Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Alam wabah laut ( foto by : Jitho) Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan bagian...

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang
Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Press and Marine Excursion Minggu ini saya akan keluar dari aturan yang saya buat. Kalau biasanya...

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde
Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Author Archive

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang 0

Spermonde 2 ; Takabakang Sayang, Takabakang Malang

Alam wabah laut ( foto by : Jitho)

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan bagian pertama.

Malam baru saja turun ketika kami merapat di dermaga Barrang Lompo. Rombongan berpencar, sebagian besar menyisir pulau Barrang Lompo, melihat langsung kehidupan warga di malam hari. Selepas sholat maghrib, saya dan Mamie menyusul teman-teman yang ternyata sedang nongkrong di sebuah cafe sederhana. Mungkin satu-satunya cafe di pulau itu. Namanya cafe Ade.

Jangan membayangkan cafe serupa cafe di kota-kota besar. Lebih? tepat bila disebut warung kopi meski di gerbang yang terbuat dari bambu dan dihiasi lampu kerlap-kerlip jelas terlihat tulisan Cafe. Cafe yang ini berisi beberapa bangunan dari bambu beratap rumbia, isinya meja kayu dan beberapa kursi plastik. Lantainya? Pasir putih! Cafe ini menghadap ke laut lepas dengan view sunset. Sayang kami tiba di malam hari, ketika sunset sudah lewat beberapa jam.

Di cafe itu kami bercanda ria, menghabiskan beberapa gelas minuman hangat dan beberapa porsi mie instant. Sederhana tapi sangat menyenangkan.
Selepas dari Cafe Ade kami kembali berpencar, berkeliling pulau yang tak seberapa besar itu, pungkas dikelilingi dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit. Jejak modernisasi memang makin terlihat di Barrang Lompo. Selain cafe, ternyata setidaknya ada 4 pusat permainan bilyard di seputar pulau yang jadi semacam jalan poros.

Setiba di dermaga, angin terasa makin kencang. Ombakpun tidak tenang, kapal-kapal kecil yang terparkir di dermaga bergoyang keras diterpa angin dan dibuai ombak. Kapal Novita Saripun serupa. Ketika naik sebentar ke atas kapal saya langsung disergap rasa pusing karena goyangan kapal yang tak biasa.

” Ombak setinggi rumah di Takabakang” Kata seorang nelayan penduduk asli. Takabakang, itu nama daerah yang akan kami tuju malam itu. Kalau ombaknya setinggi rumah, tentu bukan keputusan tepat untuk menuju ke sana sesuai rencana. Mungkin si bapak berlebihan, tapi bisa juga benar. Apalagi dia nelayan yang tentu paham gejala alam.

” Ini biasa, dan makin malam cuaca biasanya akan makin bersahabat”, Begitu kata Om Bakri salah seorang panitia yang juga sudah belasan tahun jadi diver.

Malam itu kami habiskan dengan makan malam dan duduk bercengkerama di dermaga. Di antara rombongan juga ada bapak Andi Januar Jaury, seorang anggota legislatif yang sudah lama akrab dengan laut dan industri pariwisata. Karena akrab, kami menyapanya dengan sapaan Om JJ.

Semakin malam angin semakin bersahabat, pun dengan ombak. Menjelang pukul 11 malam kami bubar, satu persatu peserta naik ke Novita Sari dan mengambil tempat untuk beristirahat. Saya belum terlelap betul ketika merasakan kapal Novita Sari mulai meninggalkan dermaga Barrang Lompo. Saya melirik jam tangan, jam 23:35. Selama 6 jam ke depan kami akan ada di atas kapal menuju daerah Takabakang.

Jackpot!

Sepanjang perjalanan, tidur saya tidak nyenyak. Ombak yang rupanya tidak tenang membuat kapal bergoyang dengan hebohnya. Ketika melirik jam tangan, saya sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 5:18 pagi. Ketika bergerak ke WC saya juga sadar kalau kapal memang bergoyang dengan heboh. Beberapa peralatan memasak berhamburan karena ombak, termasuk galon air mineral. Selesai menuntaskan hajat, saya melihat matahari mulai timbul di belakang sana. Semburat merahnya mulai terlihat. Ah, waktu yang tepat untuk berburu sunrise, pikir saya.

Dengan sempoyongan saya berjalan ke arah depan, tepatnya ke arah pintu samping mencari posisi yang kira-kira tepat untuk berburu sunrise. Kamera masih di tas, saya belum terpikir untuk membawanya. Tiba di pintu samping kapal, saya tidak tahan lagi. Rasa mual dan pusing karena goyangan kapal tiba-tiba membuat saya terpaksa mengeluarkan isi perut. Yah..jackpot! saya muntah beberapa kali.

Selepas muntah saya tidak terpikir lagi untuk berburu sunset. Lebih baik kembali ke tempat tidur sambil berharap badan ini jadi lebih nyaman.

Saya mencoba terlelap meski tidak mudah karena ternyata kapal tetap bergoyang dengan hebohnya. Sekitar sejam kemudian saya merasa kapal berhenti. Rupanya kami sudah sampai di Takabakang, sebuah gugusan karang yang biasanya jadi dive spot. Anak-anak memutuskan untuk turun snorkling untuk menghilangkan rasa mual dan mabuk laut. Ternyata bukan cuma saya yang jackpot, hampir semua peserta kecuali dive instruktur dan ABK merasakan mual dan bahkan sampai ikut muntah.

Baiklah! Mari kita snorkling, begitu pikir saya. Tapi sebelum terjun ke laut saya masih sempat menumpahkan isi perut, muntah beberapa kali sampai rasa pahit yang tersisa karena memang sudah tidak ada isi perut lagi yang bisa dikeluarkan kecuali asam lambung. But show must go on, mari kita terjun.

Dengan snorkle dan mask serta life vest saya terjun ke laut lepas yang kedalamannya sampai 4 meter. Ketika pertama melihat ke bawah saya kaget, ternyata pemandangan di bawah laut sangat menyeramkan. Karang-karangnya banyak yang hancur dan berwarna putih, tandanya sudah rusak. Lelaki Bugis yang juga ikut bersama kami ke trip Taka Bonerate juga langsung merasa kecewa. Wajar karena dia sudah melihat pemandangan luar biasa indah di Taka Bonerate dan kemudian mendapati keadaan yang sebaliknya di Takabakang.

Karang di Takabakang yang hancur ( foto by: Jitho)

Ah, Takabakang yang Malang

Kami tidak lama menghabiskan waktu di laut Takabakang. Ombak dan arus semakin deras, kami bahkan harus berpegangan pada tali agar tidak terbawa arus menjauh dari kapal. Selesai snorkling, saya, Mamie dan Lelaki Bugis duduk di buritan kapal. Rasa mual masih ada karena ombak yang memang masih rajin membuai Novita Sari.

Tak lama, Om JJ dan rombongan diver datang. Mereka baru saja menghabiskan waktu dengan menyelam di beberapa titik. Dengan kesal, Om JJ memberikan kesannya tentang karang di sekitar Takabakang yang memang sudah rusak parah.

” Tahun 2004 saya terakhir ke sini, kondisinya masih bagus. Tapi sekarang, semua sudah hancur”, Katanya dengan mimik muka kesal dan prihatin. ” Pemerintah gagal menjaga asetnya”, tambahnya lagi.

Kerusakan karang ditengarai karena aksi illegal fishing seperti pengeboman dan pembiusan yang memang sangat merugikan karang-karang yang seharusnya menjadi biota yang dilindungi karena berperan penting menjaga kelangsungan hidup ikan-ikan.

Karang lain yang hancur (foto by: Jitho)

Kami baru melihat sepintas dari aktifitas snorkling kami, tapi komentar dari Om JJ dan diver lainnya adalah testimoni jujur tentang laut yang semakin hari memang semakin rusak. Susah mencari benang simpulnya. Sebagian besar kerusakan memang melibatkan faktor ekonomi, tentang bagaimana nelayan harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan mereka meski dengan cara yang terlalu rakus.

Solusinya tidak sederhana memang, butuh komitmen dan konsistensi dari semua pihak dengan pemerintah sebagai pemegang tanggung jawab terbesar. Sulawesi Selatan butuh pemerintah yang mau belajar pada propinsi lain yang sudah lebih sadar untuk menjaga kekayaan lautnya.

Ah, Takabakang yang malang. Tanpa kerja keras dan kesadaran semua pihak, daerah itu akan tinggal sejarah sebagai daerah yang pernah punya biota laut yang beragam dan menawan.

Jam 9:45 Novita Sari bergerak meninggalkan Takabakang. Tujuan berikutnya adalah pulau Kapoposang, sekitar 4 jam perjalanan lagi. Sebelum meninggalkan buritan kapal, Lelaki Bugis juga sempat jackpot. Saya menertawainya, tapi selang beberapa lama kemudian saya juga ikut muntah untuk ketigakalinya.

Ah, ombak ini memang sungguh membuat saya menderita. Akhirnya saya memilih memejamkan mata, tidur di lantai yang basah hingga tiba di Kapoposang. Lupakan soal sarapan, sama sekali tidak ada nafsu untuk menyentuh makanan yang sebenarnya begitu banyak tersedia.

Kapoposang, kami datang. Dan ah Takabakang, semoga nasibmu bisa membaik.

[Bersambung ke bagian ketiga]

[dG]

May 22, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde 4

Spermonde 1 : Senja Indah Di Spermonde

Press and Marine Excursion

Minggu ini saya akan keluar dari aturan yang saya buat. Kalau biasanya saya menulis dengan tema berbeda setiap hari, maka minggu ini saya isi penuh dengan catatan perjalanan ke Spermonde dalam kurun waktu tanggal 17-20 Mei kemarin.

Sore menjelang jam 16:00, saya dan 4 orang blogger lainnya berkumpul di dermaga penyeberangan pulau khayangan. Selain kami sudah ada puluhan orang lainnya. Mereka adalah kru dan reporter dari beberapa stasiun televisi swasta lokal, dari ANTV dan sisanya adalah wartawan dari harian lokal.

Blogger Makassar mendapat undangan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang menggelar acara “PRESS AND MARINE EXCURSION” di Kepulauan Spermonde. Dinas Budpar SulSel bekerjasama dengan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) wilayah SulSel berinisiatif untuk mengajak rekan-rekan media dan blogger untuk melihat langsung keadaan di kepulauan Spermonde. Selain sebagai corong wisata juga sekaligus untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya dari gugusan kepulauan di selat Makassar itu.

Anging Mammiri dapat dua jatah dan melalui mekanisme penilaian siapa yang paling konsisten ngeblog dalam 2 bulan terakhir, akhirnya terpilih Iqko dan Mamie untuk mewakili AM. Saya meminta satu jatah tambahan untuk saya, jadi genaplah kami bertiga mewakili Anging Mammiri. Sementara itu ada Mustamar dan Lelaki Bugis yang mewakili Koshmediatama, sebuah perusahaan yang jadi rekanan Dinas Budpar dan diisi teman-teman blogger. Lelaki Bugis sebenarnya hanya menggantikan Daeng Mappe yang tidak bisa ikut karena kesibukan. Jadi total ada 5 orang blogger AM yang ikut dalam ekspedisi ini.

Para Blogger di atas kapal Novita Sari

Pukul 16:18 kapal Novita Sari meninggalkan dermaga penyeberangan pulau Khayangan. Kapal ini adalah kapal kayu lumayan besar milik H. Dahrin yang sehari-harinya beroperasi antara Makassar dan pulau Barrang Lompo (sekitar 1 jam perjalanan di luar Makassar). Deretan bangku kayu mengisi bagian dalam kapal dan bisa memuat 100 orang. Hari itu total peserta ada 31 orang di luar ABK, dive instruktur dan beberapa orang tenaga kesehatan dan tim SAR.

Perlahan kami mulai meninggalkan dermaga. Cuaca Makassar terang dan ombak tenang, membuat kami yakin perjalanan akan menyenangkan. Rencananya selama dua malam kami akan bermalam di atas kapal dan menyisir kepulauan Spermonde sambil berhenti di beberapa pulau utama untuk snorkling dan menikmati keindahan pulau.

Spermonde sendiri adalah istilah dari bahasa Belanda yang diberikan kepada gugusan pulau-pulau yang membentang di Barat daya pulau Sulawesi mulai dari Takalar di bagian selatan hingga ke Pare-Pare di bagian utara. Dinamakan spermonde karena jika dilihat dari atas, gugusan kepulauan ini memang menyerupai bentuk sperma. Spermonde terdiri dari kurang lebih 130 pulau berpenghuni dan tidak berpenghuni.

Pulau pertama yang kami lewati hari itu adalah pulau Lae-Lae, sebuah pulau padat yang paling dekat dengan Makassar. Dari pantai Losari, pulau Lae-Lae sudah bisa terlihat jelas. Kami hanya berhenti sejenak di bagian luar pulau, perjalanan kemudian dilanjutkan kembali.

Setelah Lae-Lae kami berhenti sejenak di luar pulau Samalona. Salah satu pulau yang sudah terkenal sebagai tempat wisata di sekitar Makassar. Pulau berpasir putih dan berair jernih ini memang sangat menyenangkan untuk dijadikan tempat beristirahat dan bersantai di hari libur. Kami sudah sering berkunjung ke sana.

Sepanjang perjalanan, saya dan teman-teman blogger lainnya duduk di buritan bersama teman-teman kru televisi lokal. Kami dipandu pak Muchsin dan pak Bakri dari POSSI yang terus menjelaskan tentang pulau-pulau yang kami lewati.

Setelah Samalona, kami menghampiri Kodingareng Keke. Pulau tak berpenghuni yang juga menawarkan tempat indah untuk bersantai menikmati laut. Mentari mulai pulang, malam menjelang. Kami beranjak dari sisi Kodingareng Keke menuju ke pulau Barrang Lompo.

Pulau Barrang Lompo ini adalah pulau terpadat di kawasan Spermonde. Pulau seluas 49 Ha ini terkenal sibuk. Banyak aktifitas warga di sana, sebagian besar adalah para nelayan dan sisanya adalah pedagang. Pulau ini terkenal dengan sebuah lorong yang disebut ?lorong janda? merujuk kepada banyaknya istri yang menjadi janda karena suaminya meninggal di laut. Sebagian besar karena aktifitas menyelam yang tidak aman. Mereka para pencari teripang itu biasanya hanya menyelam dengan bantuan udara dari kompressor ban seperti yang dipergunakan tukang tambal ban. Unsur safety tidak mereka perhatikan, dengan udara yang sebagian besar adalah nitrogen itu mereka menyelam hingga kedalaman puluhan meter. Karena kecerobohan sendiri, banyak di antara mereka yang kemudian lumpuh bahkan meninggal dunia.

Di sekitar Barrang Lompo juga banyak pulau lainnya yang berserakan seperti pulau Barrang Caddi dan pulau Kodingareng Lompo. Makassar masih terlihat dari sana, kami belum berasa jauh.

Spermonde

Senja Yang Indah Di Spermonde

Dalam perjalanan ke Barrang Lompo kami bertemu sunset yang indah. Guratan awan menyembunyikan matahari, tapi justru kemudian menimbulkan kesan dramatis karena cahayanya masih tembus hingga membentuk semburat warna oranye. Pemandangan ini tentu tidak saya sia-siakan. Hasilnya beberapa frame dengan latar yang luar biasa itu bisa saya rekam.

Malam makin merangkak turun. Lewat jam 7 malam kami merapat di dermaga Barrang Lompo. Kami akan berisitrahat di pulau itu sambil makan malam. Rencananya jam 12 malam nanti perjalanan akan dilanjutkan ke Takabakang, sebuah gugusan karang berjarak sekitar 5 jam perjalanan dari Barrang Lompo.

[lanjut ke bagian kedua]

[dG]

May 21, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Merajut Kebersamaan Dari Sebatang Jarum 1

Merajut Kebersamaan Dari Sebatang Jarum

qui qui Makassar, asyik tenggelam dalam rajutan

Sore itu di Fort Rotterdam saya melihat sendiri bagaimana mereka para perajut itu merajut keceriaan dari benang dan jarum rajut mereka.

Sore di Fort Rotterdam. Matahari bersinar garang, benteng peninggalan jaman Gowa Tallo itu tersiram cahaya matahari. Di salah satu sudut benteng itu sekumpulan wanita muda duduk berkeliling di atas hamparan terpal plastik dan spanduk bekas. Di tengah lingkaran ada beberapa kantongan plastik berisi makanan kecil, kue tradisional dan benang rajut.

Di luar lingkaran beberapa lelaki muda duduk bergerombol. Mereka hanya mengamati wanita-wanita itu yang dengan hebohnya terus saja bertukar cerita. Seorang dari lelaki di luar lingkaran sesekali ikut dalam percakapan para wanita itu.

Tak berapa lama seorang wanita muda lainnya datang. Dia adalah ibu dari seorang anak, ibu muda tepatnya. Dengan penuh semangat dia memamerkan dua jarum rajut yang baru didapatnya dari Belanda. Teman-teman yang lain menimpali, berebutan melihat salah satu jarum yang sekilas bentuknya seperti sikat gigi. Anna nama si wanita yang baru datang, dia juga lebih akrab disapa NyomNyom.

Selanjutnya obrolan wanita-wanita itu berada di seputar jarum, benang rajutan dan teknik rajutan. Mereka bertukar cerita tentang beragam benda rajutan yang sedang mereka kerjakan. Tak berapa lama wanita lain ikut bergabung dan pembicaraan tentang rajut merajut semakin ramai.

Asyik merajut

Asyik merajut

Itu sepintas cerita tentang piknik komunitas merajut di Makassar. Mereka adalah komunitas yang terbentuk dari pertemuan intens beberapa ibu-ibu muda yang senang merajut. Awalnya berpindah-pindah tempat sebelum akhirnya mereka sepakat untuk berkumpul di Kampung Buku, sebuah rumah yang pintunya selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung.

Setiap hari Minggu sore mereka berkumpul di sana, tepatnya di Perumahan CV Dewi Jalan Abdullah Daeng Sirua. Tepat di samping kantor lurah. Pertemuan itu bersifat cair, mereka berbagi ilmu merajut dan sama-sama belajar teknik baru. Sekali sebulan, tepatnya di minggu kedua mereka akan berkumpul di Fort Rotterdam. Mereka menyebutnya piknik merajut. Piknik sambil tentu saja tetap mengobrol seputar dunia merajut.

Tidak semuanya wanita. Salah satu yang aktif dalam komunitas itu adalah seorang pria muda bernama Barack. Pria muda berambut gondrong itu sering saya dapati asyik dengan benang dan jarumnya. Dia sering nampak serius menyelesaikan rajutannya dengan sebuah kertas kecil bertuliskan kombinasi rajutan. Sepintas itu seperti kode yang hanya dipahami mereka yang senang merajut.

Awalnya agak aneh bagi saya mengingat tampang Barack yang macho. Mendengar kata merajut saya langsung terbayang wanita tua berkonde yang duduk di kursi goyang dan menghabiskan waktu pensiun dengan membuat sweater atau syal. Barack membuyarkan pikiran saya, dia adalah anomali dalam istilah merajut.

Tapi kenapa dia sampai tertarik untuk merajut? Lelaki itu tersenyum dan dengan jujur dia mengakui kalau awalnya itu hanya modus. Di awal terbentuknya, komunitas merajut Makassar memang diisi wanita-wanita muda dan ibu-ibu muda. Jelas ini adalah daya tarik bagi lelaki muda. Lelaki mana yang tidak senang berada dalam kerumunan wanita? Itu motivasi awal dari Barack rupanya.

Barack (paling depan kedua dari kanan) di antara para perajut

Tapi seiring berjalannya waktu, Barack menemukan kenyamanan dari aktifitas merajut. Makin lama dia makin jatuh cinta sambil tentu saja makin mahir menciptakan beragam benda dari benang rajutan. Barack juga menemukan keuntungan lain dari merajut.

” Saya bisa mengurangi rokokku. Kalau sedang fokus merajut, saya bisa tidak merokok berjam-jam” Begitu katanya. Ternyata secara tidak langsung merajut juga membuatnya melupakan rokok.

Seperti halnya komunitas lainnya, komunitas perajut Makassar yang menyebut diri mereka Qui-Qui ( merajut dalam bahasa Makassar) berjalan dengan niat dasar untuk berbagi. Mereka tidak terlalu berpikir tentang materi atau keuntungan dari hasil rajutan mereka. Meski begitu mereka juga mengaku mendapatkan kepuasan batin ketika berhasil membuat sebuah rajutan yang bisa dihadiahkan ke orang lain. Sebuah benda yang dibuat dengan tangan sendiri memang selalu memberi kepuasan lebih karena usaha dan cerita di baliknya.

Sore itu di Fort Rotterdam saya melihat sendiri bagaimana mereka para perajut itu merajut keceriaan dari benang dan jarum rajut mereka. Beberapa obrolan mereka sulit saya cerna, utamanya ketika mereka menyebut beberapa istilah teknik merajut, tentang benang yang unik dan susah didapatkan atau tentang jarum rajut yang harganya bisa sampai ratusan US dollar di internet. Terlihat sekali semangat yang mengalir dari benang dan jarum yang menyatukan mereka.

Bila punya waktu, sesekali datanglah ke piknik mereka dan anda akan merasakan semangat yang membara. Semangat berbagi lewat jarum dan benang. Mereka merajut keceriaan dari sebatang jarum. Ah, indahnya.

[dG]

Menikmati Senja di Rotterdam 6

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam

Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu tujuan wisata untuk melewati senja

Minggu sore yang cerah, matahari bersinar garang di atas kota Makassar. Saya bersama beberapa orang wanita dan beberapa pria duduk santai di atas hamparan karpet plastik dan spanduk bekas. Mereka asyik mengobrol tentang jarum, benang dan teknik merajut sementara saya cuma mendengarkan dengan takjub.

Sore itu saya berada di antara komunitas perajut Makassar. Mereka adalah ibu-ibu muda, remaja putri dan seorang lelaki muda yang memang punya hobi menjalin benang dengan teknik merajut. Saya akan bercerita tentang mereka di tulisan yang lain. Sore itu ada hal lain yang membuat saya merasa begitu nyaman, lokasi yang mereka pilih sebagai tempat untuk piknik.

Mereka memilih Fort Rotterdam sebagai tempat untuk berkumpul di Minggu sore itu. Sebuah benteng peninggalan jaman Belanda yang terletak dekat dengan pantai Losari. Sudah lama saya tidak menginjakkan kaki di benteng itu, terakhir ke sana Fort Rotterdam sedang dalam masa renovasi. Sore itu, Fort Rotterdam terlihat indah dan bersih meski memang sangat disayangkan karena ada banyak peninggalan asli berupa genteng dan ubin yang harus diganti.

Suatu Sore di Fort Rotterdam

Benteng Fort Rotterdam ini adalah salah satu benteng sisa kerajaan Gowa-Tallo yang masih tersisa. Aslinya bernama benteng Ujung Pandang. Penjelasan lengkap dari Wikipedia adalah sebagai berikut :

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Komunitas Perajut di Fort Rotterdam

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.

Anak kecil yang manis di Fort Rotterdam

Sore itu Fort Rotterdam terlihat ramai. Di beberapa titik ada sekumpulan anak-anak muda yang melingkar atau bergerombol. Mereka mungkin satu komunitas. Banyak juga yang datang untuk sekadar bersantai bersama teman, pacar atau keluarga. Sesi berfoto bersama tentu tak terlewatkan.

Untuk masuk ke Fort Rotterdam tidak perlu mengeluarkan biaya, cukup mengisi buku tamu di bagian depan. Biaya baru akan dibutuhkan jika ingin masuk ke dalam museum. Itupun besarnya tidak seberapa, hanya Rp. 5.000,- saja.

Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu tujuan wisata untuk melewati senja. Duduk di dinding benteng sambil mellihat matahari yang beranjak pulang bisa jadi sangat menakjubkan. Datang dan nikmatilah sendiri.

[dG]

May 15, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Menyimpan Data di Awan 1

Menyimpan Data di Awan

Diagram Cloud Computing

Terdapat setidaknya 4 manfaat yang dapat langsung dirasakan oleh pengguna layanan XCloud: simpel, cepat, fleksibel, dan biaya nya dapat dikontrol.

Seorang teman panik. Data skripsinya yang sudah dikerja sekian lama hilang begitu saja ketika flash disk yang digunakannya tidak dapat diakses. Terbayang semua jerih payahnya selama ini yang harus hilang. Memang ada cadangan di hard disk, tapi itu cadangan lama dan sudah banyak perubahan sejak terakhir disimpan.

Kehilangan data akibat kesalahan teknis adalah hal yang sering terjadi dan hasilnya akan sangat menyebalkan. Bayangkan kalau hal seperti itu terjadi pada sebuah institusi yang lebih besar seperti perusahaan. Tentu resiko kerugian akan semakin besar. Itulah sebabnya banyak perusahaan besar kemudian menyediakan server atau hosting sendiri untuk menyimpan data mereka. Tentu dengan biaya yang tidak sedikit.

Jaman kemudian terus berubah. Perkembangan teknologi informatika juga terus berubah, bahkan sangat pesat. Sekarang semua banyak tergantung pada sesuatu bernama internet, jaringan yang memungkinkan semua orang terhubung kapan saja dan di mana saja.

Perkembangan jaringan internet itu juga yang kemudian memunculkan sebuah terobosan bernama cloud computing atau komputasi awan. Sepintas terdengar aneh, komputer yang digantung di awan? Atau komputer yang terbang di awan? Istilah ini dimunculkan karena gambar diagram komputasi yang memang kadang banyak menggunakan gambar serupa awan.

Ringkasnya, layanan cloud computing ini adalah sebuah terobosan di mana beberapa vendor menyediakan sebuah server atau hosting yang bisa diakses oleh pelanggan menggunakan aplikasi berbasis web atau aplikasi khusus menggunakan jaringan internet. Melalui cloud computing, para vendor apalagi perusahaan bisa menghemat biaya yang besar karena mereka tidak perlu lagi membeli server khusus untuk menyimpan data mereka.

Penyedia layanan cloud computing sudah banyak, bukan hanya penyedia layanan server tapi juga produsen perangkat. Entah itu perangkat seperti laptop dan semacamnya tapi juga perangkat telepon genggam. Satu yang paling terkenal tentu saja adalah layanan iCloud di iPhone keluaran Apple. Beberapa laptop baru malah menyediakan paket layanan cloud computing yang dibundled bersama laptop yang dijajakan.

Masalah utama cloud computing di Indonesia adalah soal jaringan. Perkembangan jaringan internet di Indonesia memang bisa dibilang agak tertinggal bila dibandingkan dengan perkembangan teknologi yang sama di negara maju. Banyak faktor yang mempengaruhi sehingga kecepatan internet di Indonesia memang bergerak tidak terlalu cepat. Ini juga yang menjadi masalah untuk berkembangnya teknologi cloud computing.

10 Mei 2012, XL sebagai salah satu penyedia layanan selular dan data di Indonesia membuat sebuah langkah baru. Mereka sepakat untuk ikut terjun ke bisnis cloud computing karena menyadari kalau kebutuhan data di negeri ini semakin besar dari tahun ke tahun. Ini sebuah inovasi dan transformasi bisnis baru.

Peluncuran Xcloud oleh XL

Langkah XL ini berbeda dengan apa yang sudah dilakukan oleh pemain lainnya di bisnis cloud computing.? Mereka tidak berjalan sendiri, XL menggandeng 6 mitra bisnis seperti Huawei, Fujitsu, IBM, Intratech, Mandawani, dan Microsoft. Dengan menggandeng banyak mitra, XL percaya kalau mereka bisa memberikan hasil maksimal apalagi karena mitra tersebut sudah terkenal sebagai pemain kelas utama dalam dunia IT di dalam maupun luar negeri.

Saat ini XCloud menawarkan solusi dengan fokus pada area Public Infrastructure as a Services (IaaS). Pada jenis layanan ini, XL menyiapkan layanan hosting, penyimpanan data, serta server melalui jaringan publik internet. Selain itu, XCloud juga siap menyediakan layanan Software as a Services (SaaS) bagi produk Microsoft Office 365, yang merupakan produk baru dari Microsoft. XL merupakan operator pertama yang ditunjuk oleh Microsoft untuk mempersiapkan layanan yang sangat inovatif ini.

Layanan yang diberi nama Xcloud ini juga memberi sebuah keunggulan untuk mereka yang ingin datanya disimpan di data center kelas dunia dengan menggunakan data center kelas dunia yang berstandar Internasional yang terletak di Singapura. Data center ini juga menjadi tempat beberapa perusahaan raksasa menyimpan data mereka, termasuk Amazon.

Terdapat setidaknya 4 manfaat yang dapat langsung dirasakan oleh pengguna layanan XCloud: simpel, cepat, fleksibel, dan biaya nya dapat dikontrol. Kelebihan-kelebihan inilah yang membuat XL percaya diri kalau cloud computing akan berkembang pesat di Indonesia dengan XL sebagai salah satu pemain terdepannya.

Dengan cloud computing, tidak akan ada lagi kisah data yang hilang yang membuat kepala pusing atau malah pekerjaan berantakan. Ah, perkembangan teknologi memang makin ramah saja.

 

May 14, 2012 in Advertising, Random Post
Tuhan Punya Selera Humor Yang Aneh 4

Tuhan Punya Selera Humor Yang Aneh

Kegembiraan Manchester City

Setelah 44 tahun, akhirnya Manchester City bisa menggenggam kembali gelar juara

Don’t say it’s over untill it’s over ; begitu kata Sir Alex Ferguson di ruang ganti Nou Camp 13 tahun yang lalu. Saat itu anak buahnya tertinggal 0-1 dari Bayern Muenchen di final Liga Champions Eropa. Pria Scotlandia itu memang tergolong pria yang tak kenal menyerah. Butuh 4 tahun sejak kedatangannya ke Old Trafford sebelum dia berhasil membawa sebuah piala untuk Manchester United. Dia pekerja keras, dan nyaris tak kenal menyerah meski usianya makin beranjak tua.

Sejarah mencatat 26 Mei 1999 drama terjadi di kandang Barcelona. Manchester United yang tertinggal 0-1 nyaris sepanjang pertandingan membalikkan keadaan dengan dua gol di perpanjangan waktu. Beckham dan kawan-kawan menggila di lapangan, mereka akhirnya tertawa puas di ujung pertandingan meninggalkan Samuel Kuffouor yang bahkan tak mampu berdiri menyesali kesalahannya.

Don’t say it’s over untill it’s over. Kalimat itu jadi kalimat sakti dari Sir Alex Ferguson.

Nyaris 13 tahun kemudian drama yang sama terulang lagi. Sir Alex mungkin kembali membisikkan mantra yang sama ketika MU berada di posisi tidak nyaman dalam perburuan gelar dengan tetangga mereka, Manchester City. Mereka beroleh poin yang sama, tapi City unggul selisih gol. Setelah sekian lama, Premiere League harus menunggu hingga peluit terakhir untuk menentukan sang juara.

MU bertandang ke markas Sunderland dan City menjamu Queens Park Ranger. Tak ada yang mudah meski QPR adalah klub yang berdiri di bibir jurang degradasi. QPR punya beberapa pilihan, tapi mereka tak mau menunggu hasil dari pertandingan lain. Mereka juga harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan nafas mereka di premiere league.

Babak pertama berakhir. MU unggul 1-0 di kandang Sunderland dan City memimpin 1-0 di kandangnya. Fans si Manchester biru bergembira ria. Gelar juara yang tak pernah lagi hadir selama 44 tahun sudah di depan mata, siap digenggam.

Drama sesungguhnya baru terjadi di babak kedua. Pertandingan baru berjalan 3 menit, Cisse membawa QPR menyamakan kedudukan. Fans MU bersorak riang meski mereka jauh di kandang Sunderland. Angin bertiup ke arah Machester merah.

Joey Barton jadi pesakitan malam itu. Sang gelandang QPR diusir wasit di menit 55 akibat kebodohannya. Fans MU murung, dengan pemain lengkap saja QPR kesulitan mengimbangi City, apalagi ketika kalah jumlah. Tapi mereka kembali bersorak ketika QPR ternyata bisa menjebol gawang City. Skor 2-1 untuk sang tamu dan tentu saja membuat fans MU seperti terbang ke awan. Gelar ke 20 terasa nyaman di genggaman.

Dan Joey Barton adalah aktor yang menentukan nafas City malam itu. Karena ulah bodohnya, pertandingan harus diperpanjang 5 menit atau 2 menit lebih lama dari pertandingan di kandang Sunderland. Sementara pemain MU telah menuntaskan musim mereka, pemain City dan puluhan ribu pendukungnya masih berjuang dan berdoa.

Dzeko jadi pahlawan pertama. Sundulannya menyamakan skor 2-2. City terbakar, mereka merangsek tak kenal lelah. Sementara QPR mulai lengah ketika tahu hasil itu tidak akan mempengaruhi mereka lagi, tak perlu takut terdegradasi karena toh Bolton sudah menyerah.

Aguero akhirnya jadi pahlawan juga, tak mau kalah dengan Dzeko.? Satu menit menjelang pertandingan berakhir menantu Maradona itu melesakkan satu gol. Dia berlari melepas kostumnya, kegembiraannya larut bersama puluhan ribu fans Manchester biru. Drama itu berakhir di menit 95.

Kesedihan pemain MU

Malam itu Tuhan seakan mengajak pendukung MU untuk bercanda. Memberi mereka harapan selama 30 menit dan kemudian menghempaskannya di 5 menit terakhir atau 2 menit setelah pemain MU menuntaskan perang mereka. Selera humor Tuhan memang aneh dan kadang susah dimengerti oleh kita manusia.

Setelah 44 tahun, akhirnya Manchester City bisa menggenggam kembali gelar juara. Mereka melalui sebuah jalan yang menguras energi dan membuat jantung berdetak tidak karuan. Malam itu Manchester City menuntaskan sebuah drama yang akan mereka kenang sepanjang sejarah. Perih bagi fans MU yang mungkin akan tertinggal lama, seperti perih yang dirasakan pemain dan fans Muenchen 13 tahun yang lalu.

Tuhan memang punya selera humor yang aneh.

[dG]

May 14, 2012 in Opini, Senin, Sepakbola
Hati-Hati Mengganti Lensa DSLR 5

Hati-Hati Mengganti Lensa DSLR

Lensa Canon

Saya pernah mengalami sensor kamera yang kotor karena debu. Penyebab utamanya adalah karena penggantian lensa yang terlalu sering saya lakukan di alam terbuka, utamanya di pantai

Punya kamera DSLR punya kelebihan tersendiri dibanding kamera pocket. Selain karena fiturnya yang lebih banyak juga karena kemudahan untuk mengganti lensa sesuai kebutuhan dan keinginan. Apalagi karena memang punya beberapa stok lensa dan berada pada kondisi pemotretan yang membutuhkan lensa beragam.

Tapi kadang-kadang kenikmatan mengganti lensa ini juga membuat sebuah masalah baru. Bagian depan kamera yang terbuka beberapa detik (atau bahkan menit) ketika mengganti lensa bisa menyebabkan masuknya partikel debu yang akan menempel di sensor dan menyebabkan kotornya sensor kamera. Ini sangat berpengaruh pada hasil tangkapan gambar.

Hasil gambar dari kamera yg sensornya kotor

Karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mengganti lensa. Utamanya bila proses penggantian dilakukan di alam terbuka (outdoor). Berikut ada beberapa tips yang saya rangkum dari berbagai sumber.

  • Cari tempat yang agak tersembunyi, jangan yang benar-benar berada di tempat berdebu atau di tempat di mana angin berhembus kencang.

 

  • Ketika ingin mengganti lensa di alam terbuka, kalungkan kamera di leher. Ini penting untuk menjaga stabilitas kamera karena tangan akan banyak bergerak untuk membuka lensa dan mengambil lensa pengganti.

 

  • Siapkan lensa pengganti di tempat yang mudah dijangkau. Usahakan agar waktu melepas lensa dari body dan memasang lensa yang baru tidak terlalu panjang.

 

  • Ketika akan membuka lensa dari body kamera, hadapkan kamera ke arah bawah agar memperkecil kemungkinan masuknya debu ke dalam body dan sensor. Jangan lupa untuk membiarkan kamera berada dalam keadaan OFF.

 

  • Siapkan body cap ( penutup body ) di tempat yang mudah dijangkau. Lepas lensa dengan pelan dan ketika lensa terlepas dari kamera, segera tutup body dengan body cap sesegera mungkin.

 

  • Segera pasang lensa baru. Teknik memasang (dan melepas lensa) tentu teman-teman sudah tahu bukan? Sekali lagi lakukan semua dalam waktu yang singkat sehingga memperkecil resiko masuknya partikel debu ke dalam body dan sensor kamera.

 

  • Setelah lensa baru terpasang kembali, ada bagusnya untuk menjalankan sensor cleaning di kamera anda. Efeknya memang kecil, tapi cukup untuk memperkecil resiko menempelnya debu pada sensor.

 

Debu yang menempel pada sensor sangat mengganggu. Untuk membersihkannya memang bisa dilakukan sendiri meski sangat tidak disarankan karena akan merusak sensor kamera yang harganya relatif sama mahalnya dengan body kamera (dalam kondisi second).

Saya pernah mengalami sensor kamera yang kotor karena debu. Penyebab utamanya adalah karena penggantian lensa yang terlalu sering saya lakukan di alam terbuka, utamanya di pantai. Partike debu di pantai relatif lebih banyak karena pasir pantai, belum lagi karena partikel air asin dari laut. Ini harus jadi perhatian ketika mengganti lensa. Bila memang tidak terlalu butuh, sebaiknya hindari mengganti lensa di area sekitar pantai atau laut.

Nah, itu sedikit sharing dari saya. Mudah-mudahan berguna untuk teman-teman yang hobi fotografi dan gonta-ganti lensa. Selamat memotret dan ingat untuk menjaga keselamatan diri dan kamera anda.

[dG]

May 13, 2012 in Sabtu-Minggu, Tips
Langkah Bersama Memajukan Negeri 1

Langkah Bersama Memajukan Negeri

Persembahan XL Memajukan Negeri

Negeri ini memang butuh orang-orang atau mereka-mereka yang mau bersusah payah memanjangkan tangannya untuk menjangkau semua orang di negeri ini agar mau dan bisa jalan sama-sama.

Indonesia ini negeri subur. Indonesia ini negeri kaya. Itu yang selalu saya ingat dari kecil, bahkan Koes Pluspun menggambarkan kekayaan negeri ini sebagai negeri di mana tongkat yang ditanampun bisa jadi tumbuhan, negeri di mana ikannya bisa diraup dengan begitu mudah. Negeri yang dari ujung Barat ke Timur semua penuh dengan potensi.

Tapi, negeri ini juga selalu punya masalah. Selalu punya rintangan. Negeri ini memang maju, setiap tahun selalu ada langkah-langkah baru yang ditorehkan dalam jejak sejarah. Tapi masih banyak juga mereka yang tertinggal, yang kadang masih terlupakan. Lupa dan tidak terjangkau untuk dirangkul agar sama-sama maju. Mereka berada di luar lingkaran, kadang tak tersentuh dan kadang tak terdengar.

Negeri ini memang butuh orang-orang atau mereka-mereka yang mau bersusah payah memanjangkan tangannya untuk menjangkau semua orang di negeri ini agar mau dan bisa jalan sama-sama. Memajukan negeri bukan hanya tugas pemerintah saja bukan? Siapa saja bisa ikut, siapa saja bisa mengambil peran untuk memajukan negeri.

Ada banyak jalan untuk menuju kemajuan, orang pintar pasti lebih paham. Tapi yang umum kami tahu adalah bahwa salah satu gerbang menuju kemajuan adalah informasi.? Jaman sekarang, akses informasi begitu lebar terbuka dengan adanya internet. Di mana saja dan kapan saja orang bisa mengakses informasi, jadi penerima, penyampai dan bahkan pembuat informasi. Semua karena internet.

BTS XL

Dengan internet, masyarakat yang jauh dari kota bisa ikut menikmati informasi yang diproduksi dari kota besar.Bisa mencari dan bisa juga mengabarkan informasi tentang kegiatannya hingga memungkinkan timbulnya kolaborasi informasi. Sedikit demi sedikit itu akan jadi sebuah gerbong menuju kemajuan.
Pendidikan juga adalah salah satu jalan menuju kemajuan. Jaman sekarang banyak hal yang diukur dengan lewat pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Informasi sudah seperti sebuah air yang mengalir ke mana saja. Semua orang bisa mengaksesnya, semua orang bisa menikmatinya. Internet membantu semua orang untuk bisa mengejar ketertinggalan. Internet jadi kendaraan untuk sama-sama memajukan diri, komunitas, kelompok dan tentu saja negeri ini.

Mengawinkan internet dan pendidikan seperti sebuah keharusan. Ada banyak yang bersedia menjadi penghulunya dan membuat internet menjadi pasangan serasi untuk pendidikan. Sifat internet yang mudah dijangkau siapa saja tentu akan sangat positif bila dimanfaatkan, utamaya untuk pendidikan.

Salah satu institusi yang paling aktif menggunakan internet adalah kampus-kampus dan sekolah. Beberapa dari mereka dengan insitiatif tinggi menggunakan internet untuk memudahkan aktifitas belajar mengajar. Mulai dari informasi tentang bahan pelajaran, informasi pendaftaran, aktifitas sekolah atau perkuliahan hingga informasi tentang nilai.

Perkembangan ini tentu memudahkan bagi para pelajar dan mahasiswa yang memang butuh kecepatan akses informasi dalam segala hal yang berhubungan dengan dunia mereka. Informasi kegiatan sekolah hingga nilai-nilai dapat diakses secara cepat, di mana saja dan kapan saja.

Kebutuhan akan internet juga bukan hanya hadir lewat layanan seperti di atas, tapi tentu saja lewat layanan paling sederhana yaitu ketersediaan hotspot wi-fi dalam lingkungan kampus atau sekolah. Wi-fi tentu akan lebih memudahkan lagi bagi para siswa atau mahasiswa yang ingin mengakses internet. Percuma sebuah sistim diciptakan kalau perangkat pendukungnya tidak diadakan.

Salah satu provider yang aktif memperluas ketersediaan jaringan internet adalah XL. Mereka punya program yang diberi nama XL Edusolution, salah satu layanan yang memang diutamakan untuk memperluas jaringan informasi pendidikan yang menyasar ke kampus-kampus atau sekolah-sekolah. XL sudah melangkah jauh dengan membuat sistim informasi terpadu yang memudahkan para mahasiswa atau siswa SMU berbagi informasi tentang pendidikan mereka. Di lain pihak XL juga sudah menghadirkan layanan wi-fi gratis di sekitar 185 kampus dan sekolah di seluruh Indonesia.

XL di Kopdar Blogger Nusantara 2011

Ada satu lagi langkah XL yang menurut saya bisa dianggap sebagai langkah memajukan negeri. XL adalah provider yang punya passion besar untuk mendukung kegiatan komunitas online di seluruh Indonesia. Oktober 2010 XL mengambil peran sebagai sponsor utama gelaran Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo. Ini sebuah ajang temu blogger terbesar di Indonesia yang menghadirkan sekitar 1300 blogger dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain acara besar itu, XL juga jadi sponsor di banyak acara berskala lebih kecil dan juga mendukung banyak gerakan blogger serta komunitas online di Indonesia.

XL di Oblong Merah Muda, Malang

Terlihat sepele, tapi sesungguhnya berefek besar bagi kemajuan negeri. Komunitas online, utamanya komunitas blogger punya posisi strategis sebagai penyampai informasi di jaman internet ini. Mereka pasti punya program dan kegiatan jelas untuk membiasakan masyarakat berbagi lewat internet, utamanya dengan ngeblog. Komunitas punya jaringan yang kuat, mereka terdiri dari orang-orang dengan latar belakang beragam tapi dengan satu passion, berbagi hal positif dari internet. Dukungan XL untuk gerakan komunitas tentu memberi dampak besar untuk rencana dan program kerja mereka.

XL punya tagline XL Memajukan Negeri, di lapangan tagline ini sudah diaplikasikan. Ada rentetan kegiatan yang mereka jalankan dengan efek baik yang langsung maupun tidak. Tanggung jawab memajukan negeri memang bukan cuma milik pemerintah saja, warga negara atau mereka yang punya modal juga bisa ikut ambil bagian.

Saya dan anda semua tentu berharap bisa bersama-sama melihat negeri ini maju. Melihat Indonesia yang lebih baik tanpa harus menunggu aksi dari pemerintah. Mari bersama-sama memajukan negeri.

[dG]

May 11, 2012 in Lomba, Random Post
Bukan Soal Panjang Atau Pendek 4

Bukan Soal Panjang Atau Pendek

Foto by Google

Ukuran bukan masalah, begitu kata orang ketika berbicara tentang seks

Ukuran bukan soal, begitu kata orang. Dalam berbagai hal pameo itu bisa dianggap benar, pun dalam dunia blogging. Saya sering mendapat pertanyaan, bagaimana sih tulisan di blog yang baik itu? Apakah harus panjang? Apakah harus detail? Apakah harus pakai EYD?

Saya tipe blogger liberal ( kalau memang ada tipe seperti itu) Bagi saya blogging adalah soal kebebasan. Punya blog berarti sepenuhnya menggenggam kebebasan untuk mengisi apa saja di blog itu. Kebebasan yang bertanggung jawab tentu saja, karena bagaimanapun tetap ada norma dan etika yang harus dijunjung tinggi.

Saya tidak pernah pusing apakah seorang blogger mengisi blognya dengan tulisan yang sangat personal dengan bahasa sehari-hari, atau dia mengisi blognya dengan tulisan semacam reportase jurnalistik dengan gaya bahasa yang formil dan sesuai EYD. Saya menikmati semua tulisan blogger sepanjang itu memang ditulis sendiri oleh mereka, bukan kopi paste atau mengetik ulang tulisan orang. Bagi saya kenikmatan membaca blog ada pada sentuhan humanis yang hadir lewat usaha para blogger sendiri.

Kembali ke soal panjang dan pendek tulisan. Sekali lagi, bagi saya ini adalah kebebasan para pemilik blog. Panjang dan pendek tulisan bukan ukuran kualitas sebuah postingan, meskipun harus diakui bahwa tulisan yang panjang memang potensial untuk dianggap lebih berkualitas. Masing-masing punya kelebihan dan kelemahan sendiri.

Tulisan pendek, sepintas memang menggambarkan kemalasan sang penulis. Pesan yang disampaikan juga bisa jadi tidak terungkap dengan jelas. Beberapa orang melakukannya memang untuk sekadar iseng. Tapi jangan salah, ada juga penulis yang berhasil membawa pesannya dalam tulisan pendek yang mungkin kurang dari 500 kata. Mereka ini yang saya anggap orang hebat karena mampu membawa pesan yang jelas dengan singkat dan tidak bertele-tele.

Tulisan panjang, sepintas menggambarkan rajinnya sang penulis. Apalagi kalau dia berhasil menulis lebih dari 1000 kata. Tapi kejelekannya, kadang pesan yang ingin disampaikan jadi tersamar karena ada banyak elemen lain yang ikut terbawa ke dalamnya. Tulisan bisa jadi bertele-tele dan membuat orang malas untuk membacanya hingga tuntas.

Dulu saya suka menulis panjang-panjang. Biasanya sampai 3 halaman A4 di word, malah pernah sampai 6 halaman. Belakangan saya sadar kalau itu agak kurang realistis. Hanya sedikit orang yang mau membaca tulisan sepanjang itu di blog, sisanya lebih banyak membaca sepintas atau lompat-lompat. Berkaca dari situlah saya kemudian berusaha mencoba untuk memperpendek tulisan, menjadi sekitar 500 hingga 750 kata. Hal terpenting adalah bagaimana pesan dari tulisan bisa sampai dengan alur yang tidak berat dan gampang diikuti.

Ukuran bukan masalah, begitu kata orang ketika berbicara tentang seks. Dalam dunia blogging, hal yang sama juga berlaku. Tidak usah risau dengan ukuran panjang tulisan, yang terpenting adalah bagaimana menikmati proses menulisnya dan bagaimana membuat pesan kita tersampaikan. Ini bukan soal panjang atau pendek.

Selamat ngeblog teman-teman!

[dG]

May 09, 2012 in Blogging, Rabu
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka 8

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan

Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong selama 3 hari, itupun karena urusan pekerjaan. Padahal perkenalan pertama ini membuat saya menyukai Sorong.

Matahari bersinar terik di atas Sorong, tepatnya di Bandara Domine Eduard Osok Jumat siang. Express Air mendarat dengan sedikit hard landing, entah karena memang prosedur atau karena pilotnya yang kurang ahli. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Papua. Sudah lama saya ingin mengunjungi pulau paling Timur Indonesia ini, dan beruntung karena saya mendapat undangan untuk ke Papua, tepatnya ke Sorong Papua Barat.

Setelah urusan kenalan dan basa-basi selesai, kami beranjak mencari makan siang. Sebelum ke Papua saya sempat mencari makanan khas Papua, tapi yang saya temukan adalah makanan yang tidak boleh saya konsumsi sebagai seorang muslim. Siang itu kami juga diajak makan di sebuah warung khas Jawa dengan menu bebek goreng dan bakar.

Dua orang Telkomsel yang menemani kami sebagai tuan rumah ternyata punya passion pada fotografi. Mas Adi menunjukkan koleksi foto Raja Ampat yang dengan segera membuat saya menitikkan liur. Raja Ampat sudah sepelemparan batu dari Sorong, dekat di mata tapi jauh di kantong. Dari Sorong memang ada kapal reguler yang bisa mengantar kita ke Waisai, ibukota Kabupaten Raja Ampat dengan biaya Rp. 120.000,- Tapi itu bukan tujuan utama. Untuk menuju pulau lain yang jadi tujuan utama wisata kita masih harus menyewa kapal seharga Rp. 3jtan sampai Rp. 20jtan tergantung jenis dan besarannya.

Waktu dan biaya yang tidak mendukung membuat saya harus puas menelan ludah melihat deretan foto yang ditangkap mas Adi. Sungguh sebuah pemandangan yang luar biasa.

Kota Sorong mengingatkan saya pada kota Pare-Pare di utara kota Makassar. Kotanya dikelilingi laut di bagian depan dan bukit di bagian belakang. Jalanan porosnya hanya satu, itupun tidak seramai jalanan di Makassar. Kami diantar ke hotel Le Meridien, salah satu hotel terbaik di Sorong yang letaknya persis di depan bandara. Hanya jalan kaki sekitar 15 menit.

Di pusat kota kita akan jarang menemukan penduduk asli berkeliaran. Kota Sorong digerakkan oleh kaum pendatang, sebagian besar dari Sulawesi Selatan dan pulau Jawa. Tidak heran kalau kita bisa dengan mudahnya menemukan warung Coto, atau warung makan Jawa di sepanjang jalan. Warga asli banyak bermukin di pinggiran kota, mereka sebagian besar hidup di sektor informal.
Sore harinya saya dan pak Rusdi yang sama-sama datang dari Makassar dijemput teman-teman Telkomsel Sorong.

Sore itu kami berencana mau hunting foto, mengejar sunset di kawasan Tanjung Saoka yang berada agak jauh di luar Sorong. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit melalui jalanan yang sementara dibeton. Di kanan-kiri berderet rumah sederhana, sebagian berdinding kayu dengan warga asli yang menempatinya. Ada juga beberapa ekor babi yang bermain-main di padang luas selayaknya kambing di kota lain. Saya bahkan menemukan beberapa ekor babi gemuk di dalam kota Sorong yang dilepas begitu saja seperti anjing yang mengais tempat sampah.

Matahari di Sorong rupanya terbenam sekitar pukul 18:30, kami tiba persis beberapa menit sebelum golden moment sehingga bisa dengan leluasa mencari tempat untuk memotret sang mentari yang beranjak pulang.

Sunset di Tanjung Saoka

Tanjung Saoka adalah sebuah tanjung yang penuh dengan karang dan bakau. Pantainya berpasir hitam. Sebenarnya tampak biasa saja, apalagi sepertinya Tanjung Saoka tidak bisa dipakai untuk berenang. Tapi buat fotografer, kondisi seperti itu justru adalah tempat terbaik untuk menghasilkan foto-foto sunset. Apalagi ditambah dengan langit dan awan yang begitu eksotis.

Perburuan kami berakhir ketika matahari betul-betul sudah pulang. Besok masih ada tempat lain untuk hunting, kata mas Adi.

Keesokan harinya setelah rangkaian acara utama selesai kami dibawa ke Bukit Malanu yang berada di punggung kota Sorong. Dari atas bukit kita bisa melihat pemandangan eksotis kota Sorong di bawah sana dengan laut sebagai halaman depannya.

Tak membuang waktu, kami mengabadikan banyak frame di sana. Sekali lagi langit dan awan Sorong memang eksotis. Entahlah, tapi saya merasa makin ke Timur Indonesia langitnya makin biru dan awannya makin beragam bentuknya, benar-benar nyaman untuk direkam dalam bingkai foto.

Senja dari Bukit Malanu

Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong selama 3 hari, itupun karena urusan pekerjaan. Padahal perkenalan pertama ini membuat saya menyukai Sorong. Saya merasa ada banyak hal yang menarik di kota yang berada tepat di area kepala burung pulau Papua ini. Sorong punya laut yang indah, punya bukit yang menawan dan tentu saja tidak terlalu jauh dari kabupaten Raja Ampat.

Kitorang su sampai Sorong kaka, itu yang saya twitkan ketika pertama kali mendarat di Sorong. Rasanya excited akhirnya bisa menginjakkan kaki di pulau Papua meski tentu saja masih belum puas. Setidaknya saya sudah membuka jalan, sisanya akan dilanjutkan nanti ketika saya kembali ke sana benar-benar untuk berwisata, bukan lagi untuk urusan pekerjaan.

[dG]

May 08, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Ironi Timur Dan Barat 13

Ironi Timur Dan Barat

Bandara Domine Eduard Osok

Saya tidak percaya kalau orang Papua dicap pemalas dan bodoh. Mereka pekerja keras, mereka hanya selalu didiskreditkan dan tidak pernah disentuh dengan cara mereka untuk diajak jalan sama-sama

Seorang teman pernah bilang, kalau kita jalan ke luar Jawa khususnya di bagian Timur Indonesia maka akan sangat terasa timpangnya perbedaan antara Jawa dan luar Jawa. Atau lebih luas lagi, antara Barat dan Timur Indonesia. Dan saya percaya pada kata-katanya.

Sabtu (5/5) kemarin saya mendarat di bandara Domine Eduard Osok, bandar udara kota Sorong Papua Barat. Jangan membayangkan sebuah bandar udara besar seperti di Sultan Hasanuddin, bandara Domine Eduard Osok sangat sederhana. Terlalu sederhana untuk ukuran sebuah bandara. Padahal Sorong adalah pintu masuk ke Papua Barat. Meski ibukota Papua Barat adalah Manokwari, tapi Sorong adalah kota yang paling sibuk dan paling maju.

Sebuah kota yang katanya paling sibuk dan paling maju di Papua Barat keadaannya sama dengan kota Pare-Pare dua puluh tahun lalu. Suasananya hampir sama, di bagian bawah ada hamparan laut biru dan di belakangnya ada tebing tinggi. Banyak hal yang di Sorong yang mengingatkan saya pada kota Pare-Pare berbelas ?belas tahun yang lalu.

Tapi itulah Indonesia. Kita semua tahu kala pembangunan negeri yang katanya subur makmur ini lebih banyak berputar di sebuah pulau bernama Jawa. Lebih spesifik lagi di sebuah kota bernama Jakarta. Memasuki Jakarta ibaratnya memasuki dimensi lain sebuah kota yang sama sekali berbeda dengan kota lainnya. Mungkin hanya Surabaya yang hampir mendekati.

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan

Suatu saat negeri ini diguncang sebuah berita tentang separatisme. Bagaimana banyak warga di Papua yang katanya menuntut merdeka, menuntut melepaskan diri dari Indonesia. Orang di Jakarta marah, orang di pusat sana menuding mereka pemberontak dan mau menghancurkan Indonesia. Beberapa orang menuduh mereka goblok dan tidak punya otak.

Begitukah? Terlepas dari semua alasan politis di belakang aksi separatis itu sesungguhnya ada sebuah pesan yang harus dibaca oleh kita semua.

Papua negeri yang kaya. Alamnya penuh mineral dan hasil bumi yang luar biasa banyaknya. Alamnya penuh keindahan yang tak terperi. Lautnya bening, luas dan Subhanallah indahnya. Tapi apa itu semua membuat mereka kaya? Apa itu semua membuat mereka sejahtera? Mungkin tidak segampang itu.

Orang-orang dari Barat, entah dari Barat negeri ini ataupun dari Barat bumi ini berbondong-bondong datang ke Papua. Mereka mengeruk kekayaan alam bumi Papua, membuat resort di Raja Ampat dan mengambil semua yang bisa diambil. Keuntungannya mereka bawa ke Jawa, mereka borong ke luar negeri. Tinggallah warga Papua berebut remah-remah. Sebagian malah berebut penyakit.

Orang dari Barat negeri ini datang ke Papua. Dijejalkannya pengetahuan dari Barat ke kepala saudara-saudara kita di sana. Dijejalkannya dogma kalau ajaran leluhur mereka adalah bukti ketertinggalan, ajaran leluhur mereka adalah ajaran primitif yang harus ditinggalkan kalau mereka mau sejahtera, kalau mereka mau seperti orang-orang dari Barat itu.

Orang-orang dari Barat datang dan dengan semena-mena menjejalkan pengetahuan mereka, memaksakan mind set mereka ke kepala saudara-saudara kita di Papua. Ketika mereka membentur tembok, mereka bisa saja dengan gampangnya berucap : ah, dasar mereka yang pemalas. Dasar mereka yang tak mau maju.

Segampang itukah?

Orang dari Jakarta sana mungkin tidak pernah mau bersusah payah menggali akar luhur dari kehidupan saudara kita di Papua. Mereka menganggap semua yang mereka bawa dari Barat itu adalah sempurna dan bisa diadopsi di mana saja. Tak peduli saudara kita sudah punya kearifan lokal yang lebih cocok untuk mereka.

Papua negeri yang kaya, tapi rakyatnya dibiarkan tertinggal karena orang dari Barat tidak pernah mau tahu bagaimana caranya mengajak mereka berjalan sejajar. Mereka menggunakan standar yang sama dengan standar yang mereka bawa dari Barat dan mereka jejalkan seenaknya di kepala saudara-saudara kita di Papua.

Negeri kita kaya, tidak ada satu jengkalpun dari Indonesia yang tidak punya kekayaan. Tapi pertanyaannya adalah, ke manakah kekayaan itu diangkut? Ke manakah hasil kekayaan itu ? Siapa yang menikmatinya? Adilkah kalau semua diangkut ke pusat dan meninggalkan remah-remahnya untuk warga setempat?

Saya tidak percaya kalau orang Papua dicap pemalas dan bodoh. Mereka pekerja keras, mereka hanya selalu didiskreditkan dan tidak pernah disentuh dengan cara mereka untuk diajak jalan sama-sama. Kita terlalu sering menganggap remeh mereka, tanpa kita sadari kalau kekayaan mereka menopang kemajuan negeri ini. Kekayaan mereka tercetak pada gedung-gedung mentereng di Jakarta sana, atau bahkan pada pakaian mahal segelintir orang.

Kalau ada yang meminta untuk memerdekakan diri, saya berusaha memahaminya. Di balik semua alasan politis, selalu ada akar kuat yang mendasarinya. Karena di negeri ini dan di dunia ini memang selalu ada ironi antara Timur dan Barat.

Entah sampai kapan.

[dG]

May 07, 2012 in Opini, Senin
Derby Penguras Emosi 4

Derby Penguras Emosi

Derby Manchester Yang Panas

Kalah dari klub lain adalah hal yang wajar, tapi kalah dari tetangga adalah sebuah aib. Pameo inilah yang dibawa banyak kesebelasan ke atas lapangan hijau, membuat mereka siap mati demi membela kehormatan dari cercaan tetangga mereka.

23 Oktober 2011 adalah hari yang tidak akan dilupakan oleh para fans Manchester United. Hari itu memang kelam, hari di mana mereka harus mengakui kehebatan tetangga mereka Manchester City. Di Old Trafford, pasukan Sir Alex Ferguson harus menyerah 1-6. Di Old Trafford, di Theatre of Dreams, di depan hidung mereka sendiri!

Partai itu akan dikenang sebagai salah satu partai paling kelam dalam sejarah perjalanan Manchester United, bukan hanya karena skornya saja atau karena kejadiannya di kandang sendiri tapi yang lebih penting adalah karena mereka kalah dari tetangga sendiri. Kalah dari sebuah partai derby.

Sejak sepakbola mulai menjadi sebuah tontonan paling dinantikan di muka bumi ini, derby selalu menjadi sebuah pertandingan yang akan menyedot perhatian lebih. Pertemuan antar dua saudara sekota selalu muncul sebagai sebuah perang yang sesaat seakan membelah kota menjadi dua bagian. Sisi magis sebuah derby hanya kalah oleh beberapa pertandingan yang sarat muatan politis atau sejarah.

Di Italia, derby terpanas ada dua. Derby della madonina yang mempertemukan dua kubu dari kota mode Milan antara Inter Milan dan AC Milan. Derby lainnya adalah derby della capitale antara dua penghuni ibukota Italia, AS Roma dan Lazio. Keempat tim punya rataan kemampuan yanghampir sama, meski AC Milan bisa dianggap lebih baik dari keempatnya. Ketika dua derby itu digelar, Milan dan Roma seakan terbelah dua. Perang urat saraf di dalam dan luar lapangan akan berlangsung seru.

Satu lagi derby yang sebenarnya cukup panas, yaitu derby di kota Turin antara Torino dan Juventus. Sayangnya karena dalam hampir dua dekade belakangan ini Torino selalu berada di lapisan bawah Serie A dan bahkan turun ke Serie B sehingga derby ini mulai kehilangan kesakralannya. Penyebabnya tentu saja karena faktor kekuatan yang berbeda jauh, meski dalam setiap derby Torino selalu tampil menggila menghadapi tetangganya yang lebih mentereng, Juventus.

Di tanah Spanyol, derby tidak selalu panas. Pertemuan antara Real Madrid dan Atletico Madrid dari ibukota dan pertemuan Barcelona dengan Espanyol dari tanah Catalan selalu kalah mentereng dari El Classico yang mempertemukan Real Madrid dengan Barcelona.

Atletico dan Espanyol hanya pengganggu dominasi duo klub raksasa itu. Madrid dan Barca adalah penguasa La Liga, setiap tahun perebutan tahta juara nyaris hanya sebagai sebuah perlombaan antara dua klub itu. Klub lain hanya berburu posisi di zona champion Eropa.

Pertarungan antara Madrid dan Barcelona juga sudah terlanjur penuh dengan muatan politis antara Spanyol dan Catalan yang selalu menuntut pembebasan. Benih kebencian ini sudah dipupuk sejak jaman Jenderal Franco dan terus dibiarkan berkembang hingga kini. Tak heran kalau pertemuan keduanya selalu berlangsung panas dan sarat emosi. Kartu kuning dan bahkan kartu merah seakan jadi sebuah keharusan dalam pertemuan keduanya, secara perlahan itu kemudian menutupi sakralnya sebuah derby.

Di tanah Inggris, derby masih selalu panas. Derby ibukota di Premiere League mempertemukan beberapa klub. Ada Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur dan Fulham yang sama-sama bermarkas di kota London. Pertemuan terpanas tentu saja antara Chelsea, Arsenal dan Tottenham yang sama-sama punya kekuatan seimbang.

Di kota pelabuhan Liverpool ada derby antara Liverpool dan Everton. Meski prestasi Everton kalah mentereng dari Liverpool, tapi klub berseragam biru itu tidak pernah mau menyerah begitu saja dari tetangganya yang berseragam merah. Derby selalu berlangsung panas, penuh benturan fisik dan kadang berakhir dengan kartu merah.

Tevez dan Rafael

Di utara Inggris, Manchester United selama bertahun-tahun menjadi sangat dominan. Jauh mengungguli tetangga mereka si biru Manchester City. Belakangan, dengan dana tak terbatas City kemudian melejit ke papan atas dan kembali menghangatkan persaingan dengan tetangganya itu. Si biru kembali menjadikan derby Manchester jadi lebih panas, tidak seperti beberapa tahun sebelumnya saat City lebih banyak berkutat di papan bawah atau paling tinggi papan tengah.

Oktober 2011, Manchester City mempermalukan si setan merah. Waktu kemudian membuktikan kalau si Setan Merah bukan klub medioker. Mereka bisa bangkit dari kekalahan memalukan itu dan perlahan menduduki puncak klasemen, menggeser sang tetangga yang mereka sebut sebagai “noisy neighbor”

Tapi waktu juga yang membuktikan kalau Manchester United bisa terpeleset. Rentang jarak 8 poin terpangkas menjadi sisa 3 poin. Sebagian karena kesalahan mereka sendiri, utamanya di pertandingan terakhir melawan Everton. Persaingan menjadi hangat kembali. United harus memenangi laga derby Senin 30 April ini jika mau mimpinya merebut gelar ke 20 menjadi kenyataan. Bila kalah, City dengan poin yang sama akan menggeser mereka, sekaligus mempersulit jalan menuju rekor baru itu .

Derby selalu menarik untuk disimak. Tidak ada klub yang mau menyerah begitu saja dari klub tetangganya. Kalah dari klub lain adalah hal yang wajar, tapi kalah dari tetangga adalah sebuah aib. Pameo inilah yang dibawa banyak kesebelasan ke atas lapangan hijau, membuat mereka siap mati demi membela kehormatan dari cercaan tetangga mereka.

Senin malam atau Selasa dinihari nanti, derby Manchester akan menentukan arah ke mana kisah akhir Premiere League musim ini akan berlabuh. Siapapun yang memenangi derby malam ini jelas punya peluang besar untuk mengangkat trophy. Manchester biru atau Manchester merah? Semua tergantung kesiapan para pemain dan tentu saja kecerdasan pelatih.

Mari menunggu pertandingan sarat emosi ini, tentu dengan harapan dan prediksi kita masing-masing. Malam nanti, saya tentu saja berada di barisan penggemar Manchester United, berharap bisa meredam sang tentangga yang ribut itu.

[dG]

April 30, 2012 in Opini, Senin, Sepakbola
Malena ; Yang Cantik Yang Disalahkan 2

Malena ; Yang Cantik Yang Disalahkan

Malena

Gara-gara membaca postingan Mamie soal teater Goyang Penasaran, saya jadi terpikir untuk membuat review film Malena yang sebenarnya membawa pesan yang sama.

Ketenangan sebuah kota di Sisilia, Selatan Italy mulai terusik ketika perang dunia kedua pecah. Para lelaki dewasa diminta bergabung dengan tentara nasional untuk ikut terjun ke kancah pertempuran, termasuk Nino Scordia. Ada yang istimewa dengan lelaki jangkung ini. Dia beristrikan seorang wanita cantik bernama Malena yang dibawanya pindah ke Sicilia.

Malena adalah wanita dengan kecantikan luar biasa. Matanya, bibirnya, hidungnya, dadanya, pinggulnya, semua yang ada padanya mampu membuat laki-laki menahan nafas. Tak terkecuali seoang bocah 12 tahun, Renato Amaroso. Dari hanya sebuah pandangan, Renato berubah menjadi lelaki muda yang terobsesi pada Malena dan mulai membiarkan fantasinya menghadirkan wanita itu.

Malena yang ditinggal suaminya adalah makanan empuk bagi para lelaki berhidung belang. Kemolekan dan kesendiriannya seperti sebuah undangan untuk datang mendekat. Satu persatu lelaki di kota itu mendatanginya, berusaha mengisi ruang yang ditinggal Nino, suaminya. Tapi Malena bergeming, dia memegang teguh kesetiaannya pada sang suami.

Malena yang begitu menggoda

Niat para lelaki itulah yang kemudian menghadirkan amarah dari para wanita yang suami atau kekasihnya menolehkan pandangan ke Malena, termasuk istri seorang dokter yang menyeret Malena ke pengadilan dengan tuduhan memiliki affair dengan suaminya. Malena selamat, atas bantuan seorang pengacara bujang lapuk yang justru meminta imbalan mencicipi kemolekan tubuh Malena yang sudah diselamatkannya dari bui.

Ketika perang makin menggila, Malena mendapat kabar buruk. Nino suaminya gugur dalam perang dan tidak akan kembali lagi bersamanya. Dalam kekalutan dan kemelaratan akibat tak punya penghasilan, Malena gelap mata dan memilih memuaskan nafsu petinggi militer Jerman yang mendarat di kotanya.

Kebencian para wanita di kota itu makin menggunung kepadanya. Bagi mereka, Malena tak ubahnya aib yang mengotori kota mereka, berusaha menggoda suami mereka dan merusak ketenangan rumah tangga mereka.

Perang berakhir, Malena ditinggal para perwira Jerman. Para wanita kemudian menyeretnya, menelanjanginya di depan umum, memukuli dan menggundul rambut indahnya. Kemarahan mereka bermuara tanpa bisa dibendung. Malena dipermaluikan dan diusir dari kota itu. Renato sang bocah yang masih saja terus menyimpan perasaan pada Malena hanya bisa menatap sedih tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kecantikan Yang Membuatnya Dibenci

Film Malena adalah karya sutradara Guisseppe Tornatore yang diproduksi pada tahun 2000, 12 tahun yang lalu. Film ini seluruhnya menggunakan bahasa Italia dengan setting sekitar perang dunia kedua. Monicca Belucci nyaris bermain sendirian sepanjang durasi yang 109 menit dengan Giusseppe Sulfaro sebagai Renato Amoroso sebagai pemeran utama pria.

Seluruh cerita memang berpusat pada kisah hidup sang bidadari, Malena. Hidup yang awalnya begitu indah bersama sang suami yang dicintainya berubah drastis ketika perang pecah. Renato, bocah yang mendekati akhil baliq itu mampu menggambarkan dengan apik bagaimana fantasi seksual yang kadang tidak tertahankan di masa muda.

Kisah Malena membawa pesan penting tentang kecantikan yang bisa menyulitkan. Ketika banyak lelaki menolehkan wajah karena kecantikannya, Malena tidak bisa menghindar dari pandangan sinis para wanita pemilik lelaki itu. Rasa tidak percaya diri dan iri yang terpendam dari wanita itu membutakan logika mereka, tak peduli apakah memang Malena yang bermaksud menggoda atau lelaki mereka yang dasarnya memang mata keranjang.

Dalam kehidupan, wanita memang kadang jadi sasaran paling empuk untuk disalahkan. Bukan hanya oleh kaum lelaki, tapi terkadang oleh kaum mereka sendiri. Sebagai mahluk yang dianggap lemah, mereka kadang disalahkan untuk sebuah situasi. Kecantikan yang kadang jadi senjata bagi mereka bisa berbalik melukai mereka sendiri.

Malena tidak berdaya menghadapi situasi hanya karena dia dikarunia wajah cantik dan tubuh molek. Kekalutan ditinggal suami, pandangan sinis warga sekitar, dan kebutuhan untuk mengisi perut memaksanya mengambil langkah ekstrem. Langkah yang makin menegaskan kebencian para wanita di kotanya. Malena menjadi korban, separuhnya karena dia berwajah cantik dan bertubuh molek.

Kisah Malena ini masih relevan hingga sekarang, tentang bagaimana wanita kadang tanpa sadar menjadi pihak yang disalahkan dan menjadi korban situasi.

[dG]

April 27, 2012 in Film, Jumat, Review
Polusi Visual Di Kota Kami 3

Polusi Visual Di Kota Kami

Salah Satu Sudut Kota Yang Penuh Dengan Polusi Visual

Suatu hari saya membayangkan seandainya pemerintah kota ini mau sedikit waras dengan menyediakan tempat khusus untuk baliho dan semacamnya

Sekitar seminggu menjelang hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April kemarin, teman-teman dari komunitas Makassar Berkebun melakukan aksi pekan hijau. Salah satu gerakan mereka selain membagi-bagikan bibit pohon adalah dengan mencabuti paku dari pohon di sekitaran jalan Andi Pangerang Pettarani dan jalan Hertasning. Paku-paku itu adalah hasil kejahatan para penyebar polusi visual di kota Makassar. Mereka seenaknya memasang baliho, spanduk atau material promosi lainnya di pohon-pohon hijau kota kami.

Seperti yang pernah saya bilang, Makassar memang sial. Kota pelabuhan di ujung bawah pulau Sulawesi ini penuh dengan para politisi yang narsis. Penuh dengan orang-orang yang senang sekali memamerkan senyum manis mereka di semua ruang kosong yang ada di kota ini.

Mereka menjejalkan senyum manisnya yang dilengkapi dengan jargon yang tak kalah manisnya ke mata kami warga kota yang setiap hari berlalu-lalang di berbagai jalan di kota ini. Gula, bagaimanapun manisnya jika dijejalkan ke dalam mulut kita setiap saat maka rasa eneg pasti akan muncul jua. Dan saya yakin, wajah para politisi narsis itu tidak semanis gula.

Entah sejak kapan kesialan ini menimpa kota yang saya cintai ini. Mungkin sejak pemerintah resmi menyerahkan urusan pemilihan kepala daerah ke penduduk daerah setempat tanpa harus melalui voting di gedung DPR. Sejak itulah, siapa saja kemudian merasa punya hak untuk mengotori kota ini dengan baliho segede godzilla dan material lain yang tak kalah ramainya.

PAKUI!!

Sialnya lagi karena nilai keindahan dan estetika kadang kala ditempatkan agak di belakang. Sesuatu yang mereka sebut karya itu sebagian besar lahir dari kepala yang mungkin lupa belum berkenalan dengan sesuatu bernama cita rasa seni. Banyak yang hadir serampangan, hanya berisi tumpukan gambar dan tulisan dengan font besar dan mencolok. Sekali lagi estetika tidak penting.
Itulah yang kemudian menghadirkan ragam baliho semacam PAKUI, AYO MI, JEKA JIE, WE CAN atau apalah namanya. Dari tulisan itu saja orang sudah mulai mengernyitkan dahi. Mungkin maksudnya ingin menimbulkan kesan misterius dan memancing rasa ingin tahu sebangsa iklan yang dikerjakan biro iklan dari luar sana.

Memang benar, rasa ingin tahu kadang muncul melihat deretan baliho itu. Tapi bukan rasa ingin tahu tentang programnya atau kapabilitas sang pemilik baliho. Rasa ingin tahu yang muncul adalah : benarkan mereka punya otak? Benarkah mereka punya cita rasa sampai memutuskan membuat baliho dengan jargon seperti itu? Benarkah mata mereka tidak terasa tertusuk oleh tumpukan gambar yang sama sekali tidak beraturan itu?

Saya pernah bertanya-tanya, benarkah segala baliho penyebab polusi visual itu melalui proses persetujuan dari mereka yang gambarnya dipajang di sana? Ataukah hanya perbuatan tim sukses mereka saja yang kemudian tanpa perlu persetujuan langsung memasang baliho itu tanpa peduli kalau itu malah membuat tuan mereka jadi bahan tertawaan. Kalau memang begitu, maka betapa malangnya para politisi itu. Tapi kalau semua itu sudah melalui persetujuan, maka betapa malangnya dia yang merasa sudah berhasil menghibur warga kota ini.

Bagaimana dengan pemerintah kami? Ah, pemerintah kota kami juga pelaku. Alih-alih menyejukkan mata warga kota Makassar dengan menertibkan polusi visual itu, mereka juga ikut jadi penyebab polusi.

Suatu hari saya membayangkan seandainya pemerintah kota ini mau sedikit waras dengan menyediakan tempat khusus untuk baliho dan semacamnya serta menegakkan aturan dengan menyikat habis baliho, spanduk dan semacamnya yang terpasang di luar tempat yang seharusnya. Mereka harusnya bisa memberi ruang untuk para politis narsis itu. Tentukan ukuran yang boleh dipasang, tarik bayaran yang legal dan berantas semua yang tidak sesuai aturan. Sederhana bukan?

Makassar memang sial, dihuni para politisi yang rajin menebar senyum dan kata-kata manis dan diperintah oleh pemimpin yang membiarkan saja polusi itu mengotori kota. Kota ini jadi korban kenarsisan mereka, kota ini jadi kotor oleh senyum mereka. Kami, kami yang tiap hari harus melihatnya lama-lama kehilangan rasa alih-alih jatuh simpati.

Membela Merah Putih Dengan Memaku Pohon? Meh!

Pagi tadi saya melewati jalan Hertasning. Ada spanduk besar di salah satu titiknya, Komando Pejuang Merah Putih nama organisasinya. Ada gambar beberapa orang lelaki berseragam serupa militer di sana. Ah, gagah sekali mereka. Sayang, niat mereka memperjuangkan merah putih tercinta ini ternoda sedikit oleh kerakusan mereka menggunakan ruang publik. Makin parah karena mereka dengan tega memaku pohon yang tak berdosa, pohon yang selama ini sudah menjadi peneduh di jalan itu.

Ironis. Belum genap dua minggu sejak teman-teman Makassar Berkebun mencabuti ratusan paku di sepanjang jalan Andi Pangerang Pettarani dan Jalan Hertasning sudah ada mereka yang tega menancapkannya kembali. Mereka adalah Pejuang Merah Putih. Gagah sekali.

Sampai kapan kota ini akan terus dipenuhi polusi visual yang menusuk mata itu? Mungkin sampai ada pemimpin yang berani main kayu untuk menertibkannya. Entah kapan.

[dG]

April 26, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar, Sekitarku
Follow dan Unfollow 2

Follow dan Unfollow

Follow Me

Twitter memang hak pribadi orang, setiap akun adalah sepenuhnya milik mereka yang memegangnya dan karenanya apapun yang terjadi atas akun itu adalah hak sang pemilik.

Suatu hari saya mulai terganggu dengan twit sebuah akun. Saya merasa twitnya sudah mulai garing, si pemilik akun mencoba melucu tapi saya sama sekali tidak bisa menangkap kelucuan dari twitnya, bahkan beberapa di antaranya mulai tidak sopan menurut saya. Itu kemudian diperparah dengan RT abusing, percakapan pribadi dibawa ke publik.

Dengan sopan saya bilang ke dia kalau mulai saat itu saya berhenti mengikuti twitnya disertai alasannya. Dia mengiyakan, dan ketika saya cek dia juga kemudian berhenti mengikuti saya.

Apa sih alasan anda untuk berhenti menjadi follower seseorang di twitter? Cerita di atas mungkin bisa jadi salah satu alasan. Ketika sebuah akun mulai terasa mengganggu, entah karena twitnya yang garing, tidak sopan atau terlalu sering marah-marah maka biasanya saat itulah orang kemudian memutuskan untuk berhenti menjadi followernya.

Ada juga sih beberapa orang yang berhenti menjadi follower orang lain karena alasan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan isi twit yang bersangkutan. Baru-baru ini saya juga baru saja berhenti difollow seseorang karena kasus lomba blog wisata SulSel kemarin. Padahal selama ini kami juga jarang berinteraksi. Beberapa orang juga mengaku diunfollow atau terpaksa mengunfollow seseorang setelah hubungan cinta mereka kandas di tengah jalan.

Itu urusan unfollow, bagaimana dengan follow? Apa alasan yang paling kuat sehingga anda kemudian memutuskan untuk menekan tombol follow?
Alasan terbesar biasanya adalah karena kita kenal dengan pemilik akun tersebut bukan? Entah karena teman dekat, teman komunitas, kenalan baru atau keluarga. Faktor kenal dekat menjadi alasan kuat tentu saja, urusan apakah twitnya berguna atau tidak itu urusan belakang.

Saya sendiri sempat merasa tidak nyaman ketika saya menjadi follower seorang sepupu dekat. Anak ini masih terhitung ABG sehingga tidak heran kalau twitnya juga masih tidak jelas dan lebih seringnya menjadi RT abuser. Posisi sebagai keluarga dekat membuat saya jadi tidak bisa mengunfollow dia dengan gampang. Sampai sekarang saya membiarkan saja, toh dia juga tidak terlalu sering ngetwit.

Alasan lain untuk mem-follow seseorang adalah karena isi twitnya berguna atau sesuai dengan minat. Saya beberapa kali memutuskan mem-follow seseorang ketika twit yang bersangkutan lalu lalang di timeline saya dan menurut saya berguna. Kadang alasannya juga tidak semata-mata karena twitnya berguna, tapi mungkin karena cukup lucu, absurd dan menghibur.

Twitter memang hak pribadi orang, setiap akun adalah sepenuhnya milik mereka yang memegangnya dan karenanya apapun yang terjadi atas akun itu adalah hak sang pemilik. Terserah dia mau mengikuti siapa atau berhenti mengikuti siapa.

Bagaimana dengan anda? Apa alasan anda mengikuti atau berhenti mengikuti orang lain di twitter? Berbagi yuk.

[dG]

April 25, 2012 in Internet, Rabu
Packing, Packing! 9

Packing, Packing!

Perjalanan

Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang tidak terpakai dan pulang dalam keadaan utuh

Sepanjang tahun 2012 ini saya berubah jadi bang Toyib yang sering pergi. Sebenarnya ingin menyebut diri sebagai traveler, tapi kayaknya kegiatan saya bukan traveling walau sering mengunjungi tempat lain. Kebanyakan perjalanan itu karena urusan pekerjaan, jadi nyaris tidak sempat untuk berjalan-jalan atau menikmati keindahan kota yang saya datangi.

Salah satu ritual yang akhirnya jadi lekat adalah soal mengepak, atau istilah kerennya packing. Saya cukup beruntung bahwa acara-acara yang saya ikuti semuanya bersifat non formil sehingga saya tidak perlu repot untuk mengepak dengan baik dan benar, atau memikirkan bagaimana pakaian yang saya bawa tidak sampai kusut. Toh acaranya santai.

Biasanya semua barang utama saya masukkan ke dalam tas ransel, ukurannya tergantung dari berapa lama saya akan pergi. Satu ransel ukuran sedang biasanya sudah cukup. Saya akan memperhitungkan dulu berapa banyak kira-kira kaos yang akan saya bawa, biasanya saya memang hanya akan membawa kaos dan jarang sekali membawa kemeja.

Perhitungan saya, satu kaos untuk satu hari. Kalau untuk urusan celana, cukup membawa maksimal dua potong. Itupun biasanya satu celana pendek dan satu celana jeans. Ada tambahan lagi, saya pasti membawa kaos singlet dan celana pendek santai, ini untuk dipakai tidur. Rasanya tidak nyaman kalau kaos yang sudah dipakai jalan seharian masih juga dibawa ke tempat tidur. Begitupun dengan celananya.

Untuk pakaian dalam, saya siapkan satu tas kain khusus. Cowok jelas lebih santai dibanding cewek, pakaian dalamnya lebih sedikit jadi untuk urusan ini memang tidak terlalu banyak masalah. Saya juga punya satu tempat khusus untuk menampung alat mandi. Isinya mulai dari sabun cair, odol dan sikat gigi, shampoo dan tentu saja cologne. Tambahan lagi saya selalu membawa beberapa kresek kecil yang nantinya akan diisi pakaian kotor, utamanya pakaian dalam. Satu lagi tambahan, sebuah tas sangat kecil yang isinya adalah charger blackberry, charger tab dan kabel-kabel lainnya. Semua disatukan agar tidak tercecer.

Ransel

Semua pakaian yang saya bawa biasanya saya packing dengan cara digulung. Cara ini lebih efektif untuk menghemat ruang sekaligus? menjaga agar pakaian lebih rapih tanpa kusut. Caranya mungkin akan beda kalau seandainya saya bepergian dengan koper. Tapi sampai sekarang saya belum pernah tuh bepergian dengan koper, belum pantas rasanya. Hihihi.

Saya biasanya mengurutkan packing dengan rencana pemakaian. Jadi kaos yang kira-kira akan dipakai belakangan masuk duluan ke dalam ransel, kaos yang akan segera dipakai masuknya paling terakhir. Ini tentu saja untuk memudahkan, supaya pakaian yang saya bawa tidak sampai berantakan.

Saya juga punya satu tas kecil yang diselempangkan di bahu.? Isinya adalah tab yang selalu setia menemani ke mana saya pergi. Selain itu pasti terselip sebuah buku sebagai teman perjalanan, walaupun pada kenyataannya jarang dibaca gara-gara lebih sibuk dengan tab atau BB. Buku biasanya baru disentuh ketika pesawat tinggal landas, itupun hanya sebagai sebagai pemancing sebelum mata terpejam. Huh?sungguh tidak beradab.

Isi lain dari tas kecil itu biasanya adalah segala macam tiket dan boarding pass. Saya tempatkan di sana supaya tidak tercecer tapi tetap gampang dijangkau. Sebotol kecil air minum dan permen karet juga biasanya ada di tas kecil itu, juga dengan iPod yang siap disambungkan ke kuping ketika pesawat mulai tinggal landas.

Kadang-kadang saya merasa perlu membawa kamera. Ini kemudian jadi masalah baru karena artinya saya harus membawa tas tambahan. Satu tas kamera berisi body dan dua lensa. Beratnya cukup lumayan, apalagi karena kamera saya sudah terpasang battery grip yang menambah bobotnya. Makanya kadang untuk perjalanan ke tempat yang sudah biasa saya datangi, kamera DSLR saya tinggalkan dan saya cukup bergantung pada kamera HP. Kadang-kadang saya juga mencopot battery grip kamera saya dan cukup membawa lensa fix yang lebih ringan untuk dibawa.

Benda lain yang juga selalu ikut adalah jaket dan kacamata. Jaket sebenarnya hanya untuk kegiatan outdoor, tapi kadang terasa sangat penting jika bepergian jauh. Sementara kaca mata hitam meski selalu dibawa tapi sebenarnya agak jarang dipakai.

Nah, kira-kira itulah persiapan saya setiap kali ada panggilan untuk menyeberang lautan atau meninggalkan Makassar. Untuk packing sampai lengkap, biasanya saya hanya butuh waktu tidak sampai 30 menit. Kadang saya juga agak rewel, kaos yang sudah dipilih saya masukkan kembali ke lemari dan ganti dengan kaos yang lain. Satu lagi, kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang tidak terpakai dan pulang dalam keadaan utuh. Ini biasanya karena ada kaos yang saya anggap masih layak untuk dipakai keesokan harinya karena belum terlalu bau keringat atau belum kotor.

Bagaimana dengan teman-teman sekalian?

[dG]

April 24, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site