka yang terpilih itu kemudian naik ke tampuk tertinggi entah sebagai legislatif maupun eksekutif maka para golput itu bisa dengan leluasa mencaci setiap kesalahan langkah yang mereka lalukan. Pro dan kontra ini berlangsung terus dengan berbagai alasan dan pembelaan.

Saya sendiri dalam rangkaian pemilu tahun 2009 kemarin memang berada dalam jajaran golput. Saya adalah gabungan antara golput sengaja dan tidak sengaja. Sengaja karena memang saya sudah ada pada tingkat apatis melihat tingkah polah para wakil rakyat dan para pemimpin negeri ini. Saya sudah kehilangan kepercayan dan respek pada mereka. Terakhir saya ikut pemilu secara penuh pada tahun 2004.

Keengganan saya untuk memilih di tahun 2009 kemudian dilengkapi dengan pendataan yang amburadul. Nama saya tidak tercantum dalam daftar pemilih. Tak ada protes dari saya, tak ada usaha untuk mempertanyakan karena toh saya memang sudah tidak bernafsu untuk ikut antri di depan bilik suara.

Pengecutkah saya? Tergantung dari sisi mana anda melihat. Saya mungkin? bukan warga negara yang baik karena saya tidak ikut ambil bagian dalam sebuah peristiwa yang bisa mengubah wajah negeri ini. Tapi, setidaknya saya memanfaatkan hak saya. Hak memilih untuk tidak memilih.

 

[dG]

April 09, 2012 in Opini, Senin
Pilih Facebook Atau Mailing List ? 3

Pilih Facebook Atau Mailing List ?

Ketika demam facebook melanda, platform baru untuk sebuah grup kemudian hadir. Facebook menyediakan fasilitas grup.

Setiap kali tersambung dengan internet ada satu ritual yang selalu saya lakukan. Membuka inbox. Tujuan utama saya bukan mencari email penting, tapi mengecek email yang masuk dari mailing list (milis) yang saya ikuti.
Saat ini saya tergabung di 14 mailing list dengan latar yang berbeda. Dari keempatbelas milis itu memang hanya dua milis yang paling aktif dengan jumlah email hingga ribuan per bulannya. Milis yang lain kebanyakan hanya puluhan dan bahkan ada beberapa yang sudah lama mati suri.

Dari laman wikipedia Indonesia diceritakan bahwa milis berbahasa Indonesia pertama dibuat sekitar tahun 1987-1988 oleh sekelompok kecil mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Universitas Berkeley. Alamat milisnya adalah : indonesians@janus.berkeley.edu.

Waktu itu milis ( dan internet ) belum marak seperti sekarang. Perlu server sendiri untuk membuat sebuah grup mailing list. Belakangan Yahoo kemudian bernisiatif untuk membuat mailing list dengan nama yahoogruops dan kemudian disusul oleh Google dengan googlegroups.

Perkenalan saya dengan milis terjadi sekitar tahun 2000, waktu itu saya bergabung dengan sebuah milis berbasis sepakbola yang dikelola oleh sebuah tabloid olahraga paling terkenal di Indonesia. Awalnya juga bingung karena tiba-tiba ada banyak email yang masuk selepas masa pendaftaran usai. Perlahan-lahan saya bisa mulai bisa mempelajari alur interaksi dalam sebuah milis sehingga sedikit-sedikit bisa nimbrung di satu dua thread.

Saya sempat lama tidak bersentuhan dengan internet sebelum kembali aktif tahun 2006. Perkenalan kembali yang kemudian membuat saya jadi seorang blogger,? membawa saya masuk ke dalam milis blogger Makassar. Kekagetan yang sama kembali terjadi. Milis ini ternyata sangat hiperaktif dan membuat saya yang waktu itu masih jadi pelanggan yahoo mail jadi sedikit kelabakan.

Butuh waktu yang lumayan lama sebelum saya bisa nyaman berinteraksi di milis itu. Gaya interaksi yang ringan, cair dan heboh perlahan-lahan membuat saya jadi ketagihan. Rasanya aneh ketika ada hari yang saya lewatkan tanpa menengok ke dalam milis. Perlahan-lahan keakraban dan kehebohan di dunia maya itu jadi terbawa ke dunia nyata hingga sekarang.

Ketika demam facebook melanda, platform baru untuk sebuah grup kemudian hadir. Facebook menyediakan fasilitas grup. Para pengguna facebook bisa membuat sebuah grup baru di sana dan mengundang orang-orang untuk menjadi anggota dan kemudian berinteraksi. Dari hari ke hari jumlah grup di Facebook makin banyak. Penggunanyapun makin banyak dan beragam.

Sebuah milis yang saya ikuti yang dulu aktif perlahan menjadi sepi. Sebagian besar penghuninya ternyata aktif di grup facebook. Dari beberapa anggota muncul alasan kalau mereka lebih memilih aktif di Facebook karena di sana lebih santai dan bebas, berbeda dengan suasana di milis yang memang sedikit lebih ketat karena anggota diharapkan tidak OOT ( Out Of Topic ).

Saya juga tergabung dengan beberapa grup di Facebook, tapi saya jarang aktif di sana. Alasan saya hanya masalah kepraktisan saja. Milis yang berbasis email sudah otomatis masuk ke perangkat Blackberry sehingga tidak perlu lagi login atau masuk ke laman tertentu. Berbeda dengan grup di Facebook yang mengharuskan kita untuk login ke Facebook dulu baru kemudian masuk ke laman grup.

Saya perhatikan beberapa grup dan komunitas yang terbentuk selepas tahun 2009 rata-rata memang menggunakan grup Facebook sebagai media interaksi mereka. Berbeda dengan grup atau komunitas yang terbentuk sebelumnya di mana mereka lebih nyaman berinteraksi dengan mailing list.

Analisa sederhana saya, ini terkait dengan masa perkenalan anggota dengan internet. Ketika mereka kenal dan akrab dengan internet di masa Facebook sedang jaya, maka mereka kemudian akan sangat nyaman berinteraksi dengan media buatan Mark Zuckerberg itu. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih akrab dengan email dan produk sebelum Facebook lahir.

Komunitas Anging Mammiri juga punya grup di Facebook, tapi karena sebagian besar anggotanya adalah orang-orang yang kenal internet dari masa sebelum Facebook lahir maka kami merasa lebih nyaman berinteraksi di milis. Tinggallah grup di Facebook itu dibiarkan berdebu.

Pilihan berinteraksi menggunakan milis atau grup di Facebook memang adalah pilihan masing-masing. Semua kembali ke kebiasaan dan rasa nyaman.

Sekarang ini saya memang lebih nyaman berinteraksi dan berdiskusi dengan media milis, tapi banyak juga teman-teman yang ternyata lebih nyaman berinteraksi dan berdiskusi dengan grup Facebook.
Bagaimana dengan anda ?

[dG]

April 04, 2012 in Blogging, Rabu
Dunia Dalam Genggaman 1

Dunia Dalam Genggaman

image by Google

Kalau dulu internet hanya bisa dinikmati secara fixed ( di tempat yang diam ) maka perlahan-lahan internet kemudian hadir dalam bentuk yang lebih dinamis. Internet bisa diakses lewat beragam telepon selular yang bisa digenggam dan dibawa ke mana saja.

Sekitar 15 tahun yang lalu ketika pertama mengenal internet saya sama sekali belum terpikir suatu saat nanti internet akan jadi semudah sekarang. Jaman itu, mengakses internet adalah hal yang mewah. Ada harus punya komputer sendiri, laptop masih sangat jarang. Anda harus punya jaringan telepon karena internet mobile belum tersedia dan terakhir anda harus punya modem yang harganya tidak murah.

Ketika itu layanan internet memang masih mahal, kecepatannyapun belum seperti sekarang. Punya internet kencang adalah sebuah lambang kemakmuran tentu saja, mengingat harganya yang memang masih melambung tinggi. Ketika itu mungkin masih sedikit orang yang membayangkan bahwa suatu hari nanti internet akan hadir dalam genggaman dan bisa dibawa ke mana saja.

Di awal tahun 2000an, warnet mulai ramai. Harga akses internet makin murah dan terjangkau. Seingat saya kisaran harganya sekitar Rp. 6000 hingga yang paling mahal sekitar Rp. 15.000an per jam. Di awal tahun 2000an itu juga saya mulai kecanduan internet. Setiap berapa hari sekali, warnet jadi tempat nongkrong untuk sekadar mengecek inbox email atau berkelana ke sana-ke mari.

Namanya teknologi memang tidak pernah berhenti berinovasi, berevolusi atau bahkan revolusi. Tingkat kebutuhan masyarakat akan internet makin tinggi dan para pemilik modal melihat itu sebagai sebuah peluang baru. Tidak heran kalau kemudian hadir beragam layanan baru yang makin mendekatkan internet kepada para penggunanya.

Kalau dulu internet hanya bisa dinikmati secara fixed ( di tempat yang diam ) maka perlahan-lahan internet kemudian hadir dalam bentuk yang lebih dinamis. Internet bisa diakses lewat beragam telepon selular yang bisa digenggam dan dibawa ke mana saja.

Memasuki pertengahan dasawarsa 2000an, internet mobile makin marak. Produsen telepon genggam juga makin sibuk bersaing menyiapkan perangkat mobile dengan kemudahan akses internet. Penyedia jasa layanan tentu tidak mau kalah. Percuma punya handled canggih kalau data layanan tidak mendukung, kan ?

Hanya saja masa itu mengakses internet tidak gampang. Punya handled yang mendukung layanan internet dan punya operator yang juga mendukung ternyata bukan jaminan. Beberapa kali saya terpaksa pusing dan akhirnya menyerah ketika mengawinkan handled dan operator ternyata tidak mudah.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum handled bisa terhubung dengan internet. Orang awam tentu akan bingung bila sudah mendengar kata APN, VPN, Proxy, dll. Ujung-ujungnya kemudian menyerah.

Saya mungkin beruntung karena beberapa kali saya bisa mengawinkan antara handled dan operator, tapi mungkin masih banyak yang tidak seberuntung saya, atau malah tidak peduli.

Sekitar tujuh bulan ini saya memegang sebuah tablet. Awalnya memang berganti-ganti operator sebelum akhirnya berlabuh di XL yang ternyata sinyalnya paling bersahabat dengan lokasi rumah. Awalnya juga tidak gampang karena ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk bisa mengakses internet, termasuk tentu saja mendaftar ke layanan tertentu.

Sekitar seminggu lalu pulsa saya habis dan mampirlah saya ke kios pulsa. Kebutuhan untuk mengakses internet tidak bisa ditunda. Selepas mengisi pulsa XL saya bersiap untuk melakukan proses registrasi seperti biasa. Tapi ajaibnya, sebelum melakukan proses registrasi beberapa notifikasi masuk. Artinya internet saya sudah tersambung. Ajaib karena biasanya saya harus melakukan proses tertentu dulu sebelum bisa tersambung dengan internet.

Karena penasaran saya coba mencari literatur di internet. Apa gerangan yang membuat beberapa proses itu jadi terpangkas. Dari situs resmi XL saya dapat informasi kalau ternyata itu memang jadi layanan baru provider yang akrab dengan warna biru itu. Sekarang untuk tersambung dengan internet XL tidak butuh lagi proses panjang. Semua tersambung dengan otomatis, tidak perlu lagi mendaftar selama pulsa mencukupi. Urusan dengan APN, Proxy dan lain-lain juga sudah kuno. Mereka yang? awam dengan istilah itu sekarang tidak perlu takut dan kuatir lagi. Tinggal pasang, isi pulsa dan silakan menikmati layanan internet.

Hal lain yang menjadi masalah adalah tentang kuota. Kadang kita keasyikan menjelajah di internet tanpa tahu berapa kuota yang sudah kita pakai dan berapa kuota yang tersisa. Saya beberapa kali berada dalam situasi seperti ini. Keasyikan menikmati internet dan tahu-tahu sudah tidak bisa tersambung karena ternyata kuota sudah habis. Parahnya lagi karena saya tidak tahu bagaimana caranya mengetahui pemakaian dan mengecek sisa pemakaian.

Dari laman yang sama saya juga mendapati satu cara yang efektif dan mudah untuk mengetahui sisa kuota. Dengan SMS cukup menuliskan KUOTA dan kirim ke 868. Saya coba dan sedetik kemudian SMS balasan masuk dengan mencantumkan jenis paket yang saya gunakan beserta masa berlaku dan tentu saja kuota yang tersisa. Cepat dan efektif sehingga saya bisa mengira-ngira masa penggunaan internet tanpa harus terputus di tengah jalan.

SMS juga bukan satu-satunya cara. Dari handphone kita bisa mencoba menghubungi *123# plih pengaturan internet dan kemudian pilih cek kuota. Hasil yang sama akan muncul di layar. Atau kalau masih bisa tersambung dengan internet bisa juga dengan cara masuk ke browser dan mengakses http://123.xl.co.id layanan ini tidak memerlukan proses login.

Teknologi memang tidak pernah diam, dia selalu bergerak ke depan mencari cara-cara baru untuk memudahkan kita manusia. Dulu internet hanya bisa dinikmati di tempat tertentu dan dengan diam, sekarang internet bisa dinikmati di mana saja dan sambil bergerak. Dengan inovasi-inovasi dari para pencipta perangkat keras dan penyedia layanan, dunia memang betul-betul serasa dalam genggaman.

Ketika dunia berada dalam genggaman, saatnya kita menikmatinya. Bukan begitu ?

 

[dG]

April 03, 2012 in Advertising, Random Post
Pilih Saya Jika Menurutmu Pantas 22

Pilih Saya Jika Menurutmu Pantas

Bagi saya, langkah sejauh ini sudah cukup membanggakan. Sebuah apresiasi untuk masa ngeblog selama kurang lebih 5 tahun ini.

Sudah jam 11 malam lewat ketika sebuah email masuk ke inbox. Judul emailnya : Deutsche Welle The BOBs 2012 Nominasi. Saya awalnya cuek, judulnya hampir serupa email scam dan spam yang sudah biasa mampir di inbox. Biasanya email scam dan spam itu memang membawa-bawa nama perusahaan asing dengan dalih saya memenangkan sebuah kontes atau lotere dan berhak untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar. Email itu sepintas mirip, makanya saya tidak terlalu tertarik.

kami ucapkan selamat atas penominasian website Anda, Daeng Gassing, dalam Kompetisi Weblog internasional The BOBs 2011 kategori Best Blog Bahasa Indonesia. Website Anda terpilih menjadi nominator dari sekitar 3.200 website yang terdaftar dalam 17 kategori yang diperlombakan (11 kategori bahasa dan enam kategori utama).

Itu adalah paragraf pertama dari email tersebut. Saya agak bingung, saya tidak merasa pernah mendaftarkan blog saya dalam ajang itu walaupun saya memang tahu dan kenal ajang The BOBs Award. Karena masih tidak percaya saya mengecek alamat email pengirimnya. Alamatnya memang official, bukan dari layanan email gratisan. Untuk lebih meyakinkan diri saya coba masuk ke alamat yang ada di badan email. Alamat itu menuntun saya masuk ke website resmi The BOBs. Di sana memang ada nama blog ini, bersanding dengan 10 blog lainnya. Akhirnya saya percaya.

Saya memang tidak pernah mendaftarkan blog saya untuk ikut dalam ajang ini karena memang merasa belum pantas. Meski sudah masuk ke tahun kelima tapi saya tetap merasa kalau daengGassing.com masih jauh dari kata “BEST” Masih banyak kekurangan yang harus terus dibenahi. Makanya, ketika terdaftar sebagai salah satu nominator saya benar-benar merasa bangga dan terbebani sekaligus.

Bohong kalau saya tidak merasa bangga. Terpilih sebagai nominator di antara ratusan blog bahasa Indonesia lainnya adalah sebuah sebuah penghargaan khusus untuk saya. Persoalan apakah nanti akan menjadi blog terfavorit atau blog terbaik itu urusan belakangan. Langkah sejauh ini sudah cukup membuat saya larut dalam euforia.

Karena terlanjur basah, maka lewat postingan ini saya dengan segala kerendahan hati ingin meminta dukungan dari teman-teman semua untuk meluangkan waktu sejenak memilih blog saya dalam ajang ini. Caranya mudah :

1. masuk ke laman ini : http://thebobs.com/indonesia/category/2012/best-blog-indonesian-2012/
2. cari blog saya : daenggassing.com
3. pilih Berikan Suara
4. vote menggunakan akun twitter atau facebook

Tapi saya tekankan teman-teman untuk memilih dengan objektif. Kalau teman-teman merasa saya memang pantas untuk dipilih, silakan memilih. Saya melihat teman-teman nominator yang lain juga bukan blogger biasa, mereka punya blog yang juga inspiratif. Beberapa di antaranya malah saya anggap lebih inspiratif dari blog ini.

Semua saya kembalikan kepada teman-teman, kalau memang menurut teman-teman daengGassing.com pantas untuk dipilih, mohon memilihnya. Kalau tidak, saya juga tetap akan menghargai keputusan teman-teman.
Bagi saya, langkah sejauh ini sudah cukup membanggakan. Sebuah apresiasi untuk masa ngeblog selama kurang lebih 5 tahun ini.

Nb: ternyata orang yang mendaftarkan blog saya ke ajang The BOBs salah satunya adalah pak Amril. Segala hormat dan rasa terima kasih saya haturkan untuk beliau, begitu juga teman-teman yang lain yang mungkin menominasikan blog ini. Terima kasih

[dG]

April 03, 2012 in Random Post
Terperangkap Dalam Sebuah Lagu 2

Terperangkap Dalam Sebuah Lagu

Foto by : Google

Ketika waktu berputar dan kenangan datang silih berganti, lagu akan tetap menjadi sebuah media yang menghantar kenangan itu untuk kembali terputar

Setiap orang punya banyak kenangan dalam hidupnya. Ada jejak-jejak kenangan yang tertinggal dalam bentang masa kehidupan. Beberapa kenangan itu kadang kala muncul ke permukaan lewat beragam hal yang jadi stimulan. Kenangan akan sebuah kejadian, sebuah perasaan kadang tumbuh lewat beragam medium. Ketika kenangan itu memudar, medium itu tetap ada dan bisa menghantar kembali kenangan itu ke permukaan.

Medium itu bisa berupa apa saja. Benda misalnya. Banyak benda yang ketika dilihat dan disentuh dengan cepat memanggil kembali rentetan kenangan akan sesuatu kejadian atau perasaan. Foto atau lukisan tentu jadi medium yang paling gampang memanggil kembali rekaman kejadian yang menyimpan kenangan itu.

Tapi medium juga tidak selamanya berupa benda atau sesuatu yang bisa dilihat. Kadang medium penghantar kenangan itu berupa sesuatu yang hanya bisa didengar. Apalagi kalau bukan lagu. Lagu jadi medium penghantar kenangan yang mungkin sudah berumur ratusan tahun. Entah berapa miliar kenangan yang tertinggal dalam lantunan lagu, entah berapa miliar lagu yang secara sadar atau tidak sadar sudah menjadi sebuah media yang paling efektif untuk menghantarkan kembali sesuatu bernama kenangan.

Banyak orang yang menggunakan lagu sebagai sebuah penanda akan sebuah kenangan, utamanya kenangan yang melibatkan perasaan. Mereka yang sedang jatuh cinta, mereguk manis madu asmara, atau bahkan mereka yang sedang? terpaksa menelan pahitnya cinta biasanya punya lagu yang dengan segera akan menemani mereka menikmati masa-masa itu.

Ketika waktu berputar dan kenangan datang silih berganti, lagu akan tetap menjadi sebuah media yang menghantar kenangan itu untuk kembali terputar. Ketika lagu terputar, baik secara sengaja atau tidak, diminta atau tidak, kenangan itu juga akan menyelinap ke dalam pikiran. Terputar kembali, meninggalkan rasa yang entah manis entah pahit.

Saya punya banyak lagu yang kadang tanpa saya sengaja sudah menjadi sebuah penghantar kenangan. Dalam sebuah kejadian, entah yang berhubungan dengan perasaan atau tidak kadang ada lagu yang kemudian terputar dan menjadi musik latar. Kejadian itu seperti potongan film dengan sebuah musik latar yang mengiringinya. Kemudian ketika musik latar itu terputar, maka adegan filmnya ikut terputar dalam kepala dan menghadirkan kembali ragam kejadian dan perasaan yang hadir saat itu.

Lagu memang sukses menjadi medium penghantar kenangan, baik disengaja ataupun tidak. Banyak kenangan yang terperangkap dan tertinggal di dalam lagu dan kemudian kembali di saat yang tidak terduga. Alunan musik dan rangkaian liriknya secara sadar atau tidak sudah jadi tempat yang nyaman untuk sebuah kenangan.

Saat ini saya sedang mendengarkan “Hingga Ujung Waktu”-nya Sheila On 7. Ada ragam kenangan yang tertinggal di sana.

Bagaimana dengan anda ? Ada musik atau lagu yang memerangkap sebuah kenangan dalam hidup anda ?

[dG]

**postingan ini saya dedikasikan untuk seseorang

 

 

April 02, 2012 in Kenangan, Senin
Makassar Tak Seperti Di Kotak TV 10

Makassar Tak Seperti Di Kotak TV

Shutdown Your TV and Start Writing

Padahal intinya saya cuma mau bilang kalau Makassar tidak persis seperti yang diberitakan di kotak TV itu. Makassar tak serusuh itu, kami di sini baik-baik saja.

Saya jarang nonton TV, apalagi berita nasional. Minggu pagi secara kebetulan saya duduk depan TV selepas pertandingan La Liga. Secara kebetulan juga TV One menyiarkan sebuah berita tentang unjuk rasa beberapa mahasiswa di Makassar malam sebelumnya. Beritanya biasa, apalagi belakangan ini memang aksi unjuk rasa terkait rencana kenaikan harga BBM sedang marak.

Tapi ada yang tidak biasa dari berita TV One itu. Semalam kebetulan saya ada di lokasi tempat kejadian yang diberitakanTV One itu. Lokasinya di jalan Andi Pangerang Pettarani, tepatnya di pertigaan Jl. Rappocini Raya. Waktu itu memang ada sekitar 30 anak muda yang menutup jalan. Tidak jelas mereka asalnya dari mana karena memang tidak ada atribut seperti jaket almamater misalnya yang mereka kenakan.

Anak-anak muda itu menutup jalan, sebagian dari mereka melempari billboard besar berisi iklan sebuah produk, sebagian lainnya menyobek baliho kampanye? milik Syahrul Yasin Limpo, gubernur incumbent. Sementara itu di depan pom bensin yang memang tepat berada di pertigaan ada beberapa orang tentara yang berjaga-jaga. Saya tidak tahu berapa lama kejadian itu berlangsung karena saya segera berlalu.

Potongan kejadian itulah yang kemudian ditayangkan oleh TV One tadi pagi (1/4) dalam program berita mereka. Hanya saja ada satu informasi yang betul-betul tidak tepat. Dari narasi beritanya disebut kalau kekacauan itu terjadi di depan pintu bandara Sultan Hasanuddin, dan ada aparat yang berjaga-jaga tepat di depan pintu bandara.

Saya kaget. Jl. AP Pettarani dan bandara Sultan Hasanuddin terpisah jarak sekitar 14 KM, sangat jauh. Tapi kenapa beritanya bisa mengatakan kalau unjuk rasa itu terjadi di depan pintu masuk bandara ? Bukankah berita itu bisa menyesatkan ? Sebuah gerbang masuk bandara yang dijaga petugas bersenjata tentu mengisyaratkan sebuah kondisi kota yang tidak aman karena bandara adalah pintu gerbang. Padahal kejadian sebenarnya tidak seperti itu.

Kejadian yang hampir sama terjadi malam sebelumnya. Kala itu tayangan live di Metro TV menyiarkan adegan bentrok antara polisi dengan warga ( bukan mahasiswa ) yang berlokasi di fly over. Dari kejadian di televisi terlihat betapa rusuhnya suasana, ada adegan lempar-lempar batu dan tembakan gas air mata.
Mereka yang menonton televisi pasti akan langsung membangun image betapa rusuhnya Makassar, betapa mencekamnya suasana di kota ini.

Beberapa menit setelah tayangan itu saya penasaran dan mencoba untuk mendekat ke fly over. Awalnya ragu, tapi begitu melihat banyak kendaraan yang mengarah ke sana saya juga jadi ikut mencoba. Daerah sekitar fly over memang ramai, banyak warga yang berkumpul di sepanjang jalan, tapi mereka ternyata sama seperti saya. Mereka juga orang yang penasaran dengan berita yang ada di Metro TV dan mencoba melihat dari dekat kejadian sebenarnya.

Saya coba dengan mendekat ke fly over. Sama sekali tidak ada kerusuhan seperti yang diberitakan di televisi. Memang ada beberapa polisi dan sisa gas air mata yang membuat mata perih, tapi adegan lempar batu antara warga dan polisi sama sekali tidak terlihat.

Beberapa menit kemudian, seorang kawan dengan akun @SupirPete2 ngetwit. Dia baru saja masuk ke jalan tol lewat fly over dan mempertanyakan lokasi kerusuhan adanya di sebelah mana ? Kalau membangun asumsi berdasarkan tayangan televisi maka orang pasti akan takut melintas di daerah fly over. Seolah-olah daerah tersebut sudah menjadi arena peperangan yang sangat riskan untuk didekati kecuali anda juga berniat menjadi korban.

Persepsi yang terbangun dari kotak kaca

Dua kejadian di atas adalah bukti nyata betapa televisi (khususnya televisi nasional) kadang tidak bisa dipercaya sama sekali. Entah apa maksudnya sehingga kadang stasiun televisi malah bertindak sebagai provokator atau setidaknya sebagai media yang merusak citra sebuah kota atau seseorang.

Makassar adalah salah satu sasaran empuk. Mungkin karena karakter warganya yang sudah terlanjur terkenal keras di luar sana sehingga menggoda para pekerja media nasional untuk selalu memberitakan hal-hal keras dari kota ini. Satu keributan kecil kadang diberitakan seolah-olah keributan itu sangat besar dan mencekam sehingga satu kota terkesan berada dalam situasi genting.

Ramainya demonstrasi warga dan mahasiswa menolak kenaikan BBM beberapa hari ini menjadi bukti bagaimana televisi nasional memperlakukan kota Makassar. Saya tidak menonton berita tentang kehebohan unjuk rasa itu, tapi dari beberapa komentar di lini masa terlihat jelas kekhawatiran dan persepsi buruk orang-orang tentang Makassar yang mereka dapat dan bangun dari tayangan berita di televisi.

Saya dapat BBM dari mbak Mubarika. Dia mengaku kuatir dan prihatin dengan kondisi Makassar yang dilihatnya di televisi. Saya menanggapinya dengan tersenyum. Dia ternyata jadi korban juga. Korban dari tayangan berita yang terlalu melebih-lebihkan tentang kota Makassar. Pada saat berita itu tayang di televisi saya sedang berada di titik lain di kota ini, suasana aman tenteram. Jalanan lancar, tak ada aparat, tak ada konsentrasi massa dan tak ada keributan sama sekali.

Saya bisa bilang kalau keributan yang ditayangkan di televisi itu hanya terjadi di satu titik yang bagaikan noktah kecil di atas peta kota Makassar. Tak cukup satu persen dari total luas kota ini, sisanya tetap aman tenteram. Potongan-potongan gambar yang kemudian dibumbui dengan narasi berlebihanlah yang membuat bayangan tentang kerusuhan yang besar jadi terbentuk. Membuat orang menilai Makassar adalah kota yang mencekam dengan kerusuhan yang melebar.

Televisi nasional dengan beragam alasannya memang sepertinya lebih senang dengan tayangan penuh kerusuhan dan kekerasan. Makassar kemudian jadi salah satu korbannya. Makassar jadi sasaran empuk untuk tayangan seperti itu. Kota lain seperti Ambon juga pernah menjadi korban. Keributan kecil diberitakan sebagai keributan besar yang mencekam.

Sebenarnya hari ini saya tidak berniat membuat tulisan. Tapi berita ngaco dari TV One tadi pagi seketika membuat saya terpancing untuk menulis panjang lebar. Padahal intinya saya cuma mau bilang kalau Makassar tidak persis seperti yang diberitakan di kotak TV itu. Makassar tak serusuh itu, kami di sini baik-baik saja.

Mungkin memang sudah waktunya kita mematikan TV dan mulai menulis. Menulis di blog tentang keadaan sebenarnya dari kota tempat kita berdiam.

[dG]

April 01, 2012 in Random Post
The Raid ; Orgasme Tanpa Foreplay 18

The Raid ; Orgasme Tanpa Foreplay

The Raid

Buat saya, The Raid ibarat orgasme tanpa foreplay. Puas, tapi masih ada yang kurang.

Seorang lelaki berseragam sebuah kesatuan elite dari kepolisian mencium mesra sang istri sambil menitip pesan pada jabang bayi yang sedang dikandungnya. Itulah adegan-adegan awal dari film The Raid. Sebuah adegan romantis yang mungkin menjadi satu-satunya adegan manis sepanjang film berdurasi 101 menit ini.

Selepas adegan itu, The Raid akan dipenuhi adegan-adegan penuh aksi kekerasan. 20 orang polisi dari satu kesatuan elite mendapat tugas menangkap seorang gembong penjahat yang bersembunyi di sebuah apartemen tua di satu sudut kota Jakarta. Sialnya, si gembong tidak tinggal sendirian. Dia memberi ruang aman bagi para penjahat kelas kakap lainnya dan menciptakan sebuah emporium sendiri yang tak tersentuh hukum dan aparat.

Tugas ini terkesan sederhana, cukup masuk ke apartemen, seret si gembong bernama Tama ( Ray Sahetapy ) dan selesai masalah. Sayangnya karena prakteknya tidak semudah itu. Sebuah kesalahan kecil membuat kehadiran mereka diketahui Tama. Lelaki dingin nan kejam itu kemudian mengubah sebuah penyerbuan yang harusnya sederhana itu menjadi sebuah neraka bagi para penyerbunya.

Semua akses ditutup, semua penjahat diundang untuk bersenang-senang. Jadilah keduapuluh polisi itu yang seharusnya menjadi pemangsa berbalik menjadi mangsa empuk. Satu persatu mereka berjatuhan meregang nyawa, gugur dalam penyerbuan maut.

Dari keduapuluh penyerbu itu ada Rama ( Iko Uwais ) sang jagoan. Dia satu dari sedikit anggota polisi yang bertahan hidup. Dengan kemampuan beladiri pencak silatnya yang luar biasa dia bertahan melawan gerombolan penjahat yang tak punya rasa belas kasihan termasuk Mad Dog ( Yayan Ruhian ) sang tangan kanan Tama.

Adegan-adegan pertarungan baik menggunakan senjata api, senjata tajam ataupun tangan kosong adalah kunci utama dari film produksi Merantau Films ini. Dan karena ini adalah film, maka tentu saja akhir kisahnya menjadi manis.

Keras Tapi Meninggalkan Lubang

The Raid adalah duet kedua Iko Uwais dengan Gareth Evans sang sutradara berkewarganegaraan Wales setelah sebelumnya memproduksi Merantau di tahun 2009. Merantau dan The Raid sama-sama menggunakan pencak silat sebagai ilmu beladiri yang digunakan sang jagoan.

Salah satu adegan The Raid

Dari sisi penggarapan The Raid memang patut diacungi jempol. Adegan perkelahian dikemas dengan sangat rapih dan mengundang decak kagum. Beberapa adegan memang potensial mengundang rasa mual karena dengan jelas menunjukkan ceceran darah, leher yang ditusuk atau digorok, kepala yang dibenturkan di dinding dan beberapa adegan lainnya yang terlihat begitu nyata dan tentu saja melibatkan darah.

Adegan pertempuran dengan menggunakan senjata api juga lumayan memikat meski beberapa kebiasaan film laga kembali diulang termasuk pistol yang seperti tak pernah kehabisan peluru dan tak tidak perlu diisi ulang.

Jalan cerita The Raid sebenarnya sederhana dan meninggalkan banyak pertanyaan. Pertanyaan yang seharusnya bisa dijelaskan kalau penulis skenarionya jeli. Ada cerita yang mungkin dimaksudkan sebagai twist tapi justru tertinggal sebagai sebuah pertanyaan menggantung.? Dari sisi dialog The Raid juga kurang rapih. Para aktor bertukar kata dengan kaku dan menggunakan dialog yang tidak natural. Entah kenapa kekurangan seperti ini selalu terulang pada film-film berbahasa Indonesia.

Selain Iko Uwais yang menakjubkan dengan bela dirinya saya menganggap kalau sosok Ray Sahetapy juga bermain gemilang. Perannya sebagai gembong penjahat yang dingin, sadis dan kejam bisa diperankan dengan mulus. Pengalaman tentu menjadi senjata utamanya. Sayangnya akting Ray tidak bisa diimbangi oleh pemain lain, utamanya oleh Joe Taslim ( berperan sebagai sersan Jaka pimpinan penyerbuan ) yang seperti marah-marah sepanjang film atau Pierre Gruno ( berperan sebagai Letnan Wahyu ) yang tidak bisa melepas karakter sinetronnya yang kaku.

The Raid meraih penghargaan di beberapa festival film internasional seperti di Toronto Film Festival. Ini tentu sebuah prestasi membanggakan, apalagi karena film ini kemudian dibeli hak tayangnya di beberapa negara termasuk Amerika Serikat. Sebuah sinar terang di tengah maraknya film rendah mutu produksi asal-asalan dari pencari uang, bukan pembuat film.

Kalau anda adalah orang yang senang melihat para pelaku kejahatan dipukuli polisi, The Raid tentu jadi pilihan seperti puluhan penonton di bioskop yang bertepuk tangan setiap kali Rama berhasil membunuh para penjahat itu. Tontonlah The Raid, tapi tentu anda harus mempersiapkan diri untuk adegan sadis yang digarap halus dan terlihat nyata.

Buat saya, The Raid ibarat orgasme tanpa foreplay. Puas, tapi masih ada yang kurang.

[dG]

March 30, 2012 in Film, Jumat, Review
Geliat Cakar di Sudut Kota Makassar 5

Geliat Cakar di Sudut Kota Makassar

cakar

Saslah satu pedagang cakar di Aroepala

Pemandangan di Aroepala dalam beberapa bulan ini seperti sebuah pertanda akan datangnya masa keemasan baru dari barang import bekas ini.

Ada pemandangan baru di jalan Aroepala dalam beberapa bulan belakangan ini. Beberapa pedagang pakaian bekas import atau yang lazim disebut cakar ( singkatan dari cap karung ) menghiasi sudut-sudut jalan besar yang belum lama terbentuk itu.

Para pedagang itu menggelar dagangan mereka di bahu jalan. Sebuah terpal plastik besar dibentangkan di tanah, di atasnya tumpukan pakaian bekas itu dibiarkan begitu saja. Di bagian samping dan depan masih ada puluhan lembar pakaian lainnya yang digantung dengan hanger. Ragamnya ada banyak, dari kaos, kemeja, jaket, celana pendek hingga jeans dan jaket kulit.

Awalnya hanya satu, bertempat dekat jalan masuk sebuah kompleks perumahan. Belakangan, beberapa ratus meter dari situ pedagang lainnya juga mencari rejeki dengan peluang yang sama. Sekarang pesaing dari celah yang sama makin bertambah. Bukan hanya pakaian tapi juga berlembar-lembar selimut dan bed cover bekas import mereka jajakan. Makin hari Aroeppala makin ramai oleh geliat para pedagang cakar itu.

Ini entah kebangkitan yang keberapa untuk barang-barang bekas import itu. Sekitar belasan tahun sebelumnya, cakar pernah jadi primadona di kota Makassar. Ketika itu Indonesia belum sepenuhnya sembuh dari krisis moneter yang menghantam di akhir tahun 90an. Harga-harga melambung tinggi sementara pendapatan hampir tak bergerak. Sandang sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia jadi susah untuk diraup, dan dari celah itulah cakar datang dan perlahan menjadi primadona.

Sebelum krisis moneter menghantam, cakar sudah ada. Dia datang melalui jalur ilegal, biasanya masuk lewat pulau Kalimantan yang kemudian dibawa menyeberang melalui kota Pare-Pare (sebelah utara kota Makassar ) Dari sana cakar kemudian masuk ke Makassar. Sebelum krisis moneter menghantam, cakar dipandang sebelah mata. Pelanggannya hanya orang-orang yang memang tidak mampu masuk ke toko yang layak untuk membeli pakaian baru.

Krisis moneter mengantar cakar naik ke level yang lebih tinggi. Pelanggannya makin beragam, bukan cuma mereka yang tidak mampu, tapi juga mereka yang mengejar merk. Satu-dua merk ternama memang kadang terselip di antara tumpukan barang-barang bekas itu. Kondisinyapun masih lumayan, hanya perlu laundry sebelum barang-barang itu nampak seperti baru kembali. Dari sisi harga tentu berbanding jauh, dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah di toko berbanding dengan harga belasan ribu dan puluhan ribu di kios cakar.

Di masa jayanya kios cakar tumbuh subur di pelbagai sudut kota Makassar. Di hari-hari libur berderet mobil-mobil mengkilap dan baru di depan pusat penjualan cakar. Tanda kalau level cakar memang naik beberapa tingkat. Usaha cakar menggeliat, dan orang-orang mereguk nikmatnya keuntungan dari sana.

Tapi hidup memang seperti roda yang berputar. Ekonomi Indonesia makin membaik, harga-harga makin terjangkau dan persaingan makin sehat. Mereka yang biasanya hanya mampu mampir di cakar kemudian kembali menjejakkan kaki ke toko yang lebih nyaman. Distro menyerbu Makassar, memberi pilihan yang lebih banyak kepada anak muda yang ingin tampil trendy. Mall makin subur, pun dengan usaha fashion yang lain.

Cakar mulai tersisihkan. Satu per satu pusat penjualan cakar tutup. Sementara yang masih bertahan mulai sepi dikunjungi pembeli. Beberapa pedagangnya memilih banting setir berjualan barang-barang yang katanya dari kapal, barang selundupan tentu saja. Barang-barang itu berupa jam tangan, kaca mata, tas branded dan banyak macam parfum.

Isu flu burung dan kemudian flu babi yang menular melalui cakar serta regulasi yang ketat dari pemerintah terhadap barang selundupan makin membuat sinar cakar meredup. Era keemasannya berlalu secara perlahan. Mereka yang bertahan tak bisa lagi dengan santainya mereguk nikmat madu keuntungan. Barang mereka terkulai lusuh, ragamnyapun tak semeriah dulu ketika masa keemasan itu masih ada.

Pemandangan di Aroepala dalam beberapa bulan ini seperti sebuah pertanda akan datangnya masa keemasan baru dari barang import bekas ini. Mungkin mereka tak akan kembali persis seperti masa jaya dulu, tapi setidaknya ada geliat yang terlihat di sana.

Hidup itu memang persis seperti sebuah roda, kadang ada di atas dan kadang ada di bawah. Pameo itu juga berlaku untuk bisnis cakar di Makassar. Mungkin tidak di semua tempat, tapi setidaknya di beberapa sudut kota saya melihat kalau cakar mulai merangkak ke atas setelah sempat lama ada di bawah.

Gelinding roda ini entah akan mencapai puncak tertingginya seperti dulu atau tidak, saya tidak tahu. Saya hanya melihat bukti bahwa setiap sore ruas jalan Aroepala akan padat oleh mereka yang mampir ke pedagang cakar di sisi jalan.

Setiap sore saya jadi saksi bahwa bisnis cakar sedang menggeliat kembali di kota Makassar, setidaknya di beberapa titik. Entah sampai mana dan sampai kapan.

[dG]

March 29, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar, Sekitarku
Komunitas ; Sebuah Sekolah Kehidupan 9

Komunitas ; Sebuah Sekolah Kehidupan

Anging Mammiri di acara Blog For Life - Juli 2007

Mereka tidak pernah menagih sejumlah rupiah untuk kerja keras mereka, mereka tak pernah membuat hitungan berapa jumlah rupiah yang harus dibayar untuk semua waktu dan tenaga yang sudah mereka buang untuk Anging Mammiri. Mereka percaya, cinta dan kebersamaan itu nilainya jauh lebih besar dari rupiah yang terbuang, dari tenaga yang terbuang dan dari waktu yang terbuang.

Suatu hari di awal tahun 2007, saya mulai aktif membuat blog. Sedikit demi sedikit kesenangan saya menulis mulai menemukan aliran yang pas. Dari membuat blog saya mulai blogwalking, berkunjung ke blog orang lain secara acak. Satu persatu dari mereka menjadi karib saya meski hanya di dunia maya.

Penjelajahan secara acak itu kemudian mendamparkan saya pada sebuah blog komunitas. Dari namanya saya tahu komunitas itu berbasis di kota tempat saya tinggal, Makassar. Komunitas blogger Makassar, namanya Anging Mammiri. Tak butuh waktu lama saya bergabung di sana, memasang banner di blog saya dan kemudian ikut mailing listnya.

Suatu hari di bulan Juli 2007, saya akhirnya punya kesempatan untuk bertemu mereka yang selama ini hanya saya kenal dari dunia maya. Suasana ribut, akrab dan guyub yang sudah menancap di kepala saya berkat interaksi di maling list ternyata berlanjut ke dunia nyata. Mereka semua hampir sama dengan gambaran yang ada di kepala saya selama ini.

Hari itu adalah awal dari sebuah interaksi panjang yang terus terjalin hingga hari di mana saya menuliskan cerita ini. Anging Mammiri perlahan-lahan menjadi sebuah bagian dari perjalanan saya hampir selama 5 tahun belakangan ini. Dari pertemuan pertama itu saya makin akrab dengan mereka. Empat bulan kemudian saya didaulat teman-teman baru itu untuk menjadi moderator dalam acara puncak ulang tahun Anging Mammiri yang pertama. Sebuah kehormatan di masa bergabung saya yang belum genap setahun.

Saya ketika menjadi moderator

Perlahan-lahan kedekatan itu memang makin terasa. Saya ikut larut dalam masa naik turunnya geliat komunitas itu. Tahun-tahun berikutnya saya makin larut dalam setiap derap kesibukan teman-teman Anging Mammiri yang menggelar acara, meski terkadang ada saja halangan yang membuat saya tidak bisa menampakkan diri.

Akhir 2009 Anging Mammiri masuk ke dalam fase vakum. Sang ketua kami sibuk dengan karirnya, pun dengan beberapa anggota inti lainnya. Jadwal pertemuan antar anggota makin melonggar, ide-ide kegiatan semua mengawang-awang. Anging Mammiri seperti seorang putri yang sedang terlelap menunggu datangnya ciuman dari sang pangeran.

Sampai awal 2010 kondisi ini masih berlangsung. Satu persatu anggota sibuk dengan hidupnya masing-masing. Mailing list yang biasanya menghantar ratusan email per hari saat itu sepi bagai Troya selepas serangan pasukan Yunani. Tersisa beberapa orang saja yang masih bertahan dengan semangat untuk terus menghidupkan Anging Mammiri.

Suatu malam kami berkumpul. Saya menyebut mereka sebagai survivor, orang-orang yang dengan semangat luar biasa dan kecintaan luar biasa pada komunitas ini tetap punya mimpi untuk kembali menghidupkan Anging Mammiri, membuatnya kembali berhembus seperti namanya, angin sepoi-sepoi. Perbincangan malam itu membuat sebuah lembaran baru terbuka.

Harapan itu kembali menyala, wajah-wajah kami sumringah, senyum mengembang. Anging Mammiri harus bertiup lagi, dan kami bisa melakukannya.

Tidak gampang, semua butuh usaha. Tapi satu hal yang saya yakini, kekuatan semangat dan rasa cinta yang besar dari teman-teman para survivor itulah yang kemudian membuat Anging Mammiri yang sempat tertidur nyenyak sekarang bangkit dan mulai menggeliat. Kekuatan semangat dan cinta yang sama sekali tidak melibatkan uang atau materi lainnya.

Bukan sekali dua kali saya melihat bagaimana teman-teman berjuang dengan menghilangkan kata lelah dari kamusnya. Bukan satu dua kali saya melihat bagaiman gesekan dan amarah kadang hadir dalam interaksi kami. Tapi, ketika semua cinta dan semangat itu diangkat maka segala gesekan dan amarah seperti debu yang tersapu air hujan. Hilang, lenyap tak berbekas.

Teman-teman bukan satu dua kali meluangkan waktu dan tenaganya untuk sebuah kegiatan yang dibangun atas dasar kebersamaan. Mereka tidak pernah menagih sejumlah rupiah untuk kerja keras mereka, mereka tak pernah membuat hitungan berapa jumlah rupiah yang harus dibayar untuk semua waktu dan tenaga yang sudah mereka buang untuk Anging Mammiri. Mereka percaya, cinta dan kebersamaan itu nilainya jauh lebih besar dari rupiah yang terbuang, dari tenaga yang terbuang dan dari waktu yang terbuang.

Anging Mammiri bagi saya adalah sebuah sekolah kehidupan. Di sana saya belajar bertoleransi, belajar berbagi pendapat, belajar berdebat dan tentu saja belajar menghargai orang lain. Bukan sekali dua kali saya terjatuh pada kesalahan yang membuat bara api seperti tersulut. Tapi mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka menerima itu semua sebagai sebuah pelajaran dan membuat saya bangga punya teman-teman seperti mereka.

Komunitas ini benar-benar seperti sebuah sekolah kehidupan bagi saya. Saya mencintainya dan saya melindunginya seperti seekor anjing yang melindungi tuannya. Saya akan gampang tersulut ketika seseorang berusaha mengusik teman-teman saya, mengusik kebersamaan yang sudah terbangun dengan susah payah ini.

Tahun ini hampir genap 5 tahun saya berada di komunitas ini. Semakin hari saya semakin sadar kalau saya berada di tempat yang tepat. Tempat untuk belajar banyak hal tentang kehidupan, belajar tentang kebersamaan, belajar tentang toleransi. Satu pelajaran penting yang saya terima dari perjalanan hampir lima tahun di komunitas ini adalah : uang tidak bisa membeli kebersamaan dan rasa cinta dan uang bukan perekat utama sebuah kebersamaan.

 

[dG]

March 28, 2012 in angingmammiri, Rabu

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site